Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 79 (Reason of Sandwich)


__ADS_3

Setelah selesai kami berberes, kami segera turun ke bawah untuk sarapan.


***(di Ruang Makan)


"Monggo Mbak Gia Mas Naufal," ucap Bi Sarah mempersilahkan kami duduk.


Aku berjalan ke dapur untuk membuatkan sandwich Naufal.


Sebenarnya aku sangat malas jika Naufal menginginkan sandwich, tapi bagaimana lagi? Aku tidak bisa menolak semua keinginannya.


"Yang lain kemana Bi?" tanya Naufal.


"Sarapan di luar Mas, katanya pengen nasi pecel yang di depan," jawab Bi Sarah.


"Ooww ya udah Bi, kok tumben sepi," ajak Naufal.


Setelah selesai ku buatkan sandwich, aku kembali ke Ruang Makan.


Langsung ku berikan 2 piring sandwich itu di depan meja Naufal.


"Ini Mas, segera di makan," ucapku sambil duduk di sampingnya.


"Waw pasti enak banget nih," ucap Naufal yang membuatku kesal.


"Mari Bi makan," sahut Naufal.


Dengan segera kami menyantap sarapan pagi.


"Gi, kamu nggak makan sandwichnya?" tanyanya.


"Enggak, aku nggak suka," ceplosku yang tidak sengaja.


"Upppss......aduh keceplosan, aku tidak ingin membuat sakit hati Naufal," gumamku dalam hati.


"Eeemmm maksudku bukan begitu Mas, aku......aku pengen sarapan masakan Bi Sarah aja, itu Mas yang makan," kataku dengan gugup.


"Oowww eemm ya udah gak papa," jawab Naufal datar.


"Gia kenapa? Dari raut mukanya kok kelihatan kesal banget saat dia bilang gak suka sama sandwich, apa Gia sangat membenci sandwich semenjak dia tau aku suka sandwich gara-gara sering di bawakan Vela dulu," gumam dalam hati Naufal.


"Mas, kok bengong?" tanyaku sambil menepuk lengannya.


"Eemmm.....enggak, aku juga tiba-tiba nggak pengen sandwich Gi," jawabnya.


"Loh kok gitu? Bukannya kamu sendiri Mas tadi malam yang bilang," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Ya iya sih, tapiii..... Tiba-tiba nggak selera makan aja, gak tau kenapa," alasan Naufal.


"Kenapa? Kamu nggak enak badan? Atau gimana? Kok tiba-tiba banget, biasanya kamu lahap banget kalo makan apalagi ini sandwich loh," tuturku.


"Nggak papa, aku sarapan masakan Bibi aja," kata Naufal.


"Ini demi kamu Gi," ucap dalam hati Naufal.


"Beneran? Yakin kamu? Enak loh sandwichnya," rayuku.


"Beneran Gi, udah ayo sarapan," tutur Naufal.


Aku tersenyum manis padanya.


"Aku bahagia Gi jika melihatmu tersenyum seperti ini, ini yang selalu aku tunggu setiap harinya, meskipun ada luka yang pernah ku goreskan di hatimu, tapi kamu? Sama sekali tidak pernah merasa terbebani dan mengingatnya," gumam dalam hati Naufal.


Setelah kami selesai sarapan, kami segera berangkat pergi bekerja.


"Bi, Gia sama Mas Naufal berangkat dulu ya," pamitku pada Bi Sarah.


"Hati-hati Mbak Gia, Mas Naufal juga," ucap Bi Sarah.


"Assalamu'alaikum Bi," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Kami berjalan ke garasi dan langsung masuk ke dalam mobil.


Naufal langsung melajukan mobil putihnya itu.


"Sayang," panggil Naufal lirih.


"Apa?" jawabku sambil menambal maskara di bulu mataku.


"Emmm kamu nggak suka ya kalo tau aku makan sandwich?" tanya Naufal yang sangat gugup.


"Kok kamu nanya gitu?" tanya balik sambil menoleh padanya.


"Ya.....Kalo kamu nggak suka ya gak papa Sayang, aku gak akan makan lagi," kata Naufal.


"Enggak gitu Mas, kamu jangan gitu, itu makanan kesukaan kamu," ucapku.


"Tapi aku gak mau ngelihat kamu kayak tadi pagi Sayang, kamu kelihatan kesel banget sama aku," keluh Naufal.


"Kok Naufal tau?" ucapku dalam hati.


"Aku harus gimana Sayang? Kamu bilang sama aku? Kalo kamu nggak pengen aku makan sandwich lagi, ya udah aku bakalan nurutin kamu, aku gak mau kamu kesel sama aku, kamu bilang ya? Kamu maunya aku kek gimana, ya?" rayu Naufal.


"Aku tidak mungkin menyuruhmu untuk tidak lagi makan sandwich Mas," gumamku dalam hati.


"Huuuufftttt, kamu boleh makan sandwich, tapi.....aku minta........jangan di depan aku ya, karena setiap kali aku tau kamu makan sandwich....aku...," ucapku terhenti karena bibirku terbungkam oleh jari telunjuk Naufal.


"Huuusssttttt udah aku ngerti, aku nggak makan sandwich juga gak papa Sayang, maaf lagi ya," goda Naufal.


"Gak papa Mas, kamu gak perlu minta maaf, tapi kalo kamu gak bisa gak papa Mas, aku menerima masa lalu, masa lalumu ya memang itu masa lalumu," kataku sambil tersenyum padanya.


Tidak terasa kami sampai di Rumah Sakit.


***(di Rumah Sakit)


Kami keluar dari mobil, dan berjalan beriringan.


"Sayang, nanti kayaknya aku meeting deh, jadi pulangnya agak sore banget, kamu gak papa nungguin aku," kata Naufal.


"Gak papa kok, gak papa, aku nggak keberatan Mas," ucapku.


"Ya udah Sayang, tapi nanti kalo kamu kelamaan nunggunya kamu bawa pulang aja mobilnya, biar nanti aku di anterin Bastian," kata Naufal.


"Nggak usah Mas, aku nanti pasti nungguin kamu," kataku.


"Heemmm kamu setia banget sih," kata Naufal sambil tersenyum padaku.


"Subhanallah, dulu aku pernah menginginkan dia di setiap pagi ku, dan sekarang? Dia benar-benar ada di depanku," gumamku dalam hati sambil melamun menatap Naufal.


"Ya udah gih kamu kesana," tutur Naufal.


"Bye Sayang," kata Naufal sambil berjalan meninggalkanku.


Aku berjalan menuju ruanganku.


Setelah ku letakkan tas dan ku pakai jas dokterku, aku segera memeriksa satu per satu pasienku.


Langkahku terhenti ketika melewati bagian administrasi.


"Dokter Gia," panggil salah satu bagian admin itu.


"Iya ada apa?" tanyaku sambil berjalan mendekat.


"Kemaren saya sudah kirim total pembayaran pasien yang hamil kecelakaan itu Dok sekalian sama suaminya katanya Dok, terus kemaren Ibunya pasien ini kesini Dok, dia ingin bertemu dengan siapapun yang melunasi biaya ini," ucap Petugas admin.


"Emmmm gitu ya? Kamu jawabnya gimana?" tanyaku sambil menggigit bibir bawahku dan menaikkan satu alis mataku.

__ADS_1


"Saya jawab kalo yang melunasi biaya ini tidak ingin diketahui identitasnya Dok," jawabnya.


"Ooww gitu, ruangannya sekarang di pindah kemana?" tanyaku.


"Di kamar VIP 003 Dok," jawabnya.


"Ya udah makasih ya, saya akan segera kesana," kataku.


"Baik Dok," jawabnya.


Dengan segera aku berjalan menuju kamar itu.


Di pojok sebelah lift aku menemukan kamar VIP 003.


"Sepertinya itu kamarnya," gumamku dalam hati.


Ku berjalan mendekat kesana.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi," ucapku sambil tersenyum pada mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.


"Ibu siapa namanya?" tanyaku.


"Saya Lia Dok," jawabnya.


Sebenarnya aku sudah tau nama pasien itu, tapi aku tidak ingin dia curiga.


"Ini ibunya ya?" tanyaku.


"Iya Dok," jawabnya.


Ku salami tangan Nenek itu (Ibu dari bu Lia)


"Dokter kan kemaren yang membawa saya ke ruang operasi, Dokter juga yang mengoperasi saya," tebak Bu Lia.


"Iya betul sekali Bu, gimana keadaannya? Bayinya sehat kan?" tanyaku dengan sangat halus.


"Alhamdulillah Dok sehat," jawabnya.


"Ini suaminya nggak jadi satu disini Bu?" tanyaku.


"Tidak Dok, suami saya di sebelah," jawabnya.


"Di sebelah mana? Sebelah pas sini?" tanyaku.


"Iya Dok," jawabnya sambil sedikit merintih kesakitan.


"Dok, kemaren ibu saya ke bagian admin ingin menanyakan biaya operasi saya, tapi katanya sudah di bayar lunas semua, dan saya kaget di bawa ke kamar VIP ini, terus Ibu saya nanya siapa yang melunasi, tapi nggak di kasih tau Dok, katanya si pembayarnya ini nggak mau di ketahui identitasnya," ucap Bu Lia.


"Saya ingin berterima kasih pada yang melunasi biaya anak saya Dok," sahut Ibu itu.


"Ibu Lia sama Nenek nggak usah khawatir mikirin itu, yang terpenting Bu Lia sehat, suaminya sehat, anaknya juga sehat," tuturku.


"Tapi saya penasaran Dok dengan seseorang yang melunasi biaya saya, jumlahnya juga nggak sedikit dong, bahkan sangat banyak," ucapnya.


"Sudah Bu, ibu tidak perlu memikirkan itu, mungkin seseorang itu memang ingin membantu Ibu, ini mungkin sudah rejeki Ibu, ya" rayuku.


Nenek itu menangis lalu memelukku.


"Siapa pun yang membiayai anak saya dan suaminya, semoga dikasih rejeki berlimpah Ya Allah, di bahagiakan dunia akhiratnya Ya Allah, " ucap Nenek sambil menangis.


Hatiku merasa trenyuh mendengar do'a Nenek itu.


"Aamiinnn Nek," kataku sambil mataku berkaca-kaca.


"Ya sudah kalo gitu saya pergi dulu ya, mau ke pasien sebelah," ucap pamitku karena tak kuat ingin menangis sebenarnya.


"Sehat sehat ya Ibu," kataku sambil tersenyum pada mereka.


Aku segera keluar dari kamar Bu Lia.


"Kasihan keluarga mereka," gumamku dalam hati.


Aku segera berjalan untuk memeriksa satu per satu pasienku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jam demi Jam terlewati, senja mulai tampak hadir.


***(Ruang Kerja)


"Aduuuuh capek banget," gumamku sambil menyenderkan kepalaku di meja kerja.


Tak terasa aku tertidur disana.


.


.


.


Sedangkan setelah magrib Naufal baru saja selesai meeting.


"Kasihan Gia nungguin aku lama," gumam Naufal sambil berjalan dan melihat jam tangannya.


Dia berjalan menemuiku.


Glekkk....


Naufal melihatku yang sedang terlelap tidur di atas meja dengan separuh tubuhku.


Dia mendekat padaku, mengelus kerudungku.


"Kasihan kamu Sayang, aku tak tega membangunkanmu, pasti kamu capek hari ini," gumam dalam hati Naufal.


Naufal segera menggendongku.


Aku merasakan tubuhku sedang melayang.


Ku buka pelan mataku, tampak di sana samar-samar wajah Naufal.


Aku kaget karena tubuhku berjalan sendiri. Aku baru sadar jika Naufal menggendongku.


"Mas,"


"Kamu apa-apaan, turunin aku nggak?" ancamku.


"Kok bangun? Udah gak papa, udah terlanjur Sayang," jawabnya yang terus berjalan menggendongku menyusuri lorong.

__ADS_1


"Aku gigit lengan kamu tau rasa ya," ancamku lagi.


Dengan segera Naufal menurunkanku.


"Kenapa sih Sayang? Aku kan kasihan sama kamu, kok kamu malah gigit aku sih," kata Naufal.


"Sadar tempat dong Mas," kataku.


"Eemmm ngantuk banget," keluhku.


"Tuh kan, udah ayo aku gendong," ujar Naufal.


"Nggak mau Mas," tolakku.


Dengan segera aku kami berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Di sepanjang perjalanan sebenarnya aku sangat mengantuk.


"Mas, tadi hasil meetingnya apa?" tanyaku.


"Eemmmm......presentasi Sayang," jawab Naufal.


"Ooww kapan?" tanyaku lagi.


"Besok sore," jawab Naufal singkat.


"Kamu udah siapin presentasi nya?" tanyaku lagi.


"Udah di siapun tim aku, jadi tinggal berangkat besok," jawabnya.


"Berangkat? Kemana? Bukannya kamu presentasi Rumah Sakit," kataku dengan kaget.


"Bukan, aku presentasi ke luar negeri," jawab Naufal datar.


"Yaaah, berapa hari Mas?" tanyaku dengan kecewa.


"3 hari, sebenarnya aku nggak tega bilang ini sama kamu Sayang, tapi mau gimana lagi?" ucap Naufal dengan sedih.


"Sebenarnya aku sangat berat jika jauh darimu, tapi bagaimanapun juga itu tanggung jawabmu," gumamku dalam hati yang sebenarnya juga sedih.


"Huuuummm gak papa Mas, ini kan memang tanggung jawab kamu, cuman 3 hari kan kamu nggak usah khawatir," kataku untuk menenangkan nya.


"Tapi aku gak bisa ninggalin kamu Sayang meskipun cuman 3 hari, pasti aku bakalan rindu sama kamu," kata Naufal sambil meraih tanganku dan menciumnya.


"Udah, kan masih ada lain waktu, masih banyak seribu hari lagi buat aku sama kamu, udah gak papa," tuturku.


"Apa kamu ikut aja ya sama aku," kata Naufal.


"Ya gak bisa dong Mas, gimana pasiennya, ngaco kamu," kataku.


"Udah gak papa, kan kita bisa video call Mas," tuturku lagi.


"Baiklah Sayang, oiya Sayang nanti malem ada temu kangen sama temenku dulu kuliah, kamu ikut ya," ajaknya.


"Jam berapa?" tanyaku.


"Jam 8 katanya, terus sekalian ini tuh sekalian acara tunangannya temenku, jadi satu gitu loh Sayang," ucap Naufal.


"Boleh, ya udah habis ini sampe rumah kamu langsung mandi, terus sholat sekalian," tuturku.


"Iya Sayang, tempatnya deket kok, seperempat jam dari rumah kita," ujar Naufal.


.


.


.


Beberapa menit kemudian kami sampai di rumah.


***(di Rumah)


"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Rusdi dan Pak Joko yang sedang bermain catur.


"Sini Pak main sama kita," ajak Pak Joko.


"Sebenarnya pengen Pak, tapi saya buru-buru mau ada cara lagi," kata Naufal dengan ramah.


"Mau kemana lagi Pak?" tanya Pak Joko.


"Temu kangen sama temen kuliah dulu Pak," jawabnya.


"Saya ke atas dulu ya," kata Naufal sambil merangkul pundakku dan menaiki anak tangga.


***(di Kamar)


"Mas, kamu langsung mandi aja dulu, nanti aku setelah kamu aja, aku siapin air hangatnya ya," tuturku sambil menyimpan tasku di almari.


"Iya Sayang," jawabnya sambil melepas jam tangan.


Segera aku menyiapkan air hangat untuk Naufal.


"Udah Sayang?" tanya Naufal di ruang ganti baju.


"Udah Mas, cepetan gih mandi," perintahku.


Naufal masuk ke kamar mandi, aku menyiapkan kemeja yang akan di pakainya, dan juga sajadah, sarung, dan kopyah.


Tak lupa aku juga memilah gamis yang akan ku kenakan.


"Mana ya yang senada sama kemeja Mas Naufal," ucapku sambil memilah gamis yang tergantung rapi di almari.


Mataku tertuju pada gamis warna peach.


"Kayaknya ini aja deh, gak ada yang senada, susah banget," gumamku.


Setelah Naufal selesai mandi, giliran aku untuk mandi.


"Sayang, kamu gantian gih yang mandi, nanti kita telat," tuturnya.


"Iya Mas, kemeja kamu udah aku siapin," tuturku sambil masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Naufal segera melaksanakan sholat.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian aku selesai mandi.


Dengan segera kami bersiap-siap.


"Sayang kamu pake baju yang mana?" tanya Naufal.


"Ini," jawabku sambil mengangkat satu set gamis untuk ku lihatkan padanya.


"Kok warnanya nggak sama kayak punyaku," ucap Naufal.


"Sebenarnya ada Mas, tapi masih di laundry, hehehe," jawabku.

__ADS_1


Bersambungg......


Tunggu kejutan di episode" selanjutnya🖤😁


__ADS_2