Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 60 (Memendamnya Saja)


__ADS_3

"Vel bangun Vel!! kamu harus bangun!!" kata Naufal yang sangat panik.


Saat Aku yang sudah tiba di rumah sakit bertemu dengan Dokter Anton.


"Eh Dokter Gia kemarin cuti kenapa Dok?" tanya Dokter Anton.


"Kemarin saya sakit, tapi sekarang udah mendingan kok Dok," jawabku.


"Oh baik Dok kalau begitu saya permisi dulu ya," ucap Dokter Anton.


Aku hanya menganggukan kepalaku.


Setelah ku letakkan tas ku di ruang kerjaku aku langsung menuju ke ruang kerja Naufal untuk memberi kejutan padanya.


Dengan senang hati ku langkahkan kakiku untuk menemuinya.


"Pasti Naufal sangat senang jika tau kalo aku menemuinya," gumamku dalam hati.


Tetapi aku cari Naufal di ruangannya tidak ada dan aku bertanya pada asisten khusus Naufal.


Aku tidak menemui asisten khusus Naufal sehingga aku mengelilingi setiap sudut rumah sakit untuk mencari Naufal.


Aku mencari pada setiap ruangan yang ada di rumah sakit.


Dan akhirnya aku menemukan Pak Bastian yang tengah berdiri di depan ruang ICU.


"Pak Bastian ngapain disitu?" tanyaku dalam hati.


Aku berjalan menghampirinya, dan ternyata sampainya aku di depan ruang ICU, aku melihat Naufal yang tengah panik dan ingin sepertinya Vela segera bangun.


Pak Bastian sangat kaget melihatku yang tengah memandang ke arah dalam ruang ICU.


"Itu kan Vela sama Naufal," ucapku dalam hati sambil mendekat ke arah pintu ruang ICU.


"Semakin tampak jelas Mas jika kamu masih mencintai Vela, dan jelas sekali di sini sepertinya kamu juga takut kehilangan dia, sebenarnya hatimu ini untuk siapa sih Mas?" ucapku dalam hati.


"Naufal sepertinya sangat merasa kehilangan sekali, tampak dari kepanikan kamu Fal," kataku dalam hati.


Aku menahan tangisku, karena takut jika Pak Bastian mengetahuinya.


"Pak, jangan bilang sama Mas Naufal kalo saya habis kesini untuk menemuinya ya," kataku.


"Tapi Gi, Saya tidak bisa berbohong padanya," kata Pak Bastian.


" Pak Bastian saya mohon dengan Bapak," kataku sambil memohon mohon padanya.


Aku menahan tangis disana melihat suamiku bersama wanita masa lalunya.


"Hatiku sangat sakit Mas melihatmu seperti ini, kamu tidak salah Mas, ini memang bukan salahmu memang sudah takdirnya kamu kembali untuk mencintainya lagi jika memang itu benar," kataku.


Pak Bastian sepertinya ingin membuka obrolan padaku, tapi aku menepisnya.


"Udah Pak Bastian, Saya tahu Vela adalah sahabat Mas Naufal jadi saya tau persis gimana rasanya sahabat kesayangan kita sedang terluka apalagi koma," kataku.


"Tadi malam Vela kecelakaan dan sangat parah terus dia di larikan ke rumah sakit ini dan ternyata dia koma," ucap Pak Bastian telat.


"Gitu ya Pak, saya minta tolong ya, Bapak jangan kasih tau Mas Naufal jika saya hari ini ke sini, saya akan langsung pulang biarin Mas Naufal nemenin sahabatnya karena kasihan sahabatnya keluarganya ada di luar negeri," kataku.


"Sepertinya kali ini saya tidak bisa membantumu Gi, saya harus ngomong jujur sama Naufal," kata Pak Bastian.


"Saya mohon, kasihan Mas Naufal Kasihan juga Vela, Saya ingin memberi ruang bebas untuk mereka, Saya harap anda mengerti dan meskipun Anda belum pernah merasakan berada di posisi mereka ataupun saya, saya mohon dengan sangat sangat mohon pada anda," kataku sambil langsung pergi meninggalkan ruang ICU.


Aku sudah tak tahan menahan air mataku.


Aku berjalan ke ruang kerjaku dan langsung pergi dan masuk dalam mobil, ku tancap kencang gas mobilku untuk menuju ke rumah.


***(di Rumah)


Sesampainya di rumah, Bi Sarah kaget yang melihat aku pulang dengan keadaan menangis.


"Aduh Mbak Gia kenapa Mbak? Kenapa menangis?" tanya Bi Sarah dengan panik.


Aku langsung memeluk Bi Sarah.


"Mbak Gia kenapa Mbak? Cerita sama Bi Sarah," kata Bi Sarah.


"Aku pengen meluk Bibi, Gia pengen nangis di pundak Bibi, Gia kangen Papa, Gia kangen sama Mama," kataku dalam pundak Bi Sarah.


"Pengen pulang Bi, rindu sama mereka," ucapku lagi.


"Mbak Gia ada masalah apa? ceritain sama Bibi,"kata Bi Sarah yang ikut terbaru melihatku menangis.


"Gia cuman rindu sama Papa sama Mama di rumah, Gia rindu banget, Gia pengen ketemu sama mereka," kataku.


"Mbak Gia tenang dulu ya, ceritain semua sama Bibi," tuturnya lagi.


"Aku nggak mungkin ceritain hal ini sama Bibi, aku nggak mau pandangan Bibi ke Naufal jadi berubah," gumamku dalam hati


"Gia enggak kenapa-napa Bi, Gia cuman rindu sama Papa lama enggak ketemu," kataku.


"Beneran Mbak Gia nangis gara-gara itu, bukan gara-gara Mas Naufal, kan katanya Mbak Gia mau jemput Mas Naufal di rumah sakit," ucap Bi Sarah.


"Iya Bi tapi di pertengahan jalan menuju rumah sakit tiba-tiba Gia keinget sama Papa sama Mama tau sendiri kan Bibi kalau Gia anak nya cengeng an," kataku berbohong.

__ADS_1


"Tapi beneran yang ngebuat Mbak Gia nangis karena itu, Mbak Gia nggak boleh bohong sama Bibi, di sini Bibi nemenin Mbak Gia selain Mas Naufal suami Mbak Gia, jadi Mbak Gia berhak cerita apa saja sama Bibi, Insya'Allah Bibi akan membantu Mbak Gia," tutur Bi Sarah.


"Makasih ya Bi, udah perhatian sama Gia dari kecil sampai Gia udah nikah segede ini," kataku.


"Gia ke atas dulu ya Bi," pamitku.


Aku menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar.


"Semoga saja Bibi nggak curiga sama aku," gumamku dalam hati.


***(di Kamar)


Dalam kamar ku buang tasku lalu ku berlari ke balkon.


"Ya Allah masih saja sebentar keluarga ku bahagia tapi cobaan terus menghampiri kami, Ya Allah kuatkan Hati hamba, hamba memohon pada Engkau ikhlaskan hati hamba dan berikan jalan terbaik untuk hamba amin," pintaku.


"Aku harus mencoba pelan-pelan buat menerima semua ini, Aku harus bisa, aku juga nggak boleh egois atau apapun itu, aku harus adil pada dia," gumamku lagi dalam hati.


Ku sandarkan sedikit kepalaku pada ayunan milik Naufal. Semakin teringat saat-saat bahagia bersamanya.


Sampai-sampai tak terasa Aku tertidur di ayunan itu.


---


Sedangkan Naufal di rumah sakit yang terus mencoba untuk memaksa membangunkan Vela tetapi tetap saja usahanya gak berhasil dan dia terus memandangi Vela.


Dan rupanya Bastian tidak mengatakan apapun pada Naufal.


"Bas keluarganya udah ada yang hubungin belum soalnya tadi malam Mamanya Vela nelpon ke Gue katanya nggak bisa di hubungi sama sekali," kata Naufal.


"Belum sih Fal, coba Lo hubungin Mamanya Vela," perintah Bastian.


Naufal dengan cekatan langsung menghubungi Mamanya Vela.


Tut tut tut suara dering dari ponsel Naufal.


"Halo Assalamu'alaikum Tante, ini Naufal," salam Naufal.


"Iya Wa'alaikumsalam Fal, ada apa Nak?" tanya Mama Vela.


"Vela kecelakaan dan koma, ini Saya rawat dan dia masuk ruang ICU," kata Naufal.


"Apa??!!! Kamu bercanda ya sama Tante, kamu gimana katanya kamu ngejagain Vela selama Vela di Indonesia, kamu lupa sama janji kamu dulu sama Tante," ucap tante Firly dengan sangat panik.


"Kamu gimana sih, nggak jagain Vela padahal Tante sudah yakin sama kamu," kata Mama villa.


"Tapi Tante sekarang keadaan Saya sama Vela sudah berubah," kata Naufal.


"Berubah gimana maksud kamu?? Tante nggak mau tau kamu dulu pernah janji sama Tante akan selalu ngejagain Vela," banyah Tante Firly.


"Tapi Tante saya tidak bisa sepenuhnya bisa menjaga Vela 24jam karena saya sudah berkeluarga," ucap Naufal yang membuat Mama Vela sangat kaget.


"Apa Fal??!! Kamu sudah berkeluarga?? Kelakaannya Vela pasti gara-gara kamu, pasti dia mikirin kamu Fal!!" kata Mama Vela.


"Pokoknya Tante minta tolong sama kamu, rawat Vela selama Tante belum di sana," kata Mama Vela.


Naufal bingung ingin menjawab apa.


"Bas nanti Lo bantuin Gue ya," bisik Naufal lirih di telinga Bastian.


"Iya Fal, pasti Gue bantuin Lo kok," jawab Bastian.


Tanpa salam dan berkata apapun Mama Vela langsung mematikan telfon dari Naufal karena sepertinya marah pada Naufal.


Naufal mondar-mandir di depan ruang ICU.


"Gimana nih Gue udah punya Gia, Gue pasti nggak bisa nemenin Vela 24 jam nonstop, pliiss tolong Lo bantuin Gue," ucap permohonan Naufal.


"Fal , Lo nggak tau aja tadi Gia abis ke sini nungguin Lo, apa Gue ngomong aja ke Naufal ya, ah gak ah ini urusan keluarga mereka, Gue takut ikut campur," gumam dalam hati Bastian.


"Gue bakal bantuin Lo kok tenang aja, Gue siap kok jagain Vela," ucap Bastian.


"Serius Lo Bas mau bantuin Gue ngejagain Vela, Gue nggak mungkin bisa jagain Vela Bas, Gue udah punya istri dan Gue nggak mau melihat dia semakin sedih karena Gue lebih memperhatikan Vela dari pada dia," kata Naufal.


"Iya Gue ngertiin Lo kok Fal," jawab Bastian.


"Ya udah, Gue mau ke ruangan Gue bentar, Lo jagain Vela di sini barangkali Vela sadar," ucap Naufal.


Naufal pergi meninggalkan ruang ICU untuk menuju ke ruangannya.


Hari sudah semakin siang dan waktunya Naufal untuk pulang tetapi Naufal tidak tega melihat dan meninggalkan Vela sendiri di sana.


Naufal kembali menjenguk Vela karena Naufal merasa tak enak pada Mama Vela.


Naufal mencoba menghubungiku untuk menjelaskan dan meminta izin dan menceritakan semua tentang Vela.


Tetapi tidak ada balasan dari ku karena aku sedang tertidur saat itu.


"Dia kemana ya kok tumben tumben ponselnya nggak bisa di hubungi," gumam dalam hati Naufal.


Belum lama Naufal duduk di samping ranjang Vela akhirnya Vela tersadar dari masa komanya.


Dan langsung menyebut nama Naufal.

__ADS_1


"Naufal," kata Vela sangat lirih.


Naufal langsung senang melihat Vela yang sudah siuman.


"Vel, Aku disini, Aku disini sama kamu tenang aja," ucap Naufal.


Ba meraba lengan Naufal dan membuka pelan matanya lalu melihat Naufal.


"Aku haus Fal," kata Vela.


Naufall dengan cekatan memberikan air untuk Vela.


"Hei kamu istirahat dulu ya jangan banyak bicara," tutur Naufal.


Tak terasa Naufal menemani Vela hingga larut malam.


---


Sedangkan aku di rumah sendirian menunggunya makan malam bersama Bi Sarah, Pak Joko dan Pak Rusdi.


"Naufal ke mana ya jam segini belum pulang, mungkin dia masih nungguin Vela, kasihan keluarga Vela jauh dari sini," gumamku dalam hati di ruang makan.


"Bu, tumben Pak Naufal belum pulang?" tanya Pak Joko.


"Kayaknya Mas Naufal sibuk Pak hari ini, mungkin ada operasi besar," jawab ku.


"Oh kalo operasi besar itu lama ya Mbak," kata Pak Rusdi


"Iya Pak agak lama," jawab ku singkat.


"Bi Sarah, Pak Joko sama Pak Rusdi makan duluan aja nggak papa dari pada nungguin Mas Naufal soalnya pulangnya Mas Naufal belum tentu jam berapa," tuturku.


"Nggak Mbak, kita nungguin Mas Naufal saja," ucap Bi Sarah.


Aku sengaja matikan ponselku agar Naufal tidak khawatir padaku, aku janji tidak akan marah pada dirinya atas kejadian ini.


Hampir setengah jam kami menunggu Naufal ternyata Naufal dengan pelan membuka pintunya dan mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum," Naufal kaget melihat kita semua yang menatap ke arahnya.


Aku langsung menghampiri Naufal dan membawakan jas dokter nya lalu mempersilahkannya duduk di meja makan.


"Gi maaf ya aku ini tadi pulang telat, Aku mau ceritain ke kamu tapi nanti aja," ucap Noval.


"Iya nggak papa Mas, sekarang kamu makan dulu habis itu mandi terus kita sholat sama-sama ya," tuturku.


"Iya Gi, makasih ya kamu pengertian banget sama aku," kata Naufal.


"Sudah sepantasnya aku seperti ini Mas," jawab ku sambil mengambilkan nasi di piring nya.


Kami langsung menyantap makan malam itu dengan segera.


Setelah selesai makan aku dan Naufal pamit untuk ke atas kamar.


***(di Kamar)


Di dalam kamar, Naufal langsung mandi dan kami langsung melaksanakan sholat.


Setelah sholat ku rebahkan langsung badanku di atas ranjang dan Naufal menghampiriku lalu duduk di sampingku.


"Gi tadi kamu kemana? Aku telfon ponsel kamu, tapi ponsel kamu mati," ucapnya.


"Oh tadi, tadi ponsel aku lowbat Mas," jawab ku terpaksa berbohong.


"Padahal aku tadi mau ngomong sama kamu, Aku mau cerita sama kamu tentang Vela," ucap Naufal.


"Mas Naufal mau menceritakan apa?" tanya ku pada Naufal.


"Gi, ternyata semalam Vela kecelakaan makanya Mamanya tadi malam nelfon aku karena Vela nggak bisa dihubungin soalnya satu-satunya orang yang bisa di percaya Mamanya Vela adalah aku kalo dia di sini, kan Vela di sini tinggalnya cuma sama Nenek dan Nenek nya juga sudah sepuh, ternyata Vela ngalamin koma Gi, dan baru saja sadar tadi sore makanya aku pulang agak telat karena nemenin dia, kamu nggak marah kan Gi, sebenarnya tadi aku mau bilang sama kamu dulu tapi ponsel kamu mati," kata Naufal.


"Iya Mas, nggak papa, aku nggak keberatan kok, kasihan juga Vela nya keluarganya jauh dan di sini dia cuman tinggal sama neneknya, nggak papa kok aku nggak marah sama kamu," ucapku dengan halus.


"Beneran kamu nggak marah sama aku Gi?" tanya Naufal lagi.


"Iya beneran aku nggak marah, aku ngertiin kamu dia tuh emang sahabat kamu Mas, Aku tahu kamu nolongin dia karena kasihan kan," ucapku.


"Padahal aku tau meskipun hanya sedikit rasa cinta kamu pada Mas itu masih ada buat Vela," gumamku dalam hati.


"Iya Gi, terus tadi aku nyoba telepon Mamanya lagi kan eh ternyata Mamanya nggak bisa dateng, soalnya lagi ada kontrak di Eropa dan udah terlanjur menandatangani itu jadi Mamanya Velaa baru bisa ke Indonesia bulan depan, nah Mamanya villa pasrahin ke aku buat ngerawat Vela," kata Naufal yang khawatir jika aku marah padanya.


"Ya Bagus dong, nggak papa nanti aku juga siap ngebantu kok," ucapku dengan ramah.


"Beneran Sayang kamu? Kok jadi berubah gini," ucap Noval yang curiga.


"Berubah apanya? Ya emang gini lah Mas, karena aku mau pengertian sama kamu, aku ingat wejangan dari Kakek sama Nenek kemarin kuncinya dalam rumah tangga adalah 2 kesetiaan sama pengertian," itu kata aku.


Naufal mencubit kedua pipiku dengan halus.


"Aku jadi makin sayang sama kamu, kalau kamu nggak hobi marah-marah gini ke aku," ucap Naufal.


Aku tersenyum padanya.


Bersambungg.....

__ADS_1


Tunggu momment bahagia mereka.


Jangan khawatir ya kakak hehehe


__ADS_2