
***(di Kos Gia)
Sampai di kosnya, Gia teringat dengan perkataan Dokter
Naufal tadi. Gia kembali menangis sampai jam 02.00 pagi Gia baru bisa tertidur.
Keesokan harinya, badan Gia merasa agak meriang dan pusing
karena semalam Gia tak bisa tidur dan terus menangis. Tapi Gia tetap memaksakan agar tetap berangkat koas.
***(di Rumah Sakit)
Riana melihat Gia yang wajahnya pucat dan jalannya lemas
tidak seperti biasanya. Riana menghampiri meja Gia.
“Gi, kamu sakit?” tanya Riana sambil menyentuh kening Gia.
“Enggak Na, cuman meriang doang, nanti kalo minum teh di
kantin pasti udah enakan,” jawab Gia dengan senyumnya.
“Tuh kan Na, kamu selalu gitu, udah ah kamu disini aja
istirahat,” ucap Riana khawatir dengan kondisi Gia.
“Na..aku gak papa, masih kuat ini Na,” ejek Gia.
“Kamu pucet gini loh Gi, jangan ngaco deh,” kata Gia.
“Nana, aku gak papa nanti kasian pasiennya, udah ah ayok,
nanti Rama ngomel lagi,” bantah Gia.
Gia, Riana dan Rama seperti biasa memeriksa masing-masing
pasiennya, Riana yang dari jauh selalu memperhatikan setiap gerak Gia, karena Riana khawatir kalo terjadi apa-apa sama Gia.
Dan ternyata pada saat Gia memeriksa pasiennya, lalu
berjalan ke arah Riana, tiba-tiba Gia pingsan.
Riana kaget dan spontan langsung berlari ke arah Gia begitu
juga dengan Rama, kebetulan pasien Riana udah di periksa. Semua pasien melihat ke arah Gia.
“Gi, Gia,” panggil Riana sambil menepuk-nepuk pipi Gia.
Riana sangat khawatir sama Gia.
“Ram, angkat Gia,” perintah Riana.
“Na, emangnya gak papa, kamu kan tau sendiri Gia gimana Na,” ucap Rama yang sungkan ingin mengangkat badan Gia.
Kebetulan Dokter Naufal lewat di depan ruangan mereka,
beliau mendengar cek-cok antara Rama dan Riana. Dokter Naufal masuk ke ruangan mereka. Beliau sangat terkejut melihat Gia yang terlentang dengan wajah pucatnya.
“Ram, ini darurat loh Ram, udah ah gak papa angkat aja,”
perintah Riana.
“Na, beneran kamu?” Tanya Rama.
Dokter Naufal risih mendengar perdebatan mereka berdua,
tanpa pikir panjang Dokter Naufal langsung mengangkat tubuh Gia dan membawanya ke ruang periksa.
Riana dan Rama tak mampu berkata apa-apa karena melihat
sikap Dokter Naufal tersebut. Pasien yang ada di dalam tersebut melongo melihat hal itu, di sepanjang jalan menuju ruang periksa. Semua manusia yang ada di
dalam Rumah Sakit pada saat itu melihat ke arah Dokter Naufal, Mereka mengikuti Dokter Naufal di belakangnya.
***(di Ruang Periksa)
Dokter Naufal membaringkan tubuh Gia di atas bed periksa
pasien. Kebetulan disana ada seorang dokter wanita yang sepertinya teman Dokter Naufal.
“Dok, tolong periksa anak ini,” perintah Dokter Naufal.
Dokter itu langsung memeriksa Gia.
“Dia cuman kecapek an aja ini Dok,” ucap Dokter itu.
“Makasih Dok,” ucap Dokter Naufal.
Dokter itu meninggalkan ruangan periksa.
“Syukurlah Ya Allah,” ucap Riana.
“Kalian bisa kembali melanjutkan tugas kalian, biar saya
yang jaga disini, paling bentar lagi juga siuman,” perintah Dokter Naufal.
“Baik Dok,” jawab Rama dan Riana yang sebenarnya tidak ingin meninggalkan Gia.
Dokter Naufal duduk di sebelah Gia. Beliau memandangi wajah
Gia.
Beberapa menit kemudian Gia membuka pelan-pelan matanya,
mata Gia langsung tertuju pada wajah Dokter Naufal yang duduk di sampingnya.
“Maaf Dok, saya kenapa ya?” tanya Gia.
“Tadi kamu pingsan, kamu sakit?” tanya Dokter Naufal
balik.
“Saya cuman meriang aja,” jawab Gia.
“Aduh Gia terus kenapa kamu masuk koas, kenapa nggak
istirahat aja di kos,” tutur Dokter Naufal.
__ADS_1
“Saya nanti kasihan sama Rama dan Riana Dok harus gantiin
saya,” bantah Gia.
“Saya mau balik lagi aja Dok, kasian mereka,” sahut Gia
dengan ingin membangunkan tubuhnya.
“Gak, gak boleh, kamu harus istirahat disini, kondisi kamu
masih kayak gini loh, sebelum kamu melayani pasien-pasien kamu, ya kamu harus sehat dulu dong Gi,” tutur Dokter Naufal.
“Ini tadi saya yang ngangkat kamu, maaf darurat soalnya,”
ucap Dokter Naufal datar.
Gia hanya menganggukkan kepalanya.
“Makasih Dok,” jawab Gia singkat.
Gia hanya diam, begitu juga dengan Dokter Naufal.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Dokter Naufal untuk
menanyakan soal kemarin pada Gia.
“Gi, saya mau nanya sama kamu,” ucap Dokter Naufal.
“Mau nanya apa Dok, silahkan,” jawab Gia.
“Eeeemmm kemaren kamu habis ke ruangan saya ya terus ketemu sama Dokter Anton?” tanya Dokter Naufal.
Deegggg, Gia mengernyitkan kedua alisnya dan mengedipkan
bulu matanya.
“Terus kata Dokter Anton, kamu nangis sambil meninggalkan
ruangan saya ya?” tanya Dokter Naufal lagi.
“Kamu denger ya Gi, obrolan saya sama Bastian?” Tanya Dokter Naufal dengan sangat gugup.
“Iya saya mendengarnya,” jawab Gia.
“Saya nggak maksud buat nyakitin kamu Gi, maafin saya,” rayu Dokter Naufal.
“Kenapa harus minta maaf Dok?” Tanya Gia.
“Ya saya nggak enak aja sama kamu, saya hanya” jawab Dokter Naufal terbata-bata dan katanya terpotong dengan Gia.
“Nggak papa saya ngerti,” ucap Gia dengan senyumnya yang
seakan-akan tetap terlihat tegar.
“Eeemm ya udah kalo gitu saya mau balik dulu ya, kamu disini sendiri gak papa?” tanya Dokter Naufal yang sangat tak enak hati pada Gia.
“Nggak papa Dok,” jawab Gia.
Dokter Naufal berjalan meninggalkan Gia, tiba-tiba langkah Dokter Naufal terhenti dan membalikkan badanya lalu berjalan kembali menghampiri Gia
Gia ingin menertawakan sikap Dokter Naufal itu.
“Ajari saya buat bisa jatuh cinta sama kamu,” Bisik Dokter
Naufal yang membuat Gia tersipu malu.
Deegggg.
Gia hanya tersenyum mendengar bisikan Dokter Naufal
tersebut, wajah Gia memerah bak kepiting rebus. Lalu Dokter Naufal berjalan meninggalkan Gia.
Saat Dokter Naufal keluar ruang periksa, selang waktu yang
tidak lama Riana dan Rama datang menemui Gia.
“Gia, kamu udah bangun,” ucap Riana sambil memeluk Gia.
“Aku cuman kecapek an aja tadi Na,” kata Gia sambil
mengelus-elus bahu Riana.
Riana melepas pelukannya.
“Lain kali kalo sakit gak papa Gi, kamu gak usah masuk, biar
aku sama Nana aja yang gantiin tugas kamu,” tutur Rama.
“Enggak ah Ram, gak papa kok ini,” bantah Gia.
“Bener Gi kata Rama, untung aja cuman kecapek an kalo yang lain hayo,” goda Riana.
“Ya Allah amit-amit deh Na,” jawab Gia.
“Eh Gi, tau gak tadi kamu di gendong siapa ke sininya?” tanya Riana.
“Tau, Dokter Naufal kan?” jawab Gia.
“Aaaah pasti kamu udah dikasih tau sama beliau kan Gi,” ucap
Riana.
Gia hanya menganggukkan kepalanya.
“Tau gitu tadi aku aja Gi yang pingsan,” keluh Riana sambil
memonyongkan kedua bibirnya.
Rama sepertinya cemburu atas apa yang baru dikatakan oleh
Riana.
“Lebay kamu Na,” sahut Rama.
“Yeee apaan sih kamu Ram,” ejek Riana.
“Udah ah kalian jangan berantem, nanti berjodoh loh,” ejek Gia pada kedua temannya.
__ADS_1
“Ngaco ah Gia,” jawab Riana.
“Eh Gi tadi kamu waktu digendong Dokter Naufal kesini, dari
ujung timur sampe barat lorong semua pandangan tertuju sama kamu dan Dokter Naufal Gi,” ucap Riana.
“Wkwkwkwkwkwwk, biasa aja kali Na,” jawab Gia.
“Iiiih susah Gi ngomong sama orang yang gak pernah tau
rasanya suka,” ejek Riana.
“Kamu juga Na, susah ngomong sama orang yang gak peka,”
sahut Rama.
“Tuh kan tengkar lagi,” ucap Gia.
“Ya udah Gi, nanti kamu pulangnya sama aku aja, nanti mobil
kamu biar di bawa sama Rama,” tutur Riana.
“Nggak papa Na, aku gak mau ngrepotin kalian,” bantah Gia.
“Gi udah de, gak ada kata ngrepotin kalo buat temen Gi,”
ucap Rama.
“Ya udah deh, makasih ya,” ucap Gia.
“Ya udah Na, aku ke ruang kerja dulu mau beres-beres
sekalian beresin meja kamu terus kita pulang,” kata Riana.
“Na makasih loh,” ucap Gia lagi.
“Iyaaa Gia ampun deh, aku balik dulu ya Gi,” kata Riana
sambil meninggalkan Gia.
Setelah Riana dan Rama selesai beresin meja kerja mereka,
Riana menuntun Gia untuk ke mobil. Dokter Naufal yang mengetahui hal itu dan khawatir akan keadaan Gia menghampiri mereka.
“Ini Gia pulang sama siapa?” tanya Dokter Naufal.
“Sama saya Dok, nanti mobilnya Gia di bawa Rama,” jawab
Riana.
“Ooo ya udah kalo gitu,” jawab Dokter Naufal singkat.
“Mari Dok,” ucap Rama.
Dokter Naufal hanya menganggukkan kepalanya.
Riana dan Rama mengantar Gia ke kosnya.
***(di Kos Gia)
Rama hanya menunggu di depan gerbang kos Gia, karena kos Gia yang tidak boleh dimasuki oleh tamu laki-laki kecuali dari keluarga nya sendiri. Riana merebahkan tubuh Gia dan menutup nya dengan selimut Gia.
“Gi, aku balik dulu ya, nanti kalo butuh apa-apa WA aku aja,”
tutur Riana.
“Iya Na, makasih Ya,” ucap Gia.
“Sama-sama Gi,” jawab Riana.
Riana keluar sari kamar Giadan langsung menancapgas mobilnya pergi dari kos Gia.
Tok….to….tok. Suara ketukan pintu dari kamar Gia.
“Masuk,” jawab Gia.
Dan ternyata yang menghampiri Gia adalah Susi.
“Ya Allah Gia kamu sakit?” tanya Susi.
“Cuman meriang aja Si, kamu tumben kesini?” tanya Gia balik.
“Pengen aja Gi dari tadi pengen kesini,” jawab Susi.
“Pasti kamu kayak gini gara-gara mikirin Dokter Naufal itu
kan semalam,” ejek Susi.
“Udah lah Si, gak usah dibahas,” jawab Gia.
“Gia…Gia, kamu jangan terlalu kepikiran, nanti kamu malah
sering sakit loh Gi, udah pasrahin aja semuanya,” tutur Susi.
“Iya Si, bawel banget ya Dokter ini,” ejek Gia sambil
tersenyum.
“Bentar aku buatin kamu the hangat, nanti malam aku tidur
sini aja nemenin kamu Gi,” tutur Susi.
“Iya Bu Dokter,” ejek Gia.
Begitulah mereka, sangat akrab sekali. Gia tidak pernah open
kepada teman-temannya yang lain, kecuali sama sahabatnya ini. Gia sudah menganggap keluarga Susi seperti keluarganya sendiri begitu juga dengan Susi. Susi selalu ada di samping Gia
bagaimana pun keadaan Gia. Hanya Susi yang tau tentang keluh kesah Gia mulai dari jatuh bangunnya Gia kuliah dulu. Susi tau semuanya tentang Gia.
Gia sangat bersyukur punya sahabat seperti Susi yang sangat
peduli dengannya, yang sangat menerima Gia apa adanya. Gia tidak pernah menutupi hal kecil dari Susi. Karena menurut Gia, Susi adalah patner sahabat terbaiknya. Love you Susi🖤
Bersambung....
Tunggu episode selanjutnya kakak🙏😁
__ADS_1
jangan lupa like, comment dna vote ya🖤
terima kasih semuanya sudah setia dengan novel ini