Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 7 (Air Mata Gia)


__ADS_3

Pak Kevin tidak menjawabnya dan aku pun semakin kesal.


Setelah beberapa menit akhirnya Pak Kevin berhenti di rumah yang lumayan besar, dan seorang pria keluar dari pintu rumah tersebut. Rupanya itu teman Pak Kevin. Pria menghampiri mobil Pak Kevin. Dan Pak Kevin membuka kaca mobilnya.


"Mana flashdisk nya?" tanya Pria itu.


Pak Kevin menyodorkan flashdisk nya.


"Gak mampir dulu Vin?" tawar Pria itu.


"Gak ah, besok ngajar pagi," jawab Pak Kevin.


"Makasih ya Bro, pake dianter sampe rumah segala," kata Pria itu.


"Santai aja kali," ucap Pak Kevin.


"Siapa tuh cewek?" bisik Pria itu di telinga Pak Kevin.


"Kepo Lu," jawab Pak Kevin.


Aku yang hanya diam mengabaikan mereka.


"Ya udah pulang dulu ya," ucap Pak Kevin.


"Yook hati-hati Bro," kata Pria itu dengan melambaikan tangan nya.


Mobil Pak Kevin melaju dan Pak Kevin memandangku karena beliau tau aku marah sama Pak Kevin.


"Gi, ngambek ya?" tanya Pak Kevin.


"Nggak," jawabku singkat dengan berlinang air matanya yang diketahui oleh Pak Kevin.


"Gi, kok kamu nangis? Gi kamu kenapa?" tanya Pak Kevin karena takut melihat Gia menangis untuk pertama kalinya di depannya.


"Bapak fokus jalan aja saya gapapa," ucapku lagi.


Dan mobil pun berhenti.


"Hey, kamu kenapa? jangan buat saya khawatir dong Gi," kata Pak Kevin dengan nada gugup dan bingung karena ingin mengelus lengan Gia tetapi tidak berani karena Gia pasti akan marah besar.


"Gi jawab saya?" paksa Pak Kevin.


"Gi gimana saya bisa tau masalah kamu, kalo kamu nggak mau jawab saya dan malah nangis," ucap Pak Kevin dengan nada agak meninggi.


"Bapak bisa nggak sih ngerti saya, ini udah malam Pak, udah jam setengah 9, dan saya belum ada dikos, malah saya berada di luar dengan Bapak, saya takut Pak jika Papa saya mengetahui hal ini pasti beliau akan marah, karena ini pertama kali saya keluar malam dengan seorang pria, Bapak bisa paham itu," kataku dengan terbata-bata dan tegas karena menangis.


Pak Kevin memandangiku sejenak, karena Pak Kevin merasa bersalah.


"Gia, saya minta maaf ya," kata Pak Kevin dengan nada yang sangat halus.


"Saya cuman khawatir sama kamu Gi, tiba-tiba kamu nangis, saya coba mengerti kamu," kata Pak Kevin.


"Tidak perlu Pak, saya tidak perlu itu semua, ini yang katanya Bapak mencintai saya dengan cara ini," ucapku.


"Bukan begitu Gia, saya tadi hanya ingin tau apa sebenarnya yang membuatmu menangis, itu saja. Maafkan saya Gi," ucap Pak Kevin.


Aku hanya diam dan menangis.


"Ya udah ya, kita pulang sekarang, kamu jangan nangis lagi, kos kamu di gang 2A sebelah kampus kan?" tanya Pak Kevin.


Gia hanya menganggukkan kepalanya.


Mobil Pak Kevin melaju sangat kencang karena kebetulan jalan sangat sepi. Beberapa menit sampai di depan kosku.


"Makasih Pak," kataku sambil membuka pintu mobil Pak Kevin lalu menutupnya dan meninggalkan mobilnya Pak Kevin.


Pak Kevin memutar balikkan mobilnya dan beliau pulang ke kosnya. Sedangkan aku langsung bergegas untuk tidur.


***


Keesokan harinya (di Kampus)


"Gi, gimana semalam sama Pak Kevin?" tanya Susi yang begitu senang.


"Nggak gimana-gimana Si," jawabku datar.


"Si pliss ya jangan bahas Pak Kevin dulu," ucapku.


"Iya deh Gi, maaf ya," jawab Susi.


Aku hanya menganggukkan kepalanya.


"Ah gapapa Si," jawabku sambil tersenyum.


Semua mahasiswa sudah berkumpul di depan Laboratorium, dan pjmk meminta ijin apakah praktikum nya sudah bisa dimulai, akhirnya semua mahasiwa memasuki laboratorium karena sudah di ijinkan. Dan praktikum pun dimulai. Kebetulan praktikum hari itu adalah praktikum yang terakhir jadi semua mahasiswa berkumpul pada 2 meja saja.


Sepertinya Pras yang sedari tadi memandangiku, dan menatap wajahku dengan senyum-senyum sendiri, tetapi aku tetap acuh padanya.


Di dalam laboratorium Pras mendekat pada mejaku.


"Lagi ngambek ya Gi sama Pak Kevin?" bisik Pras.


"Kok Pras tau sih," gumamku dalam hati.


"Apa hubungannya sama aku, kok tiba-tiba kamu tanya gitu," kataku yang sangat lirih.


"Udahlah Gi, aku sudah tau semuanya," goda Pras.


"Apaan sih gaada hubungannya tau sama aku," jawabku sewot.


"Apa perlu aku bilang sama semua temen-temen kita soal kamu sama Pak Kevin," ancam Pras dengan senyum.

__ADS_1


"Gak Pras, udah sana ke meja kamu," aku mendorong-dorong badan Pras.


Pak Kevin yang sedari tadi memperhatikan Pras dan aku, sontak berkata pada Pras.


"Pras, kamu suka ya sama Gia?" sontak Pak Kevin membuat semua mahasiswa melongo.


"Ee..enggak Pak, ini tadi saya hanya," kata Pras terpotong olehku.


"Enggak kok Pak, gak mungkin lah," jawabku dengan mengernyitkan kedua alisnya tanpa melihat ke arah Pak Kevin yang bagiku telah mempermalukannya.


"Ciye ciyeeeeee," jawab serentak semua temanku.


"Sana kamu kembali ke meja mu Pras!" kata Pak Kevin yang terbakar api cemburu.


Hampir 3 jam di dalam laboratorium, akhirnya praktikum berakhir. aku duduk disamping Susi dan Pras menghampiriku.


"Gi sini aku kasih tau," kata Pras sambil menggantungkan tasnya dengan satu pundak.


"Gak ah, aku mau pulang," jawabku.


"Oh gitu sekarang, udah deket sama Pak Kevin jadi gini," ucap Pras.


Gia merasa tidak enak dengan Pras. Akhirnya aku mengiyakan.


"Ada apa Pras? cepetan nanti pacarmu lihat," jawab aku


"Ada Susi gak papa nih?" tanya Pras.


"Gak papa lah, dia kan sahabat aku," kataku.


"Gini Gi, sebenarnya Pak Kevin tau IG kamu dari aku, kemaren kan aku di warung belakang kampus dan disana aku dipanggil sama Pak Kevin, beliau nanya rumah mu dimana Gi, terus aku jawab, habis itu orangnya tanya IG nya Gia apa, ya udah aku kasih tau sekalian," Pras bercerita dengan sangat serius.


"Pras jadi kamu biang keroknya" ucap Susi.


"Pras kamu kan tau sendiri Pak Kevin banyak penggemarnya disini, kamu mau aku dimusuhin banyak orang disini," penjelasan ku.


"Tapi Gi, coba deh kemaren kamu di posisi aku," kata Pras.


"Iya aku ngerti," jawabku datar.


"Maaf ya Gi, siapa tau Pak Kevin mau nglamar kamu," ucap Pras dengan menggodaku.


"Ya enggaklah," ucapku.


"Udah ah Gi ayok pulang," ajak Susi.


"Ayuk Gi," jawabku.


"Huu dasar kalian ini, jangan lupa nanti malam nonton tim kelas kita tanding futsal," ucap Pras.


"Ya Insya'Allah, yuk Gi," kata Susi dengan menarik lenganku.


Flashback On.


Flashback Off.


Di perjalanan pulang.


"Oiya Gi nanti kamu nonton futsal nggak?" tanya Susi yang melihat ponselnya karena teman-temannya heboh ingin melihat, karena jelas Pak Kevin juga akan mengikutinya.


"Kayaknya enggak deh Si, pengen rebahan aja," jawabku sambil memegang tengkuknya.


"Ya udah nanti mungkin aku nonton sama temenku kos," ucap Susi.


Sesampai di depan kosku, karena jarak kampus dan kosku sangat dekat hanya membutuhkan waktu 5 menit saja.


"Aku duluan ya Si, kamu hati-hati," ucapku.


"Iya Gi, daaa," jawab Susi.


***(Di kos)


"Assalamu'alaikum Mbah," sapaku pada Embah yang tengah duduk di depan rumah.


"Wa'allaikumsalam, baru pulang Nduk," jawab Embah.


"Iya Mbah, Gia naik dulu ya Mbah," kataku.


"Iya Nduk, monggo-monggo," kata Embah menggunakan bahasa jawa.


Gleekk..


Ku membuka kamar kosnya, dan menyapu kamarnya seperti biasa, lalu aku beranjak mandi, dan memesan makanan online.


Setelah mandi, aku menunggu makanan nya datang dengan menyicil belajar untuk ujian yang akan di adakan 2 hari lagi.


Dan akhirnya Bapak Gofood sudah ada di depan kos, aku turun dan mengambil makanannya lalu kembali lagi ke kamarnya dengan membiarkan pintu kamarnya terbuka.


Ponsel aku bergetar, aku meraih ponselnya yang ada di sampingnya.


DM Pak Kevin ke padaku.


"Gia" Pak Kevin.


"Masih marah sama saya" Pak Kevin.


"Saya ngga marah, biasa aja" Gia.


"Syukurlah, mau futsal nih Gi" Pak Kevin.


"Terus?" Gia.

__ADS_1


"Kamu kasih semangat saya dong, gak peka banget sih" Pak Kevin.


Pipi ku mulai memerah dan senyum-senyum sendiri. Tetapi aku malah mengalihkan pembicaraan.


Lanjutan DM


"Memangnya Bapak juga ikut jadi pemain?" Gia.


"Iyalah Gi, tau sendiri saya sama futsal hobi banget" Pak Kevin.


"Kamu udah makan Gi?" Pak Kevin.


"Bapak kok pengen tau banget sih" Gia.


"Ayolah Gi beri saya kesempatan buat bisa kamu percaya sama saya" pak Kevin.


"Ini saya makan" Gia.


"Jangan lupa belajar" Pak Kevin.


"Kamu nonton futsal ngga?" Pak Kevin.


"Enggak" Gia.


"Kenapa? Terus siapa yang kasih semangat saya?😒" Pak Kevin.


"Kan fans bapak sangat banyak tuh, cewek-cewek bahkan, jadi Bapak sudah tidak butuh semangat dari saya"


"Cemburu nih kamu ceritanya😂" Pak Kevin.


"Bapak GR deh" Gia.


"Yauda Gi, saya siap-siap dulu" Pak Kevin.


"Ya Pak" Gia.


"Bye Gia🖤" Pak Kevin.


Dan aku tidak membalasnya. aku keluar dari kamar untuk membuang sampahnya.


"Gia kamu ngga nonton futsal nanti?" tanya Kak Agnes (kakak kosku).


"Enggak Kak," jawabku


.


"Mana mungkin Gia mau nonton begituan Nes," sahut Kak Nia.


"Eheemm," Aku hanya tersenyum.


"Kak Nia sama Kak Agnes mau nonton?" tanyaku.


"Iya Gi, nanti kamu di kos sendiri berani?" jawab Kak Agnes.


"Berani Kak tenang aja," jawabku.


Adzan magrib berkumandang, aku masuk ke kamarnya.


Semua penghuni kos meninggalkan ku dikos sendiri.


aku melanjutkan belajarnya sampai tertidur.


***(di Lapangan Kampus)


Susi yang datang dengan teman nya bernama Siska dari Fakultas Farmasi.


Susi melihat Pak Kevin yang sedang siap tanding.


Semua siswa bersorak menyebut nama Pak Kevin.


"Untung Gia tidak ikut, jika dia ikut pasti sangat kesal," gerutu Susi dalam hati.


Pertandingan futsal dimulai. Pak Kevin tampil disana dengan seragam timnya berwarna hitam. Setengah jam pertandingan berlangsung, dan para pemain beristirahat sebentar ternyata Susi melihat Pak Kevin diberi minum oleh seorang wanita, Susi memperjelas pandangan nya dengan mendekatkan dirinya tanpa Pak Kevin tau, karena Susi memakai masker.


"Ini minumnya," kata Wanita itu sambil menyerahkan minum pada Pak Kevin.


Dan Pak Kevin menerima nya.


"Ponsel kamu mana?" tanya wanita itu.


"Di tas," jawab Pak Kevin.


Akhirnya wanita itu mengambil tas Pak Kevin untuk dibawanya.


Susi yang mendengarkan obrolan Pak Kevin, akhirnya Pak Kevin mengetahui jika Susi berada agak dekat dengan wanita itu, Pak Kevin dan Susi saling memandang, lalu Susi keluar dari lapangan yang ada di lantai 6 itu. Pak Kevin mengikutinya dari belakang dan mengejar Susi.


"Susi..Susi," panggil Pak Kevin.


"Emm ada apa ya Pak memanggil saya," jawab Susi gugup.


"Kamu tau semua yang saya bicarakan dengan dia kan?" tanya Pak Kevin.


"Maaf Pak, tapi saya," kata Susi terpotong oleh Pak Kevin.


"Ya udah gak papa Susi, tapi kamu jangan bilang dulu ke Gia," bujuk Pak Kevin.


"Memangnya dia siapa Pak?" tanya Susi.


Mereka saling memandang, Pak Kevin bingung apakah dia harus jujur atau menutupi semua ini.


Bersambung...

__ADS_1


terimakasih untuk kakak yang sudah membaca sampai episode ini, jangan lupa vote, like dan komen kak🙏😊


see you di episode selanjutnya.


__ADS_2