Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 9 (Rencana Susi)


__ADS_3

Gia hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Susi dari belakang menuju kamar Susi. Gia sempat menanyakan keberadaan nenek Susi, tetapi rupanya neneknya sudah tidur.


***(Di kamar Susi)


Di ruangan yang lumayan agak besar dibandingkan dengan kamar kos Gia, dan bau pewangi lemon yang khas kesukaan Susi, Gia menguras semua air matanya dan mencurahkan semua keluh kesalnya.


"Tenang dulu Gi, kalo kamu belum bisa cerita nggak papa, " ucap Susi yang tidak tau apa penyebab Gia menangis, Susi semakin tak tega jika memberitahu hal tentang Pak Kevin pada Gia.


"Pak Kevin ternyata sudah punya pacar Si," jawab Gia dengan gugup karena menangis.


"Kamu tau dari mana Gi?" tanya Susi lagi, padahal sebenarnya Susi sudah mengetahuinya.


"Tadi aku ke Pak Ndut mau cetak foto kita, terus disana aku lihat ada foto Pak Kevin sama seorang wanita, aku tanya kan sama Pak Ndut, dan ternyata itu foto Pak Kevin sama pacarnya, aku kaget Si, dan ternyata Pak Kevin tepat saat itu ada dibelakang aku, aku langsung menghiraukannya Si, katanya selama ini beliau bilang sama aku kalau dia cinta sama aku, tapi nyatanya Si?" keluh Gia sambil mengusap air matanya dengan tissue.


"Gini ya Gi, kemarin aku nelfon kamu banyak banget itu aku mau ngasih tau kamu tentang itu, tapi ngga kamu angkat, terus ponselku lowbat Gi, aku coba ke kos kamu eh disana ada orang pengajian aku gak berani Gi, maafin aku ya, aku telat ngasih tau kamu Gia," kata Susi menjelaskan semua apa yang dilihatnya saat menyaksikan pertandingan futsal kemarin sambil memeluk Gia dan mengelus Gia.


"Gapapa Si, kalo gini aku juga sadar, bahwa aku mengagumi orang yang salah," ucap Gia agak tenang.


"Untung aja kamu hanya sekedar kagum Gi belum mencintai," kata Susi.


"Tapi rasa sakitnya udah kayak gini Si," keluh Gia.


"Udah ya kamu tenang, besok kita ujian, kamu jangan mikir yang lain-lain Gi, apalagi dosen itu," ucap Susi ketus karena sangat kesal dengan Pak Kevin yang telah membuat sakit hati sahabatnya.


"Ya udah sekarang gak usah bahas Pak Kevin Si, gak penting banget," kata Gia berusaha tegar dan tangisannya sudah agak reda.


"Kamu udah belajar Gi?" tanya Susi.


"Udah dari kemarin Si," jawab Gia.


"Eh ini tadi fotonya yang aku cetak di Pak Ndut," ucap Gia dengan membuka tas nya dan memberikan pada Susi.


"Berkat ini, kamu tau semuanya Gi tentang Pak Kevin," kata Susi dengan memandangi foto itu.


"Si pliss jangan sebut nama orang itu lagi," rengek Gia.


"Iya Gi aku lupa," ucap Susi dengan senyumnya.


"Udah dong Gi cemberutnya, senyum lah," goda Susi.


Gia hanya memberikan senyumnya.


"Eh iya Si besok ikut aku ya," ajak Susi.


"Kemana?" tanya Susi.


"Ke Mall yang depan perpustakaan kota Si," kata Gia.


"Oh iya iya siap," jawab Susi.


"Besok pulang dari kampus langsung aja ya Si," ucap Gia.


"Iya siap Gia," jawab Susi.


"Ya udah Si, aku balik kos dulu udah malem, ngantuk juga," keluh Gia.


"Gak nginep sini aja Gi," goda Susi dengan mengelus ranjang kasurnya.


"Enggak Si, nanti salam juga ya sama nenek mu," ucap Gia yang beranjak dari kasur Susi dan mengambil kunci mobilnya.


"Iya iyaa Gia, udah jangan sedih-sedih kamu," kata Susi sambil menekan kedua pipi Gia.

__ADS_1


"Aawww sakit tau," keluh Gia.


"Hehehe yuk kita kedepan," ucap Gia sambil mendorong kedua pundak Gia.


Sampai di depan rumah nenek Susi, ponsel Susi bergetar dalam genggamannya tetapi Susi mengabaikan karena mungkin itu pesan dari grup kelas.


Gia masuk dalam mobilnya dan membuka kaca jendela mobilnya.


"Daaa Si, Assalamu'alaikum," salam Gia.


"Wa'allaikumsalam hati-hati Gi, jangan sedih-sedih," ucap Gia sambil menutup gerbangnya.


Sesekali Gia menekan klakson nya.


Susi melihat pesan dari ponselnya itu dan ternyata itu pesan dari Pak Kevin, tetapi Susi mengabaikannya karena Susi tidak terima jika sahabatnya dibohongi oleh beliau.


Susi yang beranjak tidur terganggu oleh pesan yang dikirim Pak Kevin berulang kali, dan akhirnya Susi mencoba membuka dan membalas pesannya.


Isi pesan Pak Kevin ke Susi.


"Susi, tolong saya" Pak Kevin.


"Susi" Pak Kevin.


"Si plissss bales pesan saya" Pak Kevin.


"Saya mau jelasin Si" Pak Kevin.


"Susi"Pak Kevin.


"Ada apa lagi Pak?" Susi.


"Si bantu saya buat ngejelasin ke Gia apa yang sebenarnya terjadi" Pak Kevin.


"Kali ini aja Si, pliis bantuin saya, bagaimana pun respon Gia nanti, saya akan menerima nya" Pak Kevin.


"Maaf Pak, tetapi saya tidak bisa, saya tidak tega melihat sahabat saya menangis seperti tadi" Susi.


"Saya janji, saya hanya menjelaskan saja pada Gia, nggak lebih" Pak Kevin.


Susi memikirkan kata-kata Pak Kevin itu, karena Susi juga tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan tidak selesai.


"Ya udah, saya mau, tapi bapak jangan membuat dia semakin membenci Bapak" Susi.


"Iya saya janji, terus besok ketemu dimana?" Pak Kevin.


"Kebetulan besok saya di ajak Gia ke Mall depan perpustakaan kota, bapak kesitu aja gimana?" Susi.


"Terus saya bisa ngomong sama Gia gimana?" Pak Kevin.


"Ya nanti waktu diparkiran saya pura-pura mau ke toilet bentar biar Gia nunggu di dalam mobil, lalu Pak Kevin masuk saja ke mobil Gia" Susi.


"Ya sudah gitu aja, kamu besok jam berapa ke Mallnya" Pak Kevin.


"Habis pulang ujian pak" Susi.


"Langsung?" Pak Kevin.


"Iya Pak" Susi.


"Ya udah, semoga besok saya bisa, besok saya hubungi kamu lagi" Pak Kevin.

__ADS_1


"Ya Pak" Susi.


Sebenarnya Susi takut melakukan ini semua, tetapi ini juga demi kebaikan Gia.


Sedangkan Gia sampai di depan gerbang kosnya, ternyata disana tampak kakak kos Gia yang sedang berkumpul dengan teman-teman nya, Gia memalingkan wajahnya karena matanya yang sembab habis menangis.


Gia hanya menyapa mereka dengan menyalakan klakson nya, dan langsung bergegas naik ke atas menuju kamarnya. Sampai-sampai semua kakak kos Gia heran.


Gia masuk ke kamarnya langsung mengunci kamarnya, Gia masih tidak menyangka akan hal yang dilakukan Pak Kevin kepadanya. Meskipun ponsel Gia terus berulang kali berdering dan Gia melihat bahwa itu pesan dari Pak Kevin, Gia semakin kesal bahkan Gia berniat agar tidak akan bertemu dengan beliau.


Setengah jam Gia menangis, rupanya Kak Nia menaiki anak tangga yang melewati kamar Gia mendengar Gia menangis, Kak Nia mencoba memanggil Gia.


"Gia, kamu baik?" tanya Kak Nia yang mendekatkan telinga nya ke pintu.


"Gia nggapapa Kak Ni," jawab Gia.


"Kamu nangis ya Gi?" tanya Kak Nia yang sebenarnya ingin tau apa yang terjadi pada Gia.


"Ehemm, ini nonton film Kak Ni, Gia terharu," jawab Gia terpaksa berbohong karena tidak mungkin menceritakan hal ini pada Kak Nia.


"Beneran Gi?" Kak Nia masih tidak percaya.


"Iya Kak Ni tenang aja," jawab Gia seolah semuanya baik-baik saja.


"Kalo ada apa-apa cerita loh Gi," ucap Kak Nia.


"Iya Kak Ni, pasti," jawab Gia.


Kak Nia meninggalkan kamar Gia meskipun ragu akan alasan Gia menangis karena nonton film. Gia yang sedari tadi menangis dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Gia menyelipkan ponselnya ke rak nya. Dan memutuskan untuk kembali belajar karena besok Gia akan ujian.


***(Keesokan harinya di kos Gia)


Gia keluar dari kamarnya untuk mandi, dan Kak Nia melihat Gia yang matanya sembab dan sepertinya kaku.


Kak Nia menepuk pundak Gia. Sedangkan Kakak kos yang lainnya mumpung masih di dalam kamarnya, Kak Nia sangat tau sifat Gia yang pemalu dan tidak pernah ingin cerita.


"Gi, kamu kenapa?" tanya Kak Nia.


"Gia gapapa Kak Ni," jawab Gia membalikkan badannya.


"Mata kamu sembab Gi, gak mungkin kamu gak kenapa-napa," ucap Kak Nia dengan memegang kedua pipi Gia dan melihat mata kanan kiri Gia.


"Gia, gapapa Kak Ni beneran, Kak Nia kan tau sendiri Gia nangis biasanya karena apa hayo, gabisa ngerjain tugas Gia juga nangis," jawab Gia mencoba menghibur Kak Nia agar tidak curiga padanya.


"Ih Gia bisa aja, iya juga sih, kamu kan mellow banget anaknya," ucap Kak Nia yang tidak ingin memaksan Gia lagi untuk menceritakan masalahnya.


"Ya udah Gia mandi dulu ya Kak," ucap Gia sambil tersenyum.


"Iya Gi, udah sana mandi," kata Kak Nia.


Begitulah keakraban Gia dan Kak Nia. Selesai mandi Gia bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, Gia berharap semoga di hari pertama Gia ujian dipermudah olehNYA.


"Sepertinya Susi sudah menungguku di bawah," gumam Gia dalam hati.


Gia turun dan menemui Susi yang ternyata sudah di depan kosnya. Mereka pun berangkat ke kampus untuk melaksanakan ujian.


Bersambung...


akankah Susi berhasil dengan rencana nya??


tunggu episode selanjutnya kakak

__ADS_1


#jangan lupa like, komen, dan vote kak🙏😊


__ADS_2