
Dengan senang hati aku bersiap-siap untuk pergi bersama Naufal.
Beberapa menit setelah aku selesai berbaris dengan memakai gamis berwarna abu gelap, dengan memakai heels.
Naufal langsung mengajakku turun ke bawah.
Di bawah kami bertemu dengan Pak Rusdi dan juga Bi Sarah.
"Waduh Mbak Gia sama Mas Naufal mau ke mana nih," goda Bi Sarah karena melihat kita yang sedang bergandengan kembali dan bertingkah romantis kembali.
"Nggak tau nih Bi Mas Naufal," jawab ku sambil malu-malu.
"Kalo gini kan kami lihatnya seneng Mas," sahut Pak Rusdi.
"Yaaaa memang terkadang suatu rumah tangga itu tidak selalu berjalan dengan mulus Pak, jadi ya pasti ada kerikil-kerikil nya, hehehe," ucap Naufal.
"Hehehe iya sih Mas bener," kata Pak Rusdi.
"Monggo monggo kalo mau keluar Mbak Mas," kata Bi sarah.
Aku semakin tersiksa malu dibuatnya.
"Ya udah Bi, Pak, saya sama Gia keluar dulu ya," pamit Naufal
"Assalamu'alaikum," salam kami pada mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Rusdi dan juga Bi Sarah bersamaan sambil tersenyum melihat kita yang sedang berjalan menuju garasi mobil.
Setelah kami masuk ke dalam mobil Noval dengan tingkah romantisnya kembali memakaikan seat belt untukku.
Saat dia memakaikan seat belt dia tak kunjung menjauhkan wajahnya dariku melainkan dia malah mencium keningku mencium pipiku mencium daguku mencium hidungku dan mencium kedua mataku.
Aku hanya bisa tersenyum dan memojokkan posisiku pada saat itu dengan jantungku yang berdebar-debar karena tingkahnya.
Sikap Naufal yang seperti ini yang bisa membuatku bahagia dan tidak ingin jauh darinya.
Dia terus memandangi wajahku dan juga membelai pipiku.
Pipiku mulai memerah.
"Mas kita nggak jadi perginya?" tanyaku sambil tersenyum senyum padanya.
Naufal menundukkan wajahnya.
"Iiisshh, aku sampe kelupaan Gi," ucapnya lalu menancap gas mobilnya.
Bimm...bimm. Suara klakson Naufal untuk menyapa Pak Joko yang setia membuka dan menutup gerbang untuk kami.
Dalam mobil, Naufal berkali-kali melirik padaku, sebenarnya aku tau tapi aku hanya diam karena aku malu.
__ADS_1
"Kita mau kemana sih Mas?" tanyaku.
"Kita mau nonton, mumpung usia kehamilan kamu masih muda, jadi aku pengen puas-puasin dulu sama kamu, nyenengin kamu, kan kalo nanti kita udah punya anak kan kita bakalan perginya bertiga, jadi untuk sekarang aku pengen nyenengin kamu sebelum kamu nanti menggendong seorang bayi untuk ku," ejek Naufal.
"Kamu kok tau banget kalo aku lagi pengen nonton, dari kita pertama kenal sampai sekarang, bisa dihitung loh Mas kita pernah nonton berdua berapa kali," kataku.
"Emang sebelum-sebelumnya kamu nggak pernah nonton Sayang?" tanya Naufal.
"Pernah lah, mana mungkin nggak pernah," jawab ku.
"Maksud aku, kan kalo nonton sama temen kan udah biasa, maksud aku kamu pernah nggak nonton sama seseorang gitu yang menurut kamu spesial," tanya Naufal lagi.
"Eemmm.......Pernah sih pernah," jawab ku sambil menaikkan satu alisku.
Naufal langsung menarik kedua sudut bibirnya ke bawah seperti bulan sabit yang tengah terbalik di malam hari.
"Sama siapa emangnya?" tanya Naufal dengan nada yang mulai ketus padaku.
"Ya sama Papa sama Mama sama Johan mereka kan spesial buat aku," jawab ku.
"Sama Pak Kevin?" tanya Naufal lagi yang sepertinya semakin penasaran padaku.
"Ya enggak pernah lah, nggak mungkinlah Aku nonton sama Pak Kevin buat apa coba," jawab ku.
"Kalo kamu pasti pernah kan sama Vela?" tanyaku.
"Pernah sih, namanya juga sahabat Gi," jawab Naufal.
"Tapi kalo sama kamu beda," kata Naufal sambil meraih tanganku.
"Kalo biasanya cewek minta movie romance, kalo kamu beda Gi, kamu malah mintanya yang horor, padahal takut," ejek Naufal.
"Kalo movie romance rasanya biasa aja sih mending lihat sendiri di rumah, kalo horor lebih menantang sih kalo menurut aku," kataku
"Kenapa sih disaat kita lagi berdua selalu membahas masa lalu kita, Hm?" tanyaku sambil menoleh padanya.
"Karena aku pengen lihat Kamu tiap hari cemburu sama aku, berarti tandanya kamu tambah cinta sama aku," jawab Naufal dengan sangat manis padaku.
"Jadi aku mancing-mancing deh ke kamu," kata Naufal.
Beberapa menit kemudian, setelah kami berbincang-bincang tak terasa kami sampai di sebuah Mall.
***(Di Mall)
Setelah menunggu parkiran mobil yang lumayan cukup panjang akhirnya mobil berhasil terparkir kan di lantai 4.
Saat kami turun dari mobil, Naufal langsung menghampiriku lalu menggandeng tanganku dan kita masuk ke dalam Mall itu.
Tiba-tiba ponsel Naufal berbunyi.
__ADS_1
Dan Naufal segera mengangkat telepon itu.
"Halo Assalamu'alaikum," ucap Naufal.
"Wa'alaikumsalam Fal, Fal Noni nyariin kamu terus, badannya demam lagi ini malah makin parah sampai kejang-kejang, kamu bisa nggak kesini sekarang," jawab Mama Noni dengan sangat gugup dan sepertinya dia menangis.
Naufal langsung menatapku.
"Tapi ini aku lagi di luar sama Gia," jawab Naufal.
"Aku mohon Fal, dia kejang-kejang nya parah, tadi dia manggil manggil kamu terus, aku bilang bentar ya nanti Uncle Naufal ke sini dan ternyata dia makin parah seperti ini, aku bingung harus gimana?? Aku mau bawa dia ke rumah sakit sendiri sama Bibi tapi aku takut nanti dia tetep nyariin kamu," kata Mama Noni.
Aku tauu wajah kebingungan Naufal dia harus berpihak pada siapa sekarang.
"Udah kita nonton lain kali aja ya, nggak papa kok Mas," ucapku.
"Tapi Gi," kata Naufal.
"Udah nggak papa masih banyak waktu," kataku.
"Kamu beneran Gi, nanti kamu marahan sama aku lagi," kata Naufal.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja pada Naufal.
"Ya udah sekarang kamu bawa Noni ke rumah sakit tempat aku kerja, nanti aku sama Gia langsung ke sana," ucap Naufal pada Mama Noni via telepon.
"Ya udah Fal,oke oke maaf ya aku ngerepotin kamu, maaf," kata Mama Noni.
"Iya Iya gak papa, yang penting sekarang kamu bawa Noni aja ke sana," jawab Naufal yang sangat khawatir dengan Noni.
Setelah Naufal menutup telepon dari Mama Noni Naufal langsung menggandeng tanganku begitu kuat dan masuk ke dalam mobil.
Naufal langsung melajukan mobilnya keluar dari Mall itu dengan kecepatan tinggi.
"Sayang maafin aku ya, Aku benar-benar minta maaf sama kamu, nonton kita jadi tertunda," kata Naufal.
"Kenapa minta maaf, udah jangan gitu, nggak apa-apa kok, kita masih punya banyak waktu buat nonton, tapi keselamatan Noni lebih penting Mas," tuturku.
"Kamu beneran kan nanti kamu nggak marah lagi sama aku kamu nggak dirimu lagi sama aku," ucap Naufal.
"Enggak lah Mas, kan kemarin aku marah sama kamu karena posisiku sedang dalam bahaya dan terancam Mas," kataku.
"Kamu beneran kan, aku nggak mau loh kamu diem diem lagi sama aku," rengeknya.
Iya Mas, gak papa kok," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Nyawa Noni lebih penting dari pada kita Mas, karena kamu di beri amanah dan tanggung jawab penuh dari sepupumu, jadi aku yang harus mengalah, huuuum, aku nggak boleh egois, aku juga tau perasaan Naufal yang bimbang, aku tidak ingin membebaninya dengan egoku," gumamku dalam hati.
Naufal benar-benar melajukan mobilnya sangat kencang, tampak sangat cemas yang tergambar di wajah Naufal.
__ADS_1
Bersambung......