
Beberapa hari kemudian, hingga tiba Naufal akan terbang ke
luar negeri.
“Ma, Papa jangan lupa makanannya ya Ma, Mama perhatiinn, jangan yang minyak-minyak,” ucapku pada Mama via telepo.
“Iya Nak,” jawab Mamaku.
“Ya udah Ma,Gia mau ngantar Mas Naufal ke bandara,” kataku.
“Iya Nak, hati-hati loh ya,” tutur Mamaku.
“Iya Ma, Assalamu’alaikum,” ucap salamku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mamaku.
“Mas, kamu udah siap?” tanyaku sambil berjalan
menghampirinya.
“Udah,” jawab Naufal.
Aku dan Naufal turun dari lantai atas, tak lupa kami
berpamitan dengan Abay yang masih mengaji.
“Abay, Papa berangkat ya, yang semangat belajarnya ya Nak,” tutur Naufal sambil mencium kening Abay.
“Iya Pa, Papa sama Mama hati-hati,”ucapnya sambil bersalaman dengan Naufal.
“Daaa Sayang,” ucap Naufal.
Mobil sudah siap di depan Rumah, kami berlari menuju mobil,
Naufal memasukkan koper silvernya ke bagasi mobil.
Naufal menancap gas mobilnya untuk segera ke Bandara.
“Sayang, aku sebenarnya khawatir loh sama kamu, ini pertama kalinya kamu nganterin aku ke Bandara, sendirian lagi,” ucap Naufal.
“Mas, nggak papa,” kataku.
“Nanti kan disana juga ketemu Susi, pasti nanti pulangnya
barengan kok meskipun nggak satu mobil,” rayuku.
“Heemm, iya deh, tapi nanti kamu jangan kebut-kebutan ya,
awas loh, ini sore jalannya rame,” tutur Naufal.
“Iya iya Mas, “ jawabku.
Aku jatuh merangkul lengan Naufal.
“Aku takut,” rengekku.
“Takut apa?” tanya NAufal.
“Takut kalo aku kangen sama kamu,” jawabku.
“Oh gini, mulai nih manjanya hm?" ucap Naufal sambil
tersenyum-senyum karena senang dengan tingkah manjaku.
“Huumm kenapa sih Mas, aku nggak ikut aja sama kamu,”
kataku.
“Nggak bisa Sayang, kan kamu kerja, terus sekolahnya Abay
gimana,” jawab Naufal.
“Nggak enak tau kalo di rumah nggak ada kamu,” rengekku lagi.
“Ini nih Sayang yang buat aku susah ninggalin kamu kemana-mana, mintanya ikut mulu, mintanya nempel mulu,” ejek Naufal.
“Namanya juga istri yang sangat mencintai suaminya Mas, ya jadi mau nggak mau kamu harus tanggung resikonya, hehhem,” kataku.
“Iya deh iya, eh kabar Papa gimana, tadi malem terakhir aku
WA sama Papa, katanya hari ini Papa udah mulai kerja ya?” tanya Naufal.
“Iya Mas, Papa udah mulai kerja, padahal baru aja dapet 3
hari bed rest,” kataku.
“Papa kamu itu pekerja keras banget, buat siapa?? Ya buat
keluarganya, ya kayak aku ini Sayang,” kata Naufal.
“Tapi Mas, kan sekarang anaknya udah kerja dua-duanya,
padahal berkali-kali loh aku bilang sama Papa buat istirahat aja di Rumah,” ujarku.
“Tapi Papa nggak mau kan?” tebak Naufal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja di lengan berotot
Naufal.
“Nah, seseorang itu selalu mencari kesibukan Sayang, kalo
nggak ada kesibukan nanti stress, ya kek Papa itu, malah banyak mikirin hal yang aneh-aneh,” tutur Naufal.
“Iya sih Mas,” jawabku.
“Nah iya, udah biarin Papa kerja tapi kamu bilangin, jangan
sampe kayak yang dulu-dulu Sayang, Papa nggak tidur seharian, terus kecapek an, nanti drop lagi,” kata Naufal.
“Iya nanti coba aku bilang sama Papa,” jawabku.
“Eh Sayang, kapan ya kita liburan ke luar negeri bareng satu
keluarga,” kata Naufal yang menggugah kedua mataku.
“Kenapa tiba-tiba kamu mikirin itu?” tanyaku.
“Ya aku bayangin enak aja gitu, sama Abay, pasti kita
bahagia banget,” jawab Naufal.
“Di luar negeri tanpa kamu tuh rasanya hampa, sepi, sama aja
seperti kamu di Indonesia tanpa aku, ya nggak?” goda Naufal.
“Apa sih hehem,” kataku sambil menyenggolnya dengan halus.
“Lo hiya loh Sayang, aku bener loh,” ucap Naufal.
“Tapi kalo kita ke luar negeri, kita kemana ya?” tanya Naufal.
“Kamu pengennya kemana?” tanyaku balik.
“Ke Swiss aja gimana, pasti seru tuh Sayang disana, hehehei
main salju,” kata Naufal.
Apalagi setelah Naufal mengatakan kata “Swiss” yang
terdengar oleh kedua telingaku, aku semakin ingin untuk liburan bersamanya ke luar negeri.
“Kamu pilih Swiss gara-gara itu kota impian aku ya Mas,
Switzerland kan,” kataku.
“Loh, ya iya lah Sayang, apa yang aku impi in lagi selain
ngebahagiain kamu,” jawab Naufal.
“Beneran kita ke Swiss Mas?” tanyaku.
“Loh ayo Sayang, aku sih mau-mau aja,” ucap Naufal.
“Tapi Mas, kan kita nggak bisa kesana, kalo kita liburan
kesana, kita ninggalin pekerjaan kita dong,” kataku.
“Iya pasti Sayang, dan itu kita liburannya nggak bisa lama,”
sanggah Naufal.
“Kita urungkan aja dulu ya Mas, nanti aja kalo Abay udah
besar udah remaja,” kataku.
“Heemm aku sih nurut aja sama kamu Sayang, kapan pun kamu mau, dan kemanapun aku sih siap-siap aja,” kata Naufal sambil tersenyum padaku.
“Kamu kenapa nggak dari dulu aja sih Sayang kesana, waktu
kamu masih remaja, atau pas kuliah,” kata Naufal.
“Sebenarnya dulu sih rencananya gitu Mas, tapi nggak deh, aku nggak mau, rasanya aku nggak tau diri banget Mas, Papa udah kuliah in aku sampe aku jadi Dokter seperti ini, kan dengan segala apapun yang Allah titipin ke keluarga aku tetap aku nggak boleh berleha-leha Mas, dengan gampang aku bisa pergi kesana kemari, kan aku juga harus usaha, kalo kata Papa bersakit-sakit dahulu, aku harus bisa dengan cara ku sendiri buat ke Swiss, ya meskipun Papa selalu ingin mengajakku kesana karena tau kalo Swiss itu kota yang paling aku suka, aku impikan, dan harus banget aku kesana, tapi untuk aku, nanti aja deh,” ucapku.
__ADS_1
“Loh kenapa gitu? Kan Papa yang ngajakin, kok kamu malah
nanti aja,” tanya Naufal.
“Sebenarnya dulu aku pengen ke Swiss sama Susi, sama
keluarga aku dan Susi juga, tapi kan aku maunya ke Swiss karena uang hasil keringat aku sendiri Mas, bukan dari Papa, rasanya beda gitu Mas kalo liburan pake uang hasil kerja sendiri, puas banget rasanya, tapi kan setelah aku lulus
ternyata Allah kasih jodohnya cepet jadi ya aku urungin lagi, tapi ya Alhamdulillah,” jawabku.
“Oh mungkin kalo kamu belum nikah sama aku, pasti kamu udah
liburan ke Swiss gitu maksud kamu?” tanya Naufal.
“Ya….ya bisa di bilang gitu Mas,” jawabku.
“Hummm berarti aku perusak mimpi-mimpi kamu nih,” kata
Naufal.
“Enggak Mas, enggak, bukan gitu, ya aku seneng dong, seneng banget, Papa udah nikahin aku, jadi kan aku bisa menambah 2 kursi buat suami dan anakku, kan lebih lengkap lagi Mas,” ujarku.
“Kenapa kamu milih Swiss, kenapa kamu nggak milih Jepang,
Korea, atau mungkin Belanda dan London, kan biasanya rata-rata yang di pengenin orang tuh kesana Sayang,” ucap Naufal.
“Kamu nggak tau sih Mas, betapa pengennya aku kesana,
alasannya panjang banget, belum bisa aku jawab sekarang,” jawabku.
“Aghem, pasti rahasia ya, sampe Kevin aja tau,” ejek Naufal.
“Apaan? Beliau tau nya kan seribu mimpi dari diary aku yang
pernah hilang, selebihnya aku kesana kenapa, ngapain dan nyari apa kan Pak Kevin nggak tau Mas,” bantahku.
“Ahahahahaha, iya iya, segitunya kalo ngomong,” ucap Naufal.
“Ya biar suamiku ini nggak salah paham,” kataku.
“Loh kok copy paste Hahahaha, Sayang…..Sayang,” kata Naufal sambil mencubit Pipiku.
“Kalo kamu pengennya kemana?” tanyaku.
“Aku pengennya yak e Swiss,” jawab Naufal.
“Mas….beneran, sebelum kamu tau aku pengen ke Swiss deh,”
rengekku.
“Kemana ya…….nggak ada sih,” jawab NAufal.
“Masak nggak ada?? Nggak mungkin lah Mas,” bantahku.
“Spesifiknya deh kamu pengen kemana?? Yang palinggggg kamu pengenin,” paksaku.
“Barcelona sama…….Emmmmm…..mana ya…..China kayaknya,” jawab Naufal.
“Kenapa China?” tanyaku.
“Kan kamu katanya bisa Bahasa mandarin, jadi harus di
manfaatkan dengan baik dong, hehehe,” canda Naufal.
“Mas…aku nanya nya serius an,” rengekku.
“Ya itu Sayang, Barcelona yang spesifik, tapi China juga
sih,” ucap Naufal.
“Huuum ya nanti kita keliling dunia,” ucap Naufal.
“Harus ya Mas, kamu harus janji,” ucapku.
“Iya aku janji Sayang,” kata Naufal.
Aku langsung memberi satu ciuman di pipi kiri Naufal.
“Eeehmmmm gini ya kalo nggak ada Abay,” ejek Naufal yang
membuatku malu.
Aku langsung melepas pelukan ku dari lengan Naufal dan memalingkan wajahku karena kedua pipiku yang mulai memerah.
“Hahahaha, bercanda Sayang,” ucapnya.
“Sini peluk lagi,” kata Naufal sambil mengangkat tangannya
agar aku segera memeluknya.
padanya.
“Loh kenapa nggak mau?? Kan nggak ada Abay,” ejek Naufal
lagi.
“Mas….jangan gitu ah,” ucapku yang akhirnya berani membuka
mulut.
.
.
.
.
.
Akhirnya kami pun sampai di Bandara.
***(Di Bandara)
Disana aku bertemu Susi dan juga Pak Bastian.
“Susiiiiii…..” panggilku sambil berlari untuk memeluknya.
“Heiii ya ampun sahabat aku, lama banget nggak main ke rumah kamu,” kata Susi.
“Maka nya kamu sering-sering main dong ke rumah aku,”
ucapku.
“Abay nggak ikut??” tanya Susi.
“Enggak, soalnya tadi Abay ngaji,” jawabku.
“Anakku pasti ikut lah Gi, kalo di rumah nanti sama siapa,”
jawab Susi.
“Nanti ke rumah aku yuk Si, kan pasti kamu di rumah juga
kesepian, kayak aku,” rengekku.
“Iya deh, pulang dari sini aku langsung ke rumah kamu,” ucap
Susi yang membuatku senang karena ada yang menemaniku.
Beberapa menit kemudian, Naufal berpamitan padaku, karena akan segera berangkat.
“Sayang, baik-baik ya di rumah,” tutur Naufal sambil memegang kedua tanganku
“Iya Mas,” jawabku yang sangat berat sebenarnya.
“Aku segera pulang kok, aku juga gak bisa lama-lama tanpa
kamu,” ucap Naufal.
Naufal langsung menarikku dan memelukku.
Aku memeluknya erat-erat.
“See you Sayang,” bisiknya di telingaku.
Setelah puas Naufal memelukku, Naufal dan Pak Bastian segera berjalan meninggalkan aku dan Susi.
“Baik-baik ya kalian,” ucap Pak Bastian.
“Iya Mas, Daaaaa,” jawab Susi.
Anaknya Susi menangis melihat Papanya yang pergi
meninggalkannya.
“Si, kasihan anak kamu nangis,” kataku.
“Ya gini Gi, udah biasa, tenang aja, nanati kalo udah di
telfonin Papanya pasti udah berhenti nangisanya,” jawab Susi.
Aku dan Susi harus segera pulang sebelum kemalaman.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sampainya di Rumah, mobil Susi mengikuti untuk masuk ke
halaman Rumah.
***(Di Rumah)
Aku bergegas turun dari monil.
“Yuk Si,” ajakku.
Kami berjalan beriringan masuk ke Rumah.
“Assalamu’alaikum, Bi ada Susi Bi,”panggilku.
Bi Sarah keluar dari Dapur dan langdung menyambut kami.
“Wa’alaikumsalam, waduh Mbak Susi,” jawab Bi Sarah sambil
bersalaman dengan Susi.
***(Di Ruang Tamu)
“Monggo Mbak Susi mau minum apa sama Adek lucu ini?” tanya Bi Sarah.
“Ada coklat nggak Gi?” tanya Susi padaku.
“Ada kok Si,” jawabku.
“Ya udah coklat panas aja Bi,” jawab Susi.
“Enggeh Mbak, sebentar Bibi buatkan,” ucap Bi Sarah yang
melangkah kea rah dapur.
“Emmm….Bi, Abay kemana ya?? Kok sepi di atas,” tanyaku.
“Dek Abay baru saja selesai les Mbak, terus ke kamar,” jawab Bi Sarah.
“Oh gitu Bi, ya udah,” kataku.
“Aku panggil Abay bentar ya Si,”ucapku.
Aku berjalan menaiki anak tangga untuk memanggil Abay di
kamarnya, belum sampai lantai atas Abay sudah keluar dna hendak turun ke lantai bawah.
“Nah kebetulan Mama mau manggil kamu, di bawah ada Tante Susi sama anaknya, ayuk turun,” ajakku.
“Tante Susi Ma??” tanya Abay dengan senang.
“Iya, itu di bawah, cepetan turun,” ajakku lagi.
Abay segera turun bersamaku ke Ruang Tamu.
Abay langsung bersalaman dan memeluk anak Susi.
“Dek, kita main ya?” ajak Abay pada anak Susi.
“Dia habis nangis Abay, tadi di tinggal Papanya waktu di
Bandara,” kata Susi.
“Hehe ayo Dek, aku punya mainan banyak banget di atas,”
ajak Abay.
Akhirnya anak Susi pun mau setelah di rayu-rayu oleh Abay.
“Minta Adik tuh Gi,” ejek Susi.
“Huuumm, kamu nih Si bisa aja,” jawabku.
Tak lama kemudian, Bi Sarah membawakan 3 cangkir coklat
panas.
“Monggo Mbak di minum,” ucap Bi Sarah sambil meletakkan satu per satu cangkir di atas meja.
“Heeemm lama nih nggak minum coklat panas di rumah ini,”
ucap Susi.
“Kalo disini coklatnya beda,” kataku.
“Emang loh Gi, aku cari-cari di café nggak ada yang rasanya
sama kek coklat di rumahmu ini,” puji Susi.
“Hehehee ya nggak lah Si, sama aja, kamu ini bisa-bisanya,”
kataku.
Aku bercerita banyak dengan Susi.
Malam semakin larut. Susi pun berpamitan pulang padaku.
“Gi, pamit ya, udah malem,” ucap Susi.
“Iya Si, bentar aku panggilin Abay sama anak kamu ya,”
kataku.
Aku berjalan untuk memanggil Abay dan Anaknya Susi.
“Abay, Adeknya pulang dulu yah,” ucapku.
“Yah, pulang ya Ma,” keluh Abay.
“Kan kapan-kapan main kesini lagi, ayo turun dulu,” ajakku.
Kami kembali di ruang tamu.
“Pulang ya Nak,” kata Susi pada anaknya.
“Besok besok main kesini lagi ya Abay, sekarang Adeknya
pulang dulu, udah malem, Abay kan juga mau tidur,” tutur Susi pada Abay.
“Iya Tante,” jawab Abay.
Aku mengantarkan Susi ke halaman depan Rumah.
“Hati-hati loh Si, ini udah malem, pelan-pelan aja asal
nyampek,” tuturku.
“Pasti lah Gi, udah ya aku pulang, Assalamu’alaikum,” salam
Susi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab ku.
Mobil Susi melaju untuk pulang, aku menggandeng Abay untuk
masuk ke Rumah.
***(Di Kamar Abay)
“Gimana tadi PR nya Abay udah selesai?” tanyaku yang tidur
di samping Abay.
“Udah Ma,” jawabnya.
“Ngajinya gimana??” tanyaku.
“Bisa kok Ma, Alhamdulillah,” ucap Abay.
“Ma, lomba nya Abay kan udah seminggu lagi, Papa datang nggak ya Ma?” tanya Abay.
“Papa pasti datang lah Nak,” jawabku.
“Tapi kan Ma, Papa kan seminggu ini kerja di luar negeri,”
rengek Abay.
“Lihat saja nanti, pasti Papa datang Nak,” tuturku lagi.
“Sekarang kita bobok ya,” ucapku.
“Iya Ma,” jawab Abay.
“Sini di peluk Mama,” kataku sambil memeluk Abay.
__ADS_1
Bersambung…..