
***(Di Ruang Makan)
Satu per satu piring ku tumpuk dalam rangkulan telapak
tanganku.
“Udah Mas, kamu jangan ikutan, biar aku aja,” kataku.
Naufal tetap memaksa untuk ingin membantuku.
“Mas……jangan, ini tugas istri,” ucapku.
“Iya deh iya,” kata Naufal yang akhirnya menyerah.
“Udah kamu diem aja, duduk nungguin aku, kamu capek kan kamu udah kerja, jadi nggak ngurusin beginian,” kataku.
“Kan kamu juga kerja, tapi kamu juga ngurus rumah, ngurus
beginian,” tepis Naufal.
“Kan memang udah tugasnya Mas,” kataku.
“Tapi kan kamu istri aku, bukan ini aku,” ucapnya.
“Massss……..udah gak papa,” ucapku.
“Iya iya,” jawab Naufal.
“Sayang, mending aku cari orang dulu aja ya sementara buat
gantiin Bibi, jangan kamu,” kata Naufal.
“Nggak usah Mas, kan aku bisa, kenapa harus orang lain,” tepisku.
“Ya biar kamu nggak capek-capek Sayang,” kata Naufal.
“Mas, bukannya aku gimana-gimana, kamu mau cari orang siapa aja boleh, bukan nya aku suudzon, tapi yang bisa kita kasih kepercayaan sepenuhnya itu susah loh, nggak sembarangan orang Mas, apalagi yang baru kita kenal,” tuturku.
“Iya sih kamu bener,” ujar Naufal.
“Ini alasan Bastian nggak ada pekerja di rumahnya loh
Sayang, cuman satpam aja,” kata Naufal.
“Maka nya itu Mas, kita kan harus seleksi dulu,” ucapku.
Aku berjalan ke Dapur sambil membawa tumpukan piring.
***(Di Dapur)
“Kamu ke atas dulu aja deh Mas, aku juga mau nyuci ini dulu
soalnya,” tuturku.
“Nggak mau Sayang, aku kerja aja kamu temenin meskipun sampe tengah malam, ya sekarang gentian, bukankah kita harus adil,” ucap Naufal.
“Heeeeem….ya ya ya,” kataku sambil menyalakan kran air.
“Ngomong-ngomong, siapa tadi yang kamu bicarain sama Susi?” tanya Naufal secara tiba-tiba.
“Ha?? Aku omongin sama Susi, banyak, yang mana?” tanyaku
balik.
”Yang cowok tadi, yang kamu pegang-pegang majalah segala,”
jawab Naufal.
“Ooooh Si Prass, dia kan temen aku kuliah dulu, kenapa
emangnya?? Kamu kenal?” tanyaku sambil mencuci piring.
“Enggak, nanya aja,” jawab Naufal.
“Laaaah terus kenapa kamu tiba-tiba ketus gini,” ucapku.
“Enggak aku biasa aja,” tepis Naufal.
“Pasti kamu tadi dengerin semua yang aku obrolin sama Susi
yaaaaaaaa,” godaku agak mendekat padanya.
“Enggak, nggak terlalu, cuman itu tadi yang aku denger,”
ujarnya sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celanya.
“Syukurlah kamu nggak denger semuanya, huuuffff,” candaku semakin membuat ketus Naufal.
“Memangnya ada yang belum aku tau ya tadi?” tanya Naufal
sambil menaikkan satu alisnya.
“Eeeemmmmmm…..ada nggak ya, enaknya giamana?? Asa nggak??” godaku lagi dengan sengaja ingin membuatnya kesal.
“Hoaaam, tiba-tiba aku ngantuk, mau tidur, aku ke atas, awas kamu disini sendirian, daaaa istriku,” kata Naufal yang rupanya sudah terbakar rasa kesal nya padaku.
“Mas…..Hehehem…Mas Naufal……jangan langsung tidur, sholat
dulu,” teriakku.
Naufal meninggalkanku sendiri di dapur.
“Suka banget kalo lihat dia ngambek kek gini, hihihihi, lama banget nggak lihat dia kek gini,” gerutuku sendirian.
Hanya gemercik air dari kran yang berbunyi.
“Kok tumben ya, biasanya suara Pak Rusdi lagi nongkrong di
belakang ketawa kedengeran sampe sini, kok ini hening banget,” kataku.
Ku percepat saat aku membilas piring-piring dan gelas.
Bulu kuduk ku mulai berdiri, merinding rasanya, di campur
dengan hawa dingin AC yang menyebul tepat tengkuk leherku padahal sudah tertutupi dengan kain kerudungku.
__ADS_1
Ada suara langkah kaki dan seseorang yang menyalakan
washtaple.
Aku mencoba memanggil-manggil siapa seseorang itu.
“Pak Rusdi…..Pak,” panggilku.
Tidak ada jawaban sama sekali dari arah sebelah dapur,
sampai ku tempelkan telingaku pada balik dinding, Washtaple mati seketika.
“Helooo…Pak Joko….Pak Rusdi….” Panggilku terus menerus.
Jawaban nya tetap sama, hanya keheningan dan situasi yang
mencekam membuatku semakin takut berada di rumah besar ini, seperti hanya aku yang ada di dalam sini.
Jantungku berderup kencang, keringat dingin di ujung jari
jemariku, bibirku bergetar, dan kakiku sangat berat saat ku angkat ingin berjalan.
“Kok nggak ada orang??? Siapa ya,” tanyaku dalam hati.
“Mas Naufal tadi udah ke atas, Pak Rusdi masak jam segini
udah tidur, tapi siapa yang nyalain sama matiin Washtaple nya,” gerutuku dalam hati.
Ku cari ponsel di saku gamisku.
“Aduuuh, handphone aku di kamar lagi,” kataku.
Sengaja berniat menelepon Naufal agar turun kembali kesini,
karena memang aku sangat takut.
“Huuufffttt….tenang Gi tenang, positif thinking aja, mungkin
kran air rumah ini lagi rusak,” kataku berusaha menenagnkan diriku sendiri.
“Aku harus berani, aku yakin nggak ada hantu disini, Bismillah, huh,” ucapku sambil pelan-pelan berjalan mengendap-endap untuk keluar dari dapur dan mengecek washtaple yang menyala dan mati sendiri.
Saat aku berada di tengah-tengah pintu dapur, ku tengok kanan dan kiri seperti seorang maling karena saking takutnya, kaki ku sedikit gemetar, tapi bagaimana lagi, jika aku tidak melihat dan gak bakal tau jawabannya sendiri atas apa yang aku pertanyakan siapa yang tadi nyalain washtaple, pasti akan
kepikiran sampek kapanpun di otak aku.
“Nggak ada orang,” kataku.
“Pak Rusdi…..Pak…Pak Joko……..Mas Naufal,” teriakku.
Semua seisi rumah ku panggil satu per satu.
Langkahku semakin dekat dengan tempat washtaple.
“Huh huh Bismillah Ya Allah, semoga nggak ada apa-apa, lindungilah hamba selalu Ya Allah,” kataku dengan bibirku yang gemetar.
Saat ku lihat di depan washtaple sama sekali tidak ada
seorang pun disana, aku semakin dan semakin takut, bulu tanganku ikut bediri karena memang aku sangatlah penakut.
Saat aku akan berbalik badan untuk berlari ke atas.
Tiba-tiba…….
Ada yang menepuk pundakku dari belakang, aku berusaha
memaksa tubuhku agar tetap membalik dan ingin tahu apakah di belakangku benar-benar wujud manusia ataukah gaib.
“Bismillah,” kataku sambil mataku terpejam dan perlahan
berbalik badan ke belakng.
“Allahulaila hailah huwal,” muluku mengucap bacaan ayat kursu.
“Hey….hey….Sayang, Apaa-apaan sih,” kata Naufal sambil
memegang kedua pundakku.
Ku buka satu mataku, dan ternyata Naufal yang berdiri
disana.
“Astagfirullahalladzim Mas Naufal, kamu ngagetin aku aja tau
nggak, aku dari tadi deg-deg an,” kataku sambil menepuk dada sebelah kirinya.
“Kamu ngapain sih, Hm? Pake baca ayat kursi segala, ada
apa?? Kamu pikir aku hantu,” kata Naufal.
“Orang aku deg-deg an ketakutan, kamu tiba-tiba muncul dari
belakang aku,” kataku yang kesal pada Naufal.
“Kamu tadi yang nyala in Washtaple nya?” tanyaku.
“Iya, emang aku,” jawab Naufal.
“Kok kamu nggak denger aku manggil-manggil kamu sih,”
rengekku.
“Kapan kamu manggil-manggil aku, nggak ada manggil aku
kamu,” ucap Naufal sambil menggaruk hidungnya.
“Aku tadi padahal manggil-manggil kamu, manggil Pak Joko,
Pak Rusdi, semuanya aku panggil, aku takut,” ucapku agak sedikit ngos-ngos an karena memang aku sangat takut dan hampir menangis.
“Terus aku tempelin telinga aku ke dinding biar denger siapa
yang lagi cuci tangan, tapi tetep aja nggak ada jawaban," sambungku.
“Aku tadi nyalain Washtaple, terus aku langsung ke atas,
__ADS_1
aku mau tau kan salurannya ada yang bocor nggak, soalnya kadang konslet, jadi ya mati-mati sendiri tadi kran nya,” jawab Naufal.
"Tapi kok kamu bisa ada di bawah, kan kamu tadi udah ke atas?" tanyaku.
"Iya tadi aku keinget kalo kemaren Pak Rusdi bilang ke aku, yaa aku turun lagi, kamu sih terlalu fokus cuci piringnya," jawab Naufal.
“Laaaaah terus salah aku dimana, kan aku nggak tau kalo kamu ketakutan, lagian takut apa sih?? Takut hantu?? Nggak ada hantu Sayang, mana hantu nya mana?” ucap Naufal yang seolah-olah nggak ada hantu di rumah besarnya ini.
“Nih hantu nya depan aku, huhuhu,” jawabku sambil merengek
meneteskan air mata yang dari tadi ku taha-tahan.
“Loh kan aku lagi?? Astaghfirullah Sayang, aku salah lagi,”
ucap Naufal.
“Iya kamu salah, iya kamu hantu, menghantui pikiran aku,
huhuhu,” katakku sambil tertawa sedikit di depan Naufal.
“Oooooo gitu, udah berani gombal in aku, awas aja loh kalo
ada hantu beneran di depan kamu,” ucap Naufal menakut-nakuti ku.
“Mas jangan ngawur deh,” kataku.
“Jahat banget kamu,” sambungku.
Naufal meraih kedua pipiku lalu mengajakku segera sholat.
***(Di Kamar)
Setelah sholat, kami langsung bergegas untuk tidur.
“Mas, kamu udah bilang sama Abay soal dia yang mau kamu
sekolahin ke luar negeri?” tanyaku.
“Belum, kenapa?” tanya Naufal balik.
“Ya nggak papa, kapan kamu mau bilang ke dia,” tanyaku lagi.
“Kalo bisa sih secepatnya, jadi dia kan preapare buat
bersaing di sana nantinya,” jawab Naufal.
“Nah terus kenapa belum bilang Mas,” ujarku.
“Nanti setelah dia ujian aja, aku juga mau konsul ke Guru ya
dulu, mau lihat bener-bener kalo di sekolah Abay gimana, kan aku juga harus denger dari wali kelasnya terus Guru yang ngajar dia Sayang,” kata Naufal.
“Kamu yakin nggak kalo dia bakalan mau??” tanyaku lagi dan
lagi.
“Eeemmm kalo itu aku belum bisa yakin atau nggak nya sih,
tapi yang pasti kan aku nggak mau maksa dia Sayang, itu pilihan dia,” ucapnya.
“Kalo aku sih yakin Abay bakalan mau,” kataku.
“Kok bisa yakin??” tanya Naufal.
“Ya insting aja, insting seorang Ibu ke anaknya kan kuat
banget, hehehe,” jawabku.
“Eeemmmm gitu ya, jadi Papa nya nggak ada apa-apa nya nih,” kata Naufal sambil mencubit kedua pipiku.
“Nggak gitu Mas Naufal, selalu deh kamu, cemburuan,” ejekku.
“Iya lah, aku kan suka cemburu, tapi sama kamu, kamu
emangnya enggak?” tanya Naufal.
“Aku sih biasa aja,” candaku.
“Orang yang nggak cemburu itu berarti nggak cinta,” tepis
Naufal.
“Hehehem, iya iya aku cemburu, ya pasti lah aku cemburu pake di tanya lagi Mas,” jawabku.
Aku memeluknya sambil ku cium pipnya.
“Jangan suka pergi-pergi ya Mas,” kataku.
“Pergi kemana? Kan aku disini sama kamu,” kata Naufal.
“Aku kan perginya cuman lagi kerja aja,” sambung Naufal.
“Sebenarnya itu maksud aku Mas, huumm,” gerutuku dalam hati.
“Sekarang kamu bobok aja,” tutur Naufal.
“Aku belum ngantuk,” kataku.
“Di paksain ngantuk Sayang,” tutur Naufal.
“Heehehem ya mana bisa Mas, di paksa nggak cinta masih bisa, lah ini di paksa buat ngantuk,” ceplosku.
“Emangnya bisa ya dipaksa nggak cinta??” tanya Naufal.
“Heemm…..apa?? Emang tadi aku bilang gitu??” tanyaku.
“Iya, barusan kamu bilang gitu, emang bisa?” tanya Naufal
lagi.
“Ohh enggak, tadi kan perumpaan aja Mas,” kataku.
“Emang kamu pernah dipaksa biar nggak cinta?” tanya Naufal.
Bersambung…..
__ADS_1