
Gia pergi meninggalkan ruangan itu, saat melewati taman, Gia melihat seorang wanita yang tengah duduk disana sambil menangis dan melamun. Gia merasa penasaran dan berniat menghampiri wanita itu.
“Maaf Mbak, saya boleh duduk sini?” tanya Gia pelan-pelan.
Wanita itu menganggukkan kepalanya.
“Kalo boleh tau Mbak namanya siapa?” tanya Gia lagi.
“Saya Meira,” jawab Meira singkat.
“Saya Dokter Gia Mbak. Maaf kalo boleh tau kenapa Mbak duduk disini? Mbak lagi nunggu siapa?” tanya Gia sambil menoleh ke kanan dan kirinya seperti sedang mencari seseorang.
Meira semakin menangis ketika Gia menanyakan hal itu. Gia
merasa kasihan dengan Meira.
“Kalo ada yang mau di ceritain silahkan Mbak, barangkali
saya bisa membantu,” tutur Gia.
“Saya rindu sama Mama saya Dok, dulu Mama saya sering sekali duduk disini, Mama saya di rawat disini lama banget Dok, karena beliau mengidap penyakit kanker otak, tapi sekarang beliau sudah meninggal Dok,” ucap Meira.
“Maaf Mbak, saya nggak bermaksud buat mengingat hal itu
kembali,” kata Gia.
“Saya rindu sekali Dok, Papa saya juga gitu sangat sibuk
sekali dengan bisnisnya, saya butuh teman Dok,” keluh Meira dengan tangisnya.
Gia sangat kasihan dengan Meira, Gia mencoba menenangkan
Meira dengan memeluknya.
“Kalo Mbak berkenan berteman sama saya, silahkan Mbak, saya siap mendengar semua cerita Mbak,” kata Gia dengan polosnya.
“Makasih ya Dok,” jawab Meira.
Gia melihat adanya cincin yang melingkar di jari Meira.
“Suami Mbak dimana?” tanya Gia.
“Saya belum juga menikah Dok, tapi saya sudah tunangan, saya sangat mencintai tunangan saya, tapi sepertinya dia mencintai wanita lain Dok,” ucap Meira.
“Sabar ya Mbak,” tutur Gia sambil mengelus-elus lengan
Meira.
“Memang ini salah saya Mbak, dulu saya kurang terbuka dengan dia Dok, saya meninggalkan dia demi merawat dan menemani Mama saya disini,” kata Meira.
“Dia tidak mencintai saya lagi Dok, dia sudah mencintai
wanita lain,” ucap Meira dengan tangisnya yang menggila.
“Mbak gak boleh nyerah gitu ya, takdir nggak ada yang tau
Mbak,” tutur Gia.
“Maaf ya Mbak saya gak bisa lama-lama nemenin Mbak disini
soalnya saya harus menangani pasien saya, tapi lain waktu pasti kita akan bertemu kembali,” ucap Gia dengan ramah.
“Iya Dok, makasih, seenggaknya saya punya teman sharing aja udah cukup Dok,” kata Meira sambil mengusap air matanya.
“Maaf ya Mbak saya harus bertugas kembali,” ucap Gia sambil
berjalan meninggalkan Meira.
Setelah beberapa jam telah berlalu, hari semakin sore, Gia
dan Naufal telah menyelesaikan pekerjaannya, mereka memutuskan langsung pulang
ke rumah.
***(di Rumah)
Sampai di rumah, Naufal memarkirkan mobilnya dan langsung
menaiki anak tangga menuju ke kamarnya bersama Gia.
“Gi, kamu mandi dulu ya,” perintah Naufal sambil melepas
sepatunya.
“Iya,” jawab Gia singkat.
Naufal merasa ada yang berbeda dari Gia, Naufal mendekati
Gia, dan menarik dagu Gia.
“Hei ada apa? Apa aku nglakuin kesalahan sama kamu? apa gara-gara tadi Bastian,” tanya Naufal.
Gia hanya menggelengkan kepalanya.
“Terus kamu kenapa Gi? Hmm? Kamu capek? Atau ada masalah tadi di rumah sakit?” tanya Naufal lagi.
“Enggak, bukan itu, aku kasihan aja sama Meira,” rengek Gia.
“Meira? Meira siapa?” tanya Naufal sambil mengernyitkan
__ADS_1
kedua alisnya.
Gia menceritakan semua tentang Meira kepada suaminya.
“Gia, kamu jangan sembarangan kenal orang,” tutur Naufal.
“Apaan sih kamu, aku kasihan sama dia,” bantah Gia sambil
membuang mukanya dan mengambil handuknya.
“Tapi kamu gak boleh sembarang langsung berteman gitu Gi,
siapa tau dia nipu kamu hayo?” bantah Naufal balik.
“Kasihan loh Fal, coba aja kamu di posisi Meira, aku bisa
respect sama dia soalnya aku pernah ngrasain di posisi dia Fal, kita pernah merasakan hal yang sama, mencintai seorang pria yang sama sekali tidak mencintai kita, sakit loh Fal kayak gitu tuh!” kata Gia agak judes sambil menyindir Naufal.
“Kamu kok jadi marah gini sih cuman gara-gara Meira,” jawab
Naufal sambil melepas jam tangannya.
“Kamu sih ngeyel dari tadi, di bilangin juga,” ucap Gia yang
tak kunjung masuk ke kamar mandi karena harus debat dengan suaminya.
“Iya iya Gia sayang aku ngerti, udah dong marahnya, masak
cuman gara-gara Meira kita jadi gini,” ejek Naufal.
“Iiih kamu mah gak bisa serius,” ucap Gia dengan tersipu
malu dan menabok Naufal dengan handuknya.
“Iiiiih sadis banget sih kamu,” ejek Naufal lagi.
“Biarin, weeeeekkk,” ucap Gia sambil masuk ke dalam kamar
mandi.
Setelah mereka selesai mandi dan sholat, Gia turun ke dapur
untuk membuatkan sandwich suaminya.
***(di Dapur)
“Eh Bi Sarah,” sapa Gia.
“Mbak Gia mau ngapain?” tanya Bi Sarah.
“Ini mau buatin Naufal sandwich Bi,” jawab Gia sambil
“Sini biar Bibi buatin Mbak, jadi Mbak Gia nggak perlu
repot-repot,” tutur Bi Sarah.
“Enggak usah Bi gak papa,” ucap Gia sambil mengambil irisan
kejunya.
“Ya udah kalo gitu Bibi ke kamar dulu ya Mbak,” pamit Bi
Sarh.
“Iya Bi,” jawab Gia sambil tersenyum pada Bi Sarah.
Saat Gia mulai menyusun tumpukan isi sandwich, Naufal
berjalan menghampirinya.
“Buatin siapa?” tanya Naufal sambil mengambil air dingin di
kulkas.
“Ada deh kepo banget,” jawab Gia datar.
“Kok gitu kalo jawab,” kata Naufal.
“Ya buat kamu lah, buat siapa lagi?” ucap Gia sinis.
“Kirain buat tamu spesial kamu, siapa tau buat fans kamu,” ejek Naufal.
“Enggaklah, bagiku orang yang paling spesial setelah Mama dan Papa aku adalah kamu,” ucap Gia yang membuat hati Naufal berdebar tak karuan.
“Adduuuuh kok jadi gini sih,” gumam Naufal dalam hatinya
sambil mendekapkan tanganya di dadanya.
“kamu kenapa? Dada kamu sakit?” tanya Gia.
Naufal malu karena Gia mengetahui tingkah konyolnya itu.
“Ooooh ini, ini gatel Gi,” ucap Naufal.
“Ya udah makan ini nya,” perintah Gia sambil membawakan
sandwich ke depan TV.
Naufal duduk berdampingan dengan Gia.
__ADS_1
Naufal mengambil remote TV nya dan mengganti chanelnya
dengan film action.
“Kok ini sih film nya,” ucap Gia sambil merebut remote dari
Naufal.
“Ini udah yang paling bagus Gia,” tutur Naufal.
Gia mengganti chanel TV nya dengan acara kartun.
“Ini nih baru bagus Fal,” tutur Gia ganti.
“Aduuuuh Gia, udah ya, kamu bukan bocah lagi Gi,” rengek
Gia.
“Pliisss lah Fal, ya?” rayu Gia dengan mendekapkan kedua
telapak tangannya.
“Iiiih kamu mah, udah punya suami juga nontonnya kayak
beginian, gak seru ah kamu,” keluh Naufal dengan raut muka yang kesal.
“Ya udah ni remote nya, nurutin istri sekali aja ngomel-ngomel langsung, ganti film kamu sana, aku nonton di kamar aja,” kata Gia sambil memonyongkan mulutnya.
Naufal sepertinya tau jika istrinya ngambek kali ini.
Naufal menarik pergelangan tangan Gia, Gia terjatuh di depan
wajah Naufal, mereka saling menatap.
Deg…….deg……deg..
“Kok deg-deg an gini sih di depan Gia, apa jangan-jangan aku
jantu cinta sama Gia?” dalam hati Naufal bertanya-tanya.
Gia membuyarkan moment langka mereka berdua.
“Ngapain lihatin aku gitu,” ucap Gitu.
“Iya iya ini remote nya buat kamu,udah ah gak usah pake
acara ngambek segala, nih kartunnya nih,” tutur Naufal.
“Hehehehe, gitu dong dari tadi,” jawab Gia.
Mereka menikmati moment berdua malam itu.
Ting tong……ting tong.
Bel rumah berbunyi, Gia segera membuka pintu rumahnya.
Gia terkejut melihat Meira yang ternyata tau alamat
rumahnya.
“Mbak Meira, kok tau alamat rumah saya?” tanya Gia.
“Saya tanya-tanya admin rumah sakit Dok,” jawab Meira.
“Ya udah mari masuk,” perintah Gia.
Gia mempersilahkan Meira untuk duduk, dan Bi Sarah
memberikan jamuan untuk tamu Gia.
“Ada apa Mbak?” tanya Gia.
“Enggak, saya cuman pengen ke sini aja Dok,” jawab Meira.
“Mbak Meira kapan menikah? Jangan lupa undang saya,” ucap
Gia mencoba untuk menghibur Meira.
Tiba-tiba raut wajah Meira berubah menjadi sedih.
“Eeeeem Maaf Mbak, saya tidak bermaksuduntuk menyinggung,” tutur Gia.
“Saya belum tau kapan menikah, karena tunangan saya masih
mengurungkan niatnya untuk menikahi saya, karena dia masih sangat mencintai wanitanya, tapi saya sangat mencintainya Dok,” jawab Meira.
Meira menceritakan semua tentang tunangannya pada Gia, Gia sangat merasa kasihan pada Meira.
Beberapa jam setelah mereka berbincang Meira berpamitan
untuk pulang karena merasa tak enak dengan Gia.
Bersambung......
Nantika episode selanjutnya yaa🙏😊
jangan lupa vote, like dan comment
Tunggu kejutan selanjutnya readers🖤😁
__ADS_1