Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 129 (Someone In Front Of Me)


__ADS_3

Setelah selesai sholat, aku memutuskan untuk tidur.


"Gak nyangka ya Sayang, Abay udah gede," ucap Naufal.


"Iya Mas, huuum pernikahan kita juga langgeng," sahutku.


"Ya harus dong selamanya," ucapnya.


Naufal menarik dan menggeser tubuhnya, lalu membawaku ke dalam pelukannya.


"Sayang, aku jadi keinget Kevin," kata Naufal.


"Kok jadi bahas Pak Kevin, tumben kamu inget sama beliau," ucapku.


"Ya keinget aja, udah lama banget nggak ada kabar sama sekali dia, dia beneran nggak ganggu kamu lagi loh," kata Naufal.


"Ya Alhamdulillah dong Mas, gak ada yang gangguin kita lagi," kataku.


"Iya sih, tapi aku jadi penasaran, kemana ya dia," kata Naufal.


"Udah lah Mas, kenapa sih mikirin Pak Kevin," rengekku.


"Ayo tidur aja, besok kita kerja," tuturku.


"Hooaam, aku juga udah ngantuk banget Sayang," keluh Naufal.


Ku pejamkan mataku dan bersandar dalam dekapannya, Naufal mencium keningku sampai aku pun tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


Aku dan Naufal sudah berpakaian rapi, begitu juga dengan Abay yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Ma....Mama," panggilnya dari luar kamarku.


Aku berjalan membukakan pintu untuk Abay.


Gleekkk.


"Ma ayo turun," ajak Abay.


"Iya sebentar, nunggu Papa kamu," jawabku.


"Mas, udah belum?" tanyaku pada Naufal.


"Iya Sayang, udah," jawabnya sambil berjalan menghampiriku.


Kami bertiga segera turun ke bawah.


***(Di Ruang Makan)


Seperti biasa, mereka sudah menunggu kami disana, aneka menu sarapan pagi sudah tertata di atas meja.


"Ayo mari makan ya," kata Naufal.


Kami semua langsung menyantap menu sarapan pagi.


.


.


.


.


.


Setelah selesai sarapan, aku dan Naufal berpamitan untuk pergi bekerja.


"Bi, berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," pamitku.


"Iya Mbak, Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Aku dan Abay berjalan masuk ke dalam mobil Naufal yang sudah menungguku di dalam mobil.


Mobil Naufal melaju untuk mengantarkan Abay ke sekolahnya.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, kami sampai di depan gerbang sekolah Abay.


"Pa, Ma, Abay sekolah dulu ya," ucapnya sambil menyalami tanganku dan juga Naufal.


"Iya, jagoan Papa harus semangat sekolahnya," kata Naufal.


Abay turun dari mobil, saat dia tengah melewati gerbang sekolahnya, aku melihat anak perempuan yang sepertinya satu sekolah dengan Abay. Anak itu menghampiri Abay.


"Tumben Mas, Abay temenan sama anak cewek," kataku.


"Ya mungkin satu kelas kali Sayang," ucap Naufal yang juga melihat anaknya yang tengah berbincang-bincang dengan seorang gadis.


"Jangan lupa loh 3 hari ulang tahun Abay," kataku.


"Iya Sayang, nggak bakal aku lupa," ucapnya.


Naufal kembali menancap gasnya.


Sepanjang perjalanan, tiba-tiba kepalaku sakit, terlintas bayangan Pak Kevin di depan mataku, pandanganku buram.


Aku lebih memilih diam.


"Aawwwmm iiisshhh," keluhku.


"Sayang!!! Kenapa kamu?" tanya Naufal.


"Enggak Mas, nggak papa," jawabku.


"Kamu pusing??" tanyanya.


"Nggak kok Mas, cuman nyeri gimana gitu, tapi nggak papa kok," jawabku sambil menyangga kepalaku dengan tanganku.


"Yakin kamu nggak papa?" tanyanya lagi yang masih terus mengkhawatirkanku.


"Iya Mas," jawabku.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah Sakit)


Mobil Naufal terparkir sempurna di sebelah mobil Pak Bastian, sepertinya Pak Bastian juga baru sampai.


Aku dan Naufal turun dari mobil kami.


"Wiiih, selamat pagi Bapak Naufal dan Ibu Gia," canda Pak Bastian.


"Apaan coba, Lo kenapa sih, gak jelas," kata Naufal.


"Hahaha, Gue lagi bahagia intinya," jawab Pak Bastian.


"Bahagia??? Emang selama ini Lo nggak bahagia," ejek Naufal.


Pak Bastian langsung menyenggol lengan Naufal.


"Ya nggak gitu Fal, Gi suami kamu sarapan apa sih tadi??? Masih pagi jangan buat orang emosi," kata Pak Bastian.


Aku hanya tersenyum santun padanya.


Kami berjalan menyusuri koridor sambil sedikit berbincang-bincang.


"Bas, Lo bahagia kenapa sih?" tanyanya.


"Susi hamil lagi," jawab Pak Bastian.


"Oh Ya Allah Susiiii," teriakku senang dalam hati.


"Cepet banget Lo?? Ah nyuri start Lo," kata Naufal.


"Ahahaha, ini tuh rejeki Fal," kata Pak Bastian.


"Gi, nanti ke rumahku ya, kamu di cariin Susi," ucap Pak Bastian yang sedang menghadapku.

__ADS_1


"Oh iya Pak pasti," jawabku sambil mengangguk-angguk an kepalaku.


"Aku ikut loh Sayang," rengek Naufal.


"Nggak nggak, nggak ada, Gue cuman ngundang Gia, nggak sama Lo," canda Pak Bastian.


"Ya elah Bas, Lo jahat banget sama Gue," kata Naufal.


Tiba-tiba Dokter Irene berjalan di belakang kami, dan ikut berbincang bersama kami.


"Pagi semua," sapanya.


"Aaarrghhh," keluh Pak Bastian.


"Pagi," jawabku dan Naufal.


"Ngomongin apa sih?? Kayaknya seru banget," kata Dokter Irene.


"Ngomongin kebahagiaan rumah tangga kita," ceplos Pak Bastian yang sepertinya tidak suka dengan Dokter Irene.


"Ren, kenapa sih Lo, nggak pernah di anterin sama suami Lo?" tanya Pak Bastian yang langsung ceplas ceplos.


"Bas," bisik Naufal yang kasihan dengan Dokter Irene.


"Gitu ya kalo rumah tangganya bahagia, rasanya gimana sih?" tanya Dokter Irene.


"Laaah, kamu kan juga berumah tangga, kenapa tanya ke kita," kata Pak Bastian.


Air mata Dokter Irene tiba-tiba mengalir di kedua pipinya. Lalu beliau berjalan meninggalkan kami.


"Bas, Lo keterlaluan banget," kata Naufal.


"Kan Gue nanya Fal, apa salahnya?" tanya Pak Bastian.


Aku berlari mengejar Dokter Irene.


"Dok....Dokter," panggilku.


Dokter Irene berhenti sambil mengusap air matanya.


"Dokter kenapa? Maaf ya tadi kata-kata Pak Bastian menyakiti hati Dokter Irene," kataku.


"Nggak papa," jawabnya singkat.


"Kalo boleh....Dok....Dokter Irene kapanpun boleh kok curhat sama saya tentang semua masalah Dokter Irene," kataku.


Dokter Irene langsung memelukku.


Naufal dan Pak Bastian menghentikan langkahnya saat melihat sikap Dokter Irene.


"Waduh, mimpi apaan Irene meluk Gia Fal?" tanya Pak Bastian.


"Nggak tau Gue," jawab Naufal yang juga heran.


.


.


.


.


Dokter Irene menangis di pundakku.


"Udah Dok, nanti Dokter Irene cerita ke saya ya," rayuku untuk menenangkannya.


Dokter Irene melepas peluknya lalu berpamitan dengannku.


Naufal dan Pak Bastian, segera menghampiriku.


"Sayang, tadi Irene kesambet apa?" tanya Naufal.


"Mas....jangan gitu, Dokter Irene kasihan loh," kataku.


"Emang tadi dia bilang ke kamu apa Sayang?" tanyanya.


"Eemmmm apa ya???" kataku.


"Kepo, ini urusan cewek," bisikku di telinga Naufal dan langsung berlari meninggalkannya.


Naufal mengangkat satu sudut bibirnya.


"Aaaiiisshh, situasi nya gini masih aja romantis-romantisan," kata Pak Bastian.


"Hahaha, Lo gak bisa ya," ejek Naufal.


"Ya iya lah, Lo satu tempat kerja, Lah Gue? Beda," kata Pak Bastian.


"Emang Gia bisikin Lo apa sih?" tanya Pak Bastian sambil mengernyitkan keningnya.


Naufal berbisik padanya.


"Gia bilang gitu??" tanya Pak Bastian lagi.


"Iya lah," jawab Naufal.


"Itu Gia Fal jawab kek gitu," tanyanya lagi dan lagi yang sepertinya heran melihat sikapku.


"Iya, Lo tanya mau berapa kali?" ucap Naufal.


"Gia bisa gitu emang," kata Pak Bastian.


"Aaarrghhh Lo nggak tau aja, yang tau cuman Gue, dia tuh manis kalo ngomong, jadi pengen nerkam mulu," kata Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku berjalan menuju ruang periksa.


Seperti biasa, ku periksa satu per satu pasiennku, karena bagi mereka, kata "boleh pulang" lah yang selalu mereka tunggu-tunggu setiap harinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siang harinya, saat jam istirahat, Dokter Irene menghampiri ruanganku.


Tok....tok....tok.


"Masuk," kataku.


Gleeekkkkk.


"Yah, ada ap.....?" Kataku terhenti saat melihat Dokter Irene yang berjalan mneghampiri.


"Dokter Irene, silahkan duduk Dok," ucapku mempersilahkannya untuk duduk.


"Gi, aku kesini mau menagih ucapan kamu tadi pagi," kata Dokter Irene.


"Eemmm....maksude Dokter, Dokter mau cerita ke saya?" tanyaku dengan gugup.


"Iya Gi, aku udah bingung mau cerita sama siapa lagi, ini salahku Gi, huhuhuhu," ucap Dokter Irene yang langsung menangis di hadapanku.


"Oke Dok oke, saya akan mendengarkan semuanya," kataku dengan halus.


"Aku menikah Gi dengan seseorang yang sama sekali tidak aku cintai, begitu juga dengan suamiku yang juga tidak mencintaiku, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai jatuh cinta padanya Gi, begitu juga dengan dia, tapi kami gengsi Gi untuk mengungkapkannya karena awalnya kami saling membenci," cerita Dokter Irene.


"Sebentar Dok saya potong, lalu Dokter menikah atas dasar apa?? Perjodohan?" tanyaku.


"Bukan Gi, kami menikah karena memang kami pada awalnya saling memanfaatkan, dia menikah denganku agar perusahan keluarganya semakin melecit, aku menikah dengannya karena Mamaku sekarat Gi pada saat itu, Mamaku pengen aku segera menikah, dan akhirnya aku ketemu sama anak rekan kerja Papaku Gi, jadi kita buat kesepakatan kalo kita nikah bukan karena hal lain kecuali kepentingan kita masing-masing," kata Dokter Irene dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Aaasshhh," keluhku sambil berpindah untuk duduk di samping Dokter Irene.


"Pernikahan kita berjalan lama, aku yang pertama mencintainya, mungkin awalnya aku terbiasa Gi melihat dia membawa para perempuannya ke rumah, tapi lama-lama, aku cemburu Gi, aku sakit hati, aku membalasnya Gi dengan membawa seorang pria bayaranku ke rumah, aku hanya ingin membuatnya cemburu sepertiku Gi, kami beradu disana Gi, dia berciuman dengan pasangannya di depanku, aku pun sebaliknya Gi, huhuhuhu," kata Dokter Irene.


"Setelah dia melihatku membawa pria ke rumah, dia sangat marah Gi padaku, sebelumnya dia sama sekali tidak pernah menyentuhku, tapi malam itu Gi, dia melakukan semuanya padaku, aku sangat bahagia Gi, huhuhuhu meskipun itu tidak berjalan dengan semestinya, kami saling mencintai, tapi kami tidak ingin mengungkapkan satu sama lain karena surat perjanjian yang sudah ku buat dengannya, huhuhu sampai sekarang kelakuannya tetap Gi di depanku, huhuhuhu," keluh Dokter Irene.

__ADS_1


"Astagfirullah," ucapku langsung memeluk Dokter Irene.


"Ya Allah kasihan Dokter Irene, dia tidak seperti yang orang-orang lihat, sebenarnya hatinya lembut dan lemah," kataku dalam hati.


"Mending Dokter bilang jujur aja sama suami Dokter Irene, dari pada nanti akan terus seperti ini Dok, dan soal surat perjanjian itu, sudah lupakan Dok, pernikahan bukan karena itu semua, pernikahan itu suci," tuturku.


"Pasti orang tua Dokter Irene tidak tau semua ini kan?" tanyaku.


Dokter Irene menggelengkan kepalanya.


"Tapi keluarga dia tau Gi kelakuan anaknya padaku," kata Dokter Irene.


Gleekkkk.....


Tiba-tiba Naufal langsung masuk ke ruanganku.


"Saaa..," panggilnya yang terhenti karena melihat Dokter Irene yang sedang menangis di dalam ruanganku.


"Oh maaf, kalian sibuk ya?? Ya udah nanti aja," kata Naufal


"Eemm..nggak Fal, nggak, aku aja yang keluar," kata Dokter Irene sambil mengusap air matanya.


Dokter Irene berjalan keluar dari ruanganku.


Naufal langsung menghampiriku dan bertanya padaku.


"Sayang, ada apa sihs sebenarnya?? Kamu ngrencanain sesuatu ya sama Irene," tebak Naufal.


"Hmmm suudzon kan," kataku.


"Ya aku heran Sayang tiba-tiba kamu akrab gini sama Irene," ucap Naufal.


"Ini masalah cewek Mas, aku nggak mungkin ceritain masalah Dokter Irene ke kamu," kataku.


"Ya udah iya iya," kata Naufal yang mengalah.


"Aku kesini cuman mau bilang, kalo nanti kita pulang sekalian belanja," ucapnya.


"Belanja?? Kan kemaren udah belanja Mas," kataku.


"Iya Sayang, kan Mama besok mau ke rumah," jawabnya.


"Mama??? Mama wa kamu?" tanyaku.


"Iya barusan, maka nya aku samperin kamu kesini," jawabnya.


"Owwh gitu, iya gak papa," kataku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah semakin sore, tandanya aku harus segera pulang dan menjemput Abay.


Aku dan Naufal berjalan menuju parkiran.


Pak Bastian mengikuti dari belakang kami.


"Hoy, jangan lupa nanti ke rumah Gue," ucapnya.


"Iya nanti malem aja, habis ini mau belanja dulu," kata Naufal.


"Iya iya, Gue tunggu kalian nanti," kata Pak Bastian.


"Ya udah Gue jalan dulu ya, udah ditungguin istri di rumah, hahaha," candanya.


Pak Bastian berjalan mendahului kami.


"Untung aja teman kamu betah sama Bastian Sayang," ucap Naufal.


"Memangnya kenapa?" tanyaku.


"Ngeselin gitu anaknya," jawab Naufal.


"Ya beda lah Mas, kalo dia ke Susi pasti lembut nggak kayak gitu, kamu sih dulu sering gituin Pak Bastian, sekarang gantian kan," ucapku.


"Kan suaminya di salahin, orang lain di bela," ucap Naufal.


"Ya nggak gitu Mas," kataku langsung menyelipkan jari-jari ku di celah jari-jarinya.


Aku tersenyum padanya dan dia membalas senyumku.


Sampainya di parkiran, aku langsung masuk ke dalam mobil bersama Naufal.


Naufal langsung menancap gas mobilnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai di sekolah Abay, Abay sudah menunggu kami di depan gerbang.


Dia melihat mobil kami, Abay langsung berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Mama," ucapnya.


"Gimana hari ini?? Bisa?? Lancar atau bagaimana?" tanyaku.


"Alhamdulillah Ma, seperti biasanya," jawab Abay.


"Bay, kita ke Supermarket dulu mau belanja, jadi nggak langsung pulang," sahut Naufal.


"Tumben banget Papa belanja?" tanya Abay.


"Iya, soalnya besok Eyang mau kesini," jawab Naufal.


"Yeaay rumah Abay rame," ucap Abay bersorak kesenangan.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Supermarket)


Mobils sudah terparkir, kami berjalan masuk ke dalam Supermarket.


Naufal membawakan troli. Kami menyusuri setiap sisi Supermarket.


Memilih-milih aneka buah, sayur, dan makanan.


"Ma, Abay mau di buatin Mie tapi ada pokcoy nya," kata Abay.


"Pokcoy sebelah sana Nak," kataku.


"Mas kita kesana, Abay mau Pokcoy," ajakku.


Kami berjalan di pojok Supermarket.


Banyak Pokcoy yang tertata rapi dan higienis disana.


Saat aku tengah memilih Pokcoy namun terhalang oleh seseorang sehingga sulit untuk aku mengambilnya karena kebetulan Supermarket sangat padat dan rame.


"Permisi," kataku.


Seseorang itu menoleh padaku.

__ADS_1


Deeeggggg........


Bersambung........


__ADS_2