Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 115 (Detik-detik pernikahan Susi)


__ADS_3

"Udah adzan Gi, sholat dulu," ajak Naufal.


Aku dan Naufal segera mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat berdua.


Setelah sholat, kami langsung memutuskan untuk segera tidur.


Naufal mematikan lampu dalam kamar lalu menyusulku tidur.


Naufal mengelus-elus rambutku dan terus menatapku.


"Bobo ya, besok bangun pagi," tutur Naufal.


Aku semakin nyaman dengan sikap Naufal, dan akupun tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


Alarm berdering tepat jam 2 dini hari.


Segera aku mematikan jam weker di atas meja, lalu ku bangunkan Naufal.


"Bangunnnn," rengekku sambil mengelus lenganya.


Naufal tak kunjung bangun.


"Mending aku mandi dulu," gumamku dalam hati.


Segera aku turun dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.


Hanya butuh waktu seperempat jam untuk aku mandi.


Setelah mandi ku siapkan air hangat untuk Naufal, lalu aku membangunkan nya kembali.


Aku berjalan menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


"Mas, Mas Naufal bangun," kataku.


Naufal kaget saat kulitnya tersentuh oleh tangan dinginku.


Perlahan dia membuka kedua matanya.


"Mandi gih, udah aku siapin," tuturku.


Dia meraih tanganku.


"Kok tangan kamu dingin?" tanyanya.


"Aku baru aja selesai mandi Mas, maka nya tanganku dingin," jawabku sambil tersenyum padanya.


Naufal bangun dan langsung turun darir ranjang lalu berjalan ke kamar mandi.


Sedangkan aku berjalan masuk ke ruang ganti baju.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, Naufal menyusulku ke ruang ganti baju.


"Loh Gi kamu pake gamis itu?" tanya Naufal yang melihatku hanya memakai gamis polos biasa.


"Iya Mas, kan nanti di rumah Mama kita mandi lagi," jawabku.


"Oiya aku lupa kalo baju kita di Mama," kata Naufal.


Setelah selesai aku bersiap-siap, aku berjalan keluar dari kamar untuk menemui Bi Sarah.


.


.


.


Tok...tok...tok.


Aku mengetuk pintu kamar Bi Sarah.


"Bi, Bibi," pangilku.


Bi Sarah segera membukakan pintunya.


"Eh Mbak Gia, Bibi udah siap Mbak," kata Bi Sarah.


"Bibi langsung pake bajunya?" tanyaku.


"Iya Mbak," jawabnya.


"Bibi nggak pake baju biasa aja, nanti kan kita masih di rumah Mama Bi, tapi kalo Bibi emang pengen dan mau gak papa Bi," kataku sambil tersenyum padanya.


"Loh Mbak Gia nggak pake langsung juga?" tanya Bi Sarah.


"Gia pake ini dulu Bi, nanti kalo nyampek sana Gia mandi lagi terus ganti baju," jawabku.


"Oh ya udah Mbak, kalo gitu Bibi ganti aja hehehe biar sama kayak Mbak Gia," ucap polos Bi Sarah.


"Nggak papa Bi kalo Bibi nyaman nya gini," tuturku.


"Enggak Mbak, Bibi ganti aja hehehe," tepisnya.


"Ya udah kalo gitu bentar lagi kita berangkat ya Bi," ucapku.


"Iya Mbak, oh iya Mbak, Bibi udah siapin sarapan," ucap Bi Sarah.


"Sarapan Bi?? Bibi masak?" tanyaku.


"Hehem, iya Mbak," jawab Bi Sarah sambil menundukkan kepalanya.


"Ya Allah, Bibi bangun jam berapa tadi?" tanyaku lagi.


"Bibi bangun jam 1 Mbak, hehem," jawabnya.


"Astagfirullah, hehem ya udah gak papa Bi, abis ini Gia ajak Mas Naufal sarapan, padahal Mas Naufal udah rencana nanti makan di luar aja biar Bibi nggak capek-capek masak," kataku.


"Aah nggak papa Mbak, Bibi suka masak sendiri," kata Bi Sarah.


"Hehem, Bibi....Bibi," kataku.


"Ya udah Gia ke atas ya," pamitku.


"Monggo Mbak," jawab Bi Sarah.


Aku berjalan kembali menuju kamar.


***(Di Kamar)


Sepertinya Naufal sudah selesai bersiap-siap, satu koper sudah di siapkan di samping ranjang.

__ADS_1


"Udah Mas?" tanyaku sambil mengambil ponsel dan tas.


"Udah Sayang," jawabnya.


"Ya udah kita turun sekarang ya, Bibi udah buatin sarapan buat kita," ajakku.


"Bibi buat sarapan Gi??" tanya Naufal yang panik.


"Iya," jawabku sambil menaikkan kedua alisku.


"Haduh Bibi-Bibi, hahaha, padahal mau ajak Bibi makan diluar," kata Naufal.


"Udah ayo makan Mas, kasihan Bibi loh," tuturku.


Naufal membawa kopernya dan menuruni anak tangga bersamaku.


***(Di Ruang Makan)


Bi Sarah sudah menungguku dan Naufal disana.


"Waaah udah pagi-pagi gini Bibi udah siapain sarapan, hebat Bibi nih," puji Naufal.


Bi Sarah tersenyum malu-malu karena pujian Naufal.


"Ya udah Bi, ayo di makan sekarang," ajak Naufal.


Kami segera menyantap menu sarapan pagi kali ini.


"Maaf Mas Naufal, nanti kalo Bibi ninggalin orang rumah, mereka siapa Mas yang masakin?" tanya Bi Sarah.


"Oh soal itu Bi, kalo itu Naufal udah sempet ngobrol sama Pak Joko, jadi yang ngurusin Pak Joko Bi, nanti makan nya pesan gojek aja," jawab Naufal.


"Oh gitu ya Mas, hehem," ucap Bi Sarah.


"Kamu udah serahin semua sama Pak Anton kan Mas?" tanyaku.


"Udah Gi, udah dari kemarin aku udah bilang sama Pak Anton untuk dua hari ke depan aku cuti," jawab Naufal.


"Berkas nya juga udah kamu kasih ke Pak Anton, sekalian jadwal lainnya?" tanyaku lebih mendetail lagi.


"Sudah Gia Sayang," jawabnya.


Aku menyenggol kaki Naufal dari bawah, memberi isyarat bahwa ada Bibi di sana.


"Iya maaf aku lupa Gi," bisiknya di telingaku.


Setelah selesai sarapan, kami semua pamitan dengan Pak Rusdi.


Lalu kami masuk ke dalam mobil, aku duduk di samping Naufal, dan Bi Sarah duduk di belakang sendirian.


Mobil melaju mendekati gerbang, Pak Joko membukakan gerbang untuk kami.


Tin...tin.


"Berangkat dulu ya Pak," ucap Naufal pada Pak Joko.


"Iya Pak, hati-hati," jawab Pak Joko.


Jalanan sangat sepi, sehingga mobil Naufal bisa melaju dengan sangat cepat.


"Kalo ngantuk tidur aja Gi," tutur Naufal.


"Bibi juga tidur aja gak papa Bi, jangan sungkan-sungkan sama Naufal," kata Naufal.


"Ehemm, iya Mas, Bibi gampang, udah nggak ngantuk," bantah Bi Sarah.


"Aku ngantuk Mas," rengekku.


"Ya udah bobo aja, kamu tadi bawa selimut kan?" tanya Naufal.


"Iya di belakang sama boneka ku juga," jawabku.


"Bi Naufal minta tolong ada selimut sama boneka nya Gia di belakang Bibi bisa tolong ambilkan," kata Naufal.


Bi Sarah segera mencarinya, lalu memberikan selimut dan boneka Minion ukuran sedang padaku.


Naufal segera menurunkan jok kursi mobil agar aku bisa berbaring.


Aku hanya menganggukkan kepalaku lalu memejamkan kedua mataku.


.


.


.


.


.


.


Setengah perjalanan, Naufal membangunkanku.


Mobil Naufal berhenti di sebuah masjid yang berdiri kokoh di tepian jalan.


"Sayang, bangun," kata Naufal.


"Gia, heyyy, bangun," ucap Naufal lagi.


"Uughmmm, udah sampe Mas?" tanyaku sambil ku buka pelan kedua mataku.


"Masih setengah perjalanan Sayang, kita sholat shubuh dulu," tuturnya.


Aku menoleh ke belakang, tidak ada Bi Sarah disana.


"Loh, Bibi kemana Mas?" tanyaku.


"Bibi tadi udah turun duluan Gi," jawab Naufal.


"Masih gelap ya?" tanyaku dengan polos.


"Ya iyalah Sayang, masih shubuh juga," kata Naufal.


Aku mencoba berpindah ke kursi belakang.


"Hey mau ngapain kamu kayak gitu?" tanya Naufal.


"Haus," jawabku sambil merengek-rengek padanya.


"Udah diem aja, aku ambilin," kata Naufal dengan tinggi badan yang melebihi aku secara otomatis dia lebih mudah mengmbilkan ku minum di kursi belakang.


"Ini," ucap Naufal sambil menyerahkan satu botol minum.


Segera aku meminumnya karena aku memang sangat haus.


"Udah ayo turun," ajak Naufal.


Aku dan Naufal turun dari mobil dan berjalan masuk ke Masjid.


Disana aku segera berwudhu dan melaksanakan sholat berjama'ah bersama banyak orang.


.


.


.


.


Setelah selesai sholat, kami kembali masuk ke dalam mobil.


"Bibi udah?? Gak ada yang ketinggalan tadi di Masjid?" tanyaku.


"Udah Mbak, nggak ada," jawab Bi Sarah.


Dengan jawaban Bi Sarah, Naufal kembali menancap gas mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.


"Kamu kalo ngantuk lagi tidur Sayang," tutur Naufal.

__ADS_1


"Enggak Mas, udah nggak ngantuk," jawabku.


"Yakin kamu?" tanya Naufal lagi sambil melirikku.


"Iya Mas," jawabku singkat.


Aku mengambil cemilan dari dalam tasku yaitu pie apel.


"Mau?" tanyaku pada Naufal.


"Iya boleh," jawab Naufal.


Aku mengambilkan satu lagi untuk Bi Sarah.


"Bibi ma..?" kataku terhenti saat melihat Bi Sarah yang sudah tertidur pulas.


"Kenapa Gi?" tanya Naufal.


"Bibi tidur Mas," jawabku dengan lirih.


"Kecapek an mungkin Sayang, gara-gara tadi masakin kita," kata Naufal.


"Iya mungkin Mas, kasihan Bibi," ucapku.


Aku berikan saja satu bungkus pie nya pada Naufal.


Ku suapi Naufal secuwil pie demi pie.


"Coba aja kalo Bibi bangun pasti kamu langsung nggak mau nyuapin aku," ejek Naufal.


"Ya enggak lah Mas, aku tetep mau lah," jawabku.


"Hemmm masak?" ejek Naufal lagi.


"Iya lah, kan kamu lagi nyetir nggak mungkin bisa makan sendiri, jadi aku harus nyuapin kamu," kataku sambil menyuapi pie pada Naufal.


Tiba-tiba ponsel Naufal berdering.


"Siapa itu Mas pagi-pagi gini nelfon kamu?" tanyaku.


"Nggak tau Gi, Pak Anton mungkin," jawab Naufal sambil mengambil ponselnya lalu membukanya.


"Eh bukan Gi, Bastian," ucap Naufal sambil sedikit tersenyum.


Naufal segera menerima telefon dari Pak Bastian.


"Hallo Fal," ucap Pak Bastian.


"Hm, Assalamu'alaikum," kata Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Bastian.


"Kenapa Bas?? Ada apa?? Ada yang kamu butuhin mumpung Gue di jalan," kata Naufal yang panik karena telepon dari sahabatnya itu.


"Enggak Fal, gak ada yang Gue butuhin," jawab Pak Bastian.


"Lahh..Terus??" tanya Naufal semakin panik sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Semalaman Gue nggak tidur, bayanginnnnn!!!!" keluh Pak Bastian.


Naufal menahan tawanya sambil melihatku, aku jelas mendengar keluhan dari Pak Bastian yang keluars suaranya dari ponsel milik Naufal.


"Bahahahaah, Lo kenapa Bas?? Lo apaan sih mau nikah malah nggak tidur," kata Naufal.


"Gue deg deg an Falllll sumpah, Gue cuman tidur habis isya terus jam 11 malem Gue bangun," jawab Pak Bastian.


Naufal semakin menertawakan Pak Bastian.


"Astagfirullah Bas, hahahaa, apa sih yang Lo pikirin hm?" tanya Naufal.


"Nggak tau Fal, gak ada yang Gue pikirin semua udah lengkap, tapiiiii Gue takut besok salah ucapin ijab qobul," ucap Pak Bastian.


"Ya Allah Bas, cuman gara-gara itu Lo gak bisa tidur?" tanya Naufal lagi.


"Ya iya lah, besok tuh momen sakral men, jadi harus perfect," ujar Pak Bastian.


"Lo udah latihan kan?" tanya Naufal lagi dan lagi.


"Udah, semilyaran kali Fal," jawab Pak Bastian yang masih sempat-sempatnya becanda.


"Hahahaha, ya udah kalo udah latihan ngapain takut," tepis Naufal.


"Udah ya sekarang mending Lo tidur sejaman, seenggaknya Lo dapet waktu tidur, dari pada nggak sama sekali, biar nanti Lo fresh Bas, Gue dulu juga deg deg an tapi nggak separno Lo lah Bas, ini Gue perjalan, Lo kan pastinya juga udah di hotel, mending sekarang Lo tidur aja dulu itung-itung masih ada waktu, Lo sendiri kan yang bilang kalo besok pengen berjalan mulus perfect," tutur Naufal.


"Iya sih," jawab Pak Bastian pasrah.


"Ya udah sekarang Lo tidur, tenang nanti ada Gue," tutur Naufal.


"Beneran ya Lo, awas Lo telat," ancam Pak Bastian.


"Gak bakalan, masak iya Gue telat ke acara penting sahabat Gue Bas, nggak etis tau, hahahaha," ucap Naufal.


"Ya udah Gue tidur, gini kan agak tenang Fal Gue, kenapa gak dari tadi sih Lo nih ah," kata Pak Bastian.


"Nah Lo baru telepon Gue, mana Gue tau Bas," tepis Naufal.


"Ya udah ya ya ya Gue tidur, makasih udah dikasih saran terbaekkk sahabat Gue," ucap Pak Bastian.


"Byeee," kata Pak Bastian yang langsung menutup telepon pada Naufal.


Setelah Pak Bastian menutup telepon nya, Naufal tertawa terbahak-bahak dalam mobil.


"Baahhahahaha, aduh Bas Bas," kata Naufal.


"Huusshh Massss Bibi tidur loh," tuturku sambil menepuk lengannya.


"Xixixix, oh iya Sayang, lupa aku, lagian Bastian lucu banget loh," kata Naufal.


"Namanya juga mau nikah Mas siapa yang nggak deg-degan," kataku.


"Ya iya sih Gi, tapi Bastian parno banget, mana dia nggak tidur hayo," ucap Naufal.


"Iya sih Mas, kasihan Lo," ucapku yang simpati pada Pak Bastian.


"Maka nya tadi aku suruh dia tidur Sayang, dia tuh kalo nggak di bilangin pasti nggak bakal tidur sampe nanti mau ijab qobul, ada-ada aja Bastian nih," kata Naufal.


"Susi gitu gak ya Mas?? Aku jadi kepikiran dia, dulu aja satu hari sebelum aku nikah, Susi nemenin aku tidur jadi nyaman ada temennya, sekarang dia nikah gak mungkin aku nemenin tidur dia kan Mas, huuuumm mungkin dulu kalo aku nggak ditemenin Susi, mungkin aku ngrasain kayak yang di rasain Pak Bastian kali ya Mas," ucapku.


"Hehheehem, iya mungkin Sayang, apalagi kamu terus mikirina aku gini, gak nyangka aku nikah sama Dokter koas aku, gitu pasti," ucap Naufal yang membuatku tersipu malu.


"Apaan sih Mas," tepisku malu-malu.


"Hahahah, ya kan pasti gitu," ucap Naufal yang semakin mendesakku.


"Udah fokus nyetir, aku gigit kamu loh," ancamku.


"Berarti bener tuh, hahahaha," ucap Naufal.


Dengan ucapan Naufal itu, aku langsung menggigit lengannya.


"Aaa....aaaww Gi," keluhnya.


"Jangan di gituin terus, aku malu," kataku dengan jujur.


"Hehehe, terus gimana dong, aku suka kamu malu-malu gini, aku makin gemes Gi jadinya," rengek Naufal.


"Oh mau di gigit lagi ya?" ancamku lagi.


"Hehehe, nggak-nggak Sayang," tepis Naufal.


"Kita makan di luar sekalian apa gimana Sayang?" tanya Naufal.


"Aku ngikut kamu aja," jawabku.


"Waktu nya nanti nyampe nggak ya, takutnya nanti telat Sayang nyampe Rumah Mama," kata Naufal.


"Nah itu Mas, kita makan di Mama aja," tuturku.


"Ya udah Sayang," jawabnya.

__ADS_1


Bersamabung.....


Jangan lupa vote, like dan comment nyaa ya hehehehe


__ADS_2