Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 32 (Kecemburuan dari Seorang Naufal)


__ADS_3

“Pak Kevin, Pak Kevin siapa?” gumam dalam hati Naufal di


dalam kamar mandi.


Hal itu membuat Naufal semakin penasaran siapa Pak Kevin


tersebut.


Setelah Naufal selesai mandi, Naufal melihat istrinya tengah


asik dan senyum-senyum melihat ponselnya.


“Kamu lihatin apa sih, asik banget kayaknya,” ucap Naufal


dengan menyisir rambutnya.


“Kepo banget sih kamu,” jawab Gia sambil tersenyum dengan


menggeser layar ponselnya.


Naufal semakin kesal melihat sikap Gia.


Naufal memberanikan niatnya untuk meminjam ponsel punya Gia, karena dari pertama mereka menikah Naufal sama sekali tidak pernah memegang ponsel Gia begitu juga dengan Gia tidak pernah melihat-lihat isi dari ponsel Naufal.


“Coba pinjem ponsel kamu!” perintah Naufal yang kesal.


“Ambil aja kalo bisa,” ucap Gia sambil mengerjai suaminya.


Naufal mencoba mengambilponsel Gia.


“Weeeek gak bisa kan,” ejek Gia pada Naufal.


“Ya udah terserah kamu,” ucap Naufal kesal.


 “Kamu apaan sih gitu aja marah,” keluh Gia.


“Aku nggak marah, cuman aku pengen tau aja,” tutur Naufal.


Gia langsung menyerahkan ponselnya pada suaminya.


“Tuh kan, orang aku cuman lihat kartun aja kok, curiga an


banget sih kamu,” ejek Gia lagi.


“Aku cuman mastiin kalo istriku nggak macem-macem, gitu aja


sebenernya,” ucap Naufal malu-malu.


“Astagfirullah, aku gak pernah ya mencoba berpaling dari


kamu, meskipun dulu kamu pernah…,” kata Gia terhenti karena Gia tak ingin membahas masalah Naufal dengan Vela dulu.


“Pernah apa? Ha? Kok gak dilanjutin, terus aja ngungkit-ngungkit masalah yang udah berlalu!” kata Naufal.


“Gak asik ah kamu, hari ini sensi banget, tau ah, aku mau


tidur, minggir kamu,” kata Gia sambil menepis badan Naufal.


“Loh loh loh, kok jadi kamu yang marah sih,” tutur Naufal.


Gia langsung menarik selimut untuk menutupi semua badannya


dari ujung kaki sampai kepala.


“Dasar kamu mah, ngambek mulu hobi nya,” ejek Naufal yang


ikut tidur di samping Gia.


Tiba-tiba ponsel Gia kembali bergetar, Gia membuka


selimutnya, meraih ponselnya, rupannya ada pesan dari Pak Kevin yang masih ingin memilikinya.


Naufal melihat isi pesan di ponsel Gia yang membuat amarah


di hatinya.


Pesan Pak Kevin pada Gia.


“Gi, apakah masih ada ruang untukku di hatimu lagi, Kevin,”


Pak Kevin.


Gia langsung mendekap ponselnya agar Naufal tidar


mengetahuinya, tetapi Gia terlambat karena rupanya ketika Gia membuka pesan dari Pak Kevin, Naufal juga sudah ikut melihat isi pesannya.


“Siapa itu?! Selingkuhan kamu!,” ucap Naufal.


“Astagfirullah Fal, kamu nuduh aku!” kata Gia yang


membangunkan tubuhnya dari Kasur karena merasa tidak nyaman dengan apa yang telah dikatakan oleh Naufal padanya.


“Eh aku bukannya nuduh kamu ya, emang fakta kok!” sontak


Naufal.


“ini itu cuman,” penjelasan Gia terpotong oleh Naufal.


“Cuman apa? Cuman keluarga dari pasien kamu? Ha? Mau alasan apa lagi kamu sama aku! aku gak nyangka Gi kamu setega ini sama aku,” ucap Naufal yang marah dengan Gia.


“Terserah kamulah! aku capek berantem sama kamu, initinya


aku nggak pernah selingkuhin kamu!” kata Gia sambil kembali tidur membelakangi Naufal begitu juga dengan Naufal.


Gia memilih tidak menjelaskan hal ini pada suaminya terlebih


dahulu, karena suaminya masih dalam keadaan emosi. Jadi Gia mengurungkan saja.


Keesokan harinya, seperti biasa setelah sholat Gia memasak


untuk Naufal, kali ini suasana rumah tidak seperti biasanya, karena Naufal yang sepertinya masih marah dengan Gia, dan tak ingin berbicara dengan Gia.


Di dalam mobil ketika mereka berangkat untuk bekerja, mereka hanya diam tidak ada obrolan saat itu.


***(di Rumah Sakit)


Saat Gia sedang memeriksa Meira, Gia merasa kasihan

__ADS_1


dengannya.


Gia sangat merasa bersalah pada Meira.


Gia mengelus-elus tangan Meira.


“Kenapa Dok?” tanya Meira karena Gia melamun sedari hendak memeriksa Meira.


Gia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan senyumnya pada Meira.


“Mbak, apakah Mbak sudah pernah bertemu dengan wanita yang di cintai oleh tunangan Mbak?” tanya Gia.


“Eeem maaf sebelumnya, sebenarnya tak pantas jika saya


menanyakan hal ini, tapi..” ucap Gia.


“Nggak papa Dok, saya belum pernah bertemu dengan wanita itu Dok,” jawab Meira.


“Bagaimana jika Mbak bertemu secara tiba-tiba dengan wanita itu,” kata Gia terbata-bata.


“Saya tidak pernah berharap bertemu dengan wanita itu Dok,


pasti saya akan membencinya,” ucap Meira dengan nada emosi.


Deeegggg.


Gia panik mendengar hal itu.


Gia langsung pergi meninggalkan Meira.


“Ya udah saya permisis dulu ya Mbak, saya mau ke ruangan


saya,” pamit Gia.


“Iya Dok,” jawab Meira ramah.


Gia tepaksa berbohong pada Meira, Gia tidak pegi ke ruangan


nya melainkan pegi ke kamar mandi.


***(di Kamar Mandi)


Gia berdiri di depan kaca.


“Aku yang salah disini! Aku!,” ucap Gia sambil menangis di


depan kaca.


“Aku telah menyakiti banyak orang disini,” ucap Gia lagi.


Gia merasa sangat bersalah pada Meira, Gia meluapkan semua tangisnya di kamar mandi.


Tiba-tiba ponsel Gia bordering, ada pesan dari pihak rumah


sakit, Gia harus menangani segera pasien yang ada di UGD.


Setelah beberapa jam Gia keluar dari UGD, Gia berjalan menuju ruangannya, ternyata dari arah belakang Pak Kevin mengikutinya sambil memanggil-manggil namanya.


“Gi,” ucap Pak Kevin yang diabaikan oleh Gia.


Pak Kevin terpaksa dan nekat memegang lengan Gia agar Gia berhenti, lagi-lagi ulah Pak Kevin diketahui oleh Naufal.


“Ngapain lagi sih pria itu pegang-pegang tangan Gia, bikin


hati panas aja!” gumam Naufal dalam hatinya.


Naufal langsung menghampiri Gia dan Pak Kevin.


Gia yang melihat kehadiran suaminya langsung menarik


tangannya dari genggaman tangan Pak Kevin.


“Maaf, Dokter Gia silahkan anda ke ruangan saya sekarang,


karena ada yang perlu saya bicarakan dengan anda,” perintah Naufal pura-pura.


Gia mengerti dengan sikap Naufal tersebut ingin


menyelamatkan Gia dari Pak Kevin.


“Oh iya baik Dok,” Gia mengikuti akting dari suaminya.


Mereka berjalan menuju ruangan Naufal.


***(di Ruang Kerja Naufal)


“Kamu apa-apaan sih pegangan tangan sama pria itu!” ucap


Naufal yang sudah kesal dengan Gia.


“Bukan aku yang megang, dia aja yang narik yeee,” jawab Gia.


“Ada hubungan apa kamu sama keluarga pasien itu?!” tanya


Naufal.


“Kenapa tiba-tiba kamu nanyain pria itu?” tanya Gia balik


sambil mengernyitkan keduaalisya.


“Ya cuman pengen tau aja, gak lebih,” kata Naufal malu-malu.


“Jangan-jangan kamu cemburu ya,” tebak Gia sambil berjalan


mendekati Naufal.


“Ya kan? Tuh wajah kamu aja udah mulai merah,” ejek Gia.


Naufal mengusap kedua pipinya.


“Iiiih apaan sih ngaco kamu,” bantah Naufal.


“Udah sana balik ke ruangan kamu, habis ini kita pulang,” tutur Naufal.


“Tadi aja nyuruh-nyuruh aku kesini, pake acara bohong lagi, sekarang aku di usir-usir,” keluh Gia sambil memonyongkan bibirnya.


“Dasar! Gak jelas kamu,” ejek Gia sambil berjalan pergi

__ADS_1


keluar dari ruangan Naufal.


Setelah beberapa menit Gia selesai membereskan ruang


kerjanya, Gia pulang bersama suaminya.


***(di Rumah)


Sampai di rumah, Gia langsung bergegas mandi dan


melaksanakan sholat dengan suaminya.


Naufal sama sekali tidak mengajak Gia berbicara, Naufal


duduk-duudk di sofanya, Gia menghampirinya.


“Kamu masih marah gara-gara tadi?” tanya Gia pada Naufal.


“Menurut kamu?” tanya Naufal dengan nada sinis.


“Udah dong marahnya, tadi itu bener-bener keluarga dari


pasien aku,” rayu Gia.


“Beneran?” tanya Naufal lagi.


“Iya, beneran, masak iya aku bohong sama kamu,” jawab Gia


dengan manjanya.


“Terus kenapa tadi dia narik-narik tangan kamu?” lagi-lagi


Naufal masih belum puas dengan jawaban Gia.


Gia belum siap menceritakan tentang Pak Kevin pada


suaminya, karena Gia takut nanti suaminya puasa bicara padanya. Apalagi saat ini keadaan masih memanas.


“Tadi itu…nanyain gimana keadaan tunangannya gitu, ehhm


mending sekarang aku ambilin kamu salad deh,” rayu Gia lagi.


“Boleh,” jawab naufal.


Gia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ke dapur.


***(di Dapur)


Gia melihat Bi Sarah yang sedang membuat teh.


“Eh Bibi,” sapa Gia.


“Lagi buatin siapa Bi?” tanya Gia.


“Buat saya sendiri Mbak, badan saya agak meriang,” keluh Bi


Sarah.


“Besok Bibi isitirahat dulu aja ya, besok habis kerja, Gia kasih obat,” tutur Gia.


Gia mengambil salad dari dalam kulkas.


“Oh iya Bi, soal suami Bibi, Gia lupa belum bicara sama


Naufal,” kata Gia.


“Iya Mbak Gia, nggak papa,” jawab Bi Sarah.


“Bibi ke kamar dulu ya Mbak,” pamit Bibi.


“Iya Bi, jangan lupa istirahat loh Bi,” tutur Gia.


Bi Sarah berjalan ke kamarnya, sedangkan Gia mendengar bel


pintu rumahnya.


Teng tong….teng tong….teng tong.


Gia membuka pintunya.


“Pak Kevin! Bapak ngapain disini?!” ucap Gia lirih.


“Gi, maafin aku Gi, aku terpaksa banget kesini Gi,aku harus


ngomong sama kamu Gi,” paksa Pak Kevin.


Sedangkan Naufal yang resah menunggu salad buah Gia,


akhirnya menyusul Gia untuk turun ke bawah.


Saat Naufal sampai di dapur, dia sama sekali tidak melihat


istrinya. Naufal berjalan mencari Gia, dan ternyata Naufal mendengar suara orang yang sedang ngobrol di luar rumahnya.


Pelan-pelan Naufal mendekat ke sumber suara tersebut,


dilihatnya Gia bersama seorang Pria yang katanya Gia adalah keluarga dari pasiennya.


Naufal dengan sengaja mendengarkan obrolan mereka.


“Apa lagi Pak?” tanya Gia dengan nada takut.


“Gi, saya gak bisa lupain kamu, jujur Gi! Saya terpaksa


tunangan dengan Meira waktu itu agar saya bisa lupain kamu, tapi nyatanya? Gak bisa Gi, gak bisa! aku masih sangat sangat mencintai kamu!” kata Pak Kevin dengan tegas.


Bersambung.......


Terima kasih untuk semua readers


untuk respon baik kalian, kritik dan sarannya terima kasih😊


Dan jangan lupa like, comment dan vote sebanyak-banyaknya ya🙏😁


Tunggu episode selanjutnya


see you🖤

__ADS_1


__ADS_2