
Dalam kamar mandi Gia berfikir negatif pada Dokter Naufal,
Gia curiga jika yang di telfon suaminya itu adalah sahabatnya dulu. Di hari bahagia Gia ini tak pantas jika Gia menangis, Gia menenangkan pikirannya, lalu keluar dari kamar mandi, Gia lebih memilih untuk diam dan memendamnya saja.
Rupanya suaminya sudah tidak lagi menelfon seorang misterius
tadi.
“Kamu dengerin ya tadi?” tanya Dokter Naufal pada Gia.
“Eeeng…enggak kok,” jawab Gia datar.
“Udah gak usah bohong,” ucap Dokter Naufal sambil berjalan
menghampiri Gia.
Dokter Naufal ingin memegang kedua lengan Gia, tapi di
hentikan oleh Gia.
“Eh eh mau ngapain, aku udah wudhu loh,” ucap Gia sambil
menjauh dari kedua tangan Dokter naufal.
“Astagfirullah aku lupa, tadi itu aku lagi telfon sama
keponakan aku, udah lama gak ketemu sama dia, soalnya dia udah gak punya Papa, makanya manja nya sama aku,” tutur Dokter Naufal.
“Terus apa masalahnya?” tanya Gia.
“Ya aku hanya ngejelasin ke kamu aja, barang kali tadi kamu
salah paham,” tutur Dokter Naufal malu-malu.
“Udah ah sana mandi,” perintah Gia.
Dokter Naufal langsung menuruti perintah dari istrinya
tersebut.
Setelah Dokter Naufal selesai mandi, mereka langsung sholat
bersama.
Setelah mereka sholat, mereka keluar untuk menemui tamu dari keluarga Gia yang baru saja datang.
Beberapa jam kemudian, adzan magrib telah berkumandang.
Gia dan Dokter Naufal izin untuk kembali ke kamarnya karena ingin sholat, Susi memanggil Gia yang beranjak dari tempat duduknya.
“Eh Gi,” panggil Susi.
“Kamu habis ini sholat langsung ya, soalnya MUA nya udah mau
nyampek sini,” tutur Susi.
“Iya Si, ini aku mau sholat,” ucap Gia.
Gia pergi ke kamarnya dan langsung mengambil air wudhu,
kemudian Gia melaksanakan sholat magrib bersama suaminya. Setelah sholat Gia langsung melepas mukenahnya, Susi mengetuk pintu kamar Gia.
Tok….tok….tok.
“Masuk,” ucap Dokter Naufal.
Susi dan MUA masuk ke dalam kamar Gia, Gia segera duduk di
depan kaca perias. Kali ini konsep pernikahan Gia seperti orang-orang pada umumnya, Gia memilih konsep serba putih dan tema Chic Shabby, konsep ini biasanya menjadi favorit para wanita karena mengusung sisi romantisme, mulai
dari pemilihan warna serba putih dengan motif bunga yang terpajang di setiap sisi aula hotel, sebenarnya Gia ingin memakai konsep outdoor tetapi karena pernikahan ini diam-diam dan tidak ada yang mengetahui kecuali kerabat dan teman dekat saja, jadi terpaksa Gia harus memilih konsep indoor.
Setelah semua anggota keluarga beserta mempelai pria dan
wanita sudah selesai di rias, rupanya tamu undangan sudah menunggu mereka di aula hotel.
Dokter Naufal mengandeng tangan Gia, Gia merasa kaget,
tangannya sangat dingin.
“Baru pertama kali ya?” ejek Dokter Naufal.
Gia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dokter
Naufal, tetapi Gia tidak berhasil melakukan itu karena Dokter Naufal sangat kuat menggenggam tangan Gia.
“Udah gak usah ngambek, habis ini kita jalan di
tengah-tengah tamu loh,” goda Dokter Naufal.
“Siapa yang ngambek cobak, biasa aja kali aku,” bantah Gia.
“Eh kalian ini, ayo ke aula semuanya,” tutur Tante Feni.
__ADS_1
“Iya udah di tunggu tamunya Nak,” sahut Om Diki pada anak
dan menantunya itu.
Keluarga Gia dan Dokter Naufal berjalan menuju aula, begitu
juga dengan Susi yang setia membawakan ekor panjang dari gaun Gia yang kira-kira panjangnya 3 meter itu.
***(di Aula Hotel)
Setelah pintu aula di buka, Gia berjalan dengan menggandeng
tangan Dokter Naufal.
Kedua orang tua Gia dan Dokter Naufal berada di barisan
belakang Gia bersama Susi.
Semua pandangan tertuju pada kedua insan yang berbahagia
itu.
Detak jantung Gia bergetar semakin cepat karena baru pertama kali ini Gia diperhatikan oleh banyak orang. Semua kamera tertuju pada Gia dan Dokter Naufal.
Gia dan Dokter Naufal duduk di panggung pernikahan.
Beberapa jam telah berlalu, acara demi acara telah
terlewati, semua tamu undangan meminta foto dengan kedua mempelai.
Tak terasa hari semakin larut malam, tamu undangan dan
keluarga kedua mempelai sepertinya sudah meninggalkan Gia dan suaminya di hotel
tersebut.
Gia berjalan ke kamarnya dan Dokter Naufal sepertinya masih
menemui tamu yaitu para sahabatnya termasuk Pak Bastian.
Gia langsung memutuskan untuk mandi dan sholat isya’,
setelah sholat Gia mengambil bantal dan boneka minionnya yang selalu ia bawa kemana-mana, Gia memutuskan untuk tidur di sofa.
Gia merasa sangat capek dan tidak mempedulikan suaminya yang masih sibuk dengan dunia nya sendiri itu.
Setelah Gia tertidur, rupanya Dokter Naufal berjalan masuk
ke kamarnya dan melihat Gia yang tertidur di sofa, beliau menghampiri Gia.
“Lucu juga anak ini, Bisa-bisanya aku menikah dengan bocah
macam ini,” gumam Dokter Naufal dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Beliau merasa kasihan dengan Gia karena tidak memakai selimut, akhirnya Dokter Naufal menarik selimut yang ada di atas kasurnya dan menutupi badan Gia dengan selimut tersebut.
Dokter Naufal pergi untuk mandi dan sholat isya’, lalu tidur
di atas kasurnya.
Adzan shubuh berkumandang, Gia bangun dan melihat suaminya yang sepertinya masih tertidur, Gia menghampiri suaminya.
“Hey,bangun,” tutur Gia.
Dokter Naufal tak kunjung bangun, Gia menggoyang-goyangkan badan beliau dan akhirnya Dokter Naufal membuka matanya.
“Hmm apa?” ucap Dokter Naufal.
“Udah shubuh, ayo sholat,” tutur Gia.
Dokter Naufal langsung menuju kamar mandi untuk mengambil
air wudhu begitu juga dengan Gia.
Mereka melaksanakan sholat shubuh bersama, setelah sholat,
Gia mengambil koper dan membereskan semua bajunya dan baju Dokter Naufal karena pagi ini mereka akan pergi ke rumah milik Dokter Naufal sendiri.
2 jam kemudian Gia selesai membereskan semuanya, mereka
langsung menancap gas untukpergi ke rumah Dokter Naufal, jarak hotel ke rumah Dokter Naufal tidak terlalu jauh hanya memakan waktu 30 menit saja.
Di dalam mobil Gia mencoba membukaobrolan dengan Dokter
Naufal agar tidak kaku berdua di dalam mobil.
“Nanti di rumah kamu ada siapa aja?” tanya Gia.
“Ya kita berdua lah,” jawab Dokter naufal singkat.
Gia tidak ingin melanjutkan obrolan dengan suaminya itu.
***(di Rumah Dokter Naufal)
__ADS_1
Sampai di depan gerbang Rumah Naufal.
Tin….tin…suara klakson dari mobil Dokter Naufal.
Seorang satpam langsung membuka gerbang rumah Dokter Naufal.
“Itu yang buka in gerbang namanya Pak Joko, beliau satpam di
rumahku,” ucap Dokter Naufal.
Gia hanya diam dan tidak menjawab sepatah kata pun pada
suaminya.
“Pagi Pak,” sapa Pak Joko.
“Mari Pak,” ucap Dokter Naufal sambil menyunggingkan kedua
pipinya.
Dokter Naufal memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
Gia langsung turun dari mobil suaminya, Dokter Naufal
mengusung 2 koper milik Gia dan miliknya. Mereka berjalan menuju pintu rumah. Beliau membuka pintu rumahnya.
Dokter Naufal menggiring Gia menuju kamar mereka.
“Ini kamar kita, kamu berhak atas semua yang ada di sini,
jadi kamu gak perlu sungkan-sungkan,” tutur Dokter Naufal.
Gia tak menjawab ucapan Dokter naufalkarena Gia sibuk
melihat setiap sudut kamarnya.
“Gi, kalo ada orang ngomong di dengerin dong,” perintah
Dokter Naufal.
“Iya iya aku denger kok,” ucap Gia yang sama sekali tidak
memandang ke arah wajah Dokter Naufal melainkan masih melihat setiap sisi kamarnya.
Dokter Naufal langsung menghampiri Gia dan memegang kedua
pipi Gia. Beliau menatap kedua mata Gia. Jantung Gia berdetak tak karuan karena sikap Dokter Naufal, Gia melototkan kedua matanya.
“Iiih apaan sih,” sontak Gia.
“Kalo ada orang ngomong di dengerin, di lihatin juga,” tutur
Dokter sambil mencubit kedua pipi tembem Gia.
“Iiiiih sakit tau, lebay deh, orang aku dengerin juga,”
jawab Gia sambil mengernyitkan kedua alisnya.
“Tuh kan, kalo suami ngomong kamu gak boleh ngeyel,” tutur
Dokter Naufallagi sambil melepaskan Pipi Gia.
"iya tau tau,” jawab Gia lirih.
“Ya udah aku ke bawah dulu mau minum haus, kamu masukin
semua pakaian kita ke almari,” ucap Dokter Naufal.
Dokter Naufal berjalan meninggalkan kamarnya, Gia
membuka koper dan memindahkan bajunya ke dalam almari, setelah almari bagian tengah rupanya sudah tidak cukup, Gia membuka almari bagian atas, setelah Gia membuka almari bagian atas, Gia menemukan satu kotak berwarna hitam dan Gia yang tidak sengaja menyenggol kotak itu,lalu kotak itu terjatuh.
Braakkkk….
“Astagfirullahaladzim,” ucap Gia kaget.
Semua isi yang ada di kotak tersebut berceceran dilantai,
ternyata isi dari kotak tersebut adalah foto-foto Dokter Naufal dengan seorang wanita dan mereka mengenakan seragam SMA dan juga ada beberapa surat.
Hati Gia sangat sakit pada saat itu, mata Gia berkaca-kaca
membereskan satu per satu foto itu, Gia memberanikan diri untuk membaca salah satu dari surat tersebut. Gia membaca surat itu dengan tangisannya.
Rupanya Dokter Naufal mendengar adanya benda jatuh dari arah kamarnya tadi, beliau langsung menhampiri Gia yang ada di dalam kamarnya.
Tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka, Dokter Naufal
melihat Gia yang sedang duduk di lantai sambil memangku kotak hitam miliknya, Dokter Naufal tau bahwa Gia sedang menangis saat itu.
Bersambung.......
Tunggu episode selanjutnya ya🙏😁
__ADS_1
jangan lupa like, comment dan vote kak
Terima kasih atas semuanya🖤