Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 71 (Bad Mood)


__ADS_3

Setelah malam itu kami lewati bersama.


Adzan shubuh berkumandang.


Naufal bangun terlebih dahulu.


Dia tidak langsung membangunkanku, tetapi dia malah memandangi wajahku sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Gia Gia, makanya jangan ngerjain aku dong," gumam dalam hati Naufal.


Dia meraih pipiku lalu mengelusnya lembut.


Aku merasakan sentuhan tangan Naufal, akhirnya aku pun terbangun.


Ku buka mataku pelan, masih samar-samar terlihat wajah Naufal yang tersenyum padaku.


Tiba-tiba seketika pikiranku teringat kejadian semalam.


Aku langsung berbalik membelakangi Naufal.


"Gitu tuh ngapain kamu Sayang?" ejek Naufal yang semakin membuatku malu-malu.


"Aku masih ngantuk," jawabku singkat karena malu kali ini.


"Terus kamu mau tidur lagi?" tanya Naufal.


"Iyalah," jawabku cuek.


Ku tarik selimutnya kembali, ku pejamkan mataku.


Naufal menertawakan ku pelan di belakang sambil membulatkan kedua pipinya.


"Yakin mau tidur lagi? Ini udah shubuh loh," kata Naufal.


Pejaman mataku langsung terpecah seketika.


"Oo ow, ad..duh, ketauan lagi deh," gerutuku dalam hati.


Naufal sepertinya tau jika aku kembali terbangun.


"Mandi sana," perintah Naufal.


"Kamu aja duluan," ucapku ganti.


"Wkwkwk, kamu kenapa sih gitu sama aku?" tanya Naufal sambil menggodaku.


"Gitu gimana? Orang aku nggak gimana-gimana," jawabku sambil tetap membelakanginya.


"Kok kamu nggak lihatin aku, nggak natap mata aku, nggak hadap ke aku," kata Naufal.


"Uuuuuh dasar Naufal, ngeselin banget sumpah, padahal udah tau kalo aku malu, emang sengaja nih kamu," gerutuku dalam hati.


"Kata siapa? Ini," kata ku memberanikan diri untuk menghadapnya, menatapnya dan melihatnya kembali.


Deg.....deg.....deg.


"Aduh jantung, Masih shubuh banget ini, kenapa udah deg deg an aja sih," gumamku lagi dalam hati.


"Kenapa jadi degup jantungnya sekencang ini," gerutu Naufal juga.


"Berani kan," kataku menantang.


"Pasti sekarang jantung kamu deg deg an ya," bisik Naufal di telingaku.


Ku tepis tubuh Naufal.


"Ngaco dasar, udah sana mandi," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Wkwkkwwk jahat banget sih kamu Gia," kata Naufal sambil sedikit mengejekku.


"Mandi nggak? Aku dorong kamu loh kesana," ancamku.


Sengaja aku seperti ini karena aku tidak ingin mengetahui yang sebenarnya, aku sungguh malu jika dia mengetahui hal itu.


"Ee eee iya iya, jangan di dorong, aku bisa turun sendiri Sayang, wwkwkwkwk," kata Naufal yang terus menertawakan ku.


"Ya udah cepetan, nunggu apa lagi?" tanyaku malu-malu.


"Eemmm nunggu apa ya?" ucap Naufal sambil seakan-akan dia sedang berfikir keras.


Naufal mendekatkan dirinya padaku.


"Nunggu ini nih," kata Naufal sambil langsung mencium keningku.


Setelah dia berhasil mendaratkan ciuman di keningku, dia bergegas melarikan diri menuju kamar mandi.


Aku tersenyum kegirangan.


"Dasar Naufal, romantis banget," gumamku dalam hati.


Sambil menunggu Naufal selesai mandi, ku raih ponsel di meja di sampingku.


"Kok tadi alarmnya nggak kedengeran ya?" ucapku sendiri.


"Apa aku terlalu nyenyak ya? Sampek nggak kedengeran sama sekali," kataku lagi.


Aku segera cek alarm yang sudah ku setting dari awal menikah dengan Naufal.


"Kok alarmnya mati sih, perasaan aku nyalain terus kok, kok bisa mati," ucapku.


"Pasti Naufal lagi yang ngerjain aku, Huuuuuh dasar dia tuh, ngeselin tapi bisa aja buat aku senyum-senyum sendiri kayak gini," kataku.


Aku melihat isi galeri foto bersama Naufal di ponselku.


Hanya ada foto pernikahan kami di galeri, karena kami memang jarang sekali mengabadikan momen bahagia kami dalam foto, karena bagi kami, tidak semua hal bisa diabadikan di dalam foto, terutama kebahagiaan. Kita selalu mengabadikan sendiri dalam hati kami masing-masing.


Aku terharu sekali melihat foto ku bersama Naufal, apalagi saat setelah akad kami terlaksana, dengan segala niat nya, Naufal memegang ubun-ubunku sambil berdo'a dengan sangat khidmat.


Aku sangat ingat saat-saat itu.


Tiba-tiba tanpa sepengetahuan ku Naufal telah keluar dari kamar mandi dan mengagetkanku.


"Hayo lihatin apa senyum-senyum," ucap Naufal yang mendekatiku.


Ku balik layar ponselku.


"Enggak, gak lihatin apa-apa," ucapku.


"Mana coba lihat? Kalo emang kamu gak lihatin apa-apa," kata Naufal.


"Iiiih kepo banget sih kamu, gak mau, aku pelit, wekkk," kataku sambil berdiri berjalan menuju kamar mandi dan lupa meninggalkan ponselku.


Di dalam kamar mandi aku baru ingat jika tadi ponselku belum sempat aku matikan.


"Tunggu tunggu, kok kayak ada yang menjanggal sih," kataku dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Naufal langsung mengambil ponselku dan dia melihat fotonya yang sedang memegang ubun-ubunku.


"Hehem ini nih yang kamu lihat ternyata," kata Naufal tertawa dalam hati.


Dari arah belakang langsung ku rebut ponselku kembali.


"Eh eh," kata Naufal.


Ku sembunyikan ponselku dari balik badanku.


"Aduuuh Sayang, untung aja nggak kesentuh, aku udah wudhu loh," kata Naufal.


"Lagian kamu ngapain lihat-lihat hp aku," kataku.


"Lagian kamu juga ngapain balik kesini lagi, udah bener-bener mandi kok balik lagi, takut ya kalo ketauan sama aku, kamu tadi habis lihatin apa kok senyum-senyum sendiri, ya kan?" ucap Naufal yang semakin memojokkan ku.


"Eng....nggak kok, aku cuman cek aja, barangkali temenku WA aku, weekkk," bantahku.


"Temen? Siapa? Kan kamu jarang banget pake bales WA, kalo gak penting banget," kata Naufal yang membuatku tidak berkutik sama sekali.


"Aaah udah lah, aku mau mandi," kataku sambil pergi meninggalkan tempatnya berdiri.


"Dasar Gi, kamu tuh selalu gitu, malu gak mau ngaku," gumam dalam hati Naufal.


.


.


.


Setelah selesai mandi dan berwudhu, kami segera melaksanakan sholat shubuh.


Setelah sholat, kami segera bersiap-siap untuk pergi bekerja kembali.


Di dalam ruang ganti baju, aku menghampiri Naufal.


"Mas, aku mau nanya?" kataku sambil mengoleskan lotion di tanganku.


"Nanya apa?" tanya Naufal sambil membuka meja jam tangan nya.


"Kamu kemaren matiin alarm aku ya," tanyaku memberanikan diri.


Tangan Naufal langsung terhenti menarik laci jam tangan.


"Kalo iya kenapa? Kalo enggak kenapa?" ucap Naufal.


"Ah kamu selalu gitu kalo di tanya, males ah," kataku lalu berjalan ke luar dari ruang ganti baju.


"Loh Sayang, kok jadi gitu sih," kata Naufal sambil menyusulku keluar dari ruang ganti baju.


"Tau ah, gak jadi nanya," kataku judes.


"Hehehe, Kok kamu ngambek, kan aku becanda, aku juga bakalan jawab kok," ucap Naufal.


"Kamu tuh selalu gitu kalo ditanya, gak bisa ngomong serius, selalu becanda, jadi males aku kalo mau nanya sama kamu, gitu terus jawabnya," nyerocos ku.


"Eh eh eh, kok jadi bawel gitu kamu," goda Naufal.


"Tuh kan gak bisa serius, udah ah aku turun, capek ngomong sama kamu," ucapku.


Aku meninggalkan Naufal di kamar sendirian.


"Gia kenapa sih? Kayak marah banget," gumam dalam hati Naufal.


***(di Ruang Makan)


Aku turun sambil masih membawa muka cemberutku ini.


Bi Sarah sudah duduk menunggu kami disana sebenarnya, tapi aku hanyalah datang seorang diri.


"Loh loh loh, Mbak Gia kenapa cemberut gitu?" tebak Bi Sarah.


Aku baru sadar, dan aku langsung memberikan senyuman manis pada Bi Sarah.


"Ehhm enggak Bi, Gia nggak cemberut," bantahku.


"Terus Mbak Gia datangnya kesini nggak sama Mas Naufal," tebak Bi Sarah lagi.


"Eehm....mmm..Mas Naufal nya tadi lama Bi, jadi Gia tinggal hehehe," kataku.


"Kok aneh ya, biasanya meskipun lama, mereka selalu datang berdua, ini beda, apa jangan-jangan Mbak Gia sama Mas Naufal berantem ya, aduuuh kasihan Mbak Gia," kata Bi Sarah dalam hati.


"Bi, Pak Rusdi sama Pak Joko mana?" tanyaku sambil duduk.


"Pak Rusdi tadi masih ke halaman belakang Mbak, kalo Pak Joko Bibi nggak tau, mungkin sebentar lagi pasti kesini Mbak," jawab Bi Sarah.


"Ya udah kita tungguin mereka aja ya Bi," kataku.


.


.


.


Tak lama kemudian, mereka datang menghampiri kami yang sedang duduk.


Naufal tampak tak enak hati duduk di sebelahku.


Aku hanya diam dan tetap marah padanya, tapi aku tetap mengambilkannya nasi, lauk seperti biasanya.


"Mari makan semua," ucap Naufal.


Aku tidak menatapnyas sedikitpun.


Sebenarnya aku tak ingin marah padanya, tapi moodku sangat tidak bisa di ajak kompromi pagi ini.


Setelah selesai makan, kami pamit untuk pergi bekerja.


"Bi, kami berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Naufal.


"Assalamu'alaikum Bi," kataku.


Kami berjalan ke garasi, aku tetap hanya diam, Naufal semakin merasa bersalah.


Dengan segera Naufal menancap gas mobilnya pelan.


Berkali-kali Naufal menatapku di dalam mobil, aku sibuk memainkan ponselku.


Naufal menepikan mobilnya di seperempat perjalanan.


"Kok berhenti," kataku.


Naufal menghadapku lalu memandangku.


"Kamu kenapa sih Sayang, padahal tadi aku cuman jawab kayak gitu, kamu semarah ini sama aku, nggak biasanya kamu sama aku kayak gini," kata Naufal.

__ADS_1


"Aku nggak marah kok, cuman lagi gak enak hati aja," ucapku.


"Ngomong gini aja kamu nggak mau lihat aku, gitu katanya nggak marah," ucap Naufal.


Aku menghadapnya lalu membalas tatapannya.


"Aku janji nggak ngomong gitu lagi kok sama kamu," rayu Naufal.


"Huuummmm......Bukan gitu Mas, aku nggak marah sama kamu, tapi kamu kalo aku nanya serius kamu juga serius," tuturku.


"Tadi kamu nanya nya nggak pake raut wajah serius, jadi aku ngiranya ya biasa aja, tapi kamu marahnya kayak gini banget," keluh Naufal.


"Aku nggak mood aja tadi Mas, jadi bawaannya mau marah, maaf ya, kamu jadi korbannya," kataku.


"Tapi kamu udah ya marahnya, jangan bad mood, ya?" rayu Naufal.


"He'em, kamu maafin aku ya," kataku.


"Iya Sayang, nggak papa kok," kata Naufal.


Naufal masih tetap menatapku dan tak kunjung melajukan mobilnya kembali.


"Ayo Mas," kataku.


"Ayo kemana? Udah disini aja sama aku," kata Naufal smabil tersenyum padaku.


Aku tersipu malu dan menahan tawaku.


"Masssss, ayo lanjut lagi," rengek ku.


"Hehehe iya iya," kata Naufal sambil menyalakan mesin mobilnya kembali.


"Pasti kalo sama cewek juga gitu dulu, gombalin aja," ejek ku.


"Iiiih enggak lah Gi, aku tuh gini baru sama kamu tau, ya kali aku sama cewek-cewek gombalin kayak gini, gak mau lah," bantah Naufal.


"Terus, dulu waktu deket sama Vela, masak iya gak pernah gombalin kayak gini," kataku.


"Sumpah Gi, aku gak pernah, aku sama Vela ya jaim lah, sama kamu aja aku gini, soalnya kamu tuh lucu kalo lagi malu-malu, kayak tadi itu, hehehe," ejek Naufal.


"Dasar kamu," kataku.


"Ya gak papa lah Gi sama istri sendiri, aku juga gak mau kalo gombalin cewek selain kamu," kataku.


"Aaaaaaaaa, gitu ya," kataku lalu mencium pipinya.


"Gi!! lagi, satunya, cepet, kamu harus tanggung jawab loh," kata Naufal.


"Apaan, gak mau lah, udah fokus nyetir aja sana," kataku.


Kami saling menimpal canda di dalam mobil.


Sampai tak terasa sudah di parkiran rumah sakit.


***(di Rumah Sakit)


Naufal tidak langsung keluar dari mobil.


"Mas, kok gak keluar," kataku.


"Huummm, males aja kalo harus pisah-pisah sama kamu Gi, ruangan beda, jalan beda," keluh Naufal.


"Udah ah jangan becanda gini, ayo keluar," ajak ku.


"Sayang, kamu gak ngrasain apa kalo aku gak bisa jauh-jauh dari kamu," rengek Naufal.


"Satu ruangan sama aku ya," rayu Naufal.


"Gak bisa lah Mas, gak boleh seenaknya sendiri," kataku.


"Aku nggak seenaknya sendiri Sayang," ucap Naufal.


"Udah ayo, ayo nggak?" paksa ku.


"Ya udah iya deh iya," kata Naufal sambil membuka pintu mobil.


Kami keluar dari mobil dan berjalan beriringan.


"Oh iya, tadi kunci mobil kamu ketemu dimana?" tanyaku mulai curiga.


"Eehmm ini, ini di almari aku," kata Naufal.


"Kok bisa? Katanya kemaren kamu nggak tau, kok bisa di almari," kataku di sepanjang lorong.


"Maaf ya Sayang, aku sengaja nyembunyiin kunci mobilku sendiri, habis aku takut kalo kamu nggak mau nemenin aku sama Vela," ucap Naufal.


"Ya Allah Mas, sampek segitunya kamu, Hahaha," kataku menertawakannya.


"Kamu soalnya kalo gak mau ya gak mau, jadi susah aku maksanya Gi," kata Naufal.


"Kan kamu yang nyuruh, gak mungkin aku nolak lah, ada-ada aja kamu," kataku.


Di pertengahan lorong, Naufal tidak membelok ke arah ruangannya, tetapi malah mengikutiku.


"Loh loh loh, kok kamu ikut aku," kataku sambil berhenti berjalan.


"Aku gak bisa jauh dari kamu Gi," rengek Naufal.


"Mas, profesional dong," kataku.


"Hummm, ya udah iya, tapi terpaksa nih aku," kata Naufal sambil berjalan meninggalkanku.


"Mas," panggilku lagi.


"Apa lagi Sayang, aku udah mau ke ruanganku nih, udah jauh dari kamu," rengek Naufal lagi.


"Hehemm, lucu banget sih kamu, yang ikhlas dong, yang semangat, jangan cemberut gitu," rayuku.


Naufal tersenyum padaku.


"Udah kan Sayang kamu puas?" tanyanya.


"Hehehe, ya udah bye bye," kataku sambil berjalan menuju ke ruanganku.


"Fal Fal, makin jatuh hati aku sama kamu, huuumm seneng banget rasanya kalo gini terus sama kamu," gumamku dalam hati.


"Kenapa aku susah banget jauh dari kamu sih Gi," gumam Naufal sambil senyum-senyum sendiri di sepanjang lorong menuju ruangannya.


Ternyata Bastian sedari tadi berjalan di belakangnya.


Bersambung..


jangan lupa bom like, komen, dan vote ya kak.


Hehehe....

__ADS_1


__ADS_2