Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 49 (Be Happy Gia)


__ADS_3

Setelah sampai di ruang kerja Gia.


Gia duduk di mejanya lalu membuka laptopnya, terpampang wallpaper laptop Gia yang terpajang foto mereka saat tengah akad di masjid.


Gia tersenyum melihatnya.


"Kalo gini terus sama kamu, rasanya bahagia banget Fal, kayak gak pernah ada rasa sakit yang pernah kamu buat padaku, kamu udah gantikan dengan semua ini," gumam dalam hati Gia.


Terlintas di pikiran Gia menelfon Papanya.


Tut....tut.....tut.


"Halo,. Assalamu'alaikum Pa," salam Gia.


"Wa'alaikumsalam Nak, tumben pagi-pagi telfon Papa," ucap Papa Gia.


"Papa kerja ya? Maaf ya Pa, Gia ganggu bentar aja," rayu Gia.


"Iya Nak, nggak papa, emangnya Gia mau ngomong sama Papa?" tanya Papa Gia.


"Emmm..emmm Pa," panggil Gia lagi.


"Iya Nak?" tanya Papa Gia lagi.


"Makasih ya, buat semua yang udah Papa berikan buat Gia, Gia sekarang bahagia banget Pa, bersama pria pilihan Papa," ucap Gia sambil matanya mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Nak? Kenapa Gia tiba-tiba menceritakan tentang hal ini?" lagi-lagi Papa Gia bertanya.


"Gia gak tau mau ngomong apa lagi sama Papa, Gia sangat beruntung Pa menjadi istri dari pria pilihan Papa, mereka salah besar Pa," kata Gia.


"Mereka? Mereka siapa Nak?" ucap Papa Gia.


"Dulu, waktu Gia masih belum lulus kuliah, Gia selalu dikelilingi dengan orang-orang yang sedang menjalin hubungan dengan seorang yang dicintainya, mereka pernah bilang Pa pada Gia, bahwa apakah Gia akan bisa dijodohkan dengan seorang pria pilihan Papa di zaman yang sekarang ini, bagi mereka, sudah nggak zamannya lagi, tapi? Gia mampu membuktikan bahwa dunia salah, mereka salah," keluh Gia.


"Dan Gia sekarang sangat bahagia," kata Gia sambil menangis.


"Nak, ini semua udah diberikan sama Allah ke kamu, ini yang selama ini Papa tunggu, kamu bahagia dengan pria pilihan Papa, Papa berhasil Nak, Papa tidak gagal mendidikmu," tutur Papa Gia.


"Gia jadi sedih Pa, Gia jadi kangen Papa," rengek Gia sambil menghapus air mata di pipinya.


"Gia gak boleh sedih ya Nak," ucap Papa Gia.


Gia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Pa, maaf banget ya, udah waktunya jam Gia buat periksa pasien," ucap Gia.


"Iya Nak, ini Papa juga mau ada urusan Nak," kata Papa Gia.


"Ya udah ya Pa, Assalamu'alaikum, Gia mencintai Papa, Papa sehat ya," pamit Gia.


"Iya Nak, Wa'alaikumsalam," balas Papa Gia.


Sepertinya tengah ada pasien yang darurat sehingga Gia harus segera menanganinya.


Dan ternyata pasien yang tengah di hadapi Gia adalah pasien yang mengalami pendarahan hebat. Jadi Gia harus segera mengambil tindakan.


***(di Ruang Operasi)


Gia yang sudah lengkap mengenakan baju oka (baju operasi) sangat kaget melihat suaminya yang tengah bersiap-siap juga sepertinya.


Dalam ruang operasi Naufal sangat acuh pada Gia.


Saat operasi berjalan tidak sekalipun Naufal melihat ke arah Gia, padahal saat operasi berlangsung tepat di depan Naufal adalah Gia.


Setelah beberapa jam operasi selesai.

__ADS_1


Gia keluar dari ruang operasi dan masih memikirkan sifat acuh Naufal padanya.


"Naufal kenapa lagi ya?" gerutu dalam hati Gia.


Tiba-tiba Naufal dengan sengaja berjalan perlahan mengikuti Gia dari belakang.


Naufal mengetuk pundak kanan Gia.


Gia membalikkan badannya.


"Kamu," kata Gia.


"Kenapa kamu? Kok manyun gitu, kan operasinya berhasil tadi," kata Naufal.


"Kamu tadi kenapa sama sekali gak lihatin aku," ucap Gia mengadu pada suaminya.


"Kamu manyun gara-gara itu?" tanya Naufal.


Gia menganggukkan kepalanya sambil membulatkan bibirnya.


"Kirain kamu marah sama aku, dan kamu akan menghukumku lagi," rengek Gia.


"Wkwkwkwkwk, lucu banget sih kamu," puji Naufal sambil mencubit halus pipi Gia.


"Sayang, tadi kan di ruang operasi, jadi aku harus fokus banget dong, apalagi depan aku kamu, coba aja tadi aku lihatin kamu pasti aku udah gagal fokus Sayang, terus kalo terjadi apa-apa sama pasiennya gimana," tutur Naufal.


"Kan aku baru tau pertama kali ini, dan aku juga baru satu ruangan operasi sama kamu baru pertama kali ini kan, aku mikir terus lah, kenapa kamu acuh sama aku," rengek Gia lagi.


"Aduh aduh, sejak kapan istriku jadi manja banget gini, biasanya aja galak banget, mukul-mukul suaminya, nyubit pinggang suaminya, hehehe," goda Naufal.


"Gak enak aja kamu diemin," kata Gia.


"Tuh kan kamu ngrasain apa yang kemaren aku rasain," ucap Naufal.


"Iya lah, makanya kamu gak boleh gitu lagi sama aku," tutur Naufal sambil menyentil hidung Gia.


"Maafin aku ya Mas," ucap Gia yang ingin memeluk suaminya dan Gia lupa bahwa mereka tengah berada di zona kerja.


"Eitsss ngapain kamu?" tanya Naufal.


"Mau peluk kamu," jawab Gia dengan polosnya.


"Sayang, lihat dong," ucap Naufal sambil menoleh ke kanan dan kiri lorong rumah sakit.


"Aduh Gia, buat malu aja sih, pelukan kamu di tolak Naufal," gumam Gia dalam hatinya.


"Aduuuh Astagfirullah, lupa Mas, maaf ya," ucap Gia yang sangat malu pada Naufal dan langsung berjalan pergi meninggalkan Naufal.


"Gi...kok pergi?" teriak Naufal.


"Pasiennya nunggu Mas," jawab Gia yang jaraknya agak jauh dari Naufal.


"Dasar kamu Gi, aku tau kamu lari dari aku, wkwkwk," ucap Naufal sendiri.


Mereka kembali ke ruang kerja nya masing-masing.


Beberapa jam rupanya hari sudah semakin sore.


Pertanda waktu Gia dan Naufal mengakhiri pekerjaannya.


Naufal berjalan menuju ruangan Gia.


Tepat di depan ruangan Gia, Naufal tidak langsung masuk ke ruangan itu tetapi malah menompangkan badannya di tengah pintu.


Naufal tersenyum-senyum sendiri melihat istrinya yang sibuk menggulung charger laptopnya.

__ADS_1


Gia mulai merasa bahwa sepertinya ada yang tengah melihatnya.


Pelan-pelan Gia melihat ke arah pintu.


Gia kaget melihat suaminya yang berdiri terus memandangnya.


"Astagfirullah, Mas kamu ah gak ngomong kalo disitu, kaget tau, mana udah sore gini," ucap Gia.


"Wkwkkwwkw, ih sama suami sendiri gitu loh, kayak lihat setan aja Gi," ejek Naufal sambil berjalan ke arah meja kerja Gia.


"Ya kaget lah, daerah ruangan aku kan gak se-rame ruangan kamu," keluh Gia.


"Kamu kaget apa takut sih?" tanya Naufal menyondongkan badannya sambil menyangganya di atas meja.


"Ya....ya kaget, tapi.....tapi ada takutnya, dikit," rengek Gia.


"Udah ah ayo pulang, ngapain sih bahas yang gak jelas," kata Gia mengajak suaminya pulang.


Gia langsung berjalan mendahului Naufal untuk keluar meninggalkan ruang kerjanya.


"Tunggu-tunggu kok? Kok Naufal diem sih, gak ngomong sama sekali, gak ada tanda-tanda?" gumam dalam hati Gia.


Gia membalikkan badannya dan ternyata Naufal tidak ada di belakangnya.


"Aduh aku lupa," keluh Gia sambil menepuk keningnya.


Gia langsung berjalan menuju ruangannya kembali, eh ternyata disana Naufal berdiri menatap sinis Gia.


"Ya Allah Mas, kok kamu nggak nyusulin aku jalan sih," kata Gia.


"Kamus sih lupa gak gandeng aku, malah enak jalan sendiri,"ucap Naufal.


"Hemmmm," ucap Gia geram dan langsung meraih tangan Naufal untuk di gandengnyam


"Aduh kamu apa-apaan sih gak langsung jalan aja, mintanya di gandeng mulu," keluh Gia.


"Kan kamu seharian ini.....," kata yang keluar dari mulut Naufal tetapi langsung di bungkam oleh Gia.


"Stop! Aku udah ngerti Mas," kata Gia sambil melepas bungkamannya.


Naufal semakin senang karena bisa mengerjai Gia hampir seharian.


Mereka berjalan menuju parkiran, dan langsung menancap gas mobilnya dengan sangat kencang.


***(di Rumah)


Beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah, tetapi ada yang menjanggal dalam hati Gia.


"Mas, mobil siapa itu?" tanya Gia dalam mobil.


"Nggak tau, temen kamu kali," jawab Naufal.


"Enggak, aku gak kenal plat mobilnya, apa jangan-jangan tamu kamu," tebak Gia.


"Aku gak ada janji kok hari ini, lagian kalo ada janji pasti aku bawa meeting keluar, gak di rumah Gi," tutur Naufal.


Dalam hati Gia bertanya-tanya, siapa mobil yang tengah parkir di halaman rumahnya yang sangat luas.


Bersambung.....


Tunggu episode selanjutnya kak 😊🖤


Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya hehehe 🙏😊


Siap-siap di buat baper terus, siap-siap dibuat senyum-senyum sendiri kayak Gia hehehe

__ADS_1


__ADS_2