
Ku ajak Mama Feni dan Papa Diki untuk makan malam bersama kami.
***(Di Ruang Makan)
“Ini Ma kolaknya,” kataku smabil mengambilkan kolak untuk
Naufal.
“Kamu kasih nangka ini Gi?” tanya Mama Feni.
“Iya Ma, kenapa Ma? Mama nggak suka ya?” tanyaku balik.
“Heeemmmalah kesukaan Mama Gi,” jawab Mama Feni.
“Alhamdulillah Ma kalo gitu,” kataku.
“Abay, nanti kalo Abay di rumah Eyang, jangan malu-malu ya,
anggap saja rumah Abay sendiri,” tutur Mama Feni.
Abay hanya tersenyum pada Mama Feni.
“Dan jangan takut sama Kakek, hehehe,” canda Papa Diki.
Kami pun menikmati makan malam bersama-sama.
.
.
.
.
.
Dan hari juga sudah semakin larut malam.
Mama Feni dan Papa Diki pun pulang.
***(Di Kamar)
Sudah ku rebahkan tubuh lelah ku hari ini, Naufal menyusulku
untuk tidur.
Naufal memelukku dari belakang.
“Makasih ya Sayang, kolak nya enak banget, Mama jadi suka
dan makin cinta sama kamu,” ucap Naufal sambil memejamkan kedua matanya.
“Iya Mas,” jawabku.
“Kamu segalanya Gi buat aku, aku nggak tau lagi harus
jelasin gimana lagi sama kamu, betapa cinta nya aku sama kamu, jadi, kamu jangan pernah mikir aneh-aneh sama aku, apa pun yang aku lakuin itu untuk kamu Gi, untuk kita, kamu jangan pernah benci sama aku, meskipun caraku salah,” kata
Naufal.
Ku balikkan badanku untuk menghadap padanya.
“Mas,” panggilku.
Naufal malah semakin nyenyak, rupanya Naufal sudah langsung tertidur sedari tadi.
“Kamu ngigo ya Mas,” kataku sambil menepuk-nepuk pipi
Naufal.
“Iiiiih serem kalo ngigo, Mas….jangan gini dong aku takut
loh,” rengekku.
Aku menggoyang-goyangkan badan Naufal sampai dia pun
terbangun.
“Eegghhmmm aduuuh Sayang ada apa sih?” tanya Naufal.
“Kamu ngigo ya?” tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Siapa yang ngigo, aku nggak ngigo kok,” jawab Naufal.
“Tadi kamu ngomong-ngomong sendiri, ya kamu nggak tau, kan
kamu tidur, aku yang tau,” kataku.
“Mana ada?? Aku nggak pernah ngigo Sayang,” bantah Naufal.
“Jadi kamu tadi masih sadar?” tanyaku.
“Enggak juga, emang aku tadi ngomong apaan sih?” tanya
Naufal.
“Tuh kan kamu aja nggak tau tadi ngomong apaan, berarti kamu beneran ngigo,” ucapku.
“Hehehe, mungkin iya Sayang,” ucap Naufal sambil
menggaruk-garuk rambutnya.
“Tapi aku nggak pernah ngigo loh Sayang, beneran,” ujar
Naufal.
“Iya aku tau Mas, aku juga baru tau pertama kali ini,” kataku.
“Jadi takut aku kalo kamu ngomong-ngomong sendiri gini,”
keluhku.
Naufal meraih kepalaku dan di dekapkannya pada dada
bidangnya.
“Kalo nanti aku ngigo lagi, bangunin aku,” tutur Naufal.
“Aku tau udah nepuk-nepuk pipi kamu, tapi kamu tetep aja
ngoceh dan gak bangun-bangun, siapa yang nggak merinding, udah malem gini,” kataku.
“Nggak usah takut Gi, pokoknya bangunin aku gimana pun
caranya, kamu goyang-goyang kayak ini tadi kek, atau kamu siram air juga gak papa yang penting aku bangun,” tutur Naufal.
“Kalo kata orang, ngigo itu nggak baik Sayang, apalagi sampe
sleep walking,” sambung Naufal.
“Ya kamu itu Mas, mikirin apa sih kok bisa ngigo,” gerutuku.
“Ya nggak tau Gi, kan itu alam bawah sadar kita,” ucap Naufal.
“Udah udah tidur lagi, “ kata Naufal.
Aku tidur dalam dekapan Naufal.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, kami berpamitan pada Bi Sarah untuk
berangkat bekerja.
Mobil melaju untuk mengantarkan Abay ke sekolahnya.
“Temen kamu sekarang siapa Nak?” tanya Naufal.
“Ada Pa, tapi anaknya pendiam banget sekelas sama Abay,”
jawab Abay.
“Udah nggak pernah ketemu sama Revina ya,” tanya Naufal.
“Nggak pernah Pa, terakhir kali waktu makan sama Mama sama Revina, udah itu yang terakhir Pa, terus besoknya Revina nggak masuk sekolah, katanya sakit Pa, terus hampir 3 hari dia nggak masuh eh ternyata kata Bu Guru, Revina pindah Pa ke pondok,” ucap Abay.
“Eeemmm mungkin orang tua nya ada kerjaan di luar kota Nak, jadi Revina harus ikut, kasihan loh kalo pindah-pindah gitu, balik adaptasi lagi, cari temen lagi,” kata Naufal.
Lagi-lagi aku hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
Hingga ampai di depan gerbang sekolah Abay.
Abay turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman
sekolahnya.
“Kasihan ya Revina Sayang,” ucap Naufal.
“Kenapa Mas Naufal jadi ngomongin Revina?” gerutuku dalam
hati.
“Iii…..iya Mas,” jawabku.
“Oeang tua nya apa nggak kasihan kalo anaknya di ajak
pindah-pindah gitu, kalo aku sih, mending aku aja yang pergi, biarin anak di rumah sama istri, kan bisa pulang dua minggu sekali atau sebulan sekali Sayang,” kata Naufal.
“Hehehe, iya Mas,” jawabku.
“Kenapa tiba-tiba kamu jadi bicara soal Revina, memangnya
kamu kenal sama Mama nya atau orang tuanya?” tanyaku.
“Enggak, aku nggak kenal lah Sayang, kan kemaren nganterin
Revina cuman sampe depan rumahnya aja, lagian rumahnya juga sepi banget kan, hampir kayak nggak berpenghuni loh Sayang,” kata Naufal.
“Kok tumben banget kamu bahas dia,” ucapku agak sedikit
kaku.
“Aku kasihan aja sama Abay, kalo tiba-tiba temennya ngilang
gitu,” jawab Naufal.
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar Naufal tidak terus membahas tentang Revina.
.
.
.
__ADS_1
.
.
***(Di Rumah Sakit)
“Pagi Dok,” sapa salah satu perawat yang sedang berjalan
mendahului aku dan Naufal.
“Pagi,” jawab kami sambil tersenyum padanya.
Sepanang kami berjalan menyusuri lorong, banyak sekali yang
menyapa kami.
“Sayang, aku harus buru-buru ke ruanganku ya,” kata Naufal.
“Memangnya kenapa Mas?” tanyaku.
“Aku ada jjanji sama pasien aku Gi,” jawabnya.
“Aku duluan ya Sayang,” kata Naufal sambil bejalan cepat
meninggalkanku.
Aku berjalan ke ruanganku sendirian.
Setalah masuk dan duduk dan mematung di depan laptop, Si
Suster memanggilku agar segera ikut bersamanya, karena ada masalah yang sangat urgent.
“Dok, cepat kesini Dok,” ucapnya dengan nafas yang
tersenggal-senggal.
“Kenapa Sus?” tanyaku.
“Udah Dokter kesini dulu,” jawab Si Suster.
Aku menuruti apa permintaanya, ku tarik jas Dokterku lalu
aku berlari menghampiti Si Suster yang masih ada di depan pintuku.
“Dokter Naufal Dok, Dokter Naufal,” ucap Si Suster sambil
berlarian bersamaku.
“Kenapa Sus?? Ada apa??” tanyaku.
“Kita harus ke ruang flamboyan Dok, ada pasien seorang
laki-laki, dan salah satu keluarga nya kesini Dok, minta jika pasien itu tidak usah dirawat,” jawabnya dengan nafas yang naik dan turun.
Aku berlari cepat sekuat tenaga, masuk ke dalam lift menuju lantai 7, dan aku sampai di depan ruang flamboyan tepat, diasana banyak kerumunan orang melingkar, aku mencari sela-sela kerumunan orang agar bisa di barisan depan.
Dan ternyata aku melihat ada seorang laki-laki yang sedang
membawa benda tajam berupa pisau yang di pegangnya, dan Naufal beserta rekannya berusaha mengamankan laki-laki itu karena demi melidungi para pasiennya, beberapa petugas keamanan datang semua disana.
Deg….deg…deg….
Aku melihat suamiku yang sedang berhadapan dengan pisau
tajam yang di genggam oleh seorang laki-laki yang sepertinya tak waras itu.
“Ya Allah Sus, itu Mas Naufal Sus,” kataku yang sangat
histeris dan khawatir jika Mas Naufal tertusuk oleh pisau belati itu.
“Sabar Dok, pasti habis ini polisi datang kesini,” kata Si
Suster.
Semua memasang wajah tegang melihat seorang laki-laki yang
sepertinya tak wars itu tengah dilingkari oleh beberapa satpam dan petugas medis lainnya.
“Jangan rawat dia!!!! Dia harus mati!!” ucap pria itu.
“Akan ku bunuh siapa pum yang merawat dia!!!” sambung pria
itu.
“Pak tenang dulu, tenang,” kata Naufal.
Saat Naufal mencoba menenagnkan pria itu, dan melangkah
sedikit demi sedikit pada pria itu, namun dengan cepat pria itu ingin menusuk leher Naufal dengan pisau yang ia bawa, untung saja Naufal bisa menangkis dengan tangannya, namun nasib baik tak berpihak pada Naufal, saat pria itu akan menusuk salah satu petugas keaman disana yang membela Naufal, Naufal mencoba mengambil pisau dari belakang, tapi Naufal malah tersayat bagian perutnya dengan pisau.
“Aaawwwwww,” semua berteriak melihat Naufal yang berhasil
tertusuk oleh pisau belati itu.
Degggggg…..
Jatiku remuk, hancur, patah, tak karuan sedihnya saat
melihat suamiku terluka di depan mata kepalaku.
Air mataku menetes, aku hanya bisa terpaku melihatnya, kaki
ku sudah sangat lemas.
Naufal masih bisa menahan rasa sakit di perutnya, namu
Naufal memilih menarik dan mengunci tangan pria berpisau itu, akhirnya dia pun berhasil melumpuhkan pria berpisau itu tanpa melukai nya.
mengamankan pria itu.
Naufal menutup perutnya dengan tangan agar darah tidak terus mengucur keluar.
Aku langsung berlari menghampiri Naufal.
Teman seprofesinya menghampiri Naufal.
Kami membawa Naufal ke sebuah ruangan, untung saja Naufal
masih bisa berjalan sendiri meskipun pundaknya sambil menompang pada tubuhku.
Semua pasang mata tertuju pada kami.
Semua sedih melihat Naufal yang terluka, aku terus menangis
sedih untuknya.
***(Di Ruangan Naufal)
Naufal meminta agar dia di bawa saja ke ruangannya karena
luka nya yang tidak terlalu parah.
“Biar saya saja yang merawat lukanya,” ucapku pada semua
rekan kerja Naufal.
“Iya Dok, saya siapkan alat nya dan saya segera membawa nya kesini,” jawab salah satu rekan kerja Naufal.
Naufal duduk di sofa, sambil terus memandangku dan sedikit
menahan tawanya karena dia tau aku sedang sibuk menutup perutnya yang terluka.
“Huhuhuhu, Mas Naufal kamu kok bisa sampai kayak gini sih,
seharusnya tadi kamu jangan coba-coba dekati pria itu, huhuhu,” kataku.
“Kamu selalu sok-sok an Mas, sok jadi pahlawan, huhuhu,”
kataku yang terus memojokkan Naufal.
“Jadi gini kan Mas, sakit?” tanyaku sambil memandang wajahnya.
Naufal malah tersenyum padaku.
“Kamu kok malah senyum sama aku?? Kamu kan lagi kesakitan
Mas, huhuhu, situasi kayak gini kamu nggak usah bercanda gini, nggak lucu tau,” ucapku.
“Siapa yang bercanda, ya habis kamu kenapa histeris gini?”
tanya Naufal.
Aku sedikit kesal dengan kata-kata Naufal yang sama sekali
tidak ada rasa khawatir-khawatirnya pada dirinya sendiri.
“Kamu gimana sih Mas?? Kamu ini terluka, perut kamu tersayat keluar darah, kamu masih aja senyum-senyum, ini sakit loh, nggak udah bercanda kayak gitu, nggak lucu, huhuhu, aku nggak suka,” kataku yang terus memarahinya.
“Kamu nggak tau istrimu ini khawatir, dasar kamu ceroboh,
udah berkali-kali kan aku bilang sama kamu, kenapa kamu selalu suka dengan kondisi yang berbahaya seperti itu, hmm apa ini hobi kamu??? Huhuhu,” kataku yang terus menangis sambil ngoceh di depan Naufal.
“Kamu sama sekali nggak kasihan sama istrimu ini, khawatir
aku Mas, kamu nggak tau gimana perasaan aku, tega ya kamu, huhuhu,” sambungku.
“Ini nggak sakit Sayang, beneran, cuman ada nyerinya aja
tapi dikit,” ucpa Naufal.
"Terus kenapa tadi meluk-meluk aku?" tanyaku.
"Ya biar bisa peluk-peluk kamu Sayang," jawab Naufal sangat enteng.
Amarahku semakin tak terhankan saat Naufal mengutarakan kata itu lagi.
“Oh jadi nggak sakit???” kataku.
Aku memukul-mukul dada Naufal.
“Hm? Masih nggak sakit?? Mana biar semuanya ku pukul biar
kamu tidak bisa bercanda seperti ini lagi padaku, huhuhu,” ucapku sambil memukul-mukul Naufal.
Namun Naufal tetap santai dan sama sekali tidak mengeluh
kesakitan.
“Hey hey….Gia…..Sayang..” ucapnya sambil menghentikan
tanganku yang terus memukulnya.
“Mana biar terus aku pukul-pukul, huhuhuhu,” rengekku.
Naufal terus saya menertawakanku sampai sesekali merasa
sakit di bagian perutnya.
“Hahaha, Gia Gia, aaawwwww,” ucapnya.
“Mas !!! Mana yang sakit ??? Mana??” tanyaku yang sangat
__ADS_1
panik.
“Ini aku yang skait,” ucapnya sambil menunjuk pipinya.
“Hehehehe, enggak-enggak Sayang,” kata Naufal sambil
langsung menarik tubuhku agar terjatuh dalam peluknya.
“Nggak ada yang sakit Sayang, mau kamu pukul-pukul sekeras
apapun, pasti nggak berasa,” ucap Naufal.
“Jangan meluk aku gini, nanti perut kamu sakit,” kataku.
“Enggak, nggak skait kok,” kata Naufal.
Aku menengadahkan wajahku untuk menatapnya.
“Beneran nggak sakit??? Kamu jangan bercanda,” tanyaku.
“Iya Sayang beneran,” jawab Naufal.
Saat kami sedang berpelukan, tiba-tiba Pak Bastian nyelonong masuk ke ruangan Naufal.
“Agheemmm, maaf maaf Gue nggak tau,” kata Pak Bastian.
Langsung ku jorok tubuh Naufal, aku sangat malu saat tingkah
romantisku diketahui oleh Pak Bastian.
“Maaf ya ganggu, hehehem, di lanjutin gak papa kok, Gue
kesini mau nganterin ini,” ucap Pak Bastian sambil membawa alat-alat untuk merawat luka di perut Naufal.
“Eemmmm……eeeeee….ma…..makasih Pak,” kataku yang sangat terbata-bata dank u tundukkan wajahku.
“Sama-sama Gi, udah silahkan di lanjutin,” kata Pak Bastian.
“Bassss……” sahut Naufal.
“Hehehe, maksud Gue di lanjutin bersihin darah di luka Lo,”
kata Pak Bastian.
“Byyeeeeee,” kata Pak Bastian yang melangkah keluar dari
ruangan Naufal.
“Jadi darah semuakan jas kamu,” ucap Naufal.
“Biarin, nggak papa kok,” kataku sambil mengambil pinset dan
kapas untuk membersihkan darah di bagian kulit luar perut Naufal.
Ku buke sedikit bagian bawah kemeja Naufal, agar terlihat
luka nya dan mudah untuk ku bersihkan.
“Mas ini beneran nggak sakit?” tanyaku lagi.
“Sakitnya nyeri aja Sayang, nggak sakit yang parah gitu,
paling yang kena cuman kulit luarnya aja tadi, soalnya tadi dia kan nggak niat mau nusuk, cuman ke baret aja di perut aku,” jawab Naufal sambil melihat luka di perutnya.
“Tuh kan nggak dalem lukanya, cuman kebuka gitu doang,”
sambung Naufal.
“Meskipun nggak dalem tetep aja di jahit,” omelanku.
“Iya-iya Bu Dokter,” kata Naufal sambil menengadahkan
kepalanya untuk bersender di awakan sofa.
Ku bersihkan darah di bagian perut Naufal.
“Sobeknya nggak lebar kan Sayang?” tanya Naufal.
“Enggak cuman 5 jahitan aja kataknya,” jawabku.
“Untung aja aku tadi sedikit berhasil menghindar, kalo
nggak, psati udah ketusuk aku, terus kalo nggak tertolong gimana?" tanya Naufal.
Ku tekan pinset di dekat luka Naufal.
“Awwwww aduh sakit Sayang,” keluhnya.
“Lagian kamu, ada –ada aja kalo ngayal, nggak udah mikir
sampe situ dong Mas, sakit kan aku tusuk pake pinset,” ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Hehehehe, iya iya Gi, Ya ampun Dokter nya judes banget,”
canda Naufal.
“Biarin, khusus kamu aku harus judes, lagian pasiennya
bandel suka bercanda,” ejekku sambil menjahit pelan-pelan kulit perut Naufal yang tersayat pisau.
“Tadi gimana ceritanya sih Mas kamu bisa sampe situ?”
tanyaku.
“Tadi itu Gi, gini loh, ada pasien darurat banget kan tadi
di bawa ke ruangan flamboyan, terus Dokter Anton manggil aku ke ruangan, aku lari kan, nah setalah pasien nya udah berhasil masuk ke ruangan flamboyan, ada yang heboh di luar, ada seorang pria lagi bawa pisau, aku nggak tau lah pisau
nya dari mana, aku keluar, semua Dokter kumpul deh kesitu, semuanya pada keluar juga, nah pisau nya ini Gi, di apa ini, kayak mau di tusukin orang-orang gitu loh, terus dia ngomong intinya kita nggak boleh kasih perawatan buat si pasien darurat tadi, terus aku coba jelasin kan sama dia, eh dia nya malah nyolot, aku gak peduli dia bawa pisau atau apa Gi, yang penting aku ngelindungin pasien-pasien aku sama ada beberapa perawat cewek yang tadi di belakang aku kan, jadinya aku bilangin lagi dia baik-baik, eh dia malah emosi, nyerang aku, aku masih baikin dia, tapi malah aku yang kena, nggak waras kali orang itu Gi,” jawab Naufal yang menjelaskan kronologi kejadian di depan ruang flamboyan.
“Kok dia bisa bawa pisau?? Dari mana??” tanyaku.
“Aku juga nggak tau Gi, pisau nya dari mana,” jawab Naufal.
“Jangan-jangan dia bawa dari rumahnya Mas, kok bisa
kebobolan sama orang yang kayak gitu sih Mas, padahal kan disini keamanan nya ekstra banget,” ujarku.
“Nah itu aku juga nggak tau, kan tadi masih di bawa ke
kantor polisi, lihat aja nanti malem kalo nggak besok pasti polisinya ke rumah,” ucap Naufal.
“Rumah sakit kita jadi tercoreng dong Mas,” ucapku.
“Ya enggak lah Sayang, kan belum tentu kelengahan dari pihak
Rumah Sakit, ya meskipun iya, pasti aku bakalan klarifikasi kok, bakalan balikin nama baik rumah sakit ini lagi, lagian tadi rumah sakit kita gerak cepat langsung kok Gi, buktinya nggak lama pihak keamanan datang kan, gimana mau cepet Gi, kejadiannya aja di lantai 7, belum lagi Pak Polisinya naik lift,”
ucap Naufal.
“Sabar ya Mas, kamu pasti pusing ya, udah ada ginian, terus
nanti kita jadi relawan, pasti banget yang kamu pikirin,” tuturku.
“Enggak, di jalanin aja, nggak usah dianggap beban, pasti
nanti yang punya Rumah Sakit juga ngerti kok,” kata Naufal.
“Aku takut annti kamu disalahin Mas, apalagi rumah sakit ini
kamu yang mimpin,” kataku.
“Ini bukan pertama kalinya kali Sayang, dulu juga ada, tapi
waktu aku masih SMA, ada yang bunuh diri malah, tapi nyatanya, rumah sakitnya tetep jaya kan sampe sekarang,” ucap Naufal.
Aku tersenyum pada Naufal.
“Se update itu kamu Mas,” candaku.
“Iya lah Sayang, dari dulu aku penegn banget kerja disini,”
ucap Naufal.
“Kenapa kamu dulu nggak jadi Dokter di luar negri aja,
kuliah disana juga,” tanyaku.
“Kan aku cinta tanah air Gi, hehehehe,” jawab Naufal.
“Ya aku mikir-mikir lah Sayang, kalo disana, aku jauh banget
dari Mama sama Papa,” sambung Naufal.
“Eemmmm ada sisi mellow nya juga ternyata seorang Dokter
Naufal, hehehe,” kataku sambil menertawakannya.
“Siapa Gi yang nggak sedih kalo jauh sama orang tua,” kata
Naufal.
“Iya Sih Mas,” ucapku.
“Dah, udah selesai nih, jaditan di perut kamu, rapi banget
kan,” kataku.
“Wiiiih kamu bentuk apa tadi Gi, kenapa tadi nggak kamu
bentuk nama kamu aja, hahahaha,” canda Naufal.
“Mas Naufal….” Gerutuku.
“Enggak-enggak, ini 3 hari paling juga udah kering,” kata
Naufal.
“Terus gimana Mas? Kan satu hari lagi kita bakalan
berangkat, gimana luka kamu?’ tanyaku.
“Ya nggak gimana-gimana Sayang, kita tetep berangkat, luka
gini nggak jadi masalah kali Sayang, tanggung jawab harus tetep, nggak boleh manja lah Sayang,” jawabnya.
“Ya Allah Mas Naufal, Subhanallah, tanggung ajwab banget
kamu Mas, padahal kamu terluka loh, kamu lebih memilih membahayakan diri kamu sendiri dari pada nyawa atau keselamatan orang lain,” ucapku dalam hati.
“Untung loh kamu masih dikasih luka ringan gini sama Allah,
bersyukur kamu tuh,” tuturku.
“Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih Engkau masih memberi
hamba luka kecil seperti ini, hehehe,” kata Naufal.
“Dasar kamu, bercanda mulu,” ejekku.
Bersambung...........
__ADS_1