Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 106 (Surrender)


__ADS_3

Adzan magrib berkumandang, aku bergegas mengambil air wudhu.


Dan segera melaksanakan sholat bersama Naufal.


Setelah sholat, aku turun ke bawah untuk membuat spaghetti.


Naufal hanya melihatku saja.


Saat aku turun, aku melihat Pak Bastian yang sedang duduk di Ruang Tamu.


***(Di Ruang Tamu)


"Eh Pak Bastian," kataku.


"Naufal kemana Gi?" tanya Pak Bastian.


"Di atas Pak," jawabku.


Tak lama kemudian, Naufal menyusulku turun dan melihatku yang sedang berbicara dengan Pak Bastian.


"Loh Fal kok Lo masih pake sarung?" tanya Pak Bastian.


"Nggak jadi keluar?" tanya Pak Bastian lagi.


Naufal memberi kode pada Pak Bastian sambil mengarahkan kedua bola matanya padaku.


"Boleh keluar kan......Gi?" tanya Pak Bastian sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Kenapa nggak Pak," jawabku.


"Tuh Fal boleh sama Gia, udah sana Lo ganti baju," tutur Naufal.


"Tunggu sini bentar," ucap Naufal yang langsung berjalan menaiki anak tangga.


"Saya ke dapur dulu ya Pak," ucapku.


"Iya Gi," jawab Pak Bastian sambil tersenyum padaku.


Aku berjalan ke dapur.


***(Di Dapur)


Ku ambil kemasan instant mie pasta, lalu ku rebus.


Saat aku sedang mengiris bawang bombai, aku sempat memikirkan Naufal.


"Naufal mau pergi kemana ya," gumamku dalam hati.


"Seharusnya dia bilang sama aku mau kemana, bukan hanya ijin saja," kataku sedikit kesal dengan Naufal.


Lagi-lagi telunjuk jariku teriris oleh tajamnya pisau.


"Aaaww," teriakku dengan spontan.


Langsung ku tutup mulutku dengan tanganku.


"Iiissshh, aduh," keluhku lirih.


Naufal dan Pak Bastian mendengar teriakanku.


"Fal Gia Fal," kata Pak Bastian.


Naufal langsung berlari ke dapur.


"Kenapa Gi?" tanyanya sangat panik.


Ku sembunyikan tanganku ke belakang.


Aku menatap Naufal yang perlahan-lahan melangkah mendekatiku.


"Kamu kenapa?!!" tanyanya lagi.


Naufal melihat darah yang ada di belakang kakiku yang mengotori permukaan lantai.


Naufal langsung menarik tanganku dan akhirnya dia mengetahui luka itu.


"Ya ampun Gi," ucapnya sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.


Aku mencoba menarik tanganku, tapi Naufal dengan sangat kuat memegang tanganku.


Deg......deg......deg


Aku menatap Naufal dengan jantungku yang berdebar-debar.


Naufal membalas tatapanku, dan tak lama kemudian Naufal langsung menghisap telunjuk jariku.


Deg deg......deg deg....deg deg


Aku melihatnya yang sedang manis menghisap jariku.


Setelah ku sadar akan kesalahan Naufal yang telah menyakiti hatiku, aku langsung menarik tanganku.


"Aaghem," setelah aku berdehem, ku berlari langsung meninggalkan Naufal untuk ke kamar.


Naufal melihat mie pasta yang sedang ku rebus, lalu dia mematikan kompornya.


"Gia Gia kamu kenapa sih?" gerutu Naufal.


Sedangkan Naufal kembali menemui Pak Bastian.


"Gia kenapa Fal? Kok langsung lari gitu," tanya Pak Bastian.


"Jarinya ke iris," jawab Naufal sambil mengusap bibirnya.


"Kok bisa? Mikirin Lo kali," ejek Naufal sambil menepuk lengan Naufal.


"Dia lagi marah sama Gue, gak mungkin lah mikirin Gue, yang ada malah kesel dia," bantah Naufal.


"Udah sana, Lo pamitan dulu sama Gia, pasti dia penasaran kemana pergi nya Lo sama Gue," tutur Pak Bastian.


Naufal berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


***(Di Kamar)


Aku sedang duduk di sofa sambil mengobati tanganku.


Naufal mengelus kerudungku, aku langsung kaget dan menoleh padanya.


"Aku pergi dulu sama Bastian ya, mau kumpul sama temen, bentar aja," ucap Naufal.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Lalu Naufal berjalan pergi meninggalkan ku.


Aku membayangkan Naufal yang tengah khawatir dan langsung menghisap telunjuk jariku.


Tapi aku juga mengingat sikap Naufal yang diam padaku dan sama sekali tidak memperdulikanku.


"Gia Gia kamu bayangin apa sih........Stop, yang harus kamu fikirin sekarang, kamu harus tetep kuat dan masih harus menghargai Naufal," gumamku dalam hati.


Aku berjalan kembali menuruni anak tangga untuk kembali ke dapur.


***(Di Dapur)

__ADS_1


Bi Sarah menghampiriku yang sedang menumis sambal spaghetti.


"Huumm harum banget Mbak," puji Bi Sarah sambil mengendus-endus aroma masakanku.


"Bibi bisa aja, ini gak ada apa-apanya sama masakan Bibi," kataku sambil tersenyum padanya.


"Kasihan Mbak Gia, wajahnya nggak sumringah seperti biasanya," gumam dalam hati Bi Sarah.


Bi Sarah melihat jari telunjukku yang ku selimuti dengan kasa.


"Jarinya Mbak Gia kenapa?" tanya Bi Sarah.


"Ini tadi ada kecelakaan kecil Bi, hehem, biasa kayak nggak tau Gia aja ceroboh kalo di dapur," kataku.


"Sini Mbak, biar Bibi yang buatin, Mbak Gia kan juga lagi hamil, jadi Mbak Gia duduk aja," tuturnya.


"Bibi ngerti banget, tumit Gia sakit Bi," kataku yang sebenarnya agak sungkan dengan Bi Sarah.


Aku berjalan duduk dan melihat aksi Bi Sarah.


"Nanti kita makan berdua aja ya Bi," kataku sambil meneguk segelas air.


"Oh siap Mbak siap," kata Bi Sarah.


Beberapa kemudian, setelah spaghetti telah siap untuk di santap, Bi Sarah mengambilkan dua botol air mineral dalam kulkas.


Kami berdua berjalan ke halaman belakang Rumah.


***(Di Halaman Belakang)


Kami duduk bersantai di pinggiran kolam renang.


"Hmmm enak ya Bi anginnya," kataku.


"Iya Mbak, dingin-dingin seger," ucap Bi Sarah.


"Mari Bi segera dimakan," kataku.


Aku memakan satu sendok spaghetti.


"Mbak," panggil Bi Sarah.


"Iya Bi?" jawabku.


"Mbak Gi ada masalah?" tanya Bi Sarah.


Aku langsung tersedak mendengar pertanyaan dari Bi Sarah.


"Uhuk uhuk,"


"Minum Mbak minum," ucap Bi Sarah sambil menuangkan segelas air untukku.


Aku langsung meneguk air itu.


"Bibi kenapa tanya seperti itu?" tanyaku yang pura-pura tidak mengetahui pembicaraan Bi Sarah dengan Naufal.


"Maaf Mbak maaf, seharusnya Bibi nggak pantas menanyakan hal ini," kata Bi Sarah yang kebingungan.


"Enggak Bi, gak papa, huuummm memang Gia sedang ada masalah sama Mas Naufal Bi," kataku sambil meletakkan garpu yang kubawa.


"Gia sakit hati Bi, kemaren Gia pulang malem banget sendirian, Mas Naufal bilang sama Gia kalau Mas Naufal bakalan nungguin Gia, eh setelah Gia keluar dari Ruang Operasi, Gia nyari-nyari Mas Naufal, mencoba menghubungi Mas Naufal, tapi handphone nya mati Bi, ya udah Gia berani-berani in buat pulangs sendiri, itu posisinya hujan Bi, eh di tengah jalan ban mobil Gia bocor, Gia pusinggg banget waktu itu tapi Gia paksain turun, terus ada tukang begal menghampiri Gia Bi, mereka gangguin Gia Bi, untungnya ada Pak Kevin yang nolong Gia Bi," ucapku.


"Yang jadi sedihnya Gia, kemana Mas Naufal waktu Gia ketakutan seprti itu Bi, eh pulang-pulang Gia malah di cuekin sama Mas Naufal," keluhku.


"Begitu Mbak ceritanya," kata Bi Sarah.


"Padahal Mbak Gia sama Mas Naufal biasanya asik banget, Bibi ngrasain banget Mbak betapa sedihnya Mbak Gia sama Mas Naufal," kata Bi Sarah.


"Tapi Mbak, Bibi baru tau Mbak Gia semarah ini sama seseorang," kata Bi Sarah heran.


"Gia cuman butuh waktu buat mulihin hati Gia, Gia nggak nuntut Mas Naufal harus gimana-gimana Bi, tapi semua butuh waktu," kataku.


"Bibi ngerti Mbak, memang kalo masalah hati, sekuat-kuatnya kita, pasti akan patah," kata Bi Sarah.


"Iya Bi, dari awal Gia nahannnn banget, Gia selalu nguatin hati Gia, berkali-kali Gia memaafkan Mas Naufal, tapi untuk kali ini Bi, bukannya Gia tidak ingin memaafkan Mas Naufal, tapi Gia ingin Mas Naufal lebih peka lagi Bi sama Gia, lebih ngerti perasaan Gia, yaaaah Gia cuman pengen itu dari Mas Naufal, Gia pengen Mas Naufal sadar," ucapku sambil mengusap air mataku.


"Hehehm, Gia jadi curhat Bi," kataku sambil tersenyum pada Bi Sarah.


"Gak papa Mbak, Mbak Gia bisa kapanpun curhat sama Bi Sarah," ucap Bi Sarah.


Aku hanya tersenyum padanya.


//////////


Sedangkan Naufal menikmati kumpul-kumpul bersama temannya.


Saat pandangan Naufal mengarah ke luar sebuah cafe.


Dia melihat Meira sedang melintas disana.


Naufal langsung berlari menghampirinya.


"Kemana Fal?" tanya Pak Bastian.


"Bentar Bas," jawab Naufal.


Naufal langsung menghampiri Meira.


"Mei....Mei," panggil Naufal.


Meira langsung menoleh pada Naufal, dan dia kaget melihat Naufal.


Naufal menghampiri Meira.


"Anda apain Gia?" tanya Naufal dengan amarahnya.


"Apaan sih??!! Siapa yang ngapa-ngapain Gia, jangan asal nuduh ya anda," kata Meira.


"Udah puas menampar Gia!!!" kata Naufal.


Wajah Meira kelagapan dengan kata-kata Naufal.


"Jawab!! Anda menampar Gia kan sampe pipinya memar, meskipun kejadiannya udah lama," kata Naufal.


"Ini bukan urusan anda ya," kata Meira membela diri.


"Jelas ini urusan saya karena Gia istri saya," tegas Naufal.


"Berkali-kali anda bisa berbuat semena-mena sama Gia, tapi untuk kali ini saya tidak akan melepas anda, jangan sekali-kali anda menyentuh Gia!!!! Menemui Gia!!!! Bahkan berbicara dengan Gia, saya bisa bawa urusan ini ke hukum karena kriminal, ingat itu!!!!! Saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya," ucap Naufal sangat tegas lalu meninggalkan Meira.


"Ingat itu!!!" ucap Naufal lalu pergi meninggalkan Meira.


Naufal kembali ke kerumunan teman-temannya.


"Siapa tadi Fal?" tanya Pak Bastian.


"Meira tunangannya Kevin," jawab Naufal.


"Ngapain?" tanya Pak Bastian lagi.


"Cari masalah sama Gia," jawab Naufal.


"Istri Gue di tampar Bas," kata Naufal.

__ADS_1


"Gila apa ya orang itu?" ucap Pak Bastian yang juga ikut kesal.


"Orang lakinya yang suka Gia, dia yang marah-marah, psikopat banget," ucap Pak Bastian.


"Tau," jawab Naufal singkat.


Setelah Beberapa jam Naufal menghabiskan waktu dengan teman-teman nya, hari sudah semakin larut malam, Naufal dan Pak Bastian segera bergegas pulang.


.


.


.


.


.


.


.


Setengah jam kemudian, tiba Naufal di Rumah.


***(Di Rumah)


Setelah Naufal di antar Pak Bastian sampai Rumah, dia langsung masuk ke kamar.


"Assalamu'alaikum," ucap Naufal saat menginjakkan kakinya di Rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


"Gia sudah tidur Bi?" tanya Naufal.


"Kurang tau Mas, tadi Mbak Gia habis makan-makan sama Bibi," jawab Bi Sarah.


"Ya udah Naufal ke atas ya Bi," ucap Naufal.


Naufal langsung berjalan menaiki anak tangga.


***(Di Kamar)


Di dalam kamar, Naufal melihat aku yang sudah tertidur pulas.


Naufal langsung masuk ke kamar mandi, dan menyusulku tidur.


Naufal tak langsung berniat tidur, dia malah memandangi wajahku yangs sedang menghadapanya.


Naufal mencoba menyentuh pipiku.


Saat dia mencoba menyentuh pipiku, aku dengan tidak sadar membalikkan badan untuk membelakanginya.


Naufal mengurungkan niatnya untuk menyentuh pipiku.


"Gia Gia, aku nggak tahan jika perilaku mu seperti ini terus padaku," gumam dalam hati Naufal yang sangat sedih.


Naufal terus memandangiku meskipun akan membelakanginya.


Naufal sudah tak tahan, dia langsung memelukku erat dari belakang.


"Gi, maafin aku, udah ya, kamu jangan gini lagi, udah cukup Gi, aku kesiksa jika kamu kayak gini, aku mohon Gi, aku mencintaimu," ucap Naufal.


"Aku ingin kamu peluk lagi Gi, ingin kamu cium lagi, aku kesiksa Gi, mengertilah," kata Naufal lagi.


Dengan tidak sadar, secara spontan, tubuhku berbalik, dan langsung memeluk Naufal.


Naufal kaget melihat sikapku itu, Naufal melongo melihat wajahku.


"Gia, kamu denger aku?" tanya Naufal, sedangkan aku masih menikmati mimpiku.


"Kamu meluk aku Gi," ucapnya sangat bahagia.


Aku yang terusik dengan suara Naufal, ku buka kedua mataku pelan-pelan, aku kaget melihat wajah Naufal tepat di depan wajahku.


"Haah??!!" kataku dan langsung melepas pelukanku pada Naufal.


Aku menundukkan wajahku untuk memalingkan pandanganku dari Naufal.


"Kenapa Gi??! Kenapa kamu lepasin pelukan kamu," ucap Naufal.


"Nggak papa," jawabku langsung berbalik membelakanginya kembali.


"Kenapa Gi??!! Kenapa kamu nggak bisa lakukan itu lagi padaku," ucap Naufal.


Aku hanya diam dan mendengarkan nya.


"Ayo Gi, peluk aku lagi, peluk aku," kata Naufal.


Aku tetap diam tanpa jawaban.


"Kenapa??!! Ha kenapa kamu udah gak mau nyentuh aku lagi?? Kamu ngrasa gak nyaman Gi sama aku??! Kamu ngrasa jijik sama aku Gi?! Jawab Gi," paksa Naufal.


Aku menangis mendengar kata-kata Naufal.


"Okey Gi, okey, mulai sekarang aku nggak paksa-paksa kamu lagi, aku lebih tau diri Gi, aku........sangat kurang pantas untuk mu, aku kesiksa Gi kamu seperti ini, aku laki-laki bodoh, sedangkan kamu??...."


"Sudahlah Gi, percuma aku maksa-maksa kamu, kamu juga akan seperti ini terus sama aku, aku janji gak akan ganggu-ganggu kamu lagi, aku akan tidur di sofa untuk malam sampai kamu kembali dalam pelukanku lagi," kata Naufal dengan nada sedih.


Saat Naufal membalikkan tubuhnya untuk membelakangiku.


Aku merasa tidak sanggup dengan ucapannya.


Aku langsung memeluk tubuhnya erat-erat dari belakang, air mataku membahasi kain baju Naufal.


"Jangan kemana-mana, disini aja, huhuhuhuhu, aku gak mau kamu kemana-mana," kataku sambil menangis terisak-isak.


"Gia!!! Gia beneran meluk aku???!! Ini nggak mimpi??!! Alhamdulillah Ya Allah," ucap dalam hati Naufal.


"Jangan ya....aku mohon," rayuku.


"Kamu yakin dengan kata-kata mu itu??!" tanya Naufal.


Naufal langsung membalikkan tubuhnya dan memandangku.


"Meskipun hatiku sudah tidak bisa pulih seperti awal lagi, tapi aku mau kamu jangan kemana-mana, kamu harus tetep disini sama aku," kataku.


"Enggak Gi, akan ku buat hatimu seperti awal lagi, seperti saat kamu berusaha membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya padamu, aku bisa," ucapnya.


"Maafin aku ya, aku nggak tahan Gi jika kita terus-terusan seperti ini," kata Naufal.


"Jangan pergiiiiiii, huhuhuhu," ucapku.


Naufal mengusap kedua pipiku yang terbasahi oleh air mataku.


"Tapi kamu jangan gini lagi ya sama aku, udah ya," kata Naufal.


"Aku bisa bersikap sebagai istrimu, tapi hatiku?? Sulit Mas, aku yang ngrasain, bukan kamu," kataku.


"Aku tau Gi, memang hatimu sudah terlanjur sakit, dan sakitnya sudah mengeras, aku bakalan buat hati kamu melunak lagi Gi," ucap dalam hati Naufal.


"Meskipun hatiku sudah terluka seperti ini, dan sikapku dingin padamu, bukan berarti dengan seenaknya kamu ningglin aku, huhuhuhu," kataku terbata-bata karena menangis.


"Udah ya, udah jangan nangis, cup cup cup, aku sangat mencintaimu Gi," kata Naufal.

__ADS_1


"Sebenarnya hatiku juga tersiksa Mas jika bersikap dingin padamu," ucapku dalam hati.


Naufal memelukku dengan mendaratkan ciumannya pada keningku.


__ADS_2