Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 26 (Wanita di Masa Lalu)


__ADS_3

Setelah Naufal selesai mandi dan giliran Gia yang mandi,


Naufal menyiapkan 2 sajadah dan mukenah untuk istrinya.


Setelah Gia selesai mandi, mereka sholat shubuh bersama.


Setelah mereka sholat, Gia menyiapkan kemeja yang akan di


pakai untuk suaminya kerja nantia.


“Habis ini selesai ganti baju kamu ke bawah ya, sarapannya


udah aku siapin,” tutur Gia.


“Emang kamu bisa masak?” tanya Naufal.


“Yaaa… ya coba in aja nanti,” jawab Gia ragu.


“Aku turun dulu,” ucap Gia.


Gia berjalan ke ruang makan untuk menyiapkan sarapan


suaminya.


Beberapa menit kemudian Naufal turun dan melihat istrinya


yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


“Sini duduk sini,” perintah Gia.


Naufal duduk di depan hidangan sayur sup buatan Gia,


“Cobain dong,” ucap Gia sambil mengangkat kedua alisnya


karena takut masakannya nggak enak.


“Gimana?” tanya nya lagi.


Naufal mencoba sesendok kuah sayur sup buatan istrinya. Naufal merasakan rasa yang aneh di lidahnya.


“Kok gini?” tanya Naufal.


“Kenapa? Nggak enak ya?” tanya Gia.


Naufal menyodorkan sesendok kuah ke arah mulut Gia bermaksud untuk menyuapi Gia.


Gia meraih sendok Naufal.


“Sini aku bisa sendiri,” ucap Gia.


“Udah gak papa, ayo cobain,” perintah Naufal.


Mereka saling menatap, jantung mereka berdebar tak karuan.


Gia bahagia sekali saat itu karena untuk pertama kalinya Gia


disuapi oleh seseorang yang sangat di cintainya.


“Eeemmm nggak enak banget, weeek,” keluh Gia karena ternyata masakan Gia rasanya aneh.


“Maaf ya, aku gak bisa masak, tapi lain kali pasti enak kok,


aku akan usahain buat kamu,” ucap Gia pada suaminya.


“aduuhh Gia, kenapa kamu baik banget sama aku,” gumam Naufal dalam hatinya.


“Hey Fal, kok gitu banget liatin aku,” ucap gia sambil


melambaikan tangannya didepan wajah Naufal.


“Iya gak papa, ya udah nanti kita beli makan diluar aja,”


tutur Naufal.


“Ya udah ayo berangkat,” ajak Naufal.


Gia meraih tasnya dan keluar ke halaman depan rumah bersama Naufal.


Gia berjalan menuju mobilnya dan mengambil kunci mobil dari


dalam tasnya. Naufal menarik Gia dari arah belakang.


“eh mau ngapain kamu?” tanya Naufal sambil menarik lengan


Gia.


“Masuk ke mobil, kenapa?” jawab Gia dengan polosnya.


“Gak, gak boleh, kamu harus barengan sama aku terus,”


perintah Naufal.


“Tapi kan,” kata Gia terpotong oleh naufal.


“Udah gak pake tapi-tapi an, udah ayo,” perintah Naufal


sambil menggandeng tangan istrinya untuk masuk dalam mobilnya.


Gia kaget melihat tingkah suaminya yang membingungkan itu.


Gia hanya pasrah saja.


Naufal langsung menancap gas mobilnya menuju rumah sakit


tempat mereka bekerja.


***(di Rumah Sakit)


Setelah Naufal memarkirkan mobilnya, Mereka berjalan beriringan. Dan ternyata Dokter Anton menyapa Naufal.


“Pagi Dokter Naufal,” sapa Dokter Anton.


Naufal hanya tersenyum kepada beliau, sedangkan Gia takut


karena Dokter Anton tau bahwa dia tengah bersama Naufal.


“Loh ini kan anak koas dulu Dok?” tanya Dokter Anton pada


Naufal.


“Iya, dia kerja disini,” jawab Naufal.


“Kok saya lihat tadi anda berangkat bersama ya Dok, apa


kalian…?” tanya Dokter Anton.


“Eng…enggak, tadi ban mobil saya bocor, terus Dokter Naufal


yang kasih tumpangan buat saya,” sahut Gia.


“Oooo ya udah Dok, mari,” ucap Dokter Anton.


“Mari-mari,” jawab Naufal.


Mereka kembali berjalan.


“Kenapa kamu gak ngaku sih?” tanya Naufal.


“Udah lah aku tau kamu belum siap jika satu rumah sakit ini


tau bahwa seorang Dokter Naufal dijodohkan dengan anak koasnya dulu,” ejek Gia.

__ADS_1


Gia tau isi hati Naufal sebenarnya.


Langkah mereka terpisah karena ruangan mereka berbeda.


Mereka melaksanakan tugasnya masing-masing, sepertinya rekan kerja mereka tidak ada yang mencurigai adanya hubungan Gia dan Naufal.


 Di rumah sakit, Gia dan Naufal bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa, mereka saling menutupi dan saling acuh.


Setelah sekian jam mereka bekerja, dan hari sudah semakin


siang, waktunya mereka untuk pulang.


***(di Rumah)


Sampai di rumah, Gia melihat ada mobil Papanya di dalam


halaman rumahnya. Gia langsung keluar dari mobil dan memeluk Papanya.


“Papa,” ucap Gia sambil berlari menuju Papanya.


“Kok Papa sama Mama gak bilang-bilang mau kesini, Gia rindu


sama Mama sama Papa,” rengek Gia.


“Kejutan dong Gi,” sahut Mama Gia.


“Ma Pa,” sapa Naufal sambil menyalimi dan mencium tangan


mertuanya.


“Lihat di dalam mobil ada siapa?” ucap Mama Gia.


“Memangnya ada siapa Ma?” tanya Gia heran dan melepas


pelukannya.


Dan ternyata Bi Sarah turun dari mobil.


“Bi Sarah,” ucap Gia sambil memeluk Bi Sarah.


“Aduh Bi, Gia kangen banget sama Bibi,” kata Gia ambil


melepas pelukannya.


“Mbak Gia sehat?” tanya Bi Sarah yang matanya berkaca-kaca.


“Alhamdulillah Bi,” jawab Gia.


“Mari masuk dulu Ma, Pa,” sahut Naufal.


Mereka berjalan menuju ruang tamu.


Gia pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan buah yang


tesedia di kulkas yang akan dibawanya ke ruang tamu.


***(di Ruang Tamu)


“Sehat Nak?” tanya Mama Gia pada Naufal.


“Alhamdulillah sehat Ma, Mama sama Papa giamana kabarnya?” tanya Naufal balik.


“Alhamdulillah baik ya Pa,” ucap Mama Gia.


Papa Gia bepindah tempat duduk agar lebih dekat dengan


Naufal.


“Fal, Papa mau bicara ya Nak sama kamu,” tutur Papa Gia.


“Iya Pa,ada apa?” tanya Naufal.


“Ini soal Gia, Papa pesen ya sama kamu, jangan sekali-kali


Naufal.


“Iya pa, Insya’Allah,” jawab Naufal.


“Papa hanya minta itu sama kamu, karena Papa sangat sayang pada Gia,” ucap Papa Gia sambil menepuk-nepuk lengan Naufal, sedangkan Naufal hanya menundukkan kepalanya.


“Papa menghampiri Gia dulu ya Ma, dimana nak dapurnya?”


tanya Papa Gia pada Naufal.


“Papa lurus aja, nanti belok kiri udah dapur,” jawab Naufal.


“Gimana Nak, Gia merepotkanmu?” tanya Mama Gia.


“Tidak sama sekali Ma, malah Gia baik banget sama Naufal,”


jawab Naufal.


Tiba-tiba mata Mama Gia berkaca-kaca.


“Syukurlah. Dulu Nak, Gia selalu dilarang Papanya ini itu, hampir Gia tak mampu untuk mengutarakan apa yang diinginkannya, waktu Gia mau kuliah dia pernah


bilang sama Mama, Ma hidup Gia ini sepenuhnya untuk Papa dan Mama, Papanya sangat sangat mencintainya, dari situ makanya teman Gia gak banyak Nak, paling


Cuma beberapa, hidup Gia selalu terkontrol oleh keputusan Papanya, dan Alhamdulillah Gia selalu menuruti tiap kata yang diutarakan Papanya,” ucap Mama Gia sambil meneteskan air matanya.


“Gia itu suka banget sama orang yang family man banget, karena Papanya Gia kan jarang pulang karena sibuk banget kan, jadi Gia sempet bilang dulu sama Mama, Gia itu mampu menyembunyikan apapun dari orang-orang


disekitarnya, ya memang dia cengeng, cengeng banget, tapi Gia itu kadang anaknya suka manja banget kalo sama Mama sama Papa, tapi Gia ngalahan anaknya sebenarnya,” ucap Mama Gia sambil mengusap ingusnya dengan tissue.


“Nafal Insya’Allah bakalan bahagiakan Gia Ma,” ucap Naufal.


Cerita mereka terhenti karena rupanya Gia dan Papanya sudah kembali ke ruang tamu.


Gia membawa sepiring kue, buah dan minuman seadanya.


“Ini Ma, Gia lupa belum belanja,” ucap Gia.


“Gini Nak, Mama kesini mau kasih kejutan buat kamu,” kata


Mam Gia sambil tersenyum.


“Kejutan apa ya Ma?” tanya Gia.


“Jadi, mulai besok dan seterusnya Bi Sarah akan tinggal


disini, dan bantuin kamu disini,” kata Mam Gia dengan antusias.


“Beneran Pa?” tanya Gia menoleh ke arah Papanya.


Papa Gia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum


kepadanya.


“Aaaaaa Mama, Gia seneng banget,” rengek Gia.


“Iya Mbak Gia, Bi Sarah akan nemenin Mbak Gia disini,” sahut


Bi Sarah.


“Semoga Bibi betah ya disini,” ucap Gia.


“Pasti betah Mbak Gia,” kata Bibi.


Mereka berbincang-bincang sampai tak terasa adzan dhuhur


berkumandang, mereka melaksanakan sholat bersama, setelah sholat Mama dan Papa

__ADS_1


Gia berpamitan untuk pulang.


***(di Halaman Rumah)


“Papa kok cepet banget sih pulangnya,” rengek Gia dipelukan


Papanya.


“Iya Papa sama Mama nggak nginap aja disini,” sahut Naufal.


“Lain kali aja ya Nak,” jawab Mama Gia.


“Yaudah Mama sama Papa pulang dulu ya Nak, Assalamu’alaikum,” ucap Mama Gia.


“Wa’alaikumsalam Ma, hati-hatiya Pa nyetirnya,” ucap Gia


sambil melambaikan tangannya.


Papa dan Mama masuk ke dalam mobilnya, dan menancap gas


mobilnya untuk pulang ke kotanya.


Gia mengantarkan Bibi ke kamarnya.


“Ini kamar Bibi ya,”ucap Gia.


“Iya Mbak Gia,”jawab Bi Sarah.


“Ya udah, Gia masuk kamar dulu ya Bi,” kata Gia.


***(di Kamar)


“Habis ini aku ke kosnya Susi ya,” ucap Gia.


“Mau ngapain kamu?” tanya Naufal.


“Mau jalan bentar aja sama dia, boleh ya,” rayu Gia pada


Naufal.


“Iya boleh, tapi jangan lama-lama,” ucap Naufal.


“Gak bakalan lama kok, tenang aja,” jawab Gia dengan senang.


Naufal mengambil kotak hitamnya di almari atasnya. Gia kesal


melihat hal itu.


“Mau kamu bawa kemana kotak itu?” tanya Gia.


“Mau aku buang,” jawab Naufal.


“Yakin di buang? Nggak nyesel?” ejek Gia.


“Iya aku yakin,” jawab Naufal datar.


“Ya udah aku ke bawah dulu,” ucap Naufal.


Gia bersiap-siap untuk pergi bersama Susi nanti.


Sedangkan Naufal tetap pada niatnya untuk membuang kotak


masa lalunya itu.


Di bawah ruang tamu, Naufal berjalan, tiba-tiba ponselnya


bordering, rupannya telfon dari seketaris di kantornya.


Kebetulan Bi Sarah lewat di depannya.


“Bi, saya minta tolong ya, buang kotak ini ke sampah depan,


saya mau angkat telfon penting,” tutur Naufal.


“Baik Mas,” jawab Bi Sarah.


Bi Sarah berjalan menuju pintu keluar, saat Bi Sarah ingin


membuang kotak hitam itu, rupannya ada seorang wanita yang tengah berdiri di depan halamannya rumah Naufal, Bi Sarah menyapanya.


“Maaf, anda siapa ya?” tanya Bi Sarah pada Wanita itu.


“Saya teman Naufal, Naufalnya ada?” tanya Wanita.


“Mas Naufalnya ada, saya panggilkan dulu ya, Mbak tunggu


disini,” tutur Bi Sarah.


Bi Sarah meletakkan kotak hitam di meja yang ada di depan


halaman rumah Naufal itu. Lalu Bi Sarah melangkahkan kakinya untuk memanggil Naufal.


Wanita itu mengambil kotak hitam di meja, karena sepertinya


kotak hitam itu tak asing baginya.


“Inikan, kotak yang dulu mau Naufal kasihkan ke aku waktu di


bandara,” gumam dalam hati Wanita itu.


Wanita itu membuka isi kotak hitam itu dan mengetahui semua


foto dan suratnya.


Wanita itu menangis, melihat semua foto dan membaca surat


dari Naufal. Wanita itu tidak menyangka bahwa sahabatnya pernah mencintainya.


Akhirnya Naufal datang dengan Bi Sarah.


Naufal kaget melihat wanita itu.


“Vela,” panggilnya dengan melototkan kedua matanya.


 Vela menangis dan langsung memeluk Naufal. Bi Sarah sangat syok saat itu.


Sedangkan Gia mau berangkat ke kos Susi tapi dia lupa


menaruh kunci mobilnya dimana. Akhirnya Gia mencoba bertanya pada suaminya dan menyusul suaminya ke bawah.


Tepat kaki Gia di atas anak tangga paling terakhir dan


memanggil-manggil nama suaminya,


“Fal, kamu ta….,” kata Gia terhenti karena melihat suaminya


di peluk oleh seorang wanita.


Naufal langsung menjorok tubuh Vela yang memeluknya. Kali


ini hati Gia benar-benar hancur dan sangat kecewa dengan Naufal.


bersambung..,......


jangan lupa vote, comment dan like ya..🙏😁


Tunggu episode selanjutnya, kasih like yang banyak hehehe


Salin link di bawah ini, jika kalian ingin melihat cuplikan untuk episode selanjutnya.


https://drive.google.com/file/d/11450eRA6HCQzycSoVQhsvCRS0iMxcLtB/view?usp\=drivesdk

__ADS_1


See you readers..🖤


siap-siap dibuat penasaran😊


__ADS_2