Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 233 (Mas Mencintai Vela??)


__ADS_3

***(Di Rumah Susi)


Aku menangis terisak-isak sambil berjalan mengetuk pintu Rumahnya.


Tok....tok...tok...


"Assalamu'alaikum,"


Susi langsung membukakan pintunya untukku.


"Wa'alaikumsalam, subhanallah Giaaaa," ucap Susi yang melihat wajahku sudah kucel seperti ini.


"Ayo masuk sini," kata Susi.


"Makasih Si," jawabku.


Susi membawaku ke halaman belakang rumahnya yang sangat sepi. Kami duduk berdua disana.


"Bentar ya aku buat.."


"Nggak usah Si, aku cuman butuh kamu ngedengerin aku," cegahku sambil memegang tangannya.


"Ya Allah Gia, kamu kenapa lagi?? Di apain lagi sama suami kamu," ceplos Susi.


Aku memulai bercerita tentang brownies itu sama Susi. Tentang Vela dan juga anaknya Clava yang sepertinya selalu mengirimkan brownies untuk Mas Naufal.


"Kamu tau dari mana Gi?? Kalo suami kamu sering dikirim brownies sama Vela??" tanya Susi.


"Dari Suster Andini Si, huhuhu," jawabku.


"Terus, tadi gimana kamu?? Suami kamu bilang apa sama kamu??" tanya Susi.


"Mas Naufal itu semakin hari semakin sibuk Si, aku bisa memaklumi jika dia sibuk,"


"Tadi saja saat kita berdebat, Mas Naufal masih aja melanjutkan meetingnya Si, aku nggak tau lagi gimana?? Huhuhuhu, aku nggak mau ketemu Mas Naufal Si,"


"Rasanya aku ingin terus marah jika bertemu sama dia, huhuhuhu,"


"Apa Mas Naufal masih suka ya sama Vela??" ceplosku di depan Susi.


"Giaaa, huust nggak boleh ngomong gitu," tutur Susi langsung memelukku.


Susi sangat kasihan melihat tangisanku ini. Bukan untuk pertama kalinya aku datang menemui Susi dengan kondisi seperti ini.


"Ya sudah kamu tenangin diri kamu disini dulu ya, jangan sampai nanti di rumah kamu sama suami kamu teriak-teriak lagi, nanti malah kedengeran sama Bibi sama yang lainnya," tutur Susi.


"Bukan pertama kalinya Si Mas Naufal kayak gini sama aku, aku capek Si, udah," kataku.


"Giaaa nggak boleh ngomong gitu lagi ah, yang kuat ya, siapa tau nanti pulang suami kamu menjelaskan semuanya," tutur Susi lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sore harinya.


Aku masih berada di Rumah Susi. Hari ini hujan lebat mengguyur lagi kota ini. Pak Bastian baru saja pulang dari kerja.


"Mas Bastian sudah pulang, pasti suami kamu juga sudah pulang Gi," kata Susi.


"Tapi aku belum mau pulang Si," tepisku.


Ponselku di dalam tas berdering.


Panggilan masuk dari Mas Naufal yangs sepertinya mencariku.


"Siapa Gi??" tanya Susi.


"Mas Naufal," jawabku.


"Kenapa nggak diangkat?? Angkat aja Gi," tutur Susi lagi dan lagi.


Akhirnya, aku menerima panggilan dari Mas Naufal.


"Hallo, dimana kamu??" tanya Mas Naufal.


"Kamu pulang sekarang," ucapnya.


Aku langsung menutup teleponnya setelah Mas Naufal menyuruhku pulang.


"Mas Naufal nyuruh aku pulang," ucapku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga aja nanti sampai rumah, dia langsung ngejelasin sama kamu, kamu jangan marah dulu....siapa tau ini salah paham kan bisa aja,"


Susi terus menyemangatiku, dia itu orang kedua yang tidak rela melihatku sedih. Karena dia pernah tau titik down dimana aku telah menyerah.


"Ya sudah, aku pamit pulang ya Si, salam buat Pak Bastian," pamitku.


"Iya, hati-hati Gi, ini hujan loh, aspalnya licin," kata Susi.


Susi mengantarkan aku ke depan halaman Rumahnya. Disana, aku melihat ada mobil Mas Naufal.


"Loh Gi, itu kan mobil suami kamu," kata Susi.


Pak Joko keluar dari mobil Mas Naufal dengan payung yang menutupi dirinya. Pak Joko menghampiriku dan Susi.


"Permisi Buk, saya kesini atas perintah dari Mas Naufal untuk menjemput Ibu Gia," kata Pak Joko.


"Mari Buk," kata Pak Joko.


"Iya Pak," jawabku.


"Tuh kan Naufal aja peduli sama kamu, sampe dia kirimin Pak Joko kesini,"


"Jangan nyerah, yang kuat ya," bisik Susi di telingaku.


"Aku pulang ya Si, Assalamu'alaikum," pamitku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Susi.


Meskipun aku dan Pak Joko mengendari mobil sendiri-sendiri, dan Pak Joko mengitingku dari belakang. Aku sedikit lega saat mengetahui ini. Berarti Mas Naufal masih peduli denganku.


Di perjalanan, aku mengendarai mobilku sangat kencang, karena jalannya yang sepi. Untung saja Pak Joko sudah handal dan bisa mengikutiku.


Sebenarnya, aku bingung jika bertemu dengan Mas Naufal. Aku sudah kesal melihatnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di Rumah.


Deg deg.....deg deg......


Hatiku bergetar bukan karena memandang wajah Mas Naufal, tapi karena aku takut dan sangat malas jika harus membalas perkara ini lagi. Aku lelah membahas masalah yang terus berulang.


"Assalamu'alaikum," salamku tanpa semangat.


"Wa'alaikumsalam Mbak Giaa," jawab Bi Sarah dengan riang yang sedang mengusap meja di Ruang Tamu.


Pak Joko mengikutiku dari belakang.


"Eehmm Buk, sesuai perintah Bapak tadi, kunci mobil Mas Naufal saya titipkan ke Ibuk, dan Ibuk disuruh langsung ke atas menemui Bapak," kata Pak Joko di pertengahan anak tangga.


"Oh, ya Pak," jawabku sambil menerima kunci itu dari tangan Pak Joko.


Aku pun kembali menapaki anak tangga satu per satu.


Di depan kamarku sendiri, aku tidak langsung masuk. Melainkan aku masih berfikir seribu kali. Aku tidak ingin masuk ke kamar ini.


Air mataku sudah memenuhi pelupuk mata. Aku harus menahannya dan menyelesaikan semuanya.


Glekkkk......


***(Di Kamar)


Aku tidak melihat Mas Naufal disana. Tapi pintu kamar mandi sudah tertutup. Sepertinya Mas Naufal sedang mandi. Hal ini membuatku sedikit rileks karena tidak bertatapan langsung dengan Mas Naufal.


Hatiku masih sangat marah padanya, tak terima dengan perlakuan dia padaku. Sakit rasanya sudah mempercayainya seutuh hatiku.


Aku berjalan ke balkon tempat favoritku. Ku tegakkan kepalaku dan aku melamun merenungi salahku terhadap Mas Naufal ini apa?? Sehingga dia tega memperlakukan aku seperti ini.


"Ya Allah......Andai Papa masih hidup,"


"Pasti semuanya tidak akan seperti ini, aku masih punya Papa yang sangat mengerti aku," gumamku dalam hati.


Bukan tangisan di kedua mataku saja untuk kesalahan Mas Naufal yang ini. Tapi juga tangisan dalam hatiku yang tidak terima dengan pengkhianatan yang Mas Naufal lakukan padaku.


"Aku tidak bisa jika seperti ini terus, Mas Naufal akan terus melukaiku, huhuhuhu," ucapku dalam hati.


Mas Naufal rupanya sudah selesai mandi. Aku sengaja terus duduk-duduk di balkon, tidak peduli separuh kaki ku kehujanan dan gamisku sudah basah. Aku sengaja agar Mas Naufal masuk terlebih dahulu ke ruang ganti baju. Aku malah jika harus berbicara dengannya.


Setelah aku mendengar Mas Naufal menutup pintu ruang ganti baju. Aku langsung bergegas masuk ke kamar. Karena jalanku yang terburu-buru. Akhirnya kaki ku tersangkut di gamisku yang basah ini.


Dan Bruuuukkkkk......


"Aawwhhh," teriakku.


Mas Naufal yang mendengar itu, langsung keluar dari ruang ganti baju dan berniat untuk menolongku.


"Aku bisa sendiri," ucapku.


Mas Naufal tetap memaksa membantuku dan akan mengangkat lenganku.


"Jangan bantu aku,"


"Aku bisa sendiri tanpa Mas," ucapku ketus.

__ADS_1


Sebenarnya aku tidak tega berperilaku seperti pada Mas Naufal, tapi kenapa Mas Naufal juga tak kunjung menjelaskan padaku tentang Vela dan Clava.


Mas Naufal tidak memperdulikan ucapanku, dia tetap membantuku untuk berdiri.


"Kamu nggak akan bisa tanpa Mas,"


"Kamu akan selalu sama Mas," kata Mas Naufal sambil membantuku berdiri.


"Ya Allah..... sebenarnya siapa yang sedang ada di hati Mas Naufal, apakah Mas Naufal masih mencintaiku?? Mas Naufal masih sangat peduli padaku," gumamku dalam hati dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata.


"Lebih baik, Mas buang kata-kata Mas yang seperti itu mulai sekarang,"


"Aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi, rasanya sudah bukan manis lagi Mas," kataku yang menyindirnya.


Aku pun langsung meninggalkan Mas Naufal dan berjalan kesakitan ke kamar mandi.


Tangisan sudah pasti hadir sekarang ini.


"Apa aku harus cerita sama Mama Feni ya atas kelakuan anaknya??" tanyaku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah aku mandi, Mas Naufal menungguku untuk sholat berdua. Aku pun mengikuti apa yang dia mau tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Begitu juga dengan Mas Naufal. Kami pun melaksanakan sholat berdua.


.


.


.


.


.


.


Selesai sholat, aku langsung mengemasi sajadahku s sendiri. Tak lupa aku masih menyalami dan mencium tangan Mas Naufal.


Saat aku sedang akan melepas mukenahku. Mas Naufal akhirnya buka suara.


"Mau sampai kapan kita kayak gini terus??"


"Itu tergantung Mas," jawabku singkat tanpa menoleh sedikitpun pada Mas Naufal.


"Mau jelasin dengan cara apalagi Mas ke kamu, kamu akan tetap kekeh nggak akan percaya sama Mas," kata Mas Naufal.


"Jika Mas Naufal sudah tau aku akan seperti itu, Mas tidak perlu menjelaskan padaku, semuanya sudah jelas,"


"Dari dulu hanya aku yang mencintaimu, Mas bohong, cinta Mas semu untukku," kataku lalu meninggalkan Mas Naufal pergi.


"Ini harus segera diselesaikan, kita nggak bisa kayak gini terus," kata Mas Naufal.


Deegggg......


"Selesai kata Mas Naufal?? Apa Mas Naufal mau menceraikan ku," gerutuku dalam hati.


"Selesai yang bagaimana lagi?? Bukankah memang sekarang sudah selesai, hatimu sudah selesai mencintaiku," kataku sambil meneteskan air mataku.


"Kenapa sih Gi, kamu kayak gini??"


"Dengerin penjelasan Mas dulu,"


"Dari dulu selalu gitu ya Mas, Mas selalu minta dan meminta padaku agar aku selalu dengerin Mas, Mas pernah nggak ngedengerin aku??"


"Aku kuat ya Mas, dengan godaan Mas sebanyak itu aku kuat, tapi tidak untuk Vela," sambungku sambil menangis.


"Mas sama Vela itu, kemaren anaknya sakit, terus dibawa ke Rumah Sakit tempat Mas kerja, anaknya tiba-tiba manggil aku, padahal aku saja belum kenalan sama dia, dan kata Vela dia sering ceritain aku ke Clava, udah itu aja," ucap penjelasan Mas Naufal.


"Pasti Mas deket banget kan sama Clava??!!" tanyaku yang membuat Mas Naufal bingung akan menjawab apa.


"Dekat hanya sebatas pasien dan Dokter, itu kan pekerjaannya Mas, Gi," jawab Mas Naufal.


"Mas, lama-lama aku bingung sama Mas, hati Mas ini sebenarnya ada di siapa sih?? Ha??" tanyaku.


"Ya ada di kamu Gi, kenapa kamu nanya ke Mas gitu, sudah pasti kamu," jawab Mas Naufal dengan tegas.


"Nggak mungkin!! Bohong!!"


"Mas jujur sama aku, Ma ini sudah sering ninggalin aku demi pekerjaan Mas, oke aku mengerti, sering mondar-mandir keluar negeri, oke aku ngertiin Mas, Mas lupa sama janji Mas ke Papa??" tanyaku.


Glllerrrrr.......


Aku tahu sepertinya Mas Naufal akan semakin marah dengan ucapanku yang menyakiti hatinya ini.


"Oke, Mas tau, Mas harus ngebahagiain kamu, ngebahagiain kamu dan terus ngebahagiain kamu, itu kan janji Mas ke Papa, Mas sangat ingat,"


"Tapi asal kamu tau Gi, Mas sudah lakuin semuanya untuk kamu, berusaha buat ngebahagiain kamu, tapi Mas tetap salah di mata kamu," bela Mas Naufal.


"Jika membahagiakanku saja Mas bisa, mengapa untuk menjauhkan hati dari Vela saja Mas susah??"

__ADS_1


"Haaa?? Mas masih mencintai Vela kan??" tanyaku terus terang.


Bersambung........


__ADS_2