
***
Gia senang karena bisa menjalani aktivitas nya tanpa ada gangguan perasaan, saat ini Gia menfokuskan dirinya untuk belajar, belajar dan belajar. Dan bisa lanjut untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Bahkan jika dikampus Gia bertemu dengan Pak Kevin, Gia menganggap tidak pernah ada kejadian apa-apa dengan Pak Kevin, begitu juga dengan beliau.
Gia melewati hari-harinya tanpa memikirkan yang lain kecuali pendidikannya. Semester demi semester Gia lewati, bahkan revisi demi revisi Gia lewati. Sampai Gia wisuda menyandang gelar S.Ked dan telah melanjutkan pendidikannya. Setelah Gia wisuda dan menjadi lulusan cumlaude di kampusnya, Gia melanjutkan pendidikannya untuk meraih titel dokter (dr) dan Gia harus mengambil program profesi, kebetulan tempatnya di lain kota. Gia sangat lega karena bisa mewujudkan salah satu cita-cita Papanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa tahun kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak terasa beberapa tahun berlalu saat ini Gia menyandang sebagai koas di salah satu rumah sakit swasta, begitu juga Susi sahabatnya yang tidak bisa jauh dari Gia. Kebetulan mereka ditempatkan pada rumah sakit yang berbeda tapi pada kota yang sama. Gia sempat berfikir bahwa Pak Kevin akan tetap berusaha atau akan menunggunya, tapi Gia salah. Saat Gia wisuda, tepat pada saat itu Pak Kevin dan kekasihnya menggelar pesta pertunangan mereka di salah satu hotel ternama.
Ini alasan Gia untuk menahan perasaan nya pada Pak Kevin, Gia fikir percuma dia berikan rasa cinta nya pada Pak Kevin yang kelak belum tentu memilih Gia. Jadi lebih baik Gia mengubur rasa cinta nya dalam-dalam dan kelak pasti akan ada Pria yang akan melaksanakan akad bersamanya. Dan Pria itu berhak atas semua cinta Gia.
Kringg...kringggg.
Suara jam weker minion Gia yang berdering di atas meja, suasana kamar Gia yang tetap sama seperti di kosnya yang dulu. Bunga mawar putih yang selalu Gia ganti setiap harinya terpajang di pojok kamar dekat jendela, pengharum ruangan kas bau buah apel kesukaan Gia, gorden lucu bergambar minion. Sprei halus bernuansa minion, dan juga selimut yang sangat lembut.
Gia sengaja dulu saat pertama kali menghuni kos ini menyusun semua barang-barang seperti di kosnya yang dulu, karena Gia terlanjur nyaman akan kosnya yang dulu, tetapi apalah daya Gia yang harus melanjutkan pendidikan nya di kota orang.
"Hmm gak terasa udah 1 tahun lebih disini, tapi belum bisa move on dari kamarku yang dulu," gumam Gia dalam hatinya sambil mengelus-elus selimutnya.
"Aduh kerudungku belum di setrika," ucap Gia dengan menatap kerudungnya.
Lalu Gia menyetrika kerudungnya, dan memasang di kepalanya. Setelah Gia selesai bersiap-siap. Gia menggantungkan tas dengan sebelah pundaknya, Gia berangkat ke rumah sakit mengendarai mobilnya. Jarak rumah sakit dan kos Gia lumayan dekat hanya memerlukan waktu 15 menit saja.
***(Di Rumah Sakit)
Gia masih di dalam mobil, mengambil jas dokternya yang selalu digantungkan di belakang mobilnya, Gia keluar dari mobilnya dengan jas dan stetoskop yang sudah dikalungkan di lehernya.
Gia berjalan menuju ruangannya. Dalam ruangannya, Gia meletakkan tasnya di mejanya, Gia harap pagi ini tidak telat sarapan tetapi Dokter Anton yang biasa memimpin koas Gia memanggil semua anggota koas.
"Para koas harap berkumpul disini" ucap Dokter Anton.
Semua koas termasuk Gia berkumpul di ruangan yang lumayan kecil, Gia memperhatikan dokter yang ada di sebelah Dokter Anton, Gia tak habis-habisnya memandangi Dokter itu, seorang Dokter dengan kemeja warna silver, alisnya tebal, hidungnya mancung, ada lesung pipinya, bulu mata lentik, dagu belah, bibir tipis berwarna merah alami, dan badan nya yang berotot serta tinggi.
"Siapa itu?" Gumam Gia dalam hati.
Sepertinya Gia mulai salah fokus ke arah Dokter Naufal.
"Selamat pagi untuk semuanya, baiklah para koas, di samping saya ini ada seorang dokter namanya Dokter Naufal Herdiman, beliau baru saja pulang dari Singapura untuk menyelesaikan urusan bisnisnya, beliau seorang dokter dan direktur disini sekaligus seorang direktur muda di kantornya sendiri. Beliau yang akan memimpin kalian selama koas disini, karena sebenarnya saya sebagai pengganti beliau, karena keberangkatan Dokter Naufal ke Singapura dan baru sampai kemaren malam, jadi bukan saya lagi yang memimpin kalian melainkan Dokter Naufal, bagaimana Dokter Naufal apakah ada yang mau anda sampaikan?" ucap Dokter Anton yang mempersilahkan Dokter Naufal.
"Tidak Dok," awab Dokter Naufal singkat.
"Apakah ada pertanyaan dari kalian semua mengenai Dokter Naufal?" tanya Dokter Anton.
Lagi-lagi Gia hanya melongo melihat Dokter Naufal.
"Subhanallah, nikmat mana lagi yang Kau dustakan," ucap Gia dalam hatinya.
Tiba-tiba semua melongo melihat pertanyaan dari salah satu koas bernama Riana.
"Dokter Naufal umurnya berapa ya?" tanya Riana.
"28 tahun itu usia saya," jawab Dokter Naufal dengan menunjukkan lesung pipinya itu.
__ADS_1
"Berarti masih muda dong Dok, tidak jauh beda dari kita, kita masih 24 tahun an dok, Dokter Naufal sudah menikah?" kata Riana yang memang dari orok sudah begitu celetuknya.
Dokter Naufal menahan tawanya.
"Belum," jawab Dokter Naufal.
"Apakah sudah tidak ada lagi yang kalian tanyakan?" tanya Dokter Anton.
"Tidak Dok," semua koas menjawab serentak.
"Baiklah itu saja informasi dari saya, silahkan bisa melanjutkan tugas anda semua," ucap Dokter Anton.
Semua koas menuju ruangan nya masing-masing, Gia satu ruangan dengan Riana. Riana adalah teman Gia selama Gia koas di rumah sakit ini. Panggilannya Nana, Mereka lumayan akrab sih, Riana anaknya baik dan juga humoris.
"Subhanallah, Dokter Naufal," gumam Gia dalam hatinya karena terkagum-kagum oleh kecerdasan bahkan ketampanan Dokter Naufal.
"Eh Gi, ganteng banget ya Dokter Naufal tadi," ucap Riana.
"Apaan sih Na, kamu nih masih pagi banyak pasien malah mikirin Dokter Naufal," kata Gia dengan membuka laptopnya di mejanya.
"Kamu nih Gi, susah ngomong sama orang yang moodnya belajar mulu," ejek Riana dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Tapi Gi, Dokter Naufal cocok deh sama kamu," goda Riana sengaja agar Gia mendengarkan setiap perkataannya dan tidak cuek padanya.
"Ya nggak lah Na, ada-ada deh kamu," Kata Gia sambil menggelengkan kepalanya.
"Dokter Naufal dulu mungkin juga sama kayak kamu, moodnya belajar mulu, sepaket sudah tuh sama kamu," Kata Riana dengan memakan biskuit yang dibawanya.
"Nggak lah, ngaco kamu Na," ucap Gia yang sebenarnya agak tertarik dengan Dokter Naufal.
Semua koas meninggalkan ruangan kerjanya karena kembali bertugas menangani pasien yang ada di rumah sakit tersebut. Kebetulan Gia, Riana, dan Rama memasuki ruang yang sama, ternyata di dalam ruangan ada Dokter Naufal yang telah memeriksa pasien nya. Mereka menghampiri Dokter Naufal.
"Pasien ini mengalami gatal-gatal di bagian kulit tangannya, usianya 41 tahun, salah satu dari kalian coba periksa pasien ini," ucap Dokter Naufal tanpa melihat ke arah kita.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mendekat, karena ternyata sifat Dokter Naufal serem juga. Akhirnya Gia mengalah. Gia mengambil langkahnya dan memeriksa pasiennya.
"Gatal-gatalnya merah Dok, detak jantungnya normal, dan hanya di sekitar kulit lengan saja, tidak keluar nanah, kemungkinan pasien ini mengalami alergi saat injeksi," jawab Gia.
"Bagus, coba periksa pasien sebelahnya, dan jangan lupa cek tekanan darahnya, saya tinggal dulu," ucap Dokter Naufal yang langsung meninggalkan kami.
Gia, Riana dan Rama akhirnya memeriksa satu per satu pasien mereka.
"Untung ada kamu Gi," ucap Rama.
"Iya Gi, kalo gak ada kamu mati berdiri kita, ternyata dibalik ketampanan seorang Dokter Naufal ada kutub es nya juga ya Gi," sahut Riana sambil memakaikan tensi pada pasiennya.
"Masih suka kamu sama beliau?" tanya Gia dengan nada mengejek.
"Kalo itu sih tetep Gi, secuek-cueknya Dokter Naufal, aku tetep suka lah," jawab Riana.
"Memang Dokter Naufal sejak dari dulu banyak yang suka Dok, apalagi pasien-pasien nya yang masih muda," sahut pasien yang ada di depan ranjang Gia.
"Memangnya beliau tidak jahat ya Buk?" tanya Gia dengan pasien nya yang lumayan agak tua.
"Sebenarnya Dokter Naufal tidak jahat sama sekali, bahkan sangat sayang dan sabar sama pasien nya, saya tau karena saya sudah lama bolak balik ke rumah sakit ini Dok," ucap pasien tersebut.
"Tuh kan Gi, kamu sih prasangka buruk aja," kata Riana.
"Kok aku Na? Kamu lah," jawab Gia dengan mengalungkan stetoskopnya.
"Tau tuh Nana," sahut Rama.
"Ibu bisa istirahat ya sekarang," ucap Gia pada pasiennya.
Setelah mereka memeriksa pasiennya masing-masing, mereka melanjutkan untuk memeriksa pasien di ruangan selanjutnya. Sampai-sampai tidak terasa sudah siang tepat jam 12.45. Gia bersiap-siap untuk pulang.
"Gi, nebeng ya pulangnya?" ucap Riana.
"Iya santai aja kali Na," jawab Gia yang membereskan meja kerjanya.
Gia dan Riana menuju ke parkiran mobil, Riana tak kunjung masuk ke dalam mobil, tetapi malah melongo melihat ke arah belakang mobil sambil memegang pintu mobil.
Siapakah yang dilihat oleh Riana?
tunggu eps selanjutnya Kakak" semua.🖤
jangan lupa vote, like, komen, follow me dan gabung ke grup.
kritik dan sarannya bisa kalian sampaikan lewat grup🙏😁
Terima kasih banyak untuk Kakak" yang sudah menyempatkan membaca, like, komen dan vote setia di novel ini.🖤
__ADS_1