Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 105 (Mistakes)


__ADS_3

Adzan shubuh berkumandang.


Aku bangun meskipun mataku sangat berat untuk kubuka.


Aku melihat Naufal yang tidur pulas di sampingku.


Ku tarik tubuhku untuk bangun.


Segera aku bergegas untuk mandi.


.


.


.


Setelah aku mandi ku bangunkan Naufal.


"Bangun," kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Saat Naufal mulai membuka matanya aku berdiri menjauh darinya.


Naufal melihatku tengah berdiri.


"Udah aku siapin airnya," kataku singkat sambil menata sajadah.


Naufal turun dari ranjang dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Aku menunggu Naufal yang sedang mandi sambil menyiapkan kemeja yang akan di pakainya.


.


.


.


.


Setelah Naufal mandi, kami melaksanakan sholats shubuh berdua.


Aku tetap bersikap seperti biasanya padanya. Karena aku menghargai dia sebagai suamiku, tapi aku juga tetap pada komitku.


Setelah selesai sholat, aku berberes untuk pergi bekerja.


Naufal melihat setiap gerak yang sedang aku lakukan.


Saat aku tengah berdiri di depan kaca, dari belakang Naufal melangkah mendekatiku.


Aku langsung berpura-pura mengambil sesuatu agar tidak terjadi perdebatan lagi diantara kita.


Aku menghindar darinya.


"Gi, kamu berangkat sama aku kan?" tanyanya.


Aku menghela nafas lalu menjawab perkataan Naufal.


"Ya," jawabku sambil menahan air kataku.


Lebih baik dia tidak berbicara padaku, dari pada harus membuatku menahan tangisan karena setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Naufal menunggunya sambil duduk di sofa, sedangkan aku sedang mengoles maskara pada bulu mataku.


Sesekali aku melihatnya.


"Turun aja dulu gak papa," ucapku.


"Enggak, aku nungguin kamu, kita harus tetep sama-sama," ucapnya.


"Bukannya kemarin kamu meninggalkanku Mas," ucapku dalam hati.


Naufal terus melihatku hingga aku risih karena pantulan tatapannya yang mengarah ke arah cermin.


Setelah selesai, ku ambil tasku.


"Sudah?" tanya Naufal.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan sibuk mengambil ponsel di tas agar tidak sampai menatap Naufal.


Kami menuruni anak tangga.


***(Di Ruang Makan)


Suasana seperti pagi kemarin, tidak ada topik yang kami bicarakan, hanya suara piring yang bergesek dengan sendok dan garpu.


Bi Sarah, Pak Joko, Pak Rusdi dan yang lainnya merasakan adanya hal yang berbeda dari kami, tetapi mereka memilih untuk diam dan tidak bertanya.


Setelah selesai makan, aku segera pamit pada Bi Sarah.


"Bi, Gia berangkat ya, Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya.


Aku berjalan menuju garasi bersama Naufal.


Kami langsung masuk ke dalam mobil.


Naufal langsung menancap gasnya.


Di dalam mobil, Naufal memberanikan diri untuk meraih tanganku.


Dan akhirnya tanganku berhasil dalam genggamannya, tetapi membuang pandanganku ke arah luar jendela mobil.


Naufal berkali-kali menciumi tanganku.


"Aku nanti mau keluar sama Bastian, boleh kan?" ucapnya.


"Jika kamu ingin ya silahkan, itu hak kamu," jawabku sambil ku telan saliva ku.


"Enggak, aku nggak mau Gi, aku gak mau kamu giniin, serasa gak ada yang peduli sama aku," ucapnya.


Aku hanya diam tak menjawabnya.


Sampai akhirnya tiba di Rumah Sakit.


***(Di Rumah Sakit)


Setelah turun dari mobil, aku langsung berjalan meninggalkan Naufal karena Naufal di hampiri oleh Pak Bastian.


"Belum selesai?" tanya Pak Bastian.


"Tau," jawab Naufal sambil mengangkat kedua pundaknya.


"Aaassshh, ini nih Fal yang Gue khawatirin sama Lo, bakalan panjang urusannya," ucapnya.


"Udah lah Bas, memang salah Gue," ucap Naufal.


Pak Bastian menepuk pundak Naufal.


"Tenang Fal, Gue pasti bantuin Lo, kapan pun Lo minta dan butuh Gue," ujar Pak Bastian.


Di ruanganku.


Aku duduk memikirkan Naufal.


"Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu padaku," ucapku dalam hati.


Saat aku keluar dari ruanganku dan membuka pintu, Naufal berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tangannya ke belakang.


Aku kaget melihatnya, aku langsung menunduk di hadapannya.


Aku langsung berjalan meninggalkan nya, tapi Naufal menarik lenganku.


"Maaf, aku sibuk," kataku.


"Aku mohon Gi, sebentar saja," ucapnya.


"Pasienku sudah menunggu," kataku.


Naufal melepaskan tanganku, aku melangkah kembali meninggalkannya dengan mataku yang sudah berkaca-kaca.


Perlahan aku hilangkan semua pikiran tentang Naufal.


Aku fokus untuk bekerja.


Dalam ruang periksa, aku terhibur oleh celotehan para pasienku.


Mereka menghiburku.


"Dokter, senyum dong Dok," ucap seorang pasien yang sudah tua.

__ADS_1


"Hehehem," aku tersenyum pada mereka.


"Dokter jangan sedih sedih," ucap pasien itu.


"Saya nggak sedih, cuman lagi ini aja," ucapku yang langsung terpotong olehnya.


"Lagi ada masalah?" tanya pasien itu.


"Hehehem," jawabku hanya tersenyum pada mereka.


.


.


.


.


Beberapa jam waktu telah ku habiskan, matahari sudah terik tepat di tengah antara belahan bumi.


Saat aku baru saja keluar dari ruang ICU, aku berpapasan dengan Naufal yang sedang berjalan beriringan dengan Dokter Irene.


Aku sama sekali tidak melihat Naufal, tetapi Naufal terus menoleh padaku, aku benar-benar menghiraukannya.


"Fokus Gi, kamu disini kerja, jangan sampe pekerjaanmu terganggu oleh masalah mu dengan Naufal," kataku dalam hati.


Ku percepat jalanku menuju mushola.


***(Di Mushola)


Pak Bastian menghampiriku.


"Gi," panggilnya.


"Iya?" jawabku.


"Lagi marahan sama Naufal?" tanya Pak Bastian.


Krik krik krik krik....... Suasana diam seketika.


"Engh.....enggak kok Pak," jawabku karena tidak ingin orang lain tau keadaan masalah rumah tanggaku.


"Saya permisi dulu Pak," kataku yang langsung berdiri meninggalkannya untuk mengambil air wudhu.


.


.


.


.


.


.


Setelah selesai sholat, saat aku tengah berjalan sendirian, Pak Bastian memanggilku kembali.


"Gi, eh Dok," panggilnya karena di dengar oleh orang sekitar.


Aku menoleh dan menghentikan langkah kaki ku. Pak Bastian berlari menghampiriku.


"Ada apa ya Pak?" tanyaku.


"Aku tau masalahmu dengan Naufal Gi," ucapnya.


"Maksud Bapak?" tanyaku lagi sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Aku tau hubunganmu dengan Naufal sedang tidak baik," tebaknya.


"Udah gak usah sungkan-sungkan lagi Gi, aku tau semuanya," ucap Pak Bastian.


Kami berjalan beriringan sambil Pak Bastian menjelaskan padaku.


"Jadi gitu Gi ceritanya, setelah dia tau cerita sebenarnya, mobilnya langsung di belokin Gi, aku aja panik banget baru tau dia kek gitu," ucap Pak Bastian.


Aku hanya mendengarkannya saja.


"Memang sih Gi, aku belum nglakuin apa yang kamu lakuin sama Naufal, ya contohnya berumah tangga, tapi seenggaknya semua kesalahan tidak hanya ada pada Naufal Gi," ucap Pak Bastian.


"Aku tau Naufal salah, bahkan jika aku berada di posisi Naufal, pasti aku juga akan di salahkan, tapi apakah kamu akan siap jika akan kehilangannya?" pertanyaan Pak Bastian membuatku melongo dan menghentikan langkah kakiku.


"Maksud Bapak, kehilangan gimana?" tanyaku.


Dan ternyata Naufal menghampiri kami dari belakang.


Aku langsung beralih menjauh dari mereka.


"Saya permisi," kataku langsung berjalan meninggalkan mereka.


Aku kembali menjalankan pekerjaanku.


Dan aku juga memikirkan kata-kata Pak Bastian.


"Pak Bastian kenapa begitus serius bilang seperti itu sama aku," kataku dalam hati.


"Aaaah sudahlah," ucapku pasrah.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah semakin sore, Naufal menjemputku di ruanganku.


Naufal berdiri memperhatikanku yang sedang berberes.


Selesai berberes aku berjalan mendahului Naufal, tapi Naufal tetap diam di temparnya berdiri.


Ku kembali lagi, dan membuka pintu ruanganku.


"Nggak pengen pulang," kataku langsung berjalan meninggalkannya.


Naufal mengikutiku dari belakang.


.


.


.


.


.


***(Di Parkiran)


Sampai di parkiran, aku langsung masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Naufal.


Segera Naufal melajukan mobilnya.


Naufal ingin meraih tanganku kembali, dengan cekatan aku berpura-pura mengambil sesuatu di dalam tas.


Selama di dalam mobil pandanganku terus beralih tanpa melihatnya.


"Tadi kamu ngobrolin apa sama Bastian?" tanyanya.


"Gak ada," jawabku.


"Iiisshh, nanti aku ijin bentar ya keluar sama Bastian," ucap Naufal lagi.


"Silahkan saja," jawabku singkat.


"Gia masih sangat dingin padaku, apa yang harus aku lakukan supaya semuanya pulih Ya Allah," gumam dalam hati Naufal.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Akhirnya kami sampai di Rumah.


***(Di Rumah)


Setelah mobil Naufal berhenti, langsung ku buka pintu mobil dan masuk ke Rumah tanpa menunggu Naufal terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum," ucap salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Aku hanya tersenyum pada Bi Sarah dan langsung menaiki anak tangga.


"Gusti, meskipun mereka yang sedang ada masalah, tapi aku sungguh juga merasakannya, kasihan Mbak Gia sama Mas Naufal, sebenarnya apa masalah mereka sampai Mbak Gia semarah ini," gumam dalam hati Bi Sarah.


Tak lama kemudian Naufal menyusul mengucap salam pada Bu Sarah.


"Assalamu'alaikum," ucap Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Naufal langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tuh kan, Mbak Gia sama Mas Naufal aja sendiri sendiri masuk dalam rumah," gerutu dalam hati Bi Sarah.


***(Di Kamar)


Saat Naufal masuk ke kamar, dia tidak melihatku, karena setelah aku masuk ke kamar, aku langsung meletakkan tas ku lalu bergegas untuk mandi.


"Gia cepet banget ilangnya," gumam dalam hati Naufal.


"Semua ini harus cepet berakhir, aku tidak bisa jika terus-terusan seperti ini, aku rindu di pedulikan oleh Gia," gumamnya lagi.


Naufal kembali turun ke bawah.


Naufal mencari-cari Bi Sarah, akhirnya dia menemukan Bi Sarah yang tengah duduk-duduk di halaman belakang Rumah.


***(Di Halaman Belakang)


"Bi," panggil Naufal.


"Iya Mas?" jawab Bi Sarah.


Naufal duduk di samping Bi Sarah.


"Bi, Naufal mau ngomong sama Bibi," ucap Naufal sambil menggenggam kedua tangannya.


"Ada apa Mas? Sepertinya sangat serius sekali," tanya Bi Sarah.


"Ini tentang Gia sama Naufal Bi," keluh Naufal.


"Pasti ini tentang masalah yang sedang ada pada Mbak Gia sama Mas Naufal," tebak Bi Sarah dalam hati.


"Memangnya kenapa Mas? Mas Naufal dan Mbak Gia sedang ada masalah?? Eemmm......tapi maaf loh Mas, bukannya Bibi ikut campur," ucap Bi Sarah dengan gagap.


"Gak papa kok Bi, memang Naufal sama Gia sedang ada masalah, ceritanya panjang banget Bi, yang pengen Naufal tau, Bibi ngerasa beda nggak sih lihat Gia yang sekarang?" tanya Naufal.


"Ya......ya beda Mas, biasanya Mbak Gia sangat periang, ini sepertinya murung terus Mas meskipun Mbak Gia selalu melontarkan senyumnya pada setiap orang disini," ucap Bi Sarah.


"Mbak Gia sampai semarah itu ya Mas??" tanya Bi Sarah yang membuat Naufal terkoyah hatinya.


"Loh, memang......memangnya selama ini Gia nggak pernah semarah ini Bi?" tanya Naufal lagi.


"Setau Bibi ya Mas, selama Bibi kerja sama Mamanya Mbak Gia, Bibi nggak pernah melihat Mbak Gia seperti ini Mas," jawab Bi Sarah.


"Sifat Gia yang sebenar-benarnya itu gimana sih Bi?? Naufal kadang susah menebaknya, dia bisa dengan mudah memaafkan semua orang sekalipun dia disakiti, tapi untuk yang ini??? Dia berbeda Bi," keluh Naufal.


Bi Sarah merasa kasihan dengan Naufal.


"Mbak Gia sebenarnya nggak pernah semarah ini Mas, memang benar apa yang di bilang Mas Naufal tadi, mungkin gini ya Mas, kan Mbak Gia nggak pernah sedikitpun memberi pendapatnya pada Mama dan Papanya, seperti misal gini Mas, biasanya seorang gadis setelah lulus SMA pasti dia sudah punya impian pengen masuk kampus mana, sedangkan hidup Mbak Gia ini sangat berbeda jauuuhhh sekali dengan mereka, jadi semua yang dilakukan Mbak Gia sudah terkontrol dan tertata sejak dulu Mas, dan Mbak Gia nurutin apa kemauan Mama dan Papanya, Mbak Gia juga nggak pernah ngeluh Mas, tapi kalo marahnya Mbak Gia sudah seperti ini, susah Mas," kata Bi Sarah.


"Gitu ya Bi,.......Naufal bingung Bi, harus gimana lagi?" ucap Naufals sambil menundukkan kepalanya dan memijata alisnya.


"Mas Naufal sabar aja, Bibi tau Mas, hati Mbak Gia nggak sekeras itu," tutur Bi Sarah.


"Huufftt iya Bi, lagian ini juga salah Naufal," kata Bi Sarah.


"Naufal sedih Bi, Gia bersikap seperti ini sama Naufal, padahal Naufal sangat mencintainya Bi, Naufal rela nglakuin apa aja Bi buat Gia, asal Gia bahagia, Gia gak sedih, Gia gak marah sama Naufal, bahkan Naufal gak bisa Bi kalo sampe......Kalo sampe ditinggalin sama Gia Bi," keluh Naufal.


.


.


Sedangkan aku, mendengar semua pembicaran mereka dan sengaja mengupingnya.


Setelah aku mendengar kata itu dari Naufal, air mata ku menetes membasahi kedua pipi, aku langsung berlari menuju kamar.


Tak lama kemudian Naufal menyusulku dalam kamar.


***(Di Kamar)


Aku duduk di sofa sambil membaca majalah.


"Airnya udah siap, tinggal mandi," tuturku.


Naufal tidak masuk ke kamar mandi, melainkan dia duduk berjongkok di samping sofa dan tangannya merangkul di pinggangku.


Dia menatapku, tapi aku sama sekali tidak menatapnya.


Aku berusaha menghindar darinya lagi.


Aku turun dari sofa.


"Keburu asharnya habis," kataku sambil berdiri dan berjalan mengembalikan majalah yang ku baca.


Naufal langsung berjalan masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit Naufal selesai mandi, kami segera melaksanakan sholat ashar bersama.


Setelah sholat aku berjalan menuju ruang ganti baju untuk mengembalikan mukenah, sajadah, dan sarung yang sudah terpakai.


Naufal kembali mengikutiku. Lalu dia memelukku dari belakang.


Aku hanya berdiri kaku saat itu.


Naufal mengendus-endus di pundakku.


"Biarin aku seperti ini terus Gi," ucapnya di pundakku.


"Aku harus gimana biar kamu kembali lagi seperti dulu Gi?? Hm? Bilang sama aku, aku akan nglakuin semua apa yang kamu mau Gi," ucapnya.


"Lepas Mas," kataku sambil menarik tangannya agar terlepas dariku.


"Enggak Gi, aku gak mau lepasin kamu," ucapnya.


Terus ku paksa tangan Naufal agar terlepas dariku, saat sudah berhasil terlepas, Naufal malah menarikku kembali dan aku jatuh dalam pelukannya, tanganku hanya diam tidak membalas pelukan Naufal.


"Bilang Gi sama aku, aku harus ngapain ke kamu??!! Aku harus gimana Gi??!! Bilang sekarang Gi," ucap Naufal.


Aku menangis di pundaknya.


"Ayo Gi, bilang sama aku, aku nggak mau kehilangan kamu Gi," ucap Naufal.


"Aku rela Gi jika kamu menyuruhku untuk tidak menemui Noni, untuk terus bersamamu setiap waktu," ucap Naufal.


"Bukan berarti aku seperti ini, untuk menjauhkan mu dari saudaramu Mas," kataku.


Aku melepas pelukan Naufal, dan aku berlari menjauh dari Naufal.


Bersambung.....

__ADS_1


Untuk readers ku yang istimewa, jangan galau, jangan sedih, semua masalah pasti akan segera berakhir, begitu juga dengan Naufal dan Gia hehehehe.


Selamat membaca...😁🖤


__ADS_2