Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 78 (Birthday Vela Pictures)


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, setelah lama di dalam mobil.


Akhirnya kami tiba di rumah.


***(di Rumah)


Setelah kami memasukkan mobil ke garasi, kami berjalan langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamar.


"Baru pulang Mbak," ucap Bi Sarah.


"Iya Bi, ini habis di ajak jalan-jalan sama Mas Naufal," jawabku di ruang tamu.


"Bi Sarah kok belum tidur?" tanyaku.


"Iya Mbak Bibi mau buat susu," jawabnya.


"Ya udah Gia ke atas ya Bi," kataku sambil mengelus lengannya.


"Monggo Mbak," ucap Bi Sarah.


***(di Kamar)


"Mas mau mandi?" tanyaku sambil meletakkan tasku di meja.


"Iya Sayang, gerah," jawabnya sambil melepas sepatunya.


"Ya udah aku siapin air hangat," ucapku lalu masuk ke kamar mandi.


Saat aku menyiapkan air hangat untuk Naufal dan sekalian aku cuci muka.


Setelah selesai, Naufal segera masuk ke kamar mandi sedangkan aku langsung merebahkan tubuhku, rasa pijatan tadi masih berasa sampai rumah.


"Pengen lihat film," gumamku dalam hati.


Aku mengambil laptop milikku di dalam laci.


"Yaa lowwbatt, huufft," kataku.


Ku simpan kembali laptop tersebut ke dalam laci.


"Pinjem laptop Mas Naufal ah," ucapku.


"Mas, aku pinjem laptopnya ya," ucapku yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi sambil menempelkan satu telinga ku pada pintu itu.


"Iya Sayang, ambil aja," jawabnya.


Aku mengambil laptop Naufal, ku nyalakan laptop tersebut.


Ternyata laptopnya hanya di sleep, terpajang disana tab pictures foto Naufal saat kecil.


Aku gemas melihat masa kecilnya, lalu ku geser-geser foto demi foto di laptopnya.


Aku klik back, dan aku melihat folder yang bertuliskan "Birthday Vela", aku penasaran ingin melihatnya, tapi aku takut lancang sebenarnya.


"Mas Naufal marah gak ya? Tapi aku perlu tau ini," gumamku dalam hati.


"Bismillah," ucapku.


Lalu ku klik folder itu.


Aku terkejut melihat seratus lebih file foto Naufal bersama Vela, disana ada Vela sepertinya yang tengah berulang tahun, dan Naufal memberikan kejutan balon-balon, boneka besar, dan kue ulang tahun.


Ku lihat foto demi foto romantis mereka.


Rasa sakit menghuni kembali di lubuk hatiku.


Air mata sudah memenuhi pelupuk mata. Tetapi jari ku tak sanggup berhenti melihat foto mereka, jariku terus ingin menggeser, rasa penasaran bergejolak dalam pikirku.


"Seharusnya aku tidak melihat ini, jika hal ini hanya membuatku patah hati," ucapku dalam hati.


Gleeeekkkk, rupanya Naufal sudah selesai mandi, tetapi aku menghiraukannya untuk tetap fokus melihat layar laptopnya.


"Sayang kaos hitam polos aku kamu taruh mana?" tanyanya sambil menggosokkan handuk pada rambutnya.


Aku tidak menjawabnya karena masih tercengang, terkejut, tertampar melihat foto mereka.


"Kamu lihatin apa sih kok nggak jawab aku," ucap Naufal sambil berjalan mendekatiku yang duduk di atas ranjang.


Naufal juga sangat kaget melihatku yang tengah melihat fotonya bersama Vela.


"Aduh, aku lupa belum delete foto itu, ya ampun, pasti Gia ngambek lagi, salah paham lagi," gumam dalam hati Naufal.


"Sayang....," panggilnya halus yang duduk di sampingku.


Aku tersadar dengan suara Naufal, aku kaget dengan kehadirannya di sampingku.


"Ka....kamu? Sejak kapan kamu duduk disini," tanyaku gugup sambil meneteskan air mata.


"Aku tadi nanya sama kamu, tapi kamu nggak jawab aku malah fokus ke laptop, ya aku samperin kamu," kata Naufal dengan santai.


"Kamu kenapa nangis Sayang?" tanyanya.


"Ooww....emmmm......ini...baper aja lihat foto kamu sama Vela," jawabku sambil ku usap air mataku.


"Jangan bilang kalo kamu sakit hati gara-gara lihat foto ini Sayang, ini gak seperti yang kamu lihat, gak seperti yang kam...," kata Naufal terpotong olehku.


"Oooo iya tadi kamu nanya aku apa? Hm? Kaos?" tanyaku.


"I.....iiiiya Sayang, kaos hitam polos punyaku," jawab Naufal yang sepertinya mulai merasa bersalah.

__ADS_1


"Oh bentar ya aku ambilin, kamu bawa laptopnya dulu," ucapku dengan menyodorkan laptop pada Naufal dan aku pun segera turun dari ranjang.


Aku melamum berjalan ke ruang ganti baju yang terpenuhi almari milik Naufal.


Ku buka almarinya, lalu ku ambil jas dokternya.


Aku berjalan kembali padanya.


"Mas ini," kataku sambil memberikan jas dokter yang di hunger.


"Loh loh, kok jas dokter Sayang? Kan aku mintanya kaos hitam polos, kamu kenapa ha?" tanyanya yang khawatir sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya yang masih setengah basah.


"Astagfirullah, lupa Mas, bentar aku ambilin lagi," kataku langsung pergi meninggalkannya.


Aku mencari-cari kaos hitam polos milik Naufal sambil terus meneteskan air mataku kembali. Aku menemukan kaos hitam polos itu, tetapi aku tak kunjung mememberikannya pada Naufal.


"Kenapa setiap aku tau ataupun melihat Naufal bersama Vela, kenapa aku selalu ingat masa bahagia mereka, kenapa aku tidak bisa mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, apakah hanya aku saja yang merasakan ini?" ucapku dalam hati.


Aku menangis sambil kusangga keningku dengan tangan kananku di susunan almari kaca itu.


Dari arah belakang Naufal menepuk pundakku, dengan spontan langsung ku hapus air mataku.


"Sa...yang, ada apa? Kamu nangis gara-gara lihat foto tadi kan? Iya kan? Itu masa lalu Sayang, aku lupa deletenya, maaf ya, kan kamu tau sendiri laptop itu jarang sekali aku pake, yang sering aku pake buat kerja kan yang di rumah sakit, jadi aku lupa kalo masih ada foto-foto itu Sayang, sumpah aku gak bohong sama kamu," ucap Naufal sambil meraih kedua pipiku.


"Iya nggak papa Mas, tapi....,"


"Kenapa setiap kali aku melihat Vela bersamamu, aku masih belum bisa menerimanya, padahal itu memang kisahmu, aku tak bisa menyalahkanmu, atau perempuanmu. Tapi kamu tak perlu cemas, rasa cintaku sudah bergulir membasmi sakitku karena aku milikmu, meskipun aku tau, aku bukan yang pertama melainkan yang kedua untukmu, tapi aku berhak atas dirimu," ceplosku menguras keluh isi hatiku.


"Mungkin bagimu, aku memang bukan laki-laki yang terbaik, maaf jika membahagiakanmu saja aku belum bisa, tapi percayalah kamu atas kesetiaanku, aku....nggak mungkin bohong sama kamu," rayu Naufal yang wajahnya sangat dekat sekali di depan mataku.


"Percayalah....aku mohon," ucap Naufal.


"Aku percaya, memang hatiku saja yang mudah terluka, aku sudah sepenuhnya terlanjur mencintaimu, sangat mencintaimu," ucapku yang membalasnya dengan ku raih kedua pipinya.


"Aku tak mungkin menyalahkan takdir di masa lalumu, aku sama sekali tidak pernah menyesal untuk mencintaimu, aku tidak marah dan aku juga tidak membenci perempuan di masa lalumu, masa lalumu akan tetap menjadi masa lalumu, begitu juga denganku, jadi jangan pernah kamu sedikitpun merasa bersalah atas masa lalumu," kataku sambil tersenyum padanya.


Naufal membalas senyumku lalu memelukku.


"Makasih Sayang, kamu menerima masa laluku, aku takut, kamu marah sama aku, aku tidak ingin kejadian yang sudah pernah terjadi pada kita terulang lagi," kata Naufal sambil mengelus-elus rambutku.


"Hemmm nggak akan Mas, aku mencoba untuk saling mengerti, kamu nggak usah takut aku marah," jawabku.


"Kamu jangan nangis ya," tuturnya.


Aku hanya mengangguk di pundaknya.


"Habis ini aku bakal nge delete semuanya Sayang," kata Naufal.


"Jangan!!!" kataku.


Naufal langsung melepas pelukannya.


"Biarkan jadi kenangan Mas, jangan di hapus, aku gak akan marah, apapun tentang Vela udah kamu buang bahkan kamu lupakan, tapi untuk ini, aku mohon jangan, ya?" rayuku.


"Tapi Sayang, bagaimanapun aku harus menghapusnya," ucap kekeh Naufal.


"Nggak usah Mas, udah gak papa," ucapku.


"Ganti baju gih, ini kaosnya," kataku sambil menyodorkan kaos hitam polos padanya.


"Aku ke sana dulu ya," ucapku lalu berjalan meninggalkannya.


Aku kembali duduk di ranjang, dan mematikan langsung laptop Naufal lalu aku menyimpannya kembali ke almari miliknya.


Setelah ku simpan laptopnya, hawa angin malam merayuku untuk segera tidur. Segera ku rebahkan tubuhku.


Naufal mematikan lampunya, lalu menyusul tidur di sampingku.


Dia mendekatkan tubuhnya padaku. Mendekap tubuhku seeprti yang biasanya ia lakukan.


"Aku senang jika kita saling mengerti, aku juga tidak keberatan dengan sikap pencemburumu," ucap Naufal.


"Iiiih siapa yang pencemburu? Kamu kali," ejek ku ganti.


"Wkwkwkw kamu tuh selalu gak mau mengaku, ya udah iya deh aku," ucap Naufal mengalah.


"Tapi lucu ya Mas, kita saja sebelumnya belum saling mengenal, eh tau-tau kita nikah, kamu juga cepet banget jatuh hati sama aku," kataku sambil menatapnya.


"Tapi kan kata pegawai Mama kamu, kamu lama menjomblo karena belum bisa melupakan Vela, kok kamu mau membuka hati buat aku," tanyaku.


"Gini nih ya Sayang, jika kita tidak ingin merubah atau berubah, ya udah kita stop di titik itu aja, ya kayak aku dulu waktu kuliah, tapi setelah lulus, aku mencoba membuka hati kembali, tapi belum ada yang nggenah gitu loh Gi, apa sih? Kayak nyambung gitu belum ada, dan masak iya aku kayak gini terus, eh ternyata kebetulan Papa bilang gini Fal nanti Papa jodohin sama anak temen Papa ya, tapi belum tau kapan, gitu bilangnya, kan hatiku agak menciut waktu itu, tapi gimana lagi, mungkin memang ini jalannya, ya udah aku nurut aja sama Papa, kan aku nggak selamanya mau berlarut-larut dalam kesedihan Gi," cerita Naufal.


"Gimana sih Mas rasanya kamu bisa susah nglupain Vela, hal apa yang telah dibuat Vela sampai membuatmu seperti itu?" tanyaku kepo.


"Gimana ya? Hehehem.....Mungkin Gi pada saat itu aku kan cuman kenal sama satu perempuan ya cuman Vela itu aja, mungkin jika aku mau mengenal lebih jauh wanita lainnya, mungkin juga hatiku tidak hanya saja jatuh pada Vela, bisa saja aku ke lain hati, cuman kan prinsip aku kalo ada satu itu ya udah itu aja," jawab Naufal.


"Huuummm meskipun aku belum pernah ngrasain apa yang kamu rasain dulu, tapi dengan kamu cerita sama aku, aku bisa ngrasain itu, mungkin jika dulu aku merasakan hal yang sama denganmu, pasti dikit-dikit aku cengeng, gak kuat, gak fokus kuliah aku malah Mas, hehehee," ucapku.


"Uuuuhhh dasar kamu," kata Naufal dengan gemas.


"Udah Sayang tidur, besok awas loh kamu gak bisa tidur, udah keenakan tadi di pijat-pijat otomatis badan kamu enak kan gak pegal-pegal pikiran juga fresh, ya kan?" ucap Naufal.


"Hehemm tau banget Mas," jawabku.


"Mana handphone kamu?" tanya Naufal.


Aku mengambilnya di samping meja tempat tidurku, dan ku berikan padanya.


"Mau apain handphone aku kamu Mas?" tanyaku curiga.

__ADS_1


Naufal mengotak atik ponselku.


"Udah, taruh sana lagi Sayang," perintahnya.


"Tadi ngapain kamu Mas?" tanyaku lagi.


"Aku cuman matiin alarm kamu yang jam 03.00 pagi, besok kamu nggak usah bangun, nggak usah masak, besok aku sarapan sandwich aja," tutur Naufal.


"Loh kok gitu? Kamu udah nggak mau aku masakin lagi? Kenapa? Nggak enak ya? Jadi kamu lebih milih sandwich aja," ceplosku pada Naufal.


"Hust hust hust, bukan gitu Sayang, aku mau ngenakin kamu, biar kamu istirahatnya nggak kebeban pikiran masak, besok-besoknya kamu boleh masakin aku lagi kok Sayang, cuman besok aja kamu jangan masak, ya? Masakan kamu enak kok," jawabnya.


"Tapi kan kasihan kamu? Masak kamu sarapan sandwich aja," keluhku.


"Kan kemaren sandwich aja udah kenyang banget Sayang, mending sekarang kita tidur biar tidurnya nyenyak dan gak malem banget," tuturnya laku mengecup keningku.


"Selamat malam Sayang," ucap Naufal.


Aku membalas pelukannya.


.


.


.


.


.


.


Adzan shubuh berkumandang, Kali ini Naufal terbangun lebih dulu dari pada aku.


Lagi-lagi Naufal menatap setiap inci wajahku.


Dia tersenyum entah mengapa.


"Gia Gia....keenakan kan kalo tidur, buktinya sekarang aja kamu masih pulas tidurnya, belum bangun," gumam dalam hati Naufal.


"Aku jadi tak tega membangunkanmu Sayang, hehehemm," gumam dalam hati Naufal lagi.


Naufal kembali memelukku erat, lalu mencium lama keningku.


Nafasku terasa sesak karena dekapan Naufal.


"Eehmmm....,"


"Berat banget," ucapku dalam hati yang masih dalam mimpi.


Ku buka pelan mataku.


"Mas......berat banget loh," keluhku.


Naufal melepas bibirnya dari keningku.


"Bentar lagi," ucapnya yang kembali menciumku.


"Mas.......," panggilku lagi.


Naufal melepasnya kembali.


"Udah jam berapa ini Mas?" tanyaku padanya.


"Udah shubuh Sayang, kamu ini keenakan tidur," jawabnya sambil menyentil hidungku.


"Eheehemm, abis nggak ngerasa pegel-pegel jadi nyaman banget tadi Mas," ujarku.


"Nyaman gara-gara tidur di dekapan aku itu Sayang, bukan karena di pijat-pijat kemaren, Hahaha," ejek Naufal.


"Idiiih kamu GR banget, udah sana kamu mandi," tuturku.


"Kamu dulu aja Sayang," ucap Naufal.


"Huuuuum kamu ah, ya udah iya," jawabku sambil membuka selimut lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Aku bergegas segera mandi.


Setelah selesai mandi, ganti dengan Naufal, aku menyiapkan sajadah untuk Naufal melaksanakan sholat shubuh.


Tak lama kemudian Naufal selesai mandi.


Aku masih merapikan rambutku di depan kaca riasku.


"Mas, sarungnya di kasur," ucapku.


Naufal mengambil kasurnya lalu memakainya dan segera melaksanakan sholat shubuh.


Setelah sholat, aku mengambilkan hair dryer untuk Naufal.


"Mas keringkan dulu rambut kamu," tuturku.


"Sini duduk sini aku keringin," tuturku lagi.


Naufal duduk menurutiku, lalu ku keringkan rambutnya.


Sesekali Naufal meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2