Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 217 (2 Tahun Kemudian)


__ADS_3

Yah, kalian benar.........video call dari Mas Naufal, Pak Dokter yang mengecek keadaanku.


"Istirahat yang cukup Sayang, nurut sama Dokternya, jangan bandel-bandel, biar cepet sembuh, hehehe," ucap Naufal.


"Hhmm iya Mas," jawabku.


Lagi-lagi Pak Bastian terus mengganggu keromantisan kami.


"Jangan mau Gi, hahahahah," sahut Pak Bastian.


"Eh, Lo kenapa sih??? Syirik banget Bas," kata Mas Naufal.


Akhirnya, Mas Naufal menyuruhku untuk istirahat kembali dan menutup video callnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2 Tahun kemudian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersyukur, rumah tanggaku berjalan dengan mulus dan selalu di taburi oleh kebahgiaan, yaaah meskipun Mas Naufal sering sekali meninggalkanku dan sibuk dengan pekerjaannya.


2 tahun sudah, kami semua ditinggalkan oleh Papaku.


Satu tahun sudah, Abay meninggalkanku karena harus menempuh pendidikannya di luar negeri.


Bersekolah di Negeri orang tidaklah mudah.


Kini hanya aku seorang diri yang menghuni lantai atas rumahku. Satu tahun yang lalu, Abay mengambil keputusan, untuk mneyetujui dan dia juga ingin melanjutkan study nya di Negeri Singa itu.


Umur kami juga semakin menua, meskipun sepi.


Tidak ada anak semata wayangku, aku tetap menikmatinya. Lebih bersyukur aja.


Abay juga merasa nyaman dan senang berada disana. Dia bahagia......bahkan dia jarang sekali pulang, yang ada.......aku yang menjenguknya disana. Karena Mas Naufal memilihkan sekolab yang memang khusus anak laki-laki saja disana.


Beberapa minggu yang lalu. Baru saja aku menyambanginya disana. Disana dia tinggal sendiri.


Tinggal di sebuah apartemen kecil. Namun bersebelahan dengan teman akrabnya dari Negara Kamboja.


Dan sekarang........


Aku merintis usaha kerudung dengan nama brand punyaku sendiri...Yaaahh dari pada aku nggak ngapa-ngapain di Rumah.


Sebenarnya, Mas Naufal mempersilahkan ku untuk buka praktek saja di Rumah. Hehehem....tapi aku menolaknya.


Karena melupakan bukanlah hal yang mudah.


Dan memulai, juga bukan hal yang mudah.


Aku tidak ingin terjebak dalam lubang yang sama.


Aku juga tidak ingin terbelit dalam masalah yang sama lagi nantinya.


Belum lama, bisnis kerudungku ini berjalan.....


Masih sekitar 6 sampai 7 bulanan.


Karena sejak Abay meninggalkanku, rasa sepi semakin terasa setiap harinya. Jadi aku memutuskan untuk memulai usaha ini.


Alhamdulillah, punya Butik yang lama ku idam-idamkan kini ku miliki. Jadi sekarang, setengah hari ku habiskan di Butik bersama Hilya, Haru dan Isamu, mereka semua karyawan yang bekerja di Butikku.


Isamu dan Haru sebagai penjahit di butikku. Dan Hilya yang lebih banyak melayani pelanggan, Aku?? Aku yang memanagement dengan cara online. Mulai dari pembeliaan, hingga pengiriman. Aku juga yang mendesain kerudung di Butik ini sendiri. Jarang sekali aku menengok ke Butikku, karena memang aku yang menjualnya secara online via instagram dari Rumah, namun aku juga menjadi seorang Kasa saat aku berada di Butik.


Perlahan aku juga mencoba mendesain gamis syar'i untuk wanita-wanita muslimah disana. Sangat sulit untuk ku sebagai orang awam yang tidak pernah tau dunia desain. Dan aku juga bukan seorang desainer.


Terkadang, banyak juga teman-teman yang kerja dulu untuk mampir ke Butikku. Apalagi Suster Andini. Dia yang sangat sering mampir kesini.


Mas Naufal sangat mendukung sekali saat pertama kali ku bangun bisnis ini. Dan alhamdulillah masih lancar sampai sekarang ini.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Dan hari ini, sangat pagi sekali aku harus sudah berada di Butik. Karena harus mempersiapkan beberapa kerudung dengan jumlah yang sangat banyak untuk diantarkan ke luar kota karena pemesan akan mengadakan pernikahan adiknya, jadi setiap tamu dari keluarganya memakai kerudung sama yang di produksi dari Butikku ini.


***(Di Ruang Makan)


Kami semua tengah sarapan, sambil makan aku mendapat callingan dari Customerku yang akan dikirim barangnya pagi ini.


"Mas, aku ke belakang dulu," kataku karena merasa tak enak jika mengangkatnya di depan mereka yang sedang menikmati sarapan.


Aku pun asik berbicara dengan customerku ini, meskipun baru satu bulanan kita saling mengenal, dan dia juga sering sekali membeli kerudungku karena katanya suaminya sangat suka dan makin jantu cinta jika dia memakai kerudung produksi Butikku dengan desain sederhana dan tekstur kainnya yang begitu lembut.


Beberapa menit kemudian, aku menemui mereka kembali di Ruang Tamu. Mas Naufal langsung bertanya padaku.


"Siapa Sayang?? Pagi gini udah telfon kamu??" tanya Mas Naufal.


"Biasa Mas, customer aku," jawabku.


"Pagi banget Sayang??" ucap Mas Naufal.


"Iya Mas, maaf ya, jadi ngeganggu kamu ya," tebakku.


"Ngeganggu enggak Sayang, cuman kan kamu lagi makan," kata Mas Naufal.


"Iya sih Mas, tapi nggak papa kok, aku nanti bisa lanjutin makan nya kalo udah di Butik," tepisku.


Mas Naufal selalu begini jika soal makan.


Jam setengah 7 pagi, aku dan Mas Naufal berangkat dengan mobil yang berbeda.


Aku dengan mobil ku sendiri, dan Mas Naufal dengan mobilnya sendiri, lagian.....Butikku juga sangat jauh dari tempat kerja Mas Naufal, bahkan searah aja enggak.


"Hati-hati Sayang," ucap Mas Naufal dari dalam mobilnya.


"Iya Mas, Mas juga ya," kataku.


Mobil kami berpisah tepat di depan gerbang rumah kami, mobilku berbelok ke kiri, mobil Mas Naufal ke kanan.


Dulu saja, setiap berangkat bekerja, kami selalu sama-sama. Tapis sekarang??? Eehh malah berpisah.


Jarak Butik dari Rumahku, lumayan cukup jauh.


Memakan waktu setengah jam dari Rumahku. Itu pun kalo sama sekali tidak terjebak macet.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Butik)


Sampainya di Butik, mobil langsung ku masukkan ke dalam temapt parkir, disana mobil pick up sudah menunggu rupanya.


Aku langsung turun dari mobil menuju ruang ke lantai dua, karena tempat produksi ada di lantai dua, disana sudah ada tiga karyawan ku. Mereka sudah sibuk mengemasi kerudungnya.


"Pagi," ucapku.


"Pagi Buk," jawab mereka.


"Gimana?? Udah di siapin semua??" tanyaku sambil duduk di sofa kecil yang tersedia disana.


"Sudah Buk, ini tinggal di angkut ke pick up, tadi kami tinggal nunggu Ibuk saja, hehehe," jawab Isamu.


"Ya sudah, kalo udah selesai semua, saya panggilin Bapak pick up nya ya," kataku.


"Iya Buk," jawab Haru.


2 Bapak pick up mengangkut beberapa ikatan kerudung untuk di masukkan ke mobilnya.


Beberapa menit kemudian, dan aku juga selesai mengecek kembali kerudung-kerudung yang akan dikirim.


"Sudah Buk??" tanya Bapak Pick Up.


"Sudah Pak, sudah," jawabku.


Akhirnya kerudung pun di angkut Bapak Pick up untuk diantar ke tempat pengiriman.


Biasanya, Butik buka baru jam 9 pagi dan tutup sore hari. Untung saja smeua karyawanku ini tidur di Butik. Jadi mereka tidak tergesa-gesa kesini.


"Sudah sarapan semua??" tanyaku.


Isamu yang pemalu, Haru yang lincah dan konyol, dan Hilya yang pendiam saling menyenggol siku satu sama lain.


"Belum semua Buk, hehehem," jawab Haru.


"Yasudah, saya belikan dulu ya," ucapku.


"Ndak usah Buk, kita beli gofood aja," bantak Isamu.


"Udah ndak papa, saya yang beliin aja," kataku.


Aku memesan sarapan untuk para karyawanku. Kasihan mereka, udah sepagi ini ku pekerjakan.


.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, makanan pesananku pun datang.


"Ini ya, segera dimakan loh," tuturku sambil memberikan 2 kantung plastik besar untuk mereka.


"Dimakan ya, saya tinggal dulu ke bawah," ucapku.


"Loh, Ibuk nggak ikut kami makan??" tanya Isamu.


"Saya sudah sarapan tadi," jawabku.


"Makan lagi aja Buk sama kita," sahut Haru.


"Ehehehem, lagi diet Mbak," jawabku pada Haru.


Akhirnya aku pun turun ke bawah, merapikan kerudung yang terpajang disana. Meskipun aku yang mempunyai Butik ini, namun aku tidak ingin selalu menyuruh-nyuruh mereka, bagiku disini, tidak ada istilah Bos dan buruh disini.


Meskipun nama mereka adalah "Karyawan", aku tetap memperlakukan sama antara mereka dan diriku, kami semua sama-sama istimewa.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Beberapa jam kemudian, waktunya aku membuka Butik ini. Ku geser pintu butikku, dan ku balik gantungan open and closed.


Butik yang bernuansa serba putih ini, mengingatkanku akan rumah Mamaku, jadi ini alasan kenapa semua serba putih disini, Rumah Mamaku juga serba putih, Putih adalah warna kesukaan Mama dan Papaku.


Dan tak lupa, setiap sudut Butik ini terhiasi oleh oleh beberapa tangkai bunga mawar putih yang ada di dalam vas kaca.


Dindingnya yang serba kaca, dan banyak sofa disetiap sisinya. Sofa dengan nuansa abu muda. Dan banyak juga kaligrafi serta lukisan abstrak kesukaanku.


Teng tong..........pertanda bunyi bahwa ada pembeli yang masuk.


Aku duduk di tempat kasa. Beberapa menit setelah ku buka Butikku, Alhamdulillah banyak pembeli yang langsung berdatangan menyerbu Butik ini.


"Selamat pagiii," kataku.


Mereka bebas memilih kerudung yang terpajang rapi disini. Ada juga yang sudah memesan dan tinggal mengambilnya.


Saat satu pelanggan masuk dengan anak remaja di belakangnya, wajah mereka tak asing dimataku.


Ku pertajam untuk melihat mereka. Namun belum begitu tampak.


"Itu kayak........" gumamku dalam hati, namun ada seorang pembeli yang membayar di kasir.


"Ini Mbak," ucap pembeli itu.


Ku lipat lalu ku masukkan tas yang bertuliskan nama butik ini.


"Terima kasih Mbak, silahkan berkunjung kembali," ucapku sambil tersenyum padanya.


Aku masih memikirkan wanita dan gadis remaja yang berkerudung dan sedang bercengkrama dengan Haru.


"Siapa ya dia?" tanyaku dalam hati.


Namun, saat aku sedang mengamati wajah mereka, Isamu memanggilku dan menyuruhku ke atas, karena ada seseorang yang ingin berbicara denganku via telepon.


Akhirnya, aku belum sampai melihatnya dengan jelas.


"Iya Mbak," jawabku pada Isamu yang tengah memanggilku.


.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian.


Saat aku turun kembali ke lantai bawah, seorang wanita dan anak remaja itu sudah tiada.


Aku mencarinya hingga ke depan halaman Butikku, namun sudah tidak ada juga disana.


"Buk, cari siapa??" tanya Haru.


"Oowwhh, engg....enggak, nggak cari siapa-siapa, hehehm," jawabku.


"Oh ya Buk, ini ada yang pesan kerudung tapi tadi stoknya habis, jadi saya tawarkan untuk memesan nya terlebih dahulu," ucap Haru sambil memberikan satu helai kertas kecil dengan nama Butikku di bagian atasnya.


"Eeemmm, yang pesan yang tadi ngobrol sama kamu??" tanyaku.


"Bukan Buk," jawab Haru.


"Ibuk kenal sama orang tadi?? Atau itu temennya Ibuk??" tanya Haru padaku.


"Kayaknya saya kenal Mbak, tapi nggak tau lagi hehehem," jawabku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah semakin sore, warna langit sudah sedikit orange. Waktunya Butikku untuk tutup. Saat aku sedang konsentrasi menatap komputer kasir.


Teng tong.........Pertanda ada seseorang yang masuk ke dalam Butik. Semua pasang mata melihat ke arah pintu Butik ini. Seorang laki-laki datang.....dan dia adalah belahan jiwaku, yaaah benar Mas Naufal.


"Assalamu'alaikum Sayangggg," kata Mas Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


Aku kaget kedatangan suamiku disini dengan tiba-tiba, Haru, Isamu dan Hilya langsung menunduk jika ada Mas Naufal, mereka sangat menghargai suamiku ini. Apalagi Hilya yang sangat pemalu dan tidak pernah berbicara dengan Mas Naufal, berbeda dengan Haru dan Isamu, meskipun agak malu dan grogi jika berdekatan dengan Mas Naufal yang katanya terlihat dingin di depan mereka. Tapi mereka tetap bisa menyapa Mas Naufal.


"Mas Naufal, iiiihh nggak bilang-bilang sama aku kalo mau kesini," kataku.


"Heheheh, surprise dong buat istrinya Mas," ucap Mas Naufal tepat di depanku sambil membawa buket bunga mawar putih dan beberapa kantung kresek warna putih.


Ini yang membuat ketiga karyawanku ingin segera menikah, karena sering melihat Mas Naufal yang bersikap romantis padaku. Terkadang dia juga iri pada kami.


"Udah mau tutup kan Sayang??" tanya Mas Naufal.


"Udah Mas," jawabku.


"Ini buat kamu, tadi Mas sengaja beliin buat kamu," ujarnya.


"Terus ini juga ada buat kalian," ucap Naufal pada Haru.


Aku memberikannya kepada mereka, karena aku tau mereka malu pada Mas Naufal.


"Diambil aja nggak papa, hehehem," ujar Mas Naufal.


"Dimakan ya, sayang kalo nggak dimakan," sambungnya lagi.


"Makasih Pak," ucap mereka bertiga bersamaan.


"Hehehe, iya sama-sama," kata Mas Naufal.


Mas Naufal menungguku di bawah sendirian, Butik sudah akan ditutup, mereka bertiga sudah ke lantai 2 dengan membawa kantung kresek yang diberikan oleh Mas Naufal.


"Bentar ya Mas, aku mau pamitan dulu sama Mbak-mbak nya," kataku.


Aku menemui mereka bertiga di lantai 2.


"Mbak, saya pamit pulang ya, jangan lupa dimakan yang tadi," kataku.


"Iya Buk, makasih ya Buk, katanya Isa jadi pengen segera menikah dan punya suami seperti Bapak, hehehe," canda Haru.


"Iiih Aru," senggol Isamu yang tidak terima.


"Kapan ya saya dikasih bunga begituan sama cowok, hihihihi," ceplos Haru yang memang begini anaknya, paling berani bercanda diantara 2 temannya.


"Nanti, Insya'Allah segera dipertemukan, sabar aja, hehehem," kataku.


"Aamiin," ucap Haru mengamini paling keras.


"Hehehehe, yasudah saya pamit pulang ya, jangan lupa Butiknya segera di tutup," tuturku.


"Baik Buk," jawab mereka.


"Assalamu'alaikum," ucap salamku.


"Wa'alaikumsalam Buk," jawab mereka bersamaan.


Aku kembali turun ke bawah menemui Mas Naufal sambil membawa buket bunga yang ia belikan untukku.


Mas Naufal langsung mengalungkan satu tangannya di pundakku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil. Padahal seharusnya Mas Naufal sudah sampai di rumah terlebih dahulu, tapi dengan dia yang memang sudah romantis sejak dulu, sejauh apapun dan sesulit apapun, pasti dia akan tetap berusaha untuk bisa bertemu denganku.

__ADS_1


So sweeettt........


Bersambung......


__ADS_2