
***(Di Rumah Sakit)
Mobil kami langsung di sambut oleh dua perawat yang membawa kursi roda.
Isamu di dudukkan lalu dibawa ke ruang periksa terlebih dahulu sambil ku temani karena Mas Naufal harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Isamu terus saja merasakan sakit. Di sepanjang jalan, dia juga merintih kesakitan.
"Buk tolong temani saya ya, saya tidak pernah masuk rumah sakit Buk," ucap Isamu dengan polos saat tengah dibawa ke ruang periksa.
"Iya Mbak, tenang saja," jawabku.
Datang ke Rumah Sakit ini, ibarat menjemput kenangan kembali. Sempat ku tengok kanan dan kiriku. Semuanya masih sama, tata letaknya juga masih sama.
Apalagi saat di ruang periksa, sudah lama aku tidak berjumpa dengan ruangan ini. Padahal dulu setiap hari ku habiskan waktuku disini.
Teringat itu sudah pasti, maka nya aku tidak pernah mengunjungi Mas Naufal dan masuk ke ruangannya selama aku resign hingga sekarang. Paling-paling kalo Mas Naufal lagi ada barang yang ketinggalan, aku tunggu dia di Lobi.
"Hhuuuumm, tempat ini," gumamku dalam hati.
Banyak yang menyapaku saat aku berjalan. Mereka masih hangat, sehangat saat aku masih bekerja disini.
"Dokter Gia," ucap salah satu tenaga medis yang tengah berjalan berlawanan denganku.
"Iyaa," jawabku dengan ramah.
Panggilan itu yang ku rindukan setiap paginya berada disini. Hhhmmm penghuninya juga masih sama. Sangat ramah.
***(Di Ruang Periksa)
Isamu dibantu untuk tidur di atas bed pasien.
Tak lama kemudian, Mas Naufal masuk dan sudah rapi memakai jas Dokternya beserta stetosop yang dikalungkan di lehernya.
"Eemmm....pasien ini biar saya saja yang menangani, silahkan untuk di ambil data pasiennya," kata Mas Naufal.
"Baik Dok," jawab mereka.
Perawat itu menyiapkan berbagai alat kesehatan.
Dan Mas Naufal langsung membersihkan luka Isamu kembali. Isamu sangat kuat, anda saja aku yang seperti itu pasti aku sudah menangis.
Tidak dengan Isamu, benar dia merintih kesakitan. Namun, tidak satupun air mata menetes atau memenuhi kelopak matanya.
Aku menemani Isamu saat sedang ditangani oleh Mas Naufal.
Hampir setengah jam kemudian, Mas Naufal selesai mengobati luka di kaki Isamu.
"Nanti obatnya biar Gia aja yang ngambilin, jangan lupa obatnya diminum rutin biar cepet sembuh, dan antibiotiknya di minum sampai habis," kata Mas Naufal pada Isamu.
"Iya Pak, eh Dok," jawab Isamu.
"Sayang aku ke ruanganku sebentar," pamit Mas Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
Setelah selesai melaksanakan tugasnya, dua perawat itu juga masih mengingatku.
"Dokter Gia Ya Allah sudah lama tidak bertemu," kata Perawat itu.
"Ehehehem," kataku yang hanya memberikan senyumku.
"Ini saudaranya ya Dok," tebak Perawat itu.
"Eeemmm, ini Mbak yang bekerja di Butik saya Sus," jawabku.
"Eeemmm pantesan, langsung Dokter Naufal sendiri yang turun tangan, hehehe," kata Perawat itu.
"Saya permisi dulu ya Dok,"
"Iya Sus," jawabku disertai dengan senyuman.
Mereka semua meninggalkan kami berdua disini.
"Gimana?? Takut nggak?? Katanya kamu parno kalo udah denger kata Rumah Sakit, " ucapku.
"Enggak Dok," jawab Isamu singkat.
Tak lama kemudian, Mas Naufal datang dengan Pak Bastian.
"Waduuuuuh, ada Dokter Gia niiih," ceplos Pak Bastian.
"Pagi Dokkk, hehehe," kata Pak Bastian.
"Pagi Pak Bas," jawabku.
"Ini Dokter Gia comeback kesini lagi ya," canda Pak Bastian.
"Hehehm, Lo ada aja, dari koas Lo seneng banget godain istri Gue," sahut Mas Naufal.
"Dari koas kan dia belum jadi istri Lo Fal," kata Pak Bastian yang tidak terima.
Aku mencari tasku. Tapi tidak ada. Ku cari di pundakku.
Namun juga tidak ada.
"Loh, berarti dari tadi aku nggak bawa tas," gumamku dalam hati.
"Mas, aku ambil tas dulu ya di mobilnya Mas," kataku.
"Oh iya iya Sayang," jawab Mas Naufal sambil memberikan kunci mobilnya padaku.
Aku pun keluar dari ruang periksa, aku meninggalkan Isamu dengan Pak Bastian dan juga Mas Naufal.
"Masih hafal kan Gi jalannya," teriak Pak Bastian mengerjaiku.
__ADS_1
Aku menghiraukan teriakan Pak Bastian padaku.
Aku berjalan menuju parkiran kembali.
"Dokter Giaaaa," panggil seseorang dari belakangku.
"Suster Andini?" kataku.
Suster Andini langsung memelukku.
"Uuuummm, Ya Allah kangen banget saya Dok," kata Suster Andini.
"Sama Sus, saya juga kangen banget,"
"Main-main dong ke Butik saya," ajakku.
"Heheh, iya Dok, kapan-kapan pasti saya kesana, tunggu saja Do," jawab Suster Andini dengan raut wajahnya yang selalu ceria.
"Eehhmm, gitu yaaa sekarang sudah punya suami jadi sibuk," ejekku sambil menyenggol lengannya dan menyabitkan dua bibirku.
"Hehehehe, Dokter tau aja deh, pengennya tuh lengketttttt terus Dok sama suami, kayak Dokter sama Dokter Naufal dulu hehehem," ucapnya.
"Saya sering cerita tau Dok ke suami saya, tentang keromantisan sepasang Dokter yang cinlok ini, heheh," sambung Suster Andini.
"Lama ya Dok kita nggak ngobrol lama, ke Butik kalo nggak janjian sama Dokter dulu belum tentu ketemu," ujar Suster Andini.
"Iya Sus, saya jarang banget ke Butik," kataku.
"Seneng deh Dok, keromantisan Dokter sama Dokter Naufal tuh bisa dijadiin referensi loh, hahahah kayak skripsi dulu,"
"Apalagi Dokter Gia sering kirimin kue brownies ke Dokter Naufal," sambung Suster Andini.
"Hah? Brownies?" tanyaku dalam hati.
"Brownies Sus??" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"He'em Dok, brownies di kotak itu loh Dok," jawab Suster Andini dengan menganggukkan kepalanya.
"Brownies?? Perasaan aku nggak pernah kirimin Mas Naufal brownies deh," gumamku dalam hati.
"Kok aneh sih," gumamku lagi dalam hati.
"Eehhmm......aaaaaa.....perasa...." ucapku terpotong saat seorang teman memanggil Suster Andini.
"Suster Andini," panggil teman dari Suster Andini dari depan posisi kita sedang asik mengobrol.
"Iya, saya," jawab Suster Andini.
"Dokter Gia bentar ya, saya lupa ngantar data ini, maaf ya Dok," ucap Suster Andini lalu berjalan langsung meninggalkanku. Aku belum sempat bertanya tentang brownies dalam kotak tadi.
"Brownies?? Kok aku jadi penasaran,"
"Brownies apa??" tanyaku dalam hati.
Aku pun memutuskan untuk mengambil tasku terlebih dahulu lalu menanyakan tentang Brownies itu pada Mas Naufal.
Aku kembali ke ruang periksa dan bertemu kembali dengan mereka.
"Mas ini aku langsung ke Butik apa gimana??" tanyaku.
"Iya, Mas antar ya," jawab Mas Naufal.
"Nggak usah Mas, aku naik..." Kataku langsung dipotong oleh Mas Naufal.
"Mas antar Sayang, sudah lah nggak papa," tepis Mas Naufal.
"Tapi Mas, ini kan jam nya Mas Naufal kerja,"
"Mas masih jam 9 an nanti, soalnya ada meeting juga yang kemaren Mas ngerjain presentasi," ucapnya.
"Apa aku Gi yang antar?? Hehehe," canda Pak Bastian.
"Nggak mau Gia kalo yang nganter Lo," sahut Mas Naufal yang tidak terima.
Akhrinya Mas Naufal yang mengantarkan aku ke Butik.
Di perjalanan, sebenarnya aku ingin menanyakan tentang brownies itu. Tapi bagaimana bisa??
Aku tidak mungkin menanyakan hal ini di depan Isamu. Ini kan masalah rumah tangga. Tidak sembarangan orang berhak nengetahui.
Tapi aku tetap berfikir positif tentang Mas Naufal.
Kepercayaan yang menguatkanku disaat mendengar berita yang membuat hatiku kacau tak karuan.
Aku hanya diam disepanjang jalan. Begitu juga dengan Mas Naufal dan Isamu.
Tapi.....perasaanku tidak bisa bohong.
Kenapa hatiku sangat resah ketika memaksa untuk percaya.
"Huuuffttt Ya Allah, tenangkan hati hamba," doa ku dalam hati.
Sampainya di Butik. Aku membantu Isamu untuk turun.
"Pelan-pelan Mbak," kataku.
Haru dan Hilya langsung menyambut kami bertiga.
"Astagaaa Isamuuuuuu," kata Hilya.
"Ya Allah Isamuuu, kok bisa kayak giniii sih kamu," sahut Haru.
"Ceritanya panjang," jawab Isamu dengan singkat.
"Biar saya yang membantunya berjalan Buk," ucap Haru.
__ADS_1
Akhirnya Haru dan Hilya yang membantu Isamu berjalan. Dan mereka membawa masuk Isamu ke dalam Butik.
"Sayang, kok kamu nggak ikut masuk??" tanya Mas Naufal.
"Aaaaammm.....aku......aku mau pulang saja Mas," jawabku tanpa melihatnya.
"Pulang?? Bukannya kamu tadi mau ke Butik?? Mau disini," ucap Mas Naufal.
"Iya, tapi tiba-tiba aku berubah pikiran, jadii ya....aku mau pulang aja Mas," jawabku.
"Kamu kenapa?? Kamu sakit??" tanya Mas Naufal sambil menempelkan tangannya di keningku.
Tapi aku mengelak saat dia akan menyentuh keningku.
"Enggakkk," jawabku.
"La terus kamu kenapa?? Kok tiba-tiba gini," ucap Mas Naufal.
"Ehehem, nggak papa Mas," jawabku.
"Eeemmm ya udah biar di antar Mas pulang ya," ucap Mas Naufal menawariku lagi.
"Eeeeehhmm nggak, nggak usah,"
"Aku naik taxi aja," tepisku.
"Kan Mas mau meeting, jadi mending nggak usah, atau kalo Mas khawatir aku telfon Pak Joko biar Pak Joko yang jemput aku disini," kataku.
"Yakin ya dijemput Pak Joko?" kata Mas Naufal sambil mencoba membuatku riang kembali.
"He'em," jawabku singkat.
Mas Naufal pun meninggalkan aku dengan mobilnya. Aku tetap memikirkan brownies itu. Yang ada di otakku sekarang hanya itu. Aku sampai bingung dan tidak mood untuk masuk ke Butik.
Aku ingin tau cerita tentang brownies itu.
Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Pak Joko menjemputku. Aku berpamitan pada tiga karyawan setia ku.
Di perjalanan, aku terus memikirkan hal itu.
Padahal aku berusaha untuk percaya dan berfikir positif. Tapi tidak bisa, ini pasti ada yang tidak beres.
Aku jadi teringat saat Mama Feni bilang, bahwa secinta-cintanya seorang suami atau lelaki. Pasti dia pernah berbohong. Kata-kata itu terngiang di kedua telingaku.
"Iiisshjh Astagfirullah," aku terus membaca istighfar agar lebih tenang.
***(Di Rumah)
Sampai di Rumah. Bi Sarah langsung bertanya-tanya kepadaku.
"Loalah, Mbak Gia sudah pulang toh?" tanya Bi Sarah.
"Sudah Bi, Gia nggak jadi ke Butik," jawabku.
"Loooo kenapa Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Gia lagi......lagi nggak mood aja Bi," jawabku dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.
"Mau dibuatkan Bibi coklat panas?? Atau jus strawberry??" tanya Bi Sarah.
"Jus strawberry aja Bi," jawabku.
"Ya sudah nanti saya antarkan ke kamarnya Mbak Gia," ucap Bi Sarah.
Aku langsung berjalan menaiki anak tangga sambil memikiran itu kembali.
***(Di Kamar)
Aku langsung menuju balkon dan meletakkan tasku di sofa.
"Huuuumm, Mas Naufal buat ulah apa lagi sih,"
"Ya Allah semoga kami selalu baik-baik saja," kataku dalam hati.
Tak lama kemudian, Bi Sarah mengetuk pintu kamarku. Dan ku izinkan Bi Sarah masuk lalu beliau ku minta untuk menemaniku di balkon agar aku lupa dengan masalah itu.
Tapi tidak bisa....aku malah ingin mengucapkan ini pada Bi Sarah. Aku ingin bercerita padanya.
"Bi,"
"Iya Mbak??" Jawab Bi Sarah.
"Gia mau cerita sama Bibi, Gia lagi sedih Bi," kataku.
"Mbak Gia lagi sedih?? Kenapa Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Ini tentang Mas Naufal Bi," jawabku dengan lirih.
"Mas Naufal kenapa Mbak??" tanya Bi Sarah lagi.
"Bi, apa mungkin ya Mas Naufal selingkuh dari Gia??" tanyaku.
Bi Sarah langsung kaget mendengar pertanyaan itu. Bi Sarah langsung membulatkan kedua matanya yang menatapku itu.
"Astagfirullah, Mbak Gia ngomongnya kok gitu,"
"Gia nanya aja Bi, apa mungkin ya Bi," kataku lagi sambil memainkan sedotan yang ada di gelas jusku itu.
"Waduuuh, gimana ya Mbak??"
"Sepertinya sih tidak mungkin Mbak, Mas Naufal kan sangat mencintai Mbak Gia," jawab Bi Sarah.
"Maaf nih Mbak sebelumnya, sebenarnya ada apa Mbak?? Kenapa Mbak Gia bertanya seperti ini sama Bibi??" tanya Bi Sarah.
Bersambung...........
__ADS_1