Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 75 (Si Pasien Hamil)


__ADS_3

Aku menanyai salah satu pasien yang ada disana.


"Maaf mau tanya, pasien Nenek yang tidur disini kemana ya?" tanyaku.


"Oh Nenek yang jantungnya bocor itu ya Dok?" tanyanya balik sambil menaikkan satu alisnya.


"Iya bener," jawabku.


"Nenek itu sudah pulang Dok satu hari yang lalu," jawabnya.


"Emmmmm....anda tau alamat rumahnya dimana?" tanyaku lagi.


"Wah kalo itu saya nggak tau Dok," jawabnya.


"Ooww gitu ya, ya uda makasih ya," ucapku dan langsung bergegas keluar dari kamar itu.


Saat aku keluar, aku bertemu dengan Naufal dan Bastian.


Tak sengaja aku menabrak mereka.


"Eh eh maaf," ucapku dan tak melihat mereka dan langsung pergi ke bagian admin, aku juga tidak tau bahwa yang ku tabrak adalah suamiku sendiri.


"Gia Fal, ngapain dia? Kok buru-buru," kata Bastian dengan heran menunjukku yang sedang jalan cepat.


"Iya, bahkan dia nggak lihat sedikitpun ke kita loh Bas," ucap Naufal yang juga heran.


"Samperin sana Fal, kali aja ada apa-apa," perintah Bastian yang mengerti kegelisahan hati Naufal.


"Iya, bawa ini dulu, Gue mau samperin Gia," kata Naufal sambil menyerahkan berkas yang dibawanya pada Bastian.


Naufal berlari mengejarku.


Dia menemukan ku yang sedang bertanya di bagian administrasi.


"Mbak, saya mau tanya, ibu yang di kamar inap nomor *** sudah pulang kah?" tanyaku.


Dengan segera petugas bagian admin mencari data Nenek tersebut.


"Sudah Dok," jawabnya.


"Emmmm....saya boleh minta data nya ya Mbak, kurang lebih alamat rumahnya saja," ucapku sambil menggigit bibir bawahku dan mengetuk jari telunjukku di meja pasien.


Naufal mengagetkanku dari arah belakang.


"Ada apa Sayang?" tanyanya dengan nafas yang terengah-engah.


Tiba-tiba suasana hening.


Semua bagian admin memandang bengong ke arah kami karena mendengar panggilan Sayang yang di ucapkan Naufal untukku.


Ku injak sedikit kaki Naufal.


"Iiiih kamu kelepasan kan," ucapku sangat lirih agar mereka tidak mendengarnya.


"Aahemmm," Naufal sengaja berdehem untuk menghentikan pandangan mereka pada kami.


Karena mereka belum tau jika kami sudah menikah.


"Mm...maaf Dok," ucap salah satu petugas administrasi itu.


"Kamu ngapain disini?" tanya Naufal lirih.


"Aku tadi ke kamar Nenek yang kemaren kita temui, tapi di kamarnya nggak ada, terus aku tanya sama pasien lain, katanya sudah pulang, aku tanya sama mereka tau alamat rumahnya nggak, gak ada yang tau, huuum jadi aku ke sini deh," ceritaku dengan serius.


"Ya Allah Gia, kirain kamu kenapa? Tadi kamu nggak ngrasa nabrak aku sama Bastian gitu," ucap Naufal.


"Aku tadi ngrasain sih, tapi aku gak sempet lihat kalo itu kamu sama Pak Bastian, maaf ya," rengek ku sambil mengelus lengan Naufal.


Lagi-lagi para petugas admin melihat tingkah manjaku itu.


Mereka melongo melihat kemesraan kami.


"Ooo oww ganti aku yang kelepasan," gumamku sendiri.


"Ahhemm udah ketemu datanya," sahut Naufal yang membuyarkan pandangan mereka.


"Ooow iii....ini sudah Dok," ucap bagian admin itu yang grogi karena baru pertama kali mereka berbicara langsung dengan Naufal yang selama ini selalu menjadi topik pembicaraan di rumah sakit ini.


"Kamu print nanti kasihkan Dokter Gia," perintah Naufal.


"Ya udah aku balik dulu ya, sibuk banget Gi, ya ampun," ucap Naufal sambil mengusap keningnya yang sama sekali tidak berkeringat.


"He'em," jawabku.


Naufal berjalan meninggalkanku.


Petugas admin menyerahkan satu lembar kertas yang berisi data dari pasien atas nama "Aminah".


Ku baca data dari Nenek tersebut.


"Oowww jadi nama Nenek ini Aminah," gumamku dalam hati sambil mengangguk-angguk.


"Makasih ya Mbak," kataku sambil akan berjalan meninggalkan ruang admin.


"Emmm Dok, saya mau tanya hehehe," kata petugas admin yang menghentikan langkahku.


"Iya? Kenapa?" tanyaku sambil mengernyitkan keningku.


"Emmmm...mmm.....Dokter....Dokter pacaran sama Dokter Naufal ya?" tanyanya dengan gugup.


Aku hanya tersenyum pada mereka.


"Hehemmm, enggak, kami tidak pacaran," jawabku.


"Huuufftttt, syukurlah," suara semua petugas admin dengan serentak.


"Memangnya kenapa?" tanyaku lagi.


"Bisa-bisa satu rumah sakit patah hati se patah-patah nya Dok, Huuufttt," jawab petugas admin itu.

__ADS_1


Aku tertawa dalam hati.


"Ada lagi Mbak?" tanyaku lagi.


"Hehehe, tidak Dok, makasih Dokter Gia," ucapnya ramah.


"Ya sama-sama," kataku sambil tersenyum pada mereka.


"Hehehem segitu kagetnya mereka denger Naufal manggil aku Sayang," ucapku sambil berjalan.


Dengan segera aku kembali ke ruanganku untuk menyelipkan kertas data Nenek Aminah.


Setelah aku berhasil menyelipkan, salah satu perawat memanggilku.


"Dok, ada pasien kecelakaan akan datang sebentar lagi," kata perawat itu.


Tak lama kemudian, ambulance datang, dan menurunkan satu pasien wanita yang berlumuran darah di kakinya.


Aku langsung berlari menyambut pasien wanita itu, lalu tim kami dengan segera membawanya ke ruang operasi.


Wanita itu merintih kesakitan dan memeras tanganku kuat-kuat.


"Dok, jangan bawa saya ke ruang operasi, saya tidak punya uang untuk membayarnya Dok," ucap pasien itu sambil menangis dan merintih kesakitan.


"Lebih baik Dokter tolongin suami saya saja Dok," ucap pasien itu.


"Ibu sekarang tidak usah memikirkan itu terlebih dahulu, kami akan melakukan semaksimal mungkin untuk ibu, ya? Ibu turuti kami saja," tuturku sambil berlari membawa bed pasien itu.


***(di Ruang operasi)


Perawat memasangkan infus di tangannya, aku segera meninjeksi anestesi pada pasien tersebut.


Kami melakukannya semaksimal mungkin untuk kesembuhan luka pasien ini.


Sampai aku sangat tak tega melihatnya.


Dan ternyata pasien ini hamil muda.


Berjam-jam kami melakukan operasi di bagian kakinya.


.


.


.


.


Setelah selesai melakukan operasi, aku memandang wajah pasien itu, aku sangat kasihan, untung saja bayi yang di kandungnya kuat dan masih hidup.


Aku langsung berjalan menuju tempat admin.


"Ada yang bisa saya bantu Dok?" tanya petugas admin.


"Tadi baru saja ada pasien kecelakaan, yang ibu hamil itu, kamu tau?" tanyaku.


"Iya Dok, atas nama ibu Lia," jawabnya.


"Baik Dok," ucapnya.


"Biar saya yang melunasi semuanya, tapi kamu jangan bilang bahwa saya yang melunasi, dan jika kamu di tanya atau di paksa, jawab aja seseorang yang menolong ibu waktu kecelakaan, gitu ya," tuturku.


"Oh iya, itu ibunya suaminya juga dibawa kesini nggak?" tanyaku lagi.


"Data terkait suami dari ibu Lia sepertinya belum terinput Dok, atau mungkin dibawa ke rumah sakit lain," jawabnya sambil mengecek data di komputer.


"Eemmm gitu ya, nanti kalo misal suami dari ibu Lia kebetulan juga di rawat disini, sekalian total semuanya ya," ucapku.


"Yakin Dok?" tanyanya.


"Iya, kamu janji jangan bilang sama mereka," ucapku lirih.


"Baik Dok, nanti saya kirim datanya segera ya Dok apabila sudah terinput semua," kata petugas admin itu.


"Iya, makasih ya," kataku lalu berjalan menuju ke ruanganku.


***(di Ruang Kerja)


"Kasihan ibu tadi, aku jadi kepikiran," gumamku dalam hati sambil mematikan laptop.


Gleekkk...


"Sayang....," panggil Naufal dengan riang.


"Kamu kok cepet banget, padahal aku mau nyusulin kamu tadi," ucapku sambil menyimpan laptopku di laci.


"Ya cepet dong, kan habis ini mau jalan sama kamu, hehem," senyum Naufal yang menyeringai padaku.


"Udah sholat kamu?" tanyaku.


"Udah Sayang, nih rambut aku basah abis wudhu," jawabnya sambil menaikkan bola matanya ke atas.


"Jadi kita mau kemana Gi?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku dan kedua tangannya menyangga di alas meja.


"Gimana kalo kita ke puncak aku kemaren aku sempat kesana Mas," kataku.


"Oooo yang waktu kamu galau gara-gara aku itu ya?" ejek Naufal.


"Galau apaan? Emang aku pengen refreshing kok, weekkkk," ejek ku ganti.


Naufal mencubit kedua pipiku.


"Uuuuuh kamu tuh gitu, gak pernah mau ngaku," kata Naufal.


"Mas.....lepasin," perintahku.


"Hehehe...Ya udah kesana aja aku nurut," ucap Naufal sambil melepaskan kedua pipiku.


Setelah selesai berberes, kami berjalan beriringan untuk ke parkiran.

__ADS_1


***(di Parkiran)


Kami langsung masuk ke dalam mobil dengan sisi pintu yang berbeda.


Naufal langsung menancap gas mobilnya.


"Mas aku cerita," ucapku sambil memakaikan seatbelt.


"Apa?" tanya Naufal yang fokus menyetir.


"Tadi kan ada pasien kecelekaan kan Mas, dia mengalami pendarahan parah banget, waktu aku membawa ibu itu ke ruang operasi, dia bilang gini sama aku," kataku berhenti karena Naufal tak memeprhatikanku.


Krik krik krik..


"Kok diem Gi? Ceritanya udah selesai, udah gitu aja?" tanya Naufal sambil mengambil tissue untuk di usapkan pada keningnya.


"Kamu nggak perhatiin aku sih," kataku sambil agak murung.


"Ya Allah, aku merhatiin kamu Gi lewat telinga aku, aku dengerin kok, aku gak bisa natap kamu kan aku lagi nyetir Sayang," jawab Naufal.


"Beneran ya kamu dengerin aku? Ntar kacang lagi," gerutuku.


"Kan jelas-jelas aku ngedengerin kamu Sayang, cuman aku lagi nyetir, Astagfirullah berilah hamba Mu ini kesabaran Ya Allah pada istri manja yang sangat hamba cintai ini," ucap Naufal yang membuatku salah tingkah dan menahan tawa.


"Gak lucu tau Mas," ejek ku sambil membuang pandangan ke arah samping kaca jendela.


"Gak lucu tapi kamu nahan ketawa kan? Ya kan? Wkkwwkw," kata Naufal.


"Yok lanjut lagi Sayang ceritanya, aku dengerin kok," tuturnya.


"Aku lanjut lagi ya, awas kamu nggak dengerin secara seksama, nanti sehabis aku cerita, kamu harus buat ringkasannya," kataku mengerjai nya.


"What??!!! Aaaah Sayang, balik lagi nih jadi anak SD, meetingku aja sampe kalah Sayang, ini pake acara meringkas segala," kata Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya udah kalo gak mau, aku gak lanjut cerita, awas nanya-nanya aku, huh," ucapku.


"Iya iya Sayang, Ya Allah iya, aku ringkas nih," kata Naufal.


"Beneran ya?" tanyaku untuk meyakinkan bahwa aku sedang tidak dikerjai Naufal.


"Iya Dayang, udah yok lanjut kamu cerita," ucapnya.


"Sampe mana tadi Mas?" tanyaku.


"Sampe itu loh Gia, eeemmm ibunya bilang bla bla bla kamu belum lanjutin itu," jawab Naufal.


"Oiya, ibunya bilang gini ke aku, Dok jangan bawa saya kesini, saya tidak punya uang Dok, lebih baik selamatkan suami saya saja, gitu katanya Mas, bayangin, otomatis aku udah gak bisa mikir apa-apa dong selain keselamatan ibu itu hal yang paling utama dan penting bagi aku, ya udah aku hiraukan saja Mas, segera aku siapin ruang operasi, eehh yang lebih mengejutkan lagi Mas, aduuuh, apa hayo coba tebak?" tanyaku setelah bercerita sangat serius dan ekspresif pada Naufal.


"Apa?? Ibunya koma? Atau gimana?" ucap Naufal yang ikut serius menjawabnya.


"Salah, kamu ini gimana loh Mas, gak nyambung banget ah," kataku.


"Tuh kan salah lagi akunya, kan aku gak tau Sayang, kan kamu yang nanganin beliau bukan aku, masih salah lagi nih aku? Kan biasanya kalo pendarahan banyak apalagi di kepala kan biasanya koma Gia Sayang," tanya Naufal.


"Bukan itu, ternyata ibunya itu lagi hamil tau Mas, kayaknya 5bulanan deh Mas, itu perutnya nggak kelihatan kalo lagi hamil Mas," ucapku.


"Terus bayinya gimana Sayang?" tanya Naufal yang ikut khawatir.


"Untungnya Mas bayinya masih hidup, kuat banget kan tuh bayi Mas, coba aja kalo bayi itu kenapa-napa, pasti kasihan banget si ibu itu Mas," kataku yang simpati kepadanya.


"Terus suaminya gimana?" tanyanya lagi.


"Kalo kabar suaminya sih aku belum tau Mas," jawabku.


"Terus gimana bayarnya mereka Gi?" tanyanya lagi dan lagi karena Naufal sepertinya juga simpati pada ibu itu.


"Bayarnya......aku Mas yang bayarin," kataku dengan nada pelan.


"Apa??!!!" kata Naufal yang menatapku.


Kemudian Naufal menepikan mobilnya. Dia menatapku.


"Kamu Sayang yang tanggung semua biaya ibu itu?" tanya lagi dengan menatap dalam mataku.


"Iii......iya Mas, kenapa?" kataku agak sedikit takut.


"Kamu Ma....," belum selesai aku berbicara Naufal langsung menarik pinggangku dan memelukku.


Aku tidak mengerti sama sekali, apa maksud Naufal.


"Mas," panggilku di pundaknya.


"Aku salut sama kamu Sayang, aku gak bisa berkata apa-apa lagi kali ini padamu," kata Naufal.


"Setiap hari aku semakin jatuh hati padamu Gi, dari sikap kamu, dari cara kamu yang mencintai semua orang dengan tulus, tidak peduli dia pernah menyakitimu atau tidak, kamu kenal dekat atau sama sekali belum mengenalnya, kamu tidak pernah memandang itu semua, kemaren aja sama Vela kamu baik banget, padahal dia sudah menyakiti hatimu, ini alasanku tidak pernah sudi jika ada orang yang ingin menyakitimu," gumam dalam hati Naufal.


"Mas, kok diem?" tanyaku.


Naufal melepas pelukannya, lalu menarik tengkukku, dan dia mencium keningku.


Ku pejamkan mataku.


"Gak tau lagi Gi, aku harus jatuh cinta sama kamu dari mananya lagi," ucap Naufal sambil mengelus pipiku.


"Hehem, ini semua udah takdir Mas, ya kan?" ucapku.


"Iya sih, huufffft," kata Naufal sambil terus tersenyum padaku dan mencium keningku kembali.


"Mas, keburu malem, udah dulu dong, nyetir lagi gih," tuturku.


"Hehhee, sampe kelupaan Gi," kata Naufal sambil menyeringai.


Naufal kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya untuk menanjak disetiap jalan di puncak.


Kami di suguhi pemandangan terasering dan kebun teh yang sangat indah, hawa dingin sudah menjadi icon disini, sampai-sampai di dalam mobil kami mematikan AC.


Bersambung........


Tunggu episode selanjutnya readers,๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ™

__ADS_1


Temenin Author terus ya heheh๐Ÿ–ค


jangan lupa like, komen dan vote ya.


__ADS_2