
“Pak Kevin, Pak Kevin siapa?” gumam dalam hati Naufal di
dalam kamar mandi.
Hal itu membuat Naufal semakin penasaran siapa Pak Kevin
tersebut.
Setelah Naufal selesai mandi, Naufal melihat istrinya tengah
asik dan senyum-senyum melihat ponselnya.
“Kamu lihatin apa sih, asik banget kayaknya,” ucap Naufal
dengan menyisir rambutnya.
“Kepo banget sih kamu,” jawab Gia sambil tersenyum dengan
menggeser layar ponselnya.
Naufal semakin kesal melihat sikap Gia.
Naufal memberanikan niatnya untuk meminjam ponsel punya Gia, karena dari pertama mereka menikah Naufal sama sekali tidak pernah memegang ponsel Gia begitu juga dengan Gia tidak pernah melihat-lihat isi dari ponsel Naufal.
“Coba pinjem ponsel kamu!” perintah Naufal yang kesal.
“Ambil aja kalo bisa,” ucap Gia sambil mengerjai suaminya.
Naufal mencoba mengambilponsel Gia.
“Weeeek gak bisa kan,” ejek Gia pada Naufal.
“Ya udah terserah kamu,” ucap Naufal kesal.
“Kamu apaan sih gitu aja marah,” keluh Gia.
“Aku nggak marah, cuman aku pengen tau aja,” tutur Naufal.
Gia langsung menyerahkan ponselnya pada suaminya.
“Tuh kan, orang aku cuman lihat kartun aja kok, curiga an
banget sih kamu,” ejek Gia lagi.
“Aku cuman mastiin kalo istriku nggak macem-macem, gitu aja
sebenernya,” ucap Naufal malu-malu.
“Astagfirullah, aku gak pernah ya mencoba berpaling dari
kamu, meskipun dulu kamu pernah…,” kata Gia terhenti karena Gia tak ingin membahas masalah Naufal dengan Vela dulu.
“Pernah apa? Ha? Kok gak dilanjutin, terus aja ngungkit-ngungkit masalah yang udah berlalu!” kata Naufal.
“Gak asik ah kamu, hari ini sensi banget, tau ah, aku mau
tidur, minggir kamu,” kata Gia sambil menepis badan Naufal.
“Loh loh loh, kok jadi kamu yang marah sih,” tutur Naufal.
Gia langsung menarik selimut untuk menutupi semua badannya
dari ujung kaki sampai kepala.
“Dasar kamu mah, ngambek mulu hobi nya,” ejek Naufal yang
ikut tidur di samping Gia.
Tiba-tiba ponsel Gia kembali bergetar, Gia membuka
selimutnya, meraih ponselnya, rupannya ada pesan dari Pak Kevin yang masih ingin memilikinya.
Naufal melihat isi pesan di ponsel Gia yang membuat amarah
di hatinya.
Pesan Pak Kevin pada Gia.
“Gi, apakah masih ada ruang untukku di hatimu lagi, Kevin,”
Pak Kevin.
Gia langsung mendekap ponselnya agar Naufal tidar
mengetahuinya, tetapi Gia terlambat karena rupanya ketika Gia membuka pesan dari Pak Kevin, Naufal juga sudah ikut melihat isi pesannya.
“Siapa itu?! Selingkuhan kamu!,” ucap Naufal.
“Astagfirullah Fal, kamu nuduh aku!” kata Gia yang
membangunkan tubuhnya dari Kasur karena merasa tidak nyaman dengan apa yang telah dikatakan oleh Naufal padanya.
“Eh aku bukannya nuduh kamu ya, emang fakta kok!” sontak
Naufal.
“ini itu cuman,” penjelasan Gia terpotong oleh Naufal.
“Cuman apa? Cuman keluarga dari pasien kamu? Ha? Mau alasan apa lagi kamu sama aku! aku gak nyangka Gi kamu setega ini sama aku,” ucap Naufal yang marah dengan Gia.
“Terserah kamulah! aku capek berantem sama kamu, initinya
aku nggak pernah selingkuhin kamu!” kata Gia sambil kembali tidur membelakangi Naufal begitu juga dengan Naufal.
Gia memilih tidak menjelaskan hal ini pada suaminya terlebih
dahulu, karena suaminya masih dalam keadaan emosi. Jadi Gia mengurungkan saja.
Keesokan harinya, seperti biasa setelah sholat Gia memasak
untuk Naufal, kali ini suasana rumah tidak seperti biasanya, karena Naufal yang sepertinya masih marah dengan Gia, dan tak ingin berbicara dengan Gia.
Di dalam mobil ketika mereka berangkat untuk bekerja, mereka hanya diam tidak ada obrolan saat itu.
***(di Rumah Sakit)
Saat Gia sedang memeriksa Meira, Gia merasa kasihan
__ADS_1
dengannya.
Gia sangat merasa bersalah pada Meira.
Gia mengelus-elus tangan Meira.
“Kenapa Dok?” tanya Meira karena Gia melamun sedari hendak memeriksa Meira.
Gia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan senyumnya pada Meira.
“Mbak, apakah Mbak sudah pernah bertemu dengan wanita yang di cintai oleh tunangan Mbak?” tanya Gia.
“Eeem maaf sebelumnya, sebenarnya tak pantas jika saya
menanyakan hal ini, tapi..” ucap Gia.
“Nggak papa Dok, saya belum pernah bertemu dengan wanita itu Dok,” jawab Meira.
“Bagaimana jika Mbak bertemu secara tiba-tiba dengan wanita itu,” kata Gia terbata-bata.
“Saya tidak pernah berharap bertemu dengan wanita itu Dok,
pasti saya akan membencinya,” ucap Meira dengan nada emosi.
Deeegggg.
Gia panik mendengar hal itu.
Gia langsung pergi meninggalkan Meira.
“Ya udah saya permisis dulu ya Mbak, saya mau ke ruangan
saya,” pamit Gia.
“Iya Dok,” jawab Meira ramah.
Gia tepaksa berbohong pada Meira, Gia tidak pegi ke ruangan
nya melainkan pegi ke kamar mandi.
***(di Kamar Mandi)
Gia berdiri di depan kaca.
“Aku yang salah disini! Aku!,” ucap Gia sambil menangis di
depan kaca.
“Aku telah menyakiti banyak orang disini,” ucap Gia lagi.
Gia merasa sangat bersalah pada Meira, Gia meluapkan semua tangisnya di kamar mandi.
Tiba-tiba ponsel Gia bordering, ada pesan dari pihak rumah
sakit, Gia harus menangani segera pasien yang ada di UGD.
Setelah beberapa jam Gia keluar dari UGD, Gia berjalan menuju ruangannya, ternyata dari arah belakang Pak Kevin mengikutinya sambil memanggil-manggil namanya.
“Gi,” ucap Pak Kevin yang diabaikan oleh Gia.
Pak Kevin terpaksa dan nekat memegang lengan Gia agar Gia berhenti, lagi-lagi ulah Pak Kevin diketahui oleh Naufal.
“Ngapain lagi sih pria itu pegang-pegang tangan Gia, bikin
hati panas aja!” gumam Naufal dalam hatinya.
Naufal langsung menghampiri Gia dan Pak Kevin.
Gia yang melihat kehadiran suaminya langsung menarik
tangannya dari genggaman tangan Pak Kevin.
“Maaf, Dokter Gia silahkan anda ke ruangan saya sekarang,
karena ada yang perlu saya bicarakan dengan anda,” perintah Naufal pura-pura.
Gia mengerti dengan sikap Naufal tersebut ingin
menyelamatkan Gia dari Pak Kevin.
“Oh iya baik Dok,” Gia mengikuti akting dari suaminya.
Mereka berjalan menuju ruangan Naufal.
***(di Ruang Kerja Naufal)
“Kamu apa-apaan sih pegangan tangan sama pria itu!” ucap
Naufal yang sudah kesal dengan Gia.
“Bukan aku yang megang, dia aja yang narik yeee,” jawab Gia.
“Ada hubungan apa kamu sama keluarga pasien itu?!” tanya
Naufal.
“Kenapa tiba-tiba kamu nanyain pria itu?” tanya Gia balik
sambil mengernyitkan keduaalisya.
“Ya cuman pengen tau aja, gak lebih,” kata Naufal malu-malu.
“Jangan-jangan kamu cemburu ya,” tebak Gia sambil berjalan
mendekati Naufal.
“Ya kan? Tuh wajah kamu aja udah mulai merah,” ejek Gia.
Naufal mengusap kedua pipinya.
“Iiiih apaan sih ngaco kamu,” bantah Naufal.
“Udah sana balik ke ruangan kamu, habis ini kita pulang,” tutur Naufal.
“Tadi aja nyuruh-nyuruh aku kesini, pake acara bohong lagi, sekarang aku di usir-usir,” keluh Gia sambil memonyongkan bibirnya.
“Dasar! Gak jelas kamu,” ejek Gia sambil berjalan pergi
__ADS_1
keluar dari ruangan Naufal.
Setelah beberapa menit Gia selesai membereskan ruang
kerjanya, Gia pulang bersama suaminya.
***(di Rumah)
Sampai di rumah, Gia langsung bergegas mandi dan
melaksanakan sholat dengan suaminya.
Naufal sama sekali tidak mengajak Gia berbicara, Naufal
duduk-duudk di sofanya, Gia menghampirinya.
“Kamu masih marah gara-gara tadi?” tanya Gia pada Naufal.
“Menurut kamu?” tanya Naufal dengan nada sinis.
“Udah dong marahnya, tadi itu bener-bener keluarga dari
pasien aku,” rayu Gia.
“Beneran?” tanya Naufal lagi.
“Iya, beneran, masak iya aku bohong sama kamu,” jawab Gia
dengan manjanya.
“Terus kenapa tadi dia narik-narik tangan kamu?” lagi-lagi
Naufal masih belum puas dengan jawaban Gia.
Gia belum siap menceritakan tentang Pak Kevin pada
suaminya, karena Gia takut nanti suaminya puasa bicara padanya. Apalagi saat ini keadaan masih memanas.
“Tadi itu…nanyain gimana keadaan tunangannya gitu, ehhm
mending sekarang aku ambilin kamu salad deh,” rayu Gia lagi.
“Boleh,” jawab naufal.
Gia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ke dapur.
***(di Dapur)
Gia melihat Bi Sarah yang sedang membuat teh.
“Eh Bibi,” sapa Gia.
“Lagi buatin siapa Bi?” tanya Gia.
“Buat saya sendiri Mbak, badan saya agak meriang,” keluh Bi
Sarah.
“Besok Bibi isitirahat dulu aja ya, besok habis kerja, Gia kasih obat,” tutur Gia.
Gia mengambil salad dari dalam kulkas.
“Oh iya Bi, soal suami Bibi, Gia lupa belum bicara sama
Naufal,” kata Gia.
“Iya Mbak Gia, nggak papa,” jawab Bi Sarah.
“Bibi ke kamar dulu ya Mbak,” pamit Bibi.
“Iya Bi, jangan lupa istirahat loh Bi,” tutur Gia.
Bi Sarah berjalan ke kamarnya, sedangkan Gia mendengar bel
pintu rumahnya.
Teng tong….teng tong….teng tong.
Gia membuka pintunya.
“Pak Kevin! Bapak ngapain disini?!” ucap Gia lirih.
“Gi, maafin aku Gi, aku terpaksa banget kesini Gi,aku harus
ngomong sama kamu Gi,” paksa Pak Kevin.
Sedangkan Naufal yang resah menunggu salad buah Gia,
akhirnya menyusul Gia untuk turun ke bawah.
Saat Naufal sampai di dapur, dia sama sekali tidak melihat
istrinya. Naufal berjalan mencari Gia, dan ternyata Naufal mendengar suara orang yang sedang ngobrol di luar rumahnya.
Pelan-pelan Naufal mendekat ke sumber suara tersebut,
dilihatnya Gia bersama seorang Pria yang katanya Gia adalah keluarga dari pasiennya.
Naufal dengan sengaja mendengarkan obrolan mereka.
“Apa lagi Pak?” tanya Gia dengan nada takut.
“Gi, saya gak bisa lupain kamu, jujur Gi! Saya terpaksa
tunangan dengan Meira waktu itu agar saya bisa lupain kamu, tapi nyatanya? Gak bisa Gi, gak bisa! aku masih sangat sangat mencintai kamu!” kata Pak Kevin dengan tegas.
Bersambung.......
Terima kasih untuk semua readers
untuk respon baik kalian, kritik dan sarannya terima kasih😊
Dan jangan lupa like, comment dan vote sebanyak-banyaknya ya🙏😁
Tunggu episode selanjutnya
see you🖤
__ADS_1