Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 56 (Curhatan Malam)


__ADS_3

Aku memaksakan kakiku untuk berjalan menuju ranjang kasur, ku pelankan jalanku dengan menahan rasa nyeri di bagian punggung dan tumit kaki ku, kemudian saat aku berhasil meraih ponsel Naufal dan lansung menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo, Assalamu'alaikum, dengan siapa ya ini?" salamku pada penelepon yang tidak dikenal di ponsel Naufal.


Tapi ternyata penelpon itu langsung mematikan teleponnya tanpa berkata apapun dan menjawab salamku.


"Siapa yang menelfon Naufal, apa jangan-jangan Vela?" gumamku dalam hati yang semakin penasaran.


"Ah sudah lah mungkin rekan kerjanya, aku nggak boleh suudzon sama Naufal," gumamku lagi dalam hati.


Setelah Naufal mandi, aku ingin bertanya padanya.


"Mas, tadi aku penasaran siapa yang nelfon kamu, jadi aku angkat tapi tanpa nama, siapa sih Mas?" tanyaku pada Naufal yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Siapa? Dia ngomong apa?" tanya Naufal sambil mengambil ponselnya.


"Aku baru aja salam dan say hello, eh langsung di matiin," jawabku.


Naufal mengecek nomor tanpa nama yang menelfon ponselnya.


"Siapa ya? Aku juga nggak kenal Gi, sumpah," kata Naufal.


"Vela kali," ucapku singkat sambil berusaha berdiri dari kasur untuk berjalan ke kamar mandi.


Benar-benar ku tahan rasa sakit di kaki ku untuk berjalan.


Dan akhirnya atas ulahku sendiri aku hampir terjatuh, tetapi Naufal dengan cekatan menangkapku.


Kami saling menatap, menatap dalam mata satu sama lain.


"Aku tau kamu pasti penasaran siapa yang menelfonku tadi Gi," ucap dalam hati Naufal.


"Aku takut Mas, jika yang menelfonmu adalah Vela seperti yang ku katakan," ucapku dalam hatiku.


Ku alihkan pandanganku darinya.


"Maaf aku hampir merepotkanmu lagi," kataku pada Naufal


Dengan terpaksa ku tarik tubuhku dari rangkulan Naufal.


"Kamu hati-hati kalau jalan,apa aku gendong aja, tumit kamu masih merah loh dari kemaren," tuturnya.


"Nggak, nggak papa, ini udah agak enakan kok," ucapku terpaksa berbohong padanya.


Naufal sepertinya tahu aku sedikit bad mood dengan dia. Dengan cepat Naufal menggendong tubuhku ke kamar mandi dan meninggalkanku di kamar mandi.


Setelah aku selesai mandi kami melaksanakan sholat bersama.


Setelah sholat, ku panjatkan doa kepada Sang Maha Mencinta.


"Ya Allah, lindungilah hubunganku selalu, jauhkan dari gangguan apapun, jangan pisahkan aku dan Mas Naufal, aku sungguh sangat mencintainya," pintaku.


Aku menyalami tangan suamiku dan Naufal mengecup keningku dengan halus.


Naufal meraih kedua pipiku lalu dia menatap dalam mataku.


Lagi-lagi, dia mengecup keningku lama.


"Rasanya aku nggak tenang tau Gi, nggak enak tadi kerja tanpa kamu, aku mikirin kamu di rumah, aku takut kamu kenapa-napa Gi," ucapnya.


"Mas tenang aja, aku bakal jaga diri kok, jadi Mas nggak perlu mikirin aku di rumah," kata ku untuk menenangkan hatinya.


"Nggak Gi, kamu enak bilang nggak papa, tapi aku yang ngerasain bukan kamu, ini emang udah ikatan batin Gi, udah gak bisa buat agar aku nggak mikirin, kamu apalagi dengan keadaan kamu yang setelah jatuh dari balkon, kamu sih ada-ada aja main sama kecoa," kata Naufal sambil menyentil hidungku.


"Apaan orang aku takut kecoa, dia nya aja yang menghampiri aku Aku, aku kan nggak mau sama dia," bantah ku.


"Iyalah kecoa aja ngejarin kamu, apalagi aku Gi," gombal Naufal.


"Yaelah masak iya kecoa ngejar aku Mas, ih kamu parah sama istri sendiri kayak gitu," ucapku.


"Ya enggak gitu Gi, kan aku bercanda kamu bawaannya sensi mulu sama aku, apa jangan-jangan kamu mau dapet ya," tebak Naufal.


"Sok tau banget sih kamu, mentang-mentang jadi dokter aja, udah sana cepetan habis ini kita makan malam," tuturku.


"Mas nanti kita sarapan di bawa aja ya sama orang-orang, aku nggak enak sama Bi Sarah yang nganterin makan ke atas," kataku meminta pada Naufal.


"Kenapa sih Sayang, kan emang Bi Sarah kerja di sini, dan tugasnya memang itu, kenapa kamu sungkan?" ucap Naufal.


"Ya nggak enak aja Mas, meskipun Bi Sarah kerja sama kita, tapi kan nggak enak aja aku sering ngerepotin beliau, soalnya meskipun dulu di rumah Bi sarah kerja sama Mama, aku sangat jarang banget nyuruh-nyuruh beliau Mas,apalagi Adik ku malah nggak pernah," kata ku.


"Ya udah nanti aku gendong kamu ke bawah," kata Naufal.


"Nggak nggak nggak, malu lah aku, kamu ngaco ah, aku bisa kok jalan sendiri, tuh tadi aku bisa," kata ku dengan ragu.


"Apaan tadi aja bisa, orang tadi kamu jatuh, untung Aku yang nangkep, kalau nggak. Aku tau pasti kamu jatuh lagi terus cutinya makin lama lagi, nggak ketemu sama pasien yang kamu ajak janjian itu," ucap Naufal agak sewot.


"Jangan ah, kamu kok doain aku kayak gitu sih, nggak ikhlas ya tadi nolongin aku," kataku merengek padanya.


"Lagian kamu sih ngeyel banget, di bilangin suami udah pokoknya nanti aku gendong kamu ke bawah, titik," perintah Naufal.


"Tapi gendongnya kamu lihat bawa dulu ya, di meja makan sepi nggak, kalo sepi aku mau. Kalo nggak sepi aku nggak mau, mending aku jalan sendiri nggak papa meskipun kaki ku masih sakit, aku malu Mas," ujarku padanya.


"Kenapa harus malu sih Gi, kita kan suami istri, kamu nggak perlu malu, mereka juga pada ngerti kok, mereka juga pasti pernah ngalamin kaya kita," ucap Naufal yang menjelaskan padaku.


"Enggak mau pokoknya Mas," rengekku kepadanya.


"Udah kamu cepetan ganti baju, habis itu kita turun ke bawah segera makan," tuturnya.


Naufal kembali menuntunku untuk duduk di sofa, lalu dia mengintip ke bawah Ruanh Makan sepi ataukah tidak.


"Sepi kok Gi, tenang aja mereka masih di kamarnya masing-masing mungkin," kata Naufal sambil berjalan ke arahku.


"Yakin Mas sepi?" tanya ku untuk meyakinkan karena takut dibohongi oleh Naufal.


"Iya udah ayo ah," dengan cekatan Naufal menggendongku ke bawah menaiki anak tangga dan ternyata mataku terbelalak melihat Bi Sarah, Pak Joko dan Pak Rusdi yang sedang duduk menunggu kami untuk makan malam.


"Langsung ku goyahkan badanku agar terlepas dari gendongan Naufal.

__ADS_1


"Turunin aku, kamu apa-apaan sih bohong sama aku, katanya tadi sepi kok ada mereka," kata ku sambil mengernyitkan dahi karena kesal lagi-lagi Naufal berhasil mengerjaiku.


"Hehehe udah lah Gi, nggak papa nanti juga kamu bakalan kebiasaan," ucapnya sambil menahan tawa nya.


"Mau sampai kapan sih kamu malu sama mereka, mereka tuh kerja sama kita terus loh, mau sampai kapan?" ucap Naufal lirih.


"Ya udah iya iya ngomong terus kamu Mas," ucapku yang ingin mengakhiri perdebatan kecil ini.


Bi Sarah, Pak Rusdi dan Pak Joko menahan tawanya karena sepertinya sedikit mendengar perdebatan ku dengan Naufal.


Aku duduk di sebelah Naufal.


"Cepat sembuh ya Bu," ucap Pak Joko.


"Iya Pak makasih, ini udah agak lumayan kok Pak, nggak kayak tadi malam," kataku.


"Bi ini sayurnya udah di keluarin semua?" tanya Naufal pada Bi Sarah.


"Udah Mas Naufal, tenang aja ini udah siap semua," jawab Bi Sarah.


"Ya udah mari makan semuanya di kenyangin ya," kata Naufal.


Kami benar-benar menikmati masakan Bi Sarah yang khas dengan kelezatannya.


"Mas pengen yang seger-seger," kataku lirih di telinga Naufal.


"Mau apa? Biar aku ambilin," tanya Naufal.


"Apa aja deh Mas, pokoknya yang ada di kulkas yang dingin kamu bawa ke sini," jawab ku.


Dengan segera Naufal pergi mengambil kan ku minuman segar di dalam kulkas.


Tak lama kemudian Naufal kembali dan membawakanku segelas orange juice.


"Adanya ini Sayang, kamu mau?" ucapnya yang membuatki malu.


Ku cubit pinggang Naufal.


"Kamu apa-apaan sih, kan udah aku bilang jangan panggil Sayang di depan mereka, aku malu kamu nggak pengertian banget sama aku," bawelanku padanya.


"Udah lagi nggak papa, nggak usah malu, lagin mereka juga nggak lagi memperhatikan kita kok," kata Naufal sambil meneguk segelas air putih.


Ku teguk segelas orange juice.


Setelah beberapa menit kami selesai makan malam, Naufal ingin menggendongku kembali tetapi aku mencegahnya.


"Eh mau ngapain, nggak nggak aku jalan sendiri," kataku sambil menepisnya.


"Oh mau jalan sendiri, ya udah jalan sendiri aja," Naufal meninggalkanku menaiki anak tangga.


Aku berjalan sangat pelan pelan dengan di perhatikan oleh mereka sambil merasakan sakitnya tumit kaki ku.


Naufal tak tega melihat ekspresi kesakitan di wajahku sehingga dia kembali untuk menghampiriku dan langsung menggendongku menuju kamar.


***(di Kamar)


"Kamu minum obat dulu ya Sayang buat ngilangin nyeri di kaki sama pinggang kamu," tutur Naufal.


Naufal mengambilkan ku 1 butir obat dan segelas air putih.


"Enggak ah enggak mau, aku kan enggak suka obat Mas dari dulu," ucapku.


"Ngaco ya kamu, Masak iya dokter nggak suka obat," ucap Naufall dengan gemas karena ulahku.


"Ya kan nggak semua Dokter suka sama obat, emang dokter yang ngasih obat tapi kan belum tentu dokternya suka obat," bantah ku yang kekeh tak mau minum obat.


"Gi kamu pengen cepet sembuh nggak sih, nurut aja sama aku nurut sama dokter," kata Naufal yang membuatku makin sayang padanya.


"Sekali aja ya, besok udah nggak," tawarku.


"Ya sampe kaki kamu membaik Gi," kata Naufal.


"Ya udah iya dasar mentang-mentang dokter aja dia menyuruh istrinya gitu," kataku dalam hati.


Akhirnya aku menurut pada Naufal dan meminum obat darinya.


Kemudian Noval merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Mas kamu pengen tau nggak aku janjian sama pasien siapa?" tanyaku padanya.


"Siapa emangnya? kan aku nggak tau," kata Naufal.


"Makanya aku kasih tau kamu, mau nggak aku kasih tau?" ucapku.


"Emang siapa yang kamu ajak janjian, sampe-sampe seorang Gia mau diajak janjian sama orang yang baru di kenal," kata Naufal yang ekspresif.


"Kemarin tuh kan aku jalan di ruang periksa sama yang ruang inap buat pasien lansia, eh ternyata di sana Aku melihat Kakek-kakek yang sedang nemenin Nenek yang rebahan di bed pasien, aku samperin kan tuh dia, dan ternyata aku tanya, eh ternyata mereka pasangan suami istri terus mereka bercerita banyak sama aku tentang kehidupan mereka dulu," kataku sambil meremas-remas selimutku.


"Emang dia cerita apa Gi? Sampai kamu mau janjian sama dia," tanya lagi.


"Hampir 95% yang dialami Nenek itu juga aku alami Mas," kata ku.


"Maksud kamu gimana Gi?" ucap Noval.


"Dulu mereka juga dijodohin, sama seperti kita, terus yang menariknya lagi dulu Si Kakek ini nggak suka Mas sama Si Nenek ini, bahkan Si Kakek ini sering banget bawa pacarnya ke rumahnya, mereka di paksa padahal Si Kakek ini udah punya pacar, nah Si Nenek ini coba kamu bayangin kan kamu udah berkeluarga eh ternyata pasangan kamu bawa pacarnya ke rumah gimana sakit hatinya Mas," kata aku.


"Terus gimana lagi?" ucap Noval yanb semakin penasaran dan membalikkan badannya menghadapku.


"Ya gitu Si Nenek nya sih katanya diem aja ngelihat kelakuan suami nya kayak gitu, kemudian kata Si Nenek hampir 1 tahun Si Kakek nggak pernah nyentuh Si Nenek nya," kataku.


"Terus aku tanya sama Si Kakek kok Kakek nggak berfikir mau ninggalin Si Nenek sih, terus Kakek nya jawab masih ragu buat ninggalin Si Nenek karena atas kesabaran nya dengan menghadapi sikap Si Kakek ini jadi Si Kakek itu kayak salut gitu Mas sama Si Nenek ini, eh lama kelamaan Si Kakek ini bisa jatuh cinta sama Si Nenek ini, dan sampai sekarang pun dia masih romantis-romantis aja buktinya kemarin Si Kakek ini nggak mau sekalipun ninggalin Si Nenek tidur sendirian di sana coba bayangin," kata ku lagi dan lagi.


"Sumpah aku terharu banget Mas sama mereka terus yang lebih parahnya lagi, kan aku tanya ke Kakek, Nenek sakit apa Kek gitu kan, Kakek jawab Nenek jantungnya bocor Dok gitu, langsung kan Mas aku merasa kasihan banget sama dia terharu tuh aku di situ," kataku sambil meneteskan air mata.


"Anaknya ke mana Gi kok nggak ada yang rawat sih?" tanya Naufal.


"Si neneknya ini rahimnya lemah Mas, jadi kan kalo punya anak, hampir gak bisa," kata ku.

__ADS_1


"Ya allah kasihan banget," kata Naufal semakin serius mendengarkan ceritaku.


"Ya makanya itu Mas, aku simpati banget sama mereka waktu aku di situ tuh waktu di ceritain tuh aku nangis tau sumpah nggak tahan Mas, setianya itu Si Kakek sama Si Nenek ini ni luar biasa banget kan," kataku.


"Aku sempet mikir bagaimana kalo hal itu terjadi pada aku, pasti aku nggak akan bisa tegar, Si Nenek itu tegar banget Mas, dan belum tentu kamu juga akan setia padaku seperti Kakek," ucapku lagi.


"Kamu ngomong apa sih, jangan ngaco deh," kata Naufal yang khawatir.


"Enggak, kan seumpama Mas, kan takdir gak ada yang tau, tapi aku juga nggak mau sih kalo misal kayak gitu," kataku sambil mengernyitkan dahiku.


"Kasihan ya Gi, sumpah aku kasihan sama mereka, padahal aku belum pernah ketemu mereka," kata Naufal.


"Kasihan banget tau, terus Si Nenek ini tanya ke aku, dokter udah punya suami ya? gitu,"


"Terus aku jawab gini, udah punya Nek, suami dokter kerja di mana terus aku jawab suami saya kerja di sini Nek, oh jadi dokter juga iya jadi dokter juga kapan-kapan ajak kesini ya suaminya gitu dia ngomong gitu, makanya aku mau ngajak kamu untuk ketemu sama mereka," kataku yang terus menceritakan tentang mereka.


"Kan kita bisa belajar dari mereka Mas," ucapku.


"Ya nanti kalo kamu udah sembuh kamu udah bisa masuk kerja ya kita temuin aja mereka, aku makin penasaran sama mereka," ajak Naufal.


Aku terdiam sejenak, dan masih membayangkan jika hal itu terjadi padaku, ku melamun menatap langit-langit atap kamar.


"Mas, kamu jangan tinggalin aku ya, pliiisss gimana pun keadaan aku ya, ya Mas ya?" rayu ku padanya.


"Kamu ngomong apaan sih, kan udah jelas-jelas aku udah ngucapin janji ke Papa kamu kalo aku nggak bakal ngeduain kamu, udah janji gak bakalan ninggalin kamu, Masak iya aku ingkar sama Papa kamu," kata Naufal dengan tegas.


"Kan bisa aja Mas, Allah itu Maha Membolak-balikkan hati manusia, apalagi kamu yang statusnya masih di sukai sama mantan sahabat kamu inget tuh," kataku dengan sinis.


"Aku tuh sama sekali nggak punya niat buat ninggalin kamu," kata Naufal.


"Mas, aku mau tanya deh? Pertama kali waktu kamu ke rumah aku perasaan kamu gimana sih, kan kita udah pernah tuh ketemu di rumah sakit sebelumnya kamu nggak kaget sama sekali apa? tanyaku agak ragu dan malu.


"Ya kaget lah Gi, boro-boro kita nikah, ngomong aja nggak pernah paling juga cuma waktu aku nanyain sama kamu dulu waktu kamu koas," kata Naufal.


"Sumpah waktu itu aku juga kaget banget tahu Mas, enggak nyangka banget gitu ya, Aku kira kamu udah punya pacar waktu ngajar Aku koas," kata aku.


"Terus dalam hati aku mikirnya gini, kok bisa sih aku di jodohin sama murid koas ku gitu sumpah," ucapnya.


"Terus kan kamu nggak ada rasa tuh sama aku sama sekali terus waktu kita akad perasaan kamu gimana?" tanyaku terus memaksa nya.


"Kok kamu jadi kepo sih sama aku," kata Naufal.


"Ya bukannya gitu Mas, aku cuman pengen tau aja kamu bisa ninggalin perasaan kamu dari Vela buat aku," kataku dengan tegas.


"Pertamanya pasti aku nggak suka sama kamu, kan dari awal emang gitu," ucap Naufal yang membuatku kesal.


"Lantas kenapa kamu mau berjanji pada Papaku?" tanyaku kesal padanya.


"Apalagi waktu akad Gi, waktu ijab kabul, aku bingung, ini beneran gak sih aku nikah sama kamu, gitu, dalam hati tuh bertanya-tanya kek gitu tau Gi," kata Naufal.


"Tapi anehnya aku sanggup buat janji sama Papa kamu, keren kan aku," kata Naufal lagi.


"Keren apaan coba, buat janji siapa aja bisa Mas, nepatinnya yang susah," ejek ku yang kesal pada manusia ter PD ini.


"Tapi kan aku nepatin Gi, emang gak grogi apa waktu buat janji sama Papa kamu, ya takut lah aku, aku nikahin anak orang," kata Naufal.


"Bisa-bisanya kamu buat janji sama Papa aku tanpa sedikitpun mempunyai rasa padaku," kataku.


"Namanya juga jodoh Gi, semua udah di atur sama Allah," kata Naufal padaku.


"Aku aja dulu hampir nyerah Mas, kamu nggak bisa jatuh cinta sama aku," kataku.


"Sampai-sampai adikku khawatir sama aku karena perjodohan kita," ceritaku padanya.


"Dan dia sampai menanyaiku tentang banyak hal karena dia takut jika kamu tidak bisa mencintaiku dan malah meninggalkanku," ucapku lagi.


"Sini sini sini," kata Naufal sambil menarik tubuhku untuk di peluknya.


"Aku merasa sangat beruntung sekali Mas, di cintai sama seseorang yang sifatnya hampir sama seperti Papaku," kataku.


"Masak iya Gi, sifatku kaya Papa kamu?" tanya Naufal.


"Iya Mas, bahkan hampir 100% sifat kamu sama kayak Papa aku," ucapku yang membuatnya semakin terbang.


"Papa aku tuh, udah nggak pernah marah, nggak pernah banyak omong, pendiem, nggak pernah berkata enggak sama aku, pasti jawabnya iya, sabar, nggak pernah ngebentak selalu optimis mendukung apa yang selalu dilakukan anaknya, ya gitu orangnya baik banget," ceritaku padanya.


"Setiap aku minta apa pasti orangnya nggak pernah nolak di manapun dan kapanpun," kataku lagi.


"Aku akan usahain jadi seperti Papa kamu Gi, biar kamu tambah nyaman bersamaku," kata Naufal.


Ku lingkarkan tanganku di pinggang Naufal.


"Makasih ya Mas, kamu selalu berusaha buat berubah dan selalu berusaha buat mencintaiku padahal itu sangat sulit aku tau," kataku yang salut dengan Naufal.


"Dulu waktu kamu nggak ada rasa sama aku sama sekali Mas, rasanya sakit banget, rasanya aku pengen pulang pengen banget bilang sama Papa aku tapi nggak mungkin kan karena aku nggak mungkin bisa membuat nya bersedih karena bagi beliau kamu pria pilihan terbaik nya untukku," kataku.


"Maafin aku ya Gi, dulu aku belum bisa mencintai kamu seutuhnya," kata Naufal sambil melihatku yang ada di bawah dagunya.


"Nggak Mas, itu wajar aku tau kok, bahwa cinta nggak bisa di paksakan," kataku mengalah.


"Terus dulu kamu samaSi Kevin gimana Gi, cerita dong," ucapnya.


"Kok kamu nanyain Pak Kevin sih Mas, nanti kamu cemburu terus kita berantem lagi, aku nggak mau kalo gitu tuh," rengek ku.


"Enggak aku nggak akan marah sama kamu, aku nggak akan ngambek sama kamu, dan kita nggak akan bertengkar, kan selama kita nikah kita belum saling terbuka Gi, kamu nggak pernah tau cerita tentang masa lalu ku bersama Vela begitu juga aku tidak mengetahui cerita masa lalumu dengan Kevin," ucap Naufal.


"Tapi kamu jangan marah ya, aku bakal ceritain tentang Pak Kevin sama kamu," rayuku.


"Iya nggak, Aku janji aku nggak akan marah lagi," kata Naufal untuk meyakinkan ku.


"Dulu Pak Kevin itu dosen Aku waktu kuliah, nggak tahu kenapa sikap dia ke mahasiswa lain sama aku itu beda banget Mas, kalo di mahasiswa lain dia itu bisa sumringah, tapi kalo sama aku, nggak kayak gitu, malah nyeremin, secara males kan merhatiin dia, Ya udah aku balik lah acuh sama dia," kataku.


"Tunggu-tunggu kenapa kamu merhatiin dia?" tanya Naufal.


"Tuh kan belum aja aku selesai cerita, baru aja di awal kamu udah kayak gitu tuh mukanya," ucapku yang melihat muka Naufal yang agak kesal.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2