
Aku tersenyum padanya.
"Ya udah sekarang kamu tidur dulu, kamu pasti capek kan sehari nungguin Vela," tuturku.
"Nggak nungguin Vela aja Gi, Bastian juga nungguin Vela kok, tadi aku juga ini ada pasien yang darurat lagi Gi," ucap Naufal membela diri.
"Iya yang penting sekarang kamu tidur, aku besok kan udah mulai kerja juga jadinya harus bangun pagi buat masakin kamu juga," tuturku.
Mulai malam ini aku akan membiasakan agar tidak terlalu manja dengan Naufal, aku lebih memilih memeluk boneka besar ku dari pada Naufal, lalu tidur membelakangi Naufal.
"Gi kok kamu ngadep kesana sih, hadap sini dong ada aku loh," kata Naufal.
"Iih kamu ribet banget sih, cuma masalah tidur aja suruh ngadep kamu terus capek tau," kataku.
"Kamu nggak boleh capek ngadep aku, cepetan aku nggak mau kamu membelakangiku kayak gini," kata Naufal.
Aku menuruti segala kemauannya
Akhirnya kami pun tertidur.
Hingga alarm ponselku berdering tepat jam 3 dini hari.
Aku bangun dari tidurku dan langsung menuju ke dapur untuk memasak kan sayur untuk Naufal.
***(di Dapur)
Aku melihat sepotong sandwich di atas meja.
"Bi, ini sandwich siapa?" tanyaku pada Bi Sarah yang sedang mencuci piring.
"Oh ini Mbak, ini sandwich Bibi, kemarin Bibi pengen banget dan baru bisa buat pagi ini," jawab Bi Sarah.
"Pantesan kamu suka sandwich, itu kan makanan yang sering Vela bawain buat kamu waktu SMA," gumamku dalam hati sambil melamun.
"Mbak Gia nggak kenapa-napa kan lagi baik-baik aja kan kok ngelamun," ucap Bi Sarah.
"Iya Bi nggak papa cuman sedikit ngantuk aja," jawabku.
"Bibi mau masak apa hari ini? Kalo Gia sih tetep mau masakin Mas Naufal ini si sayur-sayur aja biar makin sehat aja," kataku.
"Bibi mau masak ayam kecap aja kesukaan Mbak Gia," kata Bi Sarah.
"Wah Bibi tau aja, Gia lagi pengen ayam kecap, pasti enak Bi," ucapku.
"Mbak Gia sih nggak bilang sama Bibi, pasti kapanpun akan Bibi buatin buat Mbak Gia," kata Bi Sarah yang sangat baik padaku.
Kami memulai aksi kami untuk memasak seperti yang kami lakukan biasanya.
Sandwich yang tergeletak di meja terus ku lihat sambil terbayang wajah Vela di sana.
"Mbak Gia kenapa dari tadi lihatin sandwich nya Bibi? Mbak Gia pengen ya?" kata Bi Sarah.
"Nggak Bi, Gia agak nggak suka sandwich," kataku.
"Mas Naufal aja suka banget Mbak, masak Mbak Gia nggak suka," kata Bi Sarah.
"Mas Noval sukanya udah dari dulu Bi, jadi udah dari kecil mungkin," kataku terpaksa berbohong.
Setelah Aku selesai memasak, adzan shubuh berkumandang.
"Bi, Gia ke atas dulu ya, mau bangunin Mas Naufal," pamitku.
"Iya Mbak Gia, monggo," kata Bi Sarah.
Sebenarnya kaki ku masih sakit sih tapi nggak separah kemaren.
***(di Kamar)
Naufal sepertinya tidur sangat pulas.
"Mas, Mas bangun," ucapku.
Naufal tidak memberi respon padaku sama sekali.
"Kayaknya Naufal bener-bener kecapek an banget, kasihan kamu Mas," gumamku dalam hati.
"Mas, ayo bangun, ayo kita sholat," rengek ku sambil menggoyangkan tubuhnya.
Akhirnya Naufal terbangun dari lelap tidurnya.
Tanpa menjawab Naufal langsung menarik tubuhnya untuk bangun.
"Kamu udah mandi?" tanyaku.
"Belum Mas, ini tadi habis masak," jawabku.
Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan Naufal memelukku.
Aku menyangga tubuhku yang menompang pada dia.
Aku menepis pelukannya.
"Mas, apa-apaan sih, ayo cepetan kamu mandi," tuturku.
Sepertinya Naufal masih mengantuk dan langsung menurunkan kakinya dari kasur menuju kamar mandi.
Aku menunggunya sambil menyalakan TV.
"Nanti aku nggak sabar ketemu sama Nenek dan Kakek," gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Pasti mereka senang dengan Naufal dan aku," kataku lagi dalam hati.
Setelah beberapa menit Naufal selesai mandi, aku langsung ganti menghampirinya untuk segera mandi juga.
Beberapa menit kemudian aku selesai mandi dan langsung melaksanakan sholat bersama Naufal.
Setelah sholat aku siapkan kemeja kerja Naufal dan juga sepatu dan jas dokternya.
Saat Naufal masuk ke dalam ruang ganti baju dan keluar dengan membawa jam tangan dari Vela yang akan di buangnya.
"Mas kamu yakin mau buang jam tangan itu?" tanyaku.
"Yakin Gi, emang kenapa ini kan demi kebaikan hubungan kita," jawabnya.
"Ya udah terserah kamu," kataku pasrah.
"Kamu sendiri kan yang minta buat aku buang jam tangan ini," kata Naufal.
"Iya sih Mas," kataku.
Setelah kami selesai berberes lalu kami turun untuk sarapan pagi.
Kami selalu melakukan rutinitas tersebut setiap hari, kami selalu sarapan bersama Pak Joko, Pak Rusdi dan Bi Sarah.
Setelah sarapan aku dan Naufal langsung berangkat bekerja dan pamit dengan Bi Sarah.
Dalam mobil aku membuka obrolan dengan Naufal.
"Mas, kita kok belum ada libur sih, Aku kangen sama Mama Papa," kataku.
"Ya kali kita ada liburnya, kalo nggak cuti sendiri,.ada tapi jarang banget," kata Naufal.
"Padahal aku rindu banget sama mereka," keluhku di samping Naufal.
"Ya nanti kapan-kapan kita ketemu di mana gitu Gi, buat makan bareng, jalan bareng sama mereka," tuturnya.
"Tapi segera ya Mas," perintahku yang sangat rindu dengan mereka.
"Iya pasti, apa sih yang enggak buat kamu Sayang," kata Naufal.
"Apaan sih, garing tau," ucapku sambil malu-malu.
Setelah beberapa menit kemudian kami sampai di Rumah Sakit.
****(di Rumah Sakit)
Tiba-tiba Bastian langsung menghampiri Naufal dan langsung bilang pada Naufal.
"Akhirnya Lo datang juga, Gue mau ngomong sama Lo Fal, Vela kakinya sakit katanya, tapi kayaknya itu kakinya patah deh soalnya hasil rontgen tulang betis sama tulang keringnya tadi tuh kayak retak gitu loh jadinya dia jalannya pakai ini pakai tongkat siku," kata Bastian.
"Dia frustasi sekarang Fal, dia mukul-mukul kakinya," kata Bastian.
Dia meninggalkanku berjalan sendiri menuju lorong, aku tahu persis bagaimana kepanikan Naufal tadi, wajar banget karena di sini Naufal diberi tanggung jawab penuh oleh Mama Vela.
"Kasihan ya Vela, andai Aku jadi Vela, orang aku jatuh kayak gitu aja Naufal sangat perhatian banget sama aku, sangat panik setengah mati, apalagi seperti Vela seorang sahabat nya yang kakinya patah," gumamku dalam hati.
Setelah sampai di ruang kerjaku, aku meletakkan tas ku dan memasang jas dokterku, aku berniat ingin menjenguk Vela kala itu hatiku menarik ke arah sana.
"Tapi Vela bakalan marah nggak ya, jika ada aku di sana," ucapku dalam hati yang agak sedikit ragu.
"Ah di coba dulu aja lah, Bismillah niatku kan baik," kataku lagi dalam hati.
Setiap ku langkah kaki ku menuju ruang ICU untuk menemui Vela rasanya tanganku sangat dingin dan aku terus memikirkan apakah Vela menerima aku di sana.
Setelah sampai akan mendekati ruang ICU sepertinya aku ingin kembali ke ruanganku, karena belum siap untuk menemui Vela dalam keadaan depresi dan melihatku sebagai istri Naufal.
"Gimana ya? Ya udahlah Bismillah aja Ya Allah semoga Vela bisa menerimaku dengan baik," ucapku dalam hati sambil gemetar.
Setelah sampai di depan ruang ICU, ternyata sepertianya Vela siap-siap akan di pindahkan di ruang rawat inap.
Aku menunggunya di depan pintu sambil melihat dari kaca pintu tersebut, aku melihat Vela yang sangat menangis histeris dan Naufal mencoba untuk menenangkan nya.
"Aku tahu pasti kamu berat menerima cobaan ini Vel," ucapku dalam hati.
Akhirnya bed pasien Vela di gelinding untuk menuju ruang rawat inap, Naufal yang melihatku di depan pintu langsung menarik tanganku agar mengikuti mereka.
Di sana Vela berada di ruang rawat inap yang VIP, jadi hanya ada dia di sana dalam satu ruangan.
Aku heran sama Vela yang sama sekali tidak memberi respon buruk padaku karena dia hanya bisa menangis.
"Vel kamu tenang, kamu yang tenang dong, Kamu jangan depresi kayak gini, aku sama dokter-dokter di sini bakalan berusaha buat nyembuhin kaki kamu," tutur Naufal mencoba menenangkan Vela.
Tangisan Vela terhenti yang melihatku duduk di sebelah Naufal, dia langsung meraih tanganku dan memeluk ku erat.
"Aku sangat tidak menyangka, bahwa Vela bisa berlapang dada seperti ini padaku," ucapku dalam hati.
"Kamu yang sabar ya Vel, pasti kamu akan membantumu disini, apapun yang kamu butuhkan Insya'Allah pasti kami penuhi di sini," tutur ku padanya.
Vela hanya bisa menangis di pelukanku.
Naufal heran melihat sikap Vela padaku.
Setelah kami melepas pelukan kami, Naufal bingung sebenarnya apa yang terjadi.
"Gi maafin aku ya, selama ini aku nggak bisa nerima kamu yang memang sebenarnya sudah menjadi istri sah Naufal, maafin aku ya Gi, aku tidak bisa menerima bahwa Naufal telah mencintaimu," kata Vela yang membuatku semakin kasihan padanya.
"Iya Vel, aku ngertiin kamu banget, wajar sifat dan sikap kamu pernah seperti itu padaku, pasti kamu merasa sangat terpukul," kataku mencoba menenangkannya.
"Maaf Gi, jika aku sempat membuat hatimu sakit untuk menuruti ke egoisan ku," kata Vela lagi merasa bersalah padaku.
__ADS_1
"Aku benar-benar syok Gi, waktu mendengar Naufal sudah menikah, Aku merasa sangat terpukul, aku hancur saat itu," ucap Vela dengan isak tangisnya.
"Tapi bagaimanapun juga kamu sudah resmi menjadi istri Naufal, jadi aku tidak bisa untuk berbuat apa-apa lagi, begitu juga Naufal sudah sangat mencintaimu," kata Vela lagi.
Aku mencoba menenangkan Vela dan memeluknya kembali.
Setelah Vela berhenti dalam isak tangisnya, aku pamit untuk meninggalkan ruangannya.
"Ya udah Vel, aku mau kerja dulu ya, nanti pasti aku sering-sering menjenguk kamu di sini kok," kataku.
Vela hanya menganggukkan kepalanya.
"Nanti kalau butuh apa-apa kamu bisa nelpon aku," kata Naufal.
"Aku nggak bisa nemenin kamu selama 24 jam soalnya aku juga harus kerja," tuturnya.
Sepertinya Vela menerima keputusan kami, Naufal menggandeng tanganku keluar dari ruangannya.
"Aku harap dengan kejadian ini kamu ngerti, aku nggak macem-macem sama Vela, aku cuman kasihan aja di sini sama Vela, nggak ada keluarganya cuma hanya Neneknya saja, aku harap untuk sementara ini kamu mengerti ya Sayang," kata Naufal lirih.
"Iya pasti aku ngerti kamu, tenang aja, aku juga bisa kok ngerasain ini di posisi Vela bagaimana Mas," kataku.
"Maafin Aku ya Gi," ucap dalam hati Naufal.
"Pokoknya jangan khawatir takut aku marah, atau ngambek, aku nggak akan marah, yang penting Vela sehat bisa sembuh Dan kamu lakukan semaksimal mungkin buat dia, aku nggak keberatan sama sekali Mas, malah aku merasa kasihan sama dia," kataku yang sedikit menahan rasa cemburu padanya.
"Hanya ini yang bisa aku lakuin buat kebahagiaan kamu Mas, aku bingung, aku nggak tahu sebenarnya siapa sih yang sekarang ada di hati kamu," kataku dalam hati.
"Syukurlah jika kamu mengerti, dari kemarin aku takut, aku takut kamu tidak mempercayaiku dan ragu padaku," kata Naufal saat kita berjalan di setiap sisi lorong rumah sakit.
"Oh iya Mas, aku mau ngajak kamu ketemu sama Nenek dan Kakek itu, ajakku pada Naufal.
"Mumpung ini masih pagi kan," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Iya boleh, di mana ruangannya ?" tanya Naufal.
"Udah ikut aja," kataku.
Setelah sampai di ruangan Nenek dan Kakek sepertinya terlihat di sana mereka sedang bercanda dan bergurau.
Aku menunjuk ke arah mereka untuk memberitahukan pada Naufal.
"Itu mereka Mas," kataku.
"Dari jauh aja mereka sudah terlihat sepertinya sangat senang dan bahagia, semoga suasana itu tertular pada kita," ceplos ku.
"Maksud kamu tertular pada kita apanya Gi?" tanya Naufal heran.
"Eengg...Enggak aku cuman bercanda," jawabku.
"Udah ayo pasti Nenek sama Kakek seneng kalo aku bawa kamu ke sini," kata aku.
Kami berjalan menghampiri mereka.
"Permisi Kek Nek, ini saya Dokter Gia yang kemarin, kemaren saya sudah janji sama Nenek sama Kakek buat membawa suami saya ke sini," kata ku sambil tersenyum pada mereka.
"Dokter Gia," panggil Si Nenek dengan senang.
"Ini suami Dokter?" ucapnya sambil terkagum-kagum melihat Naufal.
Naufal tersenyum pada mereka.
"Iya Nek, saya Dokter Naufal suami dari Dokter Gia," kata Naufal sambil berjabat tangan dengan mereka.
"Sini duduk sini aja," ucap Nenek yang sepertinya senang sekali dengan Naufal.
"Dokter, jaga Dokter Gia dengan baik ya, karena dia memang sungguh sepertinya sangat mencintaimu Dok. Meskipun saya tidak berada di posisinya tapi saya juga pernah merasakan bagaimana di cintai dengan tulus oleh seorang istri dengan bagaimanapun sikap kejam saya," tutur Kakek itu.
"Dokter Gia sangat baik sekali, jadi jangan sia-siakan dia Dok," tutur Kakek itu lagi.
"Langgeng ya sama Dokter Gia, setiap pernikahan tidak ada yang sempurna dan setiap rumah tangga pasti selalu dan selalu ada masalah, apa lagi cobaan, tinggal kita yang melakukan saja mampu bertahan atau memilih untuk kalah," wejangan dari Kakek itu lagi.
"Pasti Dokter Gia sudah cerita sama Dokter Naufal ya," kata Nenek yang sedari tadi tak ingin lepas tangan nya dari Naufal.
"Iya Nek kemarin Gia sempet cerita sama saya tentang Nenek dan Kakek sampai sampai dia terharu," ucap Noval.
Nenek itu menarik tanganku untuk digenggamkan nya di tangannya bersama tangan Naufal.
Aku dan Naufal saling menatap kebingungan.
"Nenek yakin kalian pasangan yang saling mencintai, Menek yakin kalian kuat menerima setiap cobaan apapun karena dari mata kalian sudah terlihat bahwa kalian saling mencintai dengan tulus," kata Nenek.
"Jaga baik-baik hubungan kalian karena masalah akan terus mendatangi kalian seperti Nenek dan Kakek dulu, hanya kalian yang mampu menjaga bukan orang lain, " tutur Nenek itu lagi.
"Iya Nek pasti saya akan menjaga hubungan pernikahan saya dengan Gia, karena saya tidak ingin melepasnya," kata Naufal sambil menoleh dan tersenyum padaku.
"Makasih ya, Nenek sama Kakek selalu memberi nasehat pada kami," ucapku.
"Nenek sudah merasakan pahitnya sebuah rumah tangga Dok, dari yang mulai Kakek dengan pacarnya, sampai penyakit Nenek, sudah merasakan itu semua jadi kalian banyak-banyaklah bersyukur, jangan anggap cobaan kecil menjadi sangat berat, selesaikan bersama-sama bicarakan dengan baik," tutur si nenek.
Aku yang memang pada dasarnya seorang yang cengeng, sudah tidak mampu membendung air mataku lagi, air mataku dengan tak terkontrol mengalir di pipi.
Kupeluk Nenek itu seperti Nenek ku sendiri.
"Cepet sembuh ya Nek," kataku.
"Ya udah, kalau gitu Gia sama Naufal pamit dulu ya, soalnya harus kerja," pamitku.
Kami tidak bisa berlama-lama di ruangan Nenek itu.
__ADS_1
Bersambung...