Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 218 (Mau Di Bawa Kemana??)


__ADS_3

Sampainya di Rumah, dua mobil langsung masuk ke dalam garasi. Kami langsung keluar dari mobil masing-masing. Mas Naufal kembali merangkulkan tangannya di pundakku lagi.


"Assalamu'alaikum," salam kami selalu masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah sambil menggendong serbet di pundaknya.


"Waaah, bunga nya bagus sekali Mbak, pasti ini dari Mas Naufal ya," ujar Bi Sarah.


"Hehehe, iya Bi, Bibi mau??"


Ku ambilkans satu tangkai bunga mawar putih, lalu kuberikan pada Bi Sarah.


"Ini Bi," kataku.


Bi Sarah mengendus bunga itu, dan memegang mahkotanya.


"Asli ya Mbak ternyata, Bibi kira yang mainan itu loh Mbak, hehehe," kata Bi Sarah sambil tersenyum menyeringai.


"Asli dong Bi, kayak cinta nya Naufal ke Gia, nggak pernah palsu, asli semua, No kw-kw, heheheh," sahut Mas Naufal.


Aku menyenggol pinggangnya pelan dengan siku ku.


"Issshh Mas Naufalll," ucapku.


"Siipp," ucap Bi Sarah sambil mengacungkan jempolnya pada kita.


Aku dan Mas Naufal kemudian saling menatap, tak mengerti dengan kata "Sip" yang dibicarakan Bi Sarah.


"Sip?? Apa Bi??" tanya Mas Naufal.


"Mas Naufal sama Mbak Gia pasangan yang sip, semakin kesini, semua menua usia pernikahannya malah semakin romantis, hihihi, apalagi Mas Abay nya lagi di luar sana, hehehe," canda Bi Sarah.


"Hahahaha, Bibi kalo ngomong bener banget, harus gini Bi, sampe kapan pun bakalan kayak gini, meskipun........Naufal sama Gia sudah menua seperti Bibi dan Pak Joko,"


"Tapi keromantisannya harus tetap dilakukan," sambung Mas Naufal.


Aku langsung tersenyum dengan Mas Naufal.


"Yasudah monggo di lanjut, Bibi juga mau ke depan," ucap Bi Sarah.


Kami pun berjalan berdua menaiki anak tangga menuju Kamar. Setiap kali masuk ke kamar, aku selalu ingin menengok kamar Abay, serasa ada dia disana. Meskipun kamarnya tetap utuh namun tak berpenghuni, tapis setiap berangkat ke Butik dan pulang dari Butik akus selalu membuka pintu kamarnya sekedar untuk melihat.


Seperti yang kulakukan sekarang ini, Mas Naufal sudah hafal dengan tingkahku ini.


***(Di Kamar)


"Mas, mandi dulu gih," ujarku sambil melepas kerudungku.


"Kamu aja Sayang, Mas masih gerah," jawabnya.


"Yakin aku duluan?? Aku bakalan lama mandinya," kataku.


"Nggak papa Sayang, kalo lama nanti aku tinggal ma....."


Pukkk......


Langsung ku tutup mulut Mas Naufal.


"Massss.......selalu seneng banget ngerjain istrinya," kataku sambil membuka bungkaman di mukut Naufal.


"Aku nggak ngerjain Sayang, beneran, hehehe," ujar Mas Naufal.


"Aaaghhh, ya udah aku mandi di kamarnya Abay, Mas mandi disini," tuturku.


Mas Naufal yang tengah duduk di pinggiran ranjang, dan aku berdiri tepat di depannya, Mas Naufal langsung melingkarkan tangannya pada kedua pinggangku.


"Heheheh, enggak-enggak Sayang,"


"Sering-sering pelukan gini ya," ucap Mas Naufal dengan manja.


"Uuummmmm, manja sekarang," ejekku sambil mencubit pipinya.


"Ngerasa tenang aja Sayang kalo kayak gini,"


"Lebih rileks, walaupun kerjaan banyak, tapi nggak berasa kalo lagi meluk kamu gini, aaagghh kamu sering-sering ke tempat kerja aku lah Sayang, biar nyuntikin mood baik ke aku," ujar Mas Naufal.


"Eeemmm gituuuu ya," kataku lalu membalas pelukannya dan mengelus kepalanya.


Mas Naufal merasa keenakan hingga dia memejamkan kedua matanya.


"5menit aja Sayang biarin kek gini ya," ucapnya.


"Pasti Mas Naufal banyak kerjaan, sampe dia seperti ini, huumm, untung saja dia sangat mencintai pekerjaan nya, jadi dia tidak terlalu berat untuk melakoninya," gumamku dalam hati.


5 menit sudah kami berpelukan.


"Mas, aku mau mandi,"


"Udah 5 menit loh," ujarku.


Mas Naufal langsung melepas pelukan tangannya yang melingkar di pinggangku.


"Yaaahhhh, cepet banget Sayang, berasanya cuman kayak semenittttt aja," keluhnya.


"Nanti lanjut ya," sambungnya.


"Lanjut apa???" tanyaku yang berpura-pura tidak paham dengan ucapannya.


"Aaaghhh Sayang, ngerjain aku ni," kata Mas Naufal.


"Eeemmmm gimana ya???" ucapku berfikir sambi berjalan mundur menuju kamar mandi.


"Lihat nanti aja ya, weeekkkkk," candaku langsung menutup pintu kamar mandinya dan menertawakan Mas Naufal disana.


"Aaagghhh Sayangggg, kamu pelit banget sama Mas, awas aja ya," teriakan Mas Naufal yang terdengar dari dalam kamar mandi.


Aku terus menertawakan Mas Naufal.


Entah kenapa??? Semenjak Papaku pergi dan Abay ke luar negeri. Wajah yang setiap hari ku fikirkan adalah wajah Mas Naufal.


Setiap kali mau tidur, bahkan saat tengah memasak di Dapur pun otakku masih sempat memikirkan Mas Naufal.


Aku semakin jatuh cinta padanya setiap harinya. Aku nggak tau lagi jika hidup tanpa dia. Apa mungkin dia akan ninggalin aku???


"Aaaghhh, Giaaaaaa nggak boleh suudzon," gumamku dalam hati sambil berkaca di dalam kamar mandi dan menggosok gigi.


Hingga aku meminta pada Allah.


Ya Allah, aku sangat mencintai jodoh yang engkau takdirkan untukku, aku tidak siap jika dia melukaiku dan tidak akan siap.


Ya Rab, jika nanti saatnya kita berpisah, ambillah aku terlebih dahulu, jangan Mas Naufal. Aku belum siap tanpanya. Dia begitu baik padaku Ya Allah.


Berkali-kali aku mengatakan kalimat itu dalam hatiku.


Aku tidak siap jika aku yang ditinggalkan oleh sosok pria yang sangat baik ini.


Siapa yang tidak mengidamkan pria baik dan sabar serta mampu menjaga komitmen dengan jujur?? Semua pasti ingin, dan aku menemukan hal itu pada Mas Naufal.


Yaaaahhh, ini lah sosoknya yang ku tunggu selama beberapa tahun. Sejak Papaku bilang padaku.


"Gia, nanti Papa akan kenalkan kamu dengan pria pilihan Papa ya, Papa sudah menjodohkanmu dengan dia Nak,"


Itu kata Papaku dulu, itu juga alasan kenapa Papaku tidak pernah memberi lampu hijau tentang kisah asmaraku yang sedikitpun tak pernah ku ceritakan pada beliau.


Karena memang, aku juga menahannya, aku ingin cinta ini dimiliki hanya pada suamiku saja.

__ADS_1


Tapi, sebagai manusia biasa, aku hanya mampu menahan, tidak bisa mencegahnya, karena kembali lagi, jatuh cinta itu takdir, kita tidak bisa berencana akan jatuh cinta pada siapa.


Betull???


Rasa kagum, sering sekali datang.


Namun defini cinta??? Sama sekali aku tidak tau bagaimana itu cinta.


Tapi.....setelah menikah, pertanyaan dari definisi cinta itu terjawabkan semua.


.


.


.


.


.


.


.


Selesai aku mandi, Mas Naufal menghilang dari kamar, sepertinya dia sedang mandi di kamar Abay.


Aku berjalan ke ruang ganti baju.


Ternyata sudah ada Mas Naufal disana, aku kaget melihatnya yangt tengah memakai handuk kimono hitam berukuran jumbo miliknya.


"Mas Naufalll......kebiasaan nggak di tutup pintunya," kataku sambil menutup pintu ruang ganti baju, dan pergi bersantai sebentar di balkon.


Tak lama kemudian, Mas Naufal keluar dari ruang ganti baju.


"Sayanggg, Mas udah selesai," panggilnya.


Dengan alas kaki tipis berwarna putih, aku memenuhi panggilan Mas Naufal.


"Kamu mandinya lama banget, duluan Mas kan," ucap Mas Naufal.


"Wajar Mass cewek," sahutku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian.


Setelah adzan magrib, Mas Naufal dengan tiba-tiba mengajakku pergi bertemu dengan temannya.


"Sayang, siap-siap ya," ucapnya.


"Siap-siap?? Memangnya kita mau kemana Mas??" tanyaku.


"Mas mau ajak kamu ketemu sama temennya Mas," jawab Mas Naufal.


"Hhhmmm mulai deh, nanti kalo cemburu nyalahin Mas, tapi kamunya yang mulai Sayang," ujar Mas Naufal.


"Apa kabarnya dia ya Mas?? Hhmm," kataku.


"Ya nggak tau lah Sayang, apa kabarnya juga Si Kevin," sahut Mas Naufal yang mencoba membalasku.


"Eleh eleh........nggak terima ya, heheheh," candaku lagi.


"Andai aja kita ketemu Meira lagi, dia gimana ya Mas???" ucapku.


"Aaaghhh Sayang, kamu imajinasinya ada-ada aja, udah gih siap-siap," kata Mas Naufal.


"Memangnya kita mau kemana sih Mas?? Makan?? Atau meeting sama kamu??" tanyaku.


"Pokoknya, udah kamu dandan aja, yang rapi, kamu pasti seneng kok disana," kata Mas Naufal yang hobi membuatku penasaran.


"Clue nya dong Mas," rayuku.


"Nggak boleh dong, nanti kamu nggak penasaran lagi Mas mau ajak kamu kemana," ucap Mas Naufal.


"Mas aja belum sholat," kataku.


"Iya ini Mas mau wudhu, kamu dandan dulu aja, kan cewek dandannya lama, weekkkk," canda Mas Naufal lalu pergi mengambil air wudhu.


Gini nih, bingung kalo Mas Naufal mengajakku pergi, aku bingung mau memakai gamisku yang mana.


Berlama-lama berdiri di depan almari kaca yang super besar ini memang sudah menjadi syaratnya hehehe.


"Pake yang mana ya," gumamku dalam hati.


10 menit kemudian, aku hanya mampu mengolak-alik dan menggeser gantungan gamisku. Aku pun memutuskan untuk berias dengan natural saja.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, Mas Naufal selesai sholat dan mengaji beberapa ayat di dalam Al-Qur'an.


"Mas, minta tolong ya, pilihin gamisnya buat aku, aku bingung Mas dari tadi berlama-lama cuman berdiri di depan almari aja, " kataku dengan manja.


"Huuuummm, cewek selalu gitu ya kalo mau keluara apalagi dating sama cowoknya," ejek Mas Naufal.


"Dating??"


"Kok kayaknya Mas tau banget, ceweknya Mas dulu gitu ya kalo mau diajak dating suka lama milih bajunya," ejekku ganti.


"Cewek siapa lagi sih Sayanggggg....." sambungnya.


"Kan cewek Mas yang dulu, yang pernah dekat dan lengket sama Mas, hayooo, pura-pura lupa," ejekku lagi sambil menggoreskan brush di pipiku.


"Iiiihhhhhssss......gemes Mas sama kamu Sayang, udah Mas pilihin buat kamu," ucap Mas Naufal yanga akhirnya menyerah padaku.


"Hihihihihi, senjata makan tuan kan Mas," gumamku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian.


Mas Naufal tak kunjung keluar dari ruang ganti baju.


"Mas...." Panggilku di balik pintu ruang ganti baju.


"Iya....bentar Sayaang, dikit lagi aku nemuin gamis yang cocok buat kamu," teriaknya dari dalam.


Aku duduk kembali di depan kaca riasku sambil mengikat rambutku, tumben Mas Naufal lama banget berada di dalam sana.


Akhirnya, Mas Naufal keluar dengan kemeja warna milo polos nya dan celana panjang hitam serta rambutnya yang masih berantakan.


Deg deg......deg deg.......


"Masya'Allah Mas Naufal......" Ucapku dalam hati saat melihat Mas Naufal keluar dari ruang ganti baju.


"Ini Sayang, Mas pilihin buat kamu," ujar Mas Naufal.


"Ganti gih," ucap Mas Naufal lagi.


"Iii....iya Ma..ss," jawabku lalu masuk ke ruang ganti baju. Bau aroma parfum Mas Naufal mengalahkan pewangi ruangan ini.


Tak lama kemudian, aku selesai mengganti bajuku.


Aku tidak ingin kalah dengan Mas Naufal, ku pakai kerudung pashmina yang ku beri cemiti cukup di bawah daguku.


Aku keluar dari ruang ganti baju dengan rapi dan wangi seperti Mas Naufal sambil membawa tas kecilku berwarna hitam dengan sedikit gliter.


Sepasang mata Mas Naufal langsung menatapku.


Aku berdiri anggun tepat di depannya.


"Perfect....." pujinya.


"Siapa dulu Sayang yang milihin gamisnya, hehehem," ucapnya dengan PD.


"Iya iya, Mas yang pilihin," kataku.


Mas Naufal terus saja memandangku.


"Jadi berangkat nggak ini Mas??" kataku sambil tersenyum manis padanya.


"Jadi dong Sayang," jawab Mas Naufal.


Mas Naufal menarik tanganku dan menggenggamnya, lalu mengajakku keluar dari kamar, menuruni anak tangga berdua, seperti seorang Raja dan Ratunya yang sedang turun menemui rakyatnya.


Pak Rusdi dan Bi Sarah kebetulan sedang ada berdua disana.


"Ciyeeee.....ciyeee....Mbak Gia sama Mas Naufal mau itu loh Pak, kayak anak muda, hehehe," canda Bi Sarah.


"Harus dong Bi, harus tetap di budayakan pemandangan yang seperti ini, Bibi juga seneng kan?? Hehehe," goda Mas Naufal pada Bi Sarah.


"Hehehe, sip Mas," sahut Pak Rusdi.


"Ayo, Bapak nyusul juga dong Pak," canda Mas Naufal pada Pak Rusdi.


"Bapak mah sudah tua Mas, hihihihi," kata Pak Rusdi sambil tersenyum menyeringai.


"Tua kan umurnya Pak," ucap Mas Naufal.


"Ya sudah Pak, Bi, Naufal sama Gia berangkat dulu ya, nanti kayaknya pulang agak malam," ujar Mas Naufal.


"Oooo enggeh Mas, siap" jawab Pak Rusdi.


Bi Sarah terus memperhatikan genggaman tanganku dan Mas Naufal yang seakan tak bisa terlepaskan.


Mas Naufal menarikku menuju Garasi. Dia juga membukakan pintu untukku. Sungguh romantisnyaaaaaaaa pria ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Menikmati malam kota ini dengan kecepatan sangat santai berdua sambil mendengarkan musik romantis kesukaan Mas Naufal.


Sepanjang perjalanan, Mas Naufal terus menggenggam tanganku. Bahkan beberapa kali dia juga sempat menciumnya.


"Mentang-mentang nggak ada Abay aja Mas, aku hanya milik Mas," candaku.


"Hehehe, kan memang kamu hanya miliknya Mas," ucap Mas Naufal.


"Ya ya ya.......inget loh anaknya udah remaja," kataku.


"Jangan ngegombal di depannya Abay, Mas biasanya keceplosan, suka nggak di rem," ejekku.


"Heheheh, itu spontan Sayang, namanya juga spontan, kan uncontroll Sayang," bantahnya.


"Hhmmm sukanya ngeles aja," ucapku.


Mas Naufal melewati jalan yang jarang ku lewati, karena jalan ini nanti menuju ujung etan kota ini.


"Mas mau bawa aku kemana ini??" tanyaku lagi.


"Pasti aman kok Sayang," jawab Mas Naufal dengan santai.


"Awas ya kalo Mas mau nyulik aku," candaku.


"Enggak lah, Mas nggak suka nyulik-nyulik kamu, Mas kan suka bahagiain kamu, tapi kalo di rumah, ya beda lagi, lagian kamu kepo banget sama Mas, kayak nggak yakin gitu sama suaminya sendiri," ucap Mas Naufal yang penuh drama.


"Huuummm, apaan sih Mas, cuman gitu doang, aku kan juga pengen tau Mas," jawabku.


"Sabar aja Sayang, bentar lagi juga sampe kok, tinggal duduk manis, nemenin Mas nyetir kurang apa lagi?? Hehehe," candanya lagi.


Langsung kudaratkan sweet kiss tepat di pipinya.

__ADS_1


Bersambungggg..............


__ADS_2