
Naufal mengikuti mobilku sampai di depan Rumah.
***(Di Rumah)
Pak Joko, orang kepercayaan Naufal membukakan gerbang untuk kami.
Dua mobil masuk ke dalam garasi.
Aku dan Naufal turun dari mobil.
“Assalamu’alaikum,” ucap salam kami.
Tidak ada yang menjawab salam kami, karena memang sudah
malam.
Aku dan Naufal menapaki anak tangga hingga menuju ke Kamar.
***(Di Kamar)
Aku menutup jendela dan pintu kamar.
Buuukkk…
Naufal langsung terjatuh di atas ranjang.
“Mas, udah sholat kamu??” tanyaku sambil melepas kerudungku.
“Udah lah Sayang,” jawabnya.
“Akum au langsung tidur ya, aku capek banget hari ini,” ucap
Naufal.
Tak lupa aku bersih-bersih terlebih dahulu dalam kamar
mandi.
Selesai bersih-bersih, aku melepakan sepatu dan kemeja
Naufal serta ikat pinggangnya.
Badannya begitu berat, aku saja sampe ngos-ngosan.
“Mas, geser agak kesana,” kataku.
Seluruh ranjang terpenih oleh badan Naufal.
“Uuuhhmmm, apa sih Sayang, udah ini,” jawab Naufal dengan
lelah, padahal dia belum menggeser sama sekali badannya.
“Huuumm, mungkin Mas Naufal lelah banget hari ini,” gumamku
dalam hati.
Jadi aku mengalah, mengambil bed cover dan bantal untuk
tidur di sofa saja.
.
.
.
.
.
.
.
Saat shubuh, Naufal bangun terlebih dahulu, aku sangat tidak
nyaman tidur di sofa hingga aku baru saja bisa tidur jam 01.00 dini hari.
“Uuuughhhh, hooaaam, enaknya,” ucap Naufal sambil
menggerakkan jemarinya.
Tangannya di rangkulkan ke samping, namun yang diraskaan
Naufal berbeda, dia meraba permukaan kasurnya yang datar.
“Loh, Gi….” Gumamnya dalam hati.
Naufal pun membuka kedua matanya, di lihatnya di samping
kosong tidak ada aku, Naufal langsung menjingkat bangun dari ranjang.
“Gia….dimana dia??’ ucapnya langsung berdiri kaget.
Saat dia akan melangkahkan akki nya, dia sudah melihatku
yang tidur sangat pulas di sofa besarnya.
“Astagfirullah Sayang……huuufttt,” ucap Naufal dan terjatuh
duduk di ranjang.
“Buat aku jantungan aja, aduuuuh,” keluh Naufal.
Naufal langsung bergegas membangunkanku.
“Gi….” Ucapnya sambil menepuk pelan pipiku.
“Gia…” sambungnya lagi hingga aku terbangun.
Ku buka pelan-pelan kedua mataku yang sebenarnya sangat
berat dan sepertinya sudah merekat oleh lem.
“Uuuuhhhmm, Mas Naufal, udah bangun,” ucapku.
“Kamu ngapain tidur disini??” tanya Naufal.
“Semalem kamu udah nyaman Bobo sendiri, ya udah aku Bobo
disini aja nggak papa, mungkin kamu butuh ranjang yang luas,” ucapku.
“Adduuh Sayang, kok bisa sih?? Kamu kenapa nggak bangunin
aku??" ucapnya sambil mengernyitkan keningnya.
“Udah, tapi kamu nggak bangun-bangun,” jawabku.
Naufal langsung berdiri dan keluar dari kamar.
“Loh, mau kemana Mas Naufal??” tanyaku dalam hati.
Aku bangun dari sofa, membereskan tempat tidur dan melipat
bed covernya kembali.
Tak lama kemudian, Naufal kembali.
Gllleeekkk….
“Aaarrrrggghhh Sayanggggg…….seharusnya kamu bangunin aku sampe bener-bener bangun,” rengek Naufal yang masih tak terima karena semalam tak seranjang denganku.
“Kamu apa sih?? Gitu doang di permasalahin Mas, udah ah
nggak papa,” kataku.
Naufal langsung merangkulku dari belakang.
“Aku nya nggak mau Sayang, tiap malam, aku harus sama kamu, seranjang sama kamu, kamu sih bangunin nya lembut bangte, ya otomatis aku nggak bangun-bangun,” ujar Naufal.
“Kamu itu kecapek an, aku nggak tega gangguin kamu, ya udah aku tidur sofa aja,” kataku.
“Tapi kamu nggak nyaman kan tidur di sofa??” tanya Naufal di
pundakku.
“Nyaman kok Mas, nyaman,” jawabku.
“Ah kamu bohong, kamu aja baru bisa tidur jam 1 an pagi, yak
an?? Jangan bohong loh kamu Sayang, pasti sekarang badan kamu sakit semua ya,” kata Naufal.
Ku lepas tangan Naufal yang mengikat pinggangku, dan aku
berbalik menghadapnya.
“Mas….udah deh, nggak usah lebay gini, nggak papa, apa sih
kamu ah, hehehem, masalah gini doang, lagian aku juga bisa tidur,” kataku.
“Ya elah Sayang, aku itu harus buat kamu senyaman mungkin,
sebahagia mungkin, ya nggak bisa dong Sayang kalo kayak gini,” ucap Naufal yang terus-terusan tak terima dan ingin mengulang waktunya kembali.
“Mending…..sekarang, mandi gih, ya,” rayu ku.
“Beneran badan kamu nggak sakit semua, pasti kaki ku pegel
kan gara-gara ke tekuk semalaman,” tanya Naufal lagi.
“Nggak papa kok, loh ini nggak kenapa napa kan, tenang aja,”
jawabku sambil tersenyum padanya, padahal semalam kaki ku sempat kaku dan kesemutan.
“Lagian sofa juga gede, emuk juga,” sambungku.
“Ya udah, aku mandi nih,” kata Naufal.
Naufal masuk ke kamar mandi, dan aku pun merebahkan tubuhku di atas ranjang lalu memijat-mijat kaki ku.
“Uuughh pegel-pegel semua, padahal cuman semalam,” gerutuku.
“Kayak tidur di tenda aja,” sambungku lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Seusai sholat shubuh, seperti biasa aku beralih ke Dapur.
***(Di Dapur)
Tampak Bi Sarah sudah bersemangat mencuci sayuran.
Aku datang sambil memijit-mijit kaki ku.
“Loh, Mbak Gia kaki nya kenapa?? Abis jatuh??” tanyaku.
“Nyeri Bi,” jawabku.
“Bi, Gia minta tolong ya,” kataku.
“Iya Mbak, sangat boleh, mau di pijitin kaki nya??” tanya Bi
Sarah.
“Enggak Bi, tolong belikan Gia cream buat pijit di kaki ya
Bi, toko kuning di depan pasti udah buka kok shubuh gini, soalnya banyak Ibu-Ibu yang belanja,” ujarku.
“Oh enggeh Mbak,” ucap Bi Sarah.
Bi Sarah langsung bergegas membelikanku cream untuk memijat kakiku.
Saat Bi Sarah berjalan akan menuju pintu keluar, Bi Sarah
bertemu Naufal yang baru saja menurunkan kaki nya dari anak tangga.
“Bi, Bibi mau kemana?? Subuh gini loh??” tanya Naufal.
“Mau beli cream buat Mbak Gia Mas, di toko kuning depan,”
jawab Bi Sarah.
“Loh, memangnya Gia kenapa Bi??” tanya Naufal sambil
mengernyitkan kedua alisnya.
“Kaki nya nyeri Mas katanya, hehe, permisi nggeh (Ya) Mas,”
ucap Bi Sarah.
“Oh iya iya Bi,” jawab Naufal.
Tau jawaban dari Bi Sarah, Naufal langsung menemui ku di
Dapur.
“Sayang,” panggilnya.
Langsung ku hentikan tanganku ku yang semula memijat kaki
ku.
“Eh Mas Naufal, ngapain kesini??” tanyaku.
“Mau minum??” tanyaku lagi.
“Kamu duduk,” perinta Naufal.
“Loh loh loh, ada apa Mas?? Ada apa ini??” tanyaku yang
bingung.
“Duduk Sayang,” perintah Naufal dengan sangat halus.
“Kamu mau ngapain aku???” tanyaku.
Naufal tidak sabar denganku, dan dia langsung menggendongku lalu di dudukkan nya aku di kursi yang ada di dapur.
Naufal membuka sedikit rok bawahku hingga seper delapan dari bawah kaki ku.
“Mas Mas mau ngapain?? Jangan ngawur kamu Mas,” ucapku.
“Mana kaki kamu yang nyeri??” tanya Naufal.
“Kok….kamu tau??” tanyaku dengan heran.
“Udah Sayang, mana kaki kamu yang nyeri gara-gara tidur
semalaman di sofa,” paksa Naufal.
“Ini Mas,” jawabku sambil emnunjukkan letak nyeri di kakiku.
Naufal memijat-mijat kaki ku, aku merasa malu karena
berbohong padanya.
“Gitu katanya nggak kenapa-napa, hum,” ejek Naufal sambil
menarik ke bawah sudut bibirnya.
“Ehehem, pasti dari Bibi ya?” tanyaku sambil ku angkat kedua
alisku.
papa Mas, nggak papa, huuuuu dasar, jangan sok-sok an kuat lah Sayang,” ejek Naufal lagi.
“Kan aku kira tadinya bakalan ilang, tapi kok malah nyeri
setelah aku buat mandi air dingin,” kataku.
“Aaawww, Mas pelan-pelan,” keluhku.
“udah pelan banget ini Sayang,” kata Naufal.
Tak lama kemudian, Bi Sarah datang membawa cream pesananku.
Bi Sarah melihat Naufal yang duduk di bawahku, dan Naufal
langsung berdiri.
“Bi, untuk hari ini Gia nggak masak dulu,” tutur Naufal.
“Iya Mas,” jawab Bi Sarah.
“Mas apa-apaan sih cuman gini doang,” kataku.
“Udah, kamu nggak boleh masak hari ini,” ucap Naufal lirih.
“Aku bisa Mas, cuman gini doang, ya elah Mas,” tepisku.
“Huuusstt, nurut sama suami,” ucap Naufal sambil membungkam bibirku dengan jari telunjuknya.
Bi Sarah tersenyum melihat keromantisan kami berdua.
“Nggak papa Mbak, bener kata Mas Naufal,” sanggah Bi Sarah.
“Bi, tapi kan cuman gini doang, Mas Naufal aja yang parno an
Bi,” keluhku.
“Ya udah Bi, Gia balik ke kamar dulu ya sama Naufal,” ucap
Naufal.
Naufal menarik tanganku, anmun aku tetap saja tidak mau.
Melihat hal itu, tanpa memberi aba-aba, Naufal langsung menggendongku.
“Byyee Biiii,” ucap Naufal menggendongku kembali ke kamar.
Bi Sarah iri melihat kami berdua.
“Andai saja suamiku masih kuat seperti Mas Naufal, pasti
saya juga begitu kali ya, hihihihi,” ucap Bi Sara.
“Mas Naufal berotot, lah Pak Rusdi, hhmm, udah-udah malah
bayangin yang enggak-enggak,” gumam Bi Sarah .
***(Di Kamar)
Naufal emmbuangku di atas ranjang, dan emmijat kaki ku
kembali dengan mengoleskan cream yang sudah di belikan Bi Sarah tadi.
“Mas Naufal iiih, tadi kan aku bisa jalan sendiri, nggak
pake di gendong segala,” gerutuku.
“Ya kamu sih Sayang, kelamaan, pake acara nggak mau-nggak
mau segala, itu buat aku kode tau nggak,” ujar Naufal.
“Kode apa?? Ada-ada aja,” tepisku.
“Yak ode kalo kamu maunya di gendong aku, ya kan?? Hahaha, udah ngaku aja,” goda Naufal sambil menyentil hidungku.
“Yeeee ke pd an kamu Mas, nggak lah,” jawabku.
Tok tok tok, Abay masuk ke kamar kami.
“Mama kenapa di pijitin Papa gitu?" tanya Abay sambil
memakai dasi nya.
“Mama kamu lagi manja ke Papa Nak,” jawab Naufal.
“Yeee enak aja, enggak Bay, Papa kamu bohong, Papa kamu nih yang maksa Mama buat pijitin,” kataku.
“Ma, Mama kemaren taruh rautan Abay dimana ya??’ tanya Abay.
“Di laci kamu nggak ada??’ tanyaku balik.
“Nggak ada Ma,” jawabnya.
“Di meja belajar kamu??” tanyaku lagi.
“Nggak ada juga Ma, tadi Abay udah nyariin,” jawab Abay.
“Coba kamu cari di laci depan samping kamar mandi kamu,”
__ADS_1
ucapku.
Abay mencari rautan yang beberapa hari yang lalu aku pinjam
dan aku lupa menaruhnya.
“Mas udah Mas,” kataku.
“Nyeri nya bakalan tetep ada, tapi nggak papa kok,” ucapku.
“Kamu Sayang manja banget, padahal tidur di sofa loh,
langsung deh kaki nya nyeri, hehehe,” canda Naufal.
“Mungkin seharian kan akunggak bisa bujurin kaki aku juga
Mas,” ucapku.
“Ya ya ya, udah sana siap-siap gih,” tutur Naufal.
“Bisa nggak?? Kalo nggak bisa aku gendong terus nih sampe
Rumah Sakit,” canda Naufal.
“Apaan sih Mas, lebay deh, ya bisa lah cuman gini doang,”
kataku.
Kami pun bersiap-siap dan segera sarapan ke bawah.
***(Di Ruang Tamu)
Bi Sarah sudah menyajikan aneka menu di meja makan.
Dan semua juga sudah berkumpul disana menunggu kami.
“Abay kok belum turun Mas??” tanyaku.
“Bentar aku panggil dia,” ucap Naufal langsung ke atas.
Tak lama kemudian Naufal membawa Abay ke bawah.
“Udah ada tadi Nak rautan nya??” tanyaku.
“Udah Ma,” jawab Abay.
“Mari makan makan,” kata Naufal.
Kami pun langsung menyantap sarapan.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami berpamitan untuk berangkat
bekerja.
“Bi, berangkat ya, Assalamu’alaikum,” ucapku dalam mobil.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah.
Naufal melajukan mobilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Aku berjalan bertiga dengan Naufal dan Pak Bastian.
“Gi, jangan lupa loh,” ucap Naufal.
“Apanya Mas??” tanyaku.
“Tugas kamu kemaren malam,” jawab Naufal.
“Aaaghhheemm, waw penting nih kayaknya, Gue duluan ya,” ucap Pak Bastian mengerjai kami berdua.
“Apaan sih Lo, jorok mulu pikiran nya,” tepis Naufal.
Pak Bastian menertawakankami.
“Iya nanti aku kasih ke kamu, flashdisk nya masih dibawa
sama Suster Andini,” ucapku.
“Inget loh Sayang, terakhir jam 8 pagi,” kata Naufal.
“Iya iya Pak Direktur, diiih jahat banget sama istrinya,”
sahut Pak Bastian.
“Bukan jahat Bas, kedisplinan nomor satu disini,” kata
Naufal.
“Siap Pak Bos, Hahahaha,” ucap Pak Bastian.
“Nanti aku ke ruangan kamu, kalo flashdisk nya udah di
kasih,” ucapnya.
“Yang lama ya nanti kesana nya, hehehe,” goda Naufal berkata lirih.
“IIiih Mas Naufal, jangan gitu, wibawa nya mana,” ucapku
mencoba mengejeknya.
“Aggghheemm, oke Sayang kalo itu mau kamu,” ucap Naufal
langsung mengangkat kedua pundaknya karena merasa tak terima dengan ejekanku.
“Ya udah aku duluan ya Mas,” ucapnya.
“Iya Dokter Gia,” jawab Naufal.
“Wibawa ya wibawa Mas, tapi nggak perlu gitu juga, hihihii,”
ejekku lagi.
“Aaaarrrggghhh salah lagi nih aku, huufftt, salah mulu ya,”
keluh Naufal.
“Hehehehem enggak-enggak canda aja,” ucapku.
Kami pun berpisah.
Nggak di rumah nggak di tempat kerja, masih ada aja percikan-percikan bumbu keromantisan, hehehehe.
Itulah aku dan Naufal.
Aku tersenyum-senyum sendiri masuk ke ruanganku.
Suster Andini masuk sambil membawa notebook dalam gendongan tangannya.
“Pagi Dokter,” ucap Suster Andini yang ceria setiap harinya.
“Pagi Sus,” jawabku yang juga sangat ceria hari ini.
Suster Andini membuka kantung kecil di dalam tasnya, dan
mengeluarkan flashdisk putik merk ternama pemberian dari sahabatku Susi.
Meskipun flashdisk ini sangat buluk, namun bagi aku, apa pun
dari Susi tetep aku simpan.
“Ini Dok flashdisk nya, terakhir jam 8 kan,” tebak Suster
Andini.
“Iya Sus, tadi pagi udah di tagih Mas Naufal loh,” ucapku.
“Oh ya???” ucap Suster Andini.
“Iya Sus,” jawabku smabil menganggukkan kepalaku.
“Kurang sejam lagi Dok, aman,” ujar Suster Andini.
“Hehehem, tenang aja Sus,” kataku.
“Ya sudah saya balik dulu ya Dok,” pamit Suster Andini.
“Iya Sus, makasih ya,” ucapku.
“Yaaaa Dok,” jawab Suster Andini sambil membuka gagang
pintu.
Aku harus segera memberikan flashdisk ini pada Naufal.
Bersambung.......
Awas lih yabg guling-guling sendiri....
__ADS_1
Yang senyum-senyum sendiri hehehehe