Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 134 (Menunggu Tengah Malam)


__ADS_3

"Iya sih Sayang, kalo masalah percaya sih aku percaya," ucap Naufal.


"Aku besok mau ke rumahnya Noni, kok bisa-bisanya gitu loh Sayang dia kayak gitu sama Abay, kan aku Papa nya Abay jadi aku berhak segalanya sama Abay," kata Naufal yang semakin kesal dengan Noni.


"Jangan Mas, udah biarin dulu, besok kan ulang tahunnya Abay, jangan bikin kacau kan besok hari bahagianya Abay," tuturku.


"Iya deh Sayang, besok aku mau lihat gimana sih Noni sama Abay kalo di depan aku," kata Naufal.


"Ya bukannya aku kayak gini itu aku pengen kamu benci sama Noni, nggak Mas cuman aku nggak mungkin kan nggak bilang sama kamu, katanya kamu apapun yang terjadi dengan aku dan Abay kamu harus tau. Jadi aku nggak bisa bohong sama kamu Mas, jadi ya kita harus tetap baik sama Noni bagaimanapun juga Noni itu keponakan kamu, kamu nggak boleh kesel sama dia, mungkin emang karena sifat remajanya dia aja yang kayak gini, kita nggak boleh menghakimi terus berprasangka buruk sama Noni," tuturku lagi.


"Ya Allah Giaa...., Kamu kenapa sih tetap seperti ini, jika kamu disakiti, kamu tidak pernah ingin membencinya ataupun memandang buruk seseorang yang menyakitimu, sesekali itu keluargaku sendiri," gumam dalam hati Naufal.


"Udah ya kamu jangan kesel, mungkin waktu Noni ngomong kayak gitu itu waktu emosi-emosi nya Noni aja Mas, ya kita lihat aja kedepannya bakalan gimana kalo tetap kayak gitu ya kamu nasehatin Noni," ucapku sambil mengelus-elus lengan Naufal.


"Iya Sayang, makasih ya Kamu selalu jadi air buat aku jika amarahku meledak-ledak kayak gini," canda Naufal.


"Mungkin sebagai kamu juga bingung Mas, di sisi lain kamu itu saudara mereka dan di sisi lain Kamu juga suami aku jadi bagaimanapun juga kamu tetap akan terikat oleh mereka ataupun aku," ucapku.


Setelah aku menceritakan semuanya pada Naufal, aku dan Naufal bergegas untuk segera tidur.


Saat aku ndak memejamkan kedua mataku, Bi Sarah mengetuk pintu kamarku.


Tok....tok....tok


"Siapa Sayang?" tanya Naufal.


"Nggak tau Mas, bentar aku yang buka," jawabku.


Aku turun dari ranjang untuk membukakan pintu.


Gleeekkk...


Aku melihat Bi Sarah yang berdiri di depan pintu kamarku.


"Bibi, ada apa Bi ?? Tumben malam-malam banget ke kamar Gia," tanyaku.


Naufal menghampiriku dari belakang.


"Ada teman Mbak Gia sama Mas Naufal di bawah Mbak," jawab Bi Sarah.


"Temen?? Siapa Bi?" sahut Naufal.


"Kamu ada ngundang teman Sayang?" tanya Naufal padaku.


"Enggak Mas, aku nggak ada janji sama temen aku, jangan jangan dibawa Pak Bastian sama Susi," tebakku.


"Bukan Mbak bukan, ini teman dari teman kerja katanya," ucap Bi Sarah lagi.


"Namanya siapa Bi?" tanyaku.


"Namanya......namanya Mbak Irene Mbak," jawab Bi Sarah.


"Dokter Irene Mas??" ucapku panik langsung menoleh ke arah Naufal.


"Irene?? Ngapain malam-malam Irene ke sini Sayang," kata Naufal.


"Nggak tau Mas, Aku beneran loh nggak ada janji sama Dokter Irene," kataku.


"Ya udah Mas, bentar aku ambil kerudung dulu habis ini kita turun ya," ucapku.


Naufal menganggukkan kepalanya.


"Ya udah Bi, abis ini Naufal sama Gia temui tamunya," kata Noval pada by Sarah lalu Bi Sarah meninggalkan kamar kami.


Setelah kuraih kerudungku, Naufal menggandeng tanganku untuk segera turun ke Ruang Tamu.


***(Di Ruang Tamu)


Aku melihat Dokter Irene yang basah kuyup duduk sambil menangis di Ruang Tamu.


"Masya'Allah, Dokter Irene," panggilku panik.


"Giiaaaaa," teriaknya yang berlari langsung memelukku.


"Gi, Aku nggak tau harus kemana lagi, aku lari dari suamiku untuk sehari ini Gi, Aku muak sama dia Gi, huhuhuhu," kata Dokter Irene di pundakku.


Aku melepas pelukan dari Dokter Irene lalu duduk di sampingnya.


"Bi....Bibi, Gia minta tolong ambilkan handuk buat Dokter Irene," ucapku.


"Dokter Irene kenapa basah seperti ini?" tanyaku padanya.


"Akus sudah tanya baik-baik sama suamiku Gi tapi dia sama sekali tidak menjawabku dan malah marah padaku, aku mengurung diri di kamar mandi Gi, aku takut," jawab Dokter Irene.


"Tapi Dokter Irene nggak kenapa-napa kan??" tanyaku lagi.


"Enggak Gi, aku nggak papa," jawabnya.


Tak lama kemudian, Bi Sarah membawakan handuk kimono untuk Dokter Irene.


"Ini Mbak," ucap Bi Sarah.


"Buatkan teh hangat Bi," sahut Naufal.


Dokter Irene segera memakai handuk yang ku beri.


"Terus kamu sekarang mau gimana?" tanya Naufal.


"Aku minta tolong Fal, aku minta tolong banget, aku mau nginap disini sehari aja, aku mohon untuk sehari, aku takut Fal," ucap Dokter Irene.


"Maaf Ren, kalo nginap disini aku belum bisa izinkan kamu, karena aku juga nggak enak sama tetangga atau kepala desa disini, kecuali kalau kamu saudara aku atau apa gitu," jawab Naufal.


"Aku mohon Fal, sehari aja," kata Dokter Irene yang terus memaksa Naufal.


Untuk masalah ini, aku hanya diam, karena aku tidak berhak mengiyakan atau pun berkata tidak, karena meskipun rumah ini adalah milik Naufal.


"Gi, aku mohon, ya, ijinkan aku sehari aja disini," kata Dokter Irene padaku.


"Emmm...mmmm,"


"Gini aja Ren, kamu ke hotel Papaku saja, gimana ?? Kamu mau nggak?? Kalo mau nanti aku suruh satpam aku buat nganter kamu kesana," kata Naufal.


"Iya Dok, Dokter Irene bisa istirahat disana," sahutku.


"Ya udah Fal, nggak papa, aku mau, yang penting aku nggak sama suamiku Fal," jawab Dokter Irene setuju.


"Habis ini kamu mandi dulu, terus pake baju Gia dulu," tutur Naufal.

__ADS_1


"Iya Dok, Saya masih punya baju baru yang sama sekali belum pernah saya pakai Dok," kataku.


"Makasih ya Gi," ucapnya.


Bi Sarah datang dengan membawakan secangkir teh hangat.


"Diminum Dok," ucapku.


Dokter Irene segera meneguk secangkir teh hangat buatan Bi Sarah.


"Bi, antarkan Irene ke kamar tamu dulu, nanti biar dia mandi sama ganti baju," tutur Naufal.


"Iya Mas," jawab Bi Sarah.


Bi Sarah membawa Dokter Irene ke kamar tamu, aku menunggunya di Ruang Tamu dengan Naufal.


"Mas, kasihan ya," ucapku.


"Iya Sayang," jawab Naufal.


"Nggak mungkin lah Sayang dia menginap disini, aku nggak enak sama tetangga, lagian aku juga jaga perasaan kamu, meskipun kamu sebenarnya mengijinkannya, ya kan," tebaknya.


"Hehhem, iya Mas, kamu tau aja," kataku sambil tersenyum menyeringai.


"Jelas aku tau lah Sayang, soalnya kamu selalu kayak gitu," kata Naufal.


"Ya aku kan kasihan Mas, namanya juga sama ceweknya," ucapku.


"Bukan perkara sama-sama ceweknya Sayang, pada dasarnya kamu begitu, ya kan, hayo ngaku," goda Naufal.


"Mas, udah dong, malah mojokin aku," rengekku.


Beberapa menit kemudian, Dokter Irene kembali ke Ruang Tamu.


"Gimana Ren? Di antar satpam ku aja ya, udah malem bahaya, nanti mobil kamu di kiting dari belakang," ucap Naufal.


Dokter Irene hanya menganggukkan kepalanya saja.


Naufal menelepon Pak Joko yang sedang berjaga di depan.


Tak lama kemudian, Pak Joko datang ke Ruang Tamu.


"Nanti Bapak pake mobil saya aja," ucap Naufal.


"Pakai mobil Rumah saja Pak nggak Papa," tepis Pak Joko.


"Nggak papa Pak, pake mobil saya aja," kata Naufal tetap kekeh.


"Eemm iya Pak," jawab Pak Joko.


Naufal mengambil kunci mobilnya di atas, lalu memberikannya pada Naufal.


"Ini Pak," ucap Naufal sambil menyodorkan kunci mobilnya pada Pak Joko.


Beberapa menit kemudian, Dokter Irene kembali ke Ruang Tamu.


"Gimana Ren? Di antar satpam ku aja ya, udah malem bahaya, nanti mobil kamu di kiting dari belakang," ucap Naufal.


Dokter Irene hanya menganggukkan kepalanya saja.


Naufal menelepon Pak Joko yang sedang berjaga di depan.


Tak lama kemudian, Pak Joko datang ke Ruang Tamu.


"Nanti Bapak pake mobil saya aja," ucap Naufal.


"Pakai mobil Rumah saja Pak nggak Papa," tepis Pak Joko.


"Nggak papa Pak, pake mobil saya aja," kata Naufal tetap kekeh.


"Eemm iya Pak," jawab Pak Joko.


Naufal mengambil kunci mobilnya di atas, lalu memberikannya pada Naufal.


"Ini Pak," ucap Naufal sambil menyodorkan kunci mobilnya pada Pak Joko.


Aku dan Naufal mengantarkan Dokter Irene ke depan Rumah.


"Sekali lagi makasih ya Fal, Gi," ucap Dokter Irene.


"Iya Dok," jawabku, sedangkan Naufal cukup mengangguk saja pada Dokter Irene.


Mobil mereka melaju keluar Rumah.


Naufal kembali membawaku ke dalam Rumah dan menutup pintunya.


Aku melamun sambil berjalan beriringan dengan Naufal.


"Laah, kamu kenapa Sayang kok ngelamun?" tanya Naufal.


"Aku masih kasihan sama Dokter Irene Mas," jawabku.


"Ya Allah Sayang, kamu segitunya banget sama Irene," kata Naufal.


"Kita sama-sama perempuan Mas, jadi aku bisa ngerasain apa yang Dokter Irene rasain," kataku.


***(Di Kamar)


Aku masih melanjutkan obrolanku mengenai Dokter Irene dengan Naufal.


"Kasihan ya Mas, satu rumah tapi bertengkar terus, gimana rasanya," gumamku.


"Ya kan emang niat dari awal mereka itu salah Sayang, jadinya ya begini Allah ngasihnya begini, coba aja kalau mereka emang niat buat nikah, niat ibadah, nggak bakal kayak gini Sayang," kata Naufal.


"Meskipun dulu kita nggak saling mencintai, tapi kan," ucapan Naufal terpotong oleh aku.


"Nggak saling mencintai kata kamu, aku yang cinta kamu tapi kamu yang nggak cinta aku, jadi bukan kita yang saling tidak mencintai, tapi aku yang mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku, gitu Mas yang benar," kataku sambil tersenyum padanya.


"Iya deh iya, ya pokoknya gitu lah Sayang, kan seiring berjalannya waktu pasti kan bisa menyatu, tapi kalau Irene sama suaminya dari awal niat mereka cuman saling memanfaatkan aja Sayang, saling menguntungkan, eeh kalo udah saling cinta, malah susah kan jadinya," ucap Naufal.


"Untung saja dulu kamu bisa mencintaiku, andai kamu belum bisa mencintaiku, bagaimana nasibku sekarang Mas? Hehehe," candaku.


"Ya nggak lah Sayang, nggak mungkin aku nggak cinta sama kamu, orang kita serumah, tiap hari bersama, tidurnya berdua, masak iya aku nggak bisa cinta sama kamu, secara kamu juga kayak gini, keburu diambil Bastian nanti kamu," ucap Naufal.


"Kok Pak Bastian?? Aku kan bahasnya nggak kesitu," kataku.


"Kayak nggak tau Bastian aja kamu Sayang, tahu sendiri kan pasti yang suka godain kamu ngerjain kamu itu tuh anak itu kalau ada kamu," ucap Naufal yang sepertinya iri.

__ADS_1


"Ya kan Pak Bastian emang sifatnya gitu Mas," kataku membela diri.


"Iya Sayang bercanda, gitu aja udah nyolot nyolot kalau ngomong, hahaha," Naufal menertawakanku.


"Ya nggak nyolot nyolot gitu Mas, kan emang iya sifatnya Pak Bastian kan emang gitu orangnya, nggak ke aku aja, kamu sih yang sensitif," kataku.


"Iiiih kok gitu, kan nyolot kan," kata Naufal.


"Tau ah mau tidur," kataku singkat sambil membalikkan badanku untuk membelakanginya.


"Tuh kan ngambek, awas ya kalau kamu ngambek," ancam Naufal.


"Udah tidur sana Mas, sebentar lagi jam 12, ingat ulang tahun Abay, jadi kita harus bangun tepat sebelum jam 12," kataku.


"Okeeee sekarang kamu bisa nyolot sama aku, bisa ngambek sama aku, bisa sinis sama aku, lihat aja nanti setelah ulang tahun Abay," bisik Naufal di telingaku dengan pelan.


"Nanti setelah kita kasih surprise sama Abay, aku tidur sama Abay," kataku.


"Nggak bisa gitu Sayang, nggak bisa, kalau kamu tidur sama Abay, aku juga harus tidur sama Abay, tapi Abay jarang mau tidur sama kita," tepis Naufal sambil menaikkan satu alisnya.


"Dia kan anaknya mandiri," ucap Naufal lagi.


Aku mendengarkan semua celoteh Naufal sampai aku tertidur.


Kurang dari 15 menit jam 12 malam alarm dari ponselku berdering.


Segera kuambil ponselku laluku matikan daring dari ponsel yang mengganggu telingaku.


"Uuughhhhmm, hoooaamm,"


Aku langsung bangunkan Naufal untuk menemaniku ke bawah.


"Mas, bangun.....udah hampir jam 12," kataku.


Tubuh Naufal tak kunjung bergerak dan masih nyaman dalam tidurnya.


"Mas bangun dong, ini kan ulang tahunnya Abay, kamu kok nggak bangun sih," ucapku.


Mendengar nama Abay yang keluar dari mulutku Nova langsung terjingkat bangun.


"Udah jam 12 Sayang?" tanyanya sambil panik.


"Belum, kurang lima belas menit, ayo anterin aku ke bawah ambil kuenya, Aku nggak berani," kataku.


Akhirnya Naufal mengantarkanku untuk ke bawah.


Setelah berhasil kami mengambil kue, kami berjalan mengendap-endap sampai di depan pintu kamar Abay.


"Sayang, jam berapa ini kamu cek dulu," tanya Naufal sangat lirih.


Kubuka ponselku untuk melihat jam berapa saat ini.


"Kurang 3 menit Mas, nanti kita langsung masuk tapi jangan bersuara dulu, terus tepat jam 00.00 kita bangunin apa ya," ucapku.


Aku bawakan kuenyaz Naufal membawakan korek apinya, Naufal membuka perlahan pintu kamar Abay agar Abay tidak mendengar ataupun terganggu bahkan sampai bangun.


***(Di Kamar Abay)


Dalam kamar Abay yang sangat gelap dan hanya lampu dinding yang terpancar di sana berbentuk iron man.


Aku takut dan berjalan di belakang Naufal.


"Mas pelan-pelan aku takut," desisku di belakang Naufal.


Saat jarum jam menunjukkan waktu tengah malam tepatnya pukul 00.00 kami langsung membangunkan Abay.


"Happy Birthday to Abay......Happy birthday to Abay, Happy birthday Happy birthday......Happy birthday Abay,"


Abay membuka perlahan selimutnya, dia kaget ada kami di sana.


"Uuughhmmm, Mama Papa," panggilnya.


"Happy Birthday Sayang," ucap Naufal.


Abay langsung bangun dari tidurnya, dia tersenyum sambil mengucek-ucek kedua matanya.


"Mama.....kirain Mama sama Papa lupa sama ulang tahun Abay," ucap Abay.


"Ya nggak dong Abay, Mama sama Papa selalu ingat lah nggak mungkin lupa," ucap Naufal.


Aku dan Naufal memeluk Abay dia menangis di pundak kami.


Lalu Abay mencium kami.


"Sekarang, Abay make wish," sahutku.


"Iya, sekarang Abay doa apapun sama Allah, entah itu kesehatan, panjang umur atau kebahagiaan," tutur Naufal yang bijaksana.


Abay memejamkan matanya di depan kue yang kubawa lalu dia mengucap doanya di dalam hati.


"Aamiin," ucap Abay.


"Tadi Abay doa apa sama Allah?" tanya Naufal.


"Abay minta keluarga Abay selalu bahagia, sehat dan rukun, Mama sama Papa terus sayang sama Abay," jawab Abay yang membuat air mataku menetes di kedua pipiku.


"Abayyyyy," renggekku sambil memeluknya.


Aku jadi teringat betapa Abay sangat mencintaiku, sampai-sampai dengan umurnya yang masih beberapa tahun, dia sudah berpikir bahwa dia tidak ingin menyakiti ku dan membuatku menangis atau pun marah.


"Maafin Abang ya Ma, Pa," ucap Abay.


"Enggak Sayang, Abay sudah jadi anak yang baik buat Mama sama Papa," kataku sambil terbata-bata.


"Sekarang waktunya potong kue," ucap Naufal mengencerkan suasana agar tidak terlarut dalam kesedihan.


Kami menikmati momen haru dan bahagia itu.


Setelah hampir 1 jam, Aku meminta izin pada Abay untuk tidur bersamanya.


"Abay, Mama tidur di sini ya sama Abay," kataku.


"Mama bukannya Abay nggak mau tidur sama Mama, tapi nanti kasihan Papa tidur sendiri," jawab Abay.


"Papa ikut tidur di sini juga Abay," sahut Naufal.


"Mama, Papa, Abay ini udah gede, Abay nggak manja manja lagi sama Mama sama Papa," ucapnya dengan polos.

__ADS_1


Bersambungg.....


__ADS_2