
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, usia kehamilanku sudah bertambah, kurang 2 bulan lagi aku sudah melahirkan.
Selama berbulan-bulan itu, setelah masalah yang tengah ku hadapi bersama Naufal, yang aku mendiami beberapa hari pada Naufal, jarang ada masalah yang terjadi pada keluarga kami.
Alhamdulillah, rumah tangga kami sangat harmonis. Aku dan Naufal dengan penuh kebahagiaan.
Apalagi sekarang perutku sudah mulai membesar, dan Naufal memutuskan agar aku cuti saja karena sudah hamil tua, dan dia juga khawatir padaku.
***(Di Halaman Belakang Rumah)
Aku sedang duduk-duduk santai menikmati udara segar di pagi hari dan embun pada kaki ku.
Naufal berjalan menghampiriku.
"Sayang aku berangkat dulu ya," kata Naufal dengan jongkok di depanku.
"Kamu tadi nggak sarapan?" tanyaku.
"Udah kok Sayang," jawab Naufal.
Semenjak perutku sudah mulai membesar, aku sudah tidak lagi nafsu sarapan pagi.
"Ya udah kamu berangkat sana," ucapku sambil tersenyum padanya.
"Kamu baik baik ya di Rumah, dan kamu juga sehat-sehat ya Nak," tutur Naufal sambil mengelus perutku.
Naufal mengecup kening dan perutku.
"Daa Sayang, Assalamu'alaikum," salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil menyalami tangannya.
Naufal berjalan meninggalkanku.
"Huuumm, beberapa hari lagi udah nikahannya Susi, nggak terasa cepet banget, apa lagi bentar lagi ada baby aku," gumamku dalam hati.
Jam jam pagi seperti ini, aku selalu menjemur diriku sendiri, tak lama kemudian, aku segera masuk ke Ruang Makan karena aku sudah mulai merasakan lapar.
Sejak usia kehamilanku menginjak 7 bulan, aku sudah cuti atas keputusan Naufal.
***(Di Ruang Makan)
Terlihat Bi Sarah sedang membereskan piring kotor dan gelas kotor sisa sarapan tadi.
"Mbak Gia monggo sarapan," ucap Bi Sarah.
"Iya Bi," jawabku.
"Waaaaaah, cumi oseng Bi," kataku yang melihat masakan Bi Sarah yang sepertinya ingin segera ku santap.
"Iya Mbak Gia, menu baru, baru pertama kali Bibi buat ini Mbak," kata Bi Sarah.
Aku segera duduk dan mengambil sedikit nasi dengan lauk cumi oseng.
Ku sendok satu nasi dan cumi asam itu, rasanya tak tertandingi dari Resto manapun yang perna ku datangi.
"Minumnya mau apa Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Udah Bi ini aja," jawabku.
Bi Sarah menemaniku sarapan pagi.
"Bi, nanti Bi Sarah ikut ya ke nikahannya Susi, soalnya dia yang minta," kataku.
"Serius Mbak? Bibi diajak?" tanya Bi Sarah yang masih tidak menyangka.
"Iya Bi, Gia serius, Susi sendiri loh yang bilang," ucapku.
"Waaaah Bibi seneng banget Mbak, itu kapan ya Mbak?" tanya Bi Sarah yang sedang menghadapku.
"Beberapa hari lagi Bi, Bibi udah punya baju?" tanyaku.
"Baju?? Ada Mbak Gia ada," jawabnya.
"Nanti Gia beliin aja sama Mas Naufal nanti sepulang kerja Mas Naufal," kataku.
"Enggak Mbak, ndak usah," jawab Bi Sarah merasa sungkan.
"Nggak papa Bi, Bibi nggak usah sungkan-sungkan," tuturku.
"Bener loh Mbak, Bibi ada baju," tepisnya lagi.
"Bi, kan ke nikahan Susi ada dresscode nya, Gia sama Mas Naufal udah ada di buatin Mama disana, Bibi nanti biar di beliin yang satu nuansa sama kita, kan Mama nggak tau kalo Bibi juga di undang, kalo tau pasti udah di beliin juga disana," ucapku.
"Oowwhh begitu ya Mbak," kata Bi Sarah sambil mengangguk-angguk.
"Nanti satu hari sebelum acara, kita pulang Bi," kataku.
Setelah ku habiskan sarapan pagiku, aku berjalan ke atas Kamar.
***(Di Kamar)
Aku duduk di sofa sambil menikmati tayangan TV.
Semenjak aku cuti, aku sangat bosan ada di Rumah.
Aku ingin beraktivitas seperti biasanya, aku sangat rindu suasana Rumah Sakit, aku sangat rindu para pasiennku, sangat rindu melihatw wajah senang mereka, wajah bahagia mereka, rindu ketika mengatakan bahwa ia diperbolehkan untuk pulang.
Tiba-tiba ponselku berdering, segera ku terima video call dari Mama.
"Pagi Nak, Assalamu'alaikum," ucap Mamaku.
"Pagi juga Ma, Wa'alaikumsalam," jawabku.
"Gia lagi ngapain ini sekarang?" tanya Mamaku.
"Seperti biasa Ma, di kamar nonton TV, nunggu Mas Naufal pulang," jawabku.
"Suami kamu pulang jam berapa Nak?" tanya Mamaku.
"Nanti sore Ma," jawabku.
"Udah beli perlengkapan baby Gi?" tanya Mamaku lagi.
"Belum Ma, mungkin sehabis ke acara nikahannya Susi kali ya Ma," jawabku.
"Iya nggak Papa, udah harus hati-hati banget loh Nak, gak boleh makan aneh-aneh, gak boleh kecapek an," tutur Mamaku.
"Iya Ma, Gia jadi inget kalo kecil Mama sering bilang gini sama Gia, hehem, oh iya Ma, Papa pulang kapan?" tanyaku.
"Papa gak bisa pulang Gi katanya," jawab Mamaku.
"Oowwhh jadi Papa gak bisa hadir ke nikahan Susi Ma?" tanyaku lagi.
"Sepertinya nggak bisa Nak, Papa kamu masih sibuk kemaren Mama sempet ngobrol sama Papa," jawab Mamaku.
"Owh ya udah Ma, Ma Bi Sarah juga di suruh Susi dateng ke nikahannya, jadi Gia nanti beliin baju buat Bi Sarah yang senada warnanya sama Mama sama Gia," ucapku.
"Mama nggak tau Nak kalo Bibi juga ikut, tau gitu kemaren sekalian Mama beliin," kata Mamaku.
"Gia juga lupa kasih tau Mama, hehe," kataku.
"Mama nggak sabar kamu lahiran Nak, kamu disini sama Mama, huuumm Mama seneng banget pastinya," ucap Mamaku.
"Gia juga nggak sabar Ma," ucapku.
"Nanti Mama siap siaga kapanpun itu buat nemenin kamu," tutur Mamaku.
"Nak, sampai saat ini kamu nggak pernah cerita-cerita ke Mama tentang Naufal," kata Mamaku.
__ADS_1
"Maksud Mama? Apa?" tanyaku yang kurang paham dengan perkataan Mama.
"Mama tau, sebenarnya sebuah rumah tangga tidak terus berjalan mulus dan baik-baik saja, tapi Mama nggak pernah denger kamu cerita Ma Naufal gini gitu ini itu," ucap Mamaku.
"Owwhh itu ya Ma, eeemmm.....nggak ada sih Ma, Alhamdulillah Gia sama Mas Naufal selalu baik-baik saja, karena Mas Naufal juga sangat baik memperlakukan Gia Ma, dia baik banget," jawabku.
"Mama tau Nak, sebenarnya pasti kalian pernah ada masalah, tapi kamu selalu tidak ingin berbagi cerita pada kami, karena memang itu sifat kamu dari dulu yang tidak ingin membuat Mama dan Papa khawatir, Mama dan Papa kecewa, padahal Mama tau, apalagi di awal pernikahan kamu, menyatukan dua hati yang belum pernah membaur jadi satu itu sangat tidak mudah, pasti saat itu kamu benar-benar menutupinya dari Mama dan Papa, kamu berusaha sendiri," ucap dalam hati Mamaku.
"Ma, kok Mama ngelamun?" tanyaku.
"Hm? Iya? Apa Nak?" tanya Mamaku yang tersadar dari lamunannya.
"Mama kenapa ngelamun?" tanyaku.
"Enggak Mama nggak ngelamun, syukurlah kalo hubungan kamu selalu harmonis sama Naufal, jadi Mama nggak khawatir," kata Mamaku.
"Mama nggak usah khawatir Ma, Mas Naufal bertanggung jawab banget kan sama Gia, selalu ada buat Gia kapan pun itu, hehehe," ucapku sambil tersenyum menyeringan pada Mamaku.
"Iya Nak, udah sarapan tadi kamu?" tanya Mamaku.
"Udah Ma barusan, ini Gia mau pesan donat, Gia pengen banget Ma, Gia keingat kalo lebaran buat donat sama Mama, huumm," ucapku.
"Hehehe, itu donatnya beda Nak, itu ala kamu," kata Mama.
"Ya udah ini udah siang, kamu bobo dulu, istirahat dulu Nak," tutur Mamaku.
"Iya Ma, Mama sehat-sehat, istirahat cukup, jangan lupa minum vitamin," tuturku kembali.
"Siap Ibu Dokter, hehehe," goda Mamaku.
"Hehehe Iiiih Mama," rengekku.
"Ya udah Mama tutup ya, Assalamu'alaikum," ucap Mamaku.
"Iya Ma, Wa'alaikumsalam," jawabku.
Setelah ku tutup video call dari Mama, segera aku memesan donat yang ku inginkan.
Aku menunggunya sambil menonton TV.
Setengah jam kemudian, ada yang mengetuk pintu kamarku.
Tok......tok......tok.
Aku turun dari ranjang dan berjalan untuk membukakan pintu .
Gleekkkkk.
"Mbak Gia tadi pesan donat?" tanya Bi Sarah sambil membawa satu kotak dalam kantung kresek pesananku.
"Iya Bi," jawabku.
"Ini Mbak, tadi Pak Joko yang ngasih ke Bibi," ucap Bi Sarah sambil menyerahkan kantung kresek itu.
"Bibi mau? Ini Bi ambil aja Bibi pengen yang topping apa?" tanyaku.
"Endak Mbak, Bibi sudah," tolaknya.
"Udah Bi nggak papa, kan sama Gia, Bibi nggak perlu sungkan-sungkan, sejak kecil loh Bi, Gia sama Bibi, udah Bibi ambil aja," tuturku.
Akhirnya Bi Sarah mengambil dua donat bertopping coklat dan keju.
"Makasih Mbak Gia," ucap Bi Sarah.
"Sama-sama Bi, Gia juga makasih ini udah di anter ke atas," jawabku.
"Iya Mbak nggak papa sudah tugas Bibi," kata Bi Sarah.
"Ya udah Mbak, Bibi turun ya," pamitnya.
"Iya Bi," jawabku.
Setelah Bibi turun dan aku tutup kembali pintu kamarku.
Segera ku duduk di sofa dan ku nikmati donat itu.
Tiba-tiba ponselku berdering kembali, ku ambil ponselku yang tergeletak di atas kasur.
Dan ternyata video call dari Naufal.
"Assalamu'alaikum Sayang," ucap Naufal.
"Wa'alaikumsalam Mas," jawabku.
"Kamu makan apa itu?" tanya Naufal.
"Makan donat Mas," jawabku.
"Online tadi," jawabku.
"Kamu kok video call aku, ada apa?? Gak biasanya," tanyaku heran.
"Baru kerja, udah rindu Sayang, hehehe," kata Naufal.
"Kan kan kan, gombal terus, udah jangan video call Mas, kan kamu lagi kerja kamu harus fokus kerja," tuturku.
"Hehehe, 5 menit aja Sayang, sumpah rindu banget," keluhnya.
"Agheemm," suara deheman dari ponsel Naufal.
"Mas, siapa?" tanyaku lirih.
"Kamera kamu tutup dulu, aku kasih tau makhluknya, kan kamu lagi nggak pake kerudung," tuturnya.
Ku tutup kameraku dengan tanganku, dan Naufal mengarahkan kameranya pada Pak Bastian yang sedang ada di sampingnya.
"Udah tau Sayang?" tanyanya sambil mengarahkan kembali kamera ponsel ke arahnya sendiri.
"Mau jadi pengantin baru tadi Sayang, ahahaha," kata Naufal.
Aku hanya tersenyum pada Naufal.
"Bisa aja Lo Fal," sahut Pak Bastian.
"Ya udah Gi, udah lima menit, aku lanjut kerja ya," pamitnya.
"Iya Mas," jawabku singkat.
"Bye Giiii, Assalamu'alaikum," salam Naufal langsung menutup video callnya dan aku tak sempat menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dalam hati.
Setelah 3 donat sudah habis ku makan, dan adzan dhuhur sudah berkumandang, aku segera mengambil air wudhu untuk sholat.
Setelah sholat, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang untuk tidur siang.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin sore.
Aku juga tak kunjung bangun dari tidurku.
Dan sepertinya Naufal sudah pulang dari kerjanya.
Saat Naufal sudah berada di kamar pulang kerja, dia langsung mencuci kaki dan tangannya lalu ganti baju, aku tidak terusik oleh kedatangan Naufal sama sekali, aku masih tetap dalam keadaan tertidur.
Naufal mendekat padaku, dan rebahan di sampingku, dia menghadapku dan menatap wajahku.
Dia terus mengelus perutku.
Baru saja aku terusik dengan tingkah Naufal itu.
Ku buka pelan kedua mataku, mataku langsung melihat tangan Naufal yang ada di perutku.
"Hehehem," aku tersenyum melihat itu.
Lalu aku menoleh pada Naufal, ku raih pipi kanannya.
"Aku nggak tau kamu pulang," kataku masih setengah sadar.
"Kamu keenakan tadi tidurnya Sayang," kata Naufal.
Aku hanya tersenyum dan berbalik menghadap Naufal, menempelkan kepalaku di dada Naufal.
"Kamu udah mandi?" tanyaku.
"Belum lah Sayang, aku baru pulang, terus bersih-bersih, terus ganti baju, langsung terjun ke sebelah kamu," jawabnya.
"Kamu mandi gih, habis ini kan kata kamu keluar sama Bibi," tuturku.
"Oh iya Sayang, aku hampir lupa," jawabnya.
"Cepetan gih mandi, keburu malem nanti, mumpung masih jam 3 loh," kataku.
__ADS_1
Naufal segera turun dari ranjang, dan segera mandi.
Aku masih terbuju dia atas ranjang, sebenarnya aku masih sangat mengantuk.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Naufal keluar dari kamar mandi, sekarang giliran aku untuk mandi, ku tarik tubuhku untuk bangun dari kasur, ku turunkan kaki ku dan berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
Setelah mandi, segera aku dan Naufal melaksanakan sholat ashar dengan Naufal.
Setelah sholat ashar, aku segera bersiap-siap untuk pergi bersama Mas Naufal dan Bi Sarah.
"Mas, nanti beli coffe latte ya," ajakku.
"Sama roti kesukaan kamu,"
"Iya Sayang," jawabnya.
Setelah kami selesai bersiap-siap, aku dan Naufal turun ke bawah.
"Bentar Mas, aku panggil Bi Sarah dulu ke kamarnya," ucapku.
Aku berjalan menuju kamar Bi Sarah.
Tok....tok...tok.
"Bi," panggilku.
Bi Sarah membukakan pintunya.
Gleekkk.
"Bibi udah siap?" tanyaku.
"Udah Mbak udah," jawabnya.
"Ya udah, ayo Bi," ajakku.
Bi Sarah menutup pintu kamarnya, lalu berjalan bersamaku.
Kami berjalan menemui Naufal yang sednag menunggu kami.
"Udah Mas, ayo," kataku.
Kami langsung berjalan menuju garasi dan segera masuk ke dalam mobil.
Bi Sarah duduk sendirian di belakang. Dan Naufal segera menancap gas mobilnya, kali ini kami pergi memakai mobilku.
Di perjalanan, tumben Naufal diam seribu bahasa.
"Naufal tumben diem banget, apa karena ada Bibi, jadi dia malu, hehehe," gumamku dalam hati sambi menertawakannya.
Akhirnya Bi Sarah mencairkan suasana keheningan dalam mobil.
"Mbak, ini tempatnya jauh ya?" tanya Bi Sarah.
"Enggak kok Bi," jawabku.
"Eeemm Mas, ini kami beliinnya yang dimana? Yang dulu kita beli waktu buat tunangan Susi atau yang satunya?" tanyaku.
"Yang satu nya Sayang, yang deket ini," jawabnya.
"Oowhh," jawabku.
"Deket Bi ini, nggak jauh banget kok," kataku sambil tersenyum padanya.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di Butik itu.
***(Di Butik)
"Udah sampe Bi," ucapku sambil melepas seatbelt.
"Tempatnya gede itu Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Iya Bi," jawabku.
"Bibi bau tau Mbak, bukits sebesar ini, biasanya kan kecil-kecil gitu Mbak," kata Bi Sarah yang heran.
"Iya Bi, ini Butiknya lengkap banget, banyak cabangnya juga," jawabku.
Kita bertiga turun dari mobil.
Saat kita bejalan masuk, kami sudah di sambut hangat disana karena callingan dari Naufal.
Selalu hal ini yang mau tidak mau ku telan setiap masuk ke Butik ini dengan membawa Naufal.
Semua pandangan menuju padanya, sambil sedikit berbisik-bisik dan tersenyum-senyum melihat Naufal.
"Sore Pak Naufal," ucap pegawai butik itu.
Naufal tersenyum pada mereka.
"Sesuai pesanan anda tadi, kami sudah menyiapkan berbagai gamis dengan warna yang Bapak inginkan tadi," kata pegawai itu.
"Mari saya antar," ucap pegawai itu.
Kami berjalan mengikuti pegawai itu.
Dan disana Bibi melongo melihat jejeran gamis yang sudah di siapkan untuk dipilihnya.
"Masya'Allah, sebanyak ini Mbak pilihannya," bisik Bi Sarah.
Aku tersenyum dan mengangguk padanya.
"Silahkan Bibi mau pilih yang mana," sahut Naufal.
"Ayo Bibi pilih yang mana, yang Bibi suka," kataku sambil berjalan memilih-milih gamis itu.
Pegawai itu tersenyum melihat tingkah Bi Sarah.
"Mbak Gia saja yang memilihkan untuk Bibi," kata Bi Sarah.
"Ini untuk Bibi, jadi untuk kali ini, Bibi harus memilih sesuai yang di suka sama Bibi, ayo mana," tuturku.
Tangan Bibi mulai menyentuh satu per satu jejeran gamis itu.
"Oh iya Mbak, baju kurta (Jubah Pria) yang panjang selutut 4 ya, warna putih," sahut Naufal.
"Baik Pak, sebentar ditunggu, saya ambilkan," jawab pegawai itu lalu segera mengambilkan baju yang diinginkan Naufal.
Setelah Bibi mendaptkan baju yang disukainya, beliau masih sepat meminta pendapat padaku.
"Mbak, ini bagus nggak? Maksudnya cocok nggak kalo dipakai Bibi," tanya Bi Sarah sambil menempelkan bajunya di tubuhnya.
"Bagus kok Bi, bagus, Bibi suka ini?" tanyaku sambil memegang gamis itu.
"Iya Mbak, Bibi suka ini," jawabnya.
"Ya udah berarti ambil ini aja, bentar Gia juga pengen Bi, tapi warna lain," kataku.
Aku berjalan memilih-milih gamis lainnya.
Dan ternyata aku berhasil mendapatkan satu gamis untukku.
Tak lama kemudian, pegawai itu membawakan 4 baju kurta.
"Ini Pak," ucap pegawai itu sembil memajang satu per satu baju kurta.
"Itu satu ukuran semua ya?" tanya Naufal.
"Iya Pak," jawabnya.
"Ya udah ambil itu Mbak, bentar nunggu istri saya," kata Naufal.
Bersambung......
jangan lupa tinggalin like, comment, dan vote nya ya kakak
hehehe😁🖤
__ADS_1