
Setelah kami semua makan, Bi Sarah mengajak kami ke Sawahnya, tapi Mama dan Papaku tinggal di Rumah karena harus istirahat.
"Bi, ini kita kesana nya jalan??" tanyaku.
"Iya Mbak Gia, sawahnya Bibi deket banget Mbak," jawab Bi Sarah.
Aku, Naufal, Bi Sarah, Pak Ruadi dan Abay jalan kaki menuju sawah milik Bi Sarah.
"Beban pikiran langsung ilang loh Sayang disini," ucap Naufal.
"Ah masak iya??" Godaku.
"Iya Sayang, apalagi lihat kanan kiri ijo-ijo gini, kalo tempat kita mana ada, pasti gedung-gedung doang, harus sering-sering refreshing kesini kita Sayang, biar nggak stress," jawab Naufal.
Mereka semua melihat kami yang sedang memakai pakaian rapi sedang berjalan menyusuri jalan sempit menuju sawah.
"Maaf ya Mas, jalan nya memang kecil seperti ini, hati-hati jatuh," tutur Bu Sarah.
"Aaah nggak papa Bi," jawab Naufal.
Abay sangat senang sampai-sampai dia tidak memakai alas kaki berjalan ke Sawah.
Kami berada di tengah-tengah sawah yang terhampar luas.
"Nah, ini sawah Bibi," ucap Bi Sarah.
"Eeemmm luas ya Bi, yang sana juga Bi??" tanya Naufal.
"Yang sana dulu nya iya Mas, tapi sekarang udah di beli orang," jawab Bi Sarah.
"Di beli tetangga saya sendiri, kasihan Mas nggak punya sawah, jadi saya jual ke dia," jawab Bi Sarah.
Memang benar-benar sangat adem disana, lega rasanya berada disini.
"Pa kita nggak usah pulang aja Pa, kita disini aja," sahut Abay.
"Nggak bisa Abay, kerjaan nya Papa sama Mama disana gimana," ucap Naufal.
"Kamu betah disini?" tanya Naufal.
"Betah Pa betah," jawabnya.
"Ya udah mondok disini aja ya nanti," canda Naufal.
"Emmmmm nanti Abay pikir-pikir dulu ya Pa, Hihihihi," ucap Abay.
"Pasti nggak mau tuh dia," bisikku di telinga Naufal.
Pak Rusdi berbicara dengan Naufal, karena Naufal sepertinya tertarik dan ingin memiliki secuil sawah disini.
Tiba-tiba Mbak Menik teman Bi Sarah datang menemui kita.
"Heee Sar," panggilnya sambil memakai topi khas orang sawah dan kaki nya yang masih di selimut lendut sampai lututnya.
"Menikkkkkk......Ya Allah Nik, aku lagek tas bali (aku baru saja pulang)" ucap Bi Sarah.
"Oooo iki sopo Sar ?? (ini siapa Sar??)" tanya Mbak Menik.
"Iki anak e juraganku tekan kuto (Ini anak juragan saya dari kota)" jawab Bi Sarah.
Aku berkenalan dengan Mbak Menik.
"Waduh sepuntene Mbak, tangan kulo reged (maaf Mbak, tangan saya kotor)" ucap Mbak Menik yang sedikit ku mengerti.
"Tangannya kotor abis dari sama Mbak Gia," sahut Bi Sarah.
"Oooo nggak papa Mbak, nggak papa," jawabku dengan sangat ramah pada Mbak Menik.
"Wong iko sopo Sar?? Bos soko kuto?? (Orang itu siapa Sar??? Bos dari kota??)" tanya Mbak Menik yang melihat Naufal.
"Iku bojone Mbak Gia iki Nik (Itu suaminya Mbak Gia ini Nik)" jawab Bi Sarah.
"Pantes yo Sar, wong kuto gak pantes nang sawah, kulit e bedo, resik-resik, ora mbekisak koyok awak e iki Sar (Pantas ya Sar, Orang kota tidak pantas ke Sawah, kulitnya beda, bersih-bersih, tidak kusam seperti kita ini Sar)" ucap Mbak Menik.
"Yo bedo Sar (Ya beda Sar)" jawab Bi Sarah.
"Yo wes Sar, aku tak muleh disek, ngko bengi aku tak dolan nang omah mu yo (Ya sudah Sar, aku pulang dulu, nanti malam aku main ke rumah kamu ya)" ujar Mbak Menik.
"Iyo omah ku rame (Iya Rumah Saya rame)" jawab Bi Sarah.
Mbak Menik pun berjalan meninggalkan kami.
"Mbak Gia tadi ngerti yang di bilang Menik Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Sedikit mengerti Bi, tapi susah mau ngomongnya, hehe," jawabku.
"Nggak ada yang berubah ya Bi, rumah nya tetep khas desa banget, padahal udah bertahun-tahun kok nggak bosen ya Bi mereka," ucapku.
"Mungkin memang mereka nyaman nya seperti ini Mbak, hehehe," jawab Bi Sarah.
Matahari hampir tak terlihat disana, karena mungkin disana mendung sudah terbiasa singgah di saat siang hari.
Namun kata Bi Sarah meskipun mendung, tetap saja tidak hujan jika kemarau.
Kami pun kembali berjalan menyusuri jalan menuju ke Rumah.
"Pak, kapan Abay di ajak mandi di tempat tadi??" tanya Abay.
"Memangnya Dek Abay boleh sama Mama sama Papanya?" tanya Pak Rusdi balik.
"Ma, Abay boleh mandi di sungai??" Sungai disini kan jernih Ma," rayu Abay.
"Tanya ke Papa kamu Nak," jawabku.
"Pa, boleh nggak?" tanya Abay ke Papa nya.
"Boleh Abay, tapi jangan lama-lama ya, nanti masuk angin," tutur Naufal.
"Nanti sore pasti Pak Rusdi ajak kesana Dek Abay, di ladang sebelah sana, banyak anak seusia Dek Abay mengembala kambing sambil bermain layang-layang," ujar Pak Rusdi.
"Wiiiiih, Enak ya Pak disini banyak temen nya," kata Abay.
"Udah nanti main lagi, sekarang kita balik ke rumah Bibi dulu," ajakku.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah Bi Sarah)
Aku tidak melihat Mama dan Papaku di dalam ruang tamu Rumah Bi Sarah.
"Loh Bi, Papa sama Mama kemana??" tanyaku pada Bi Sarah.
"Mungkin di pekarangan belakang Mbak, Bapak kan biasanya suka kelapa muda," jawab Bi Sarah.
Aku pun ke belakang bersama Bi Sarah meninggalkan Naufal, Abay dan Pak Rusdi di Ruang Tamu.
***(Pekarangan Belakang)
Di belakang Rumah Bi Sarag, ada Sawah yang terhampar luas, namun pekarangan Bi Sarah juga sangat luas.
__ADS_1
"Bi, eemmm ini pake sandal ini ya??" tanyaku melihat sandal bakiyak jadul.
"Ehehehm, iya Mbak, bentar saya ambilkan yang biasa di dalem aja Mbak," kata Bi Sarah.
"Nggak usah Bi, ini aja nggak papa, Gia bisa kok," kataku.
"Kalo pake itu harus hati-hati ya Mbak," tutur Bi Sarah.
"Hehehe, iya Bi, masih punya aja Bibi sandal ginian, dulu Kakek Gia juga punya Bi," kataku.
Aku dan Bi Sarah masuk ke dalam pekarangan.
Disana aku melihat, Mama dan Papaku bersama dengan Mbak Sari dan suami Mbak Sari yang memanjat pohon kelapa sangat tinggi.
"Bi, itu nggak papa Bi?" tanyaku.
"Orang sini sudah biasa Mbak, jadi ndak usah khawatir Mbak, hehehe," jawab Bi Sarah.
"Tapi itu nggak pake pengaman sama sekali loh Bi," ucapku.
"Tiap hari Mbak, seperti ini," kata Bi Sarah.
Papa dan Mamaku duduk santai di bawah pohon kelapa sambil menikmati es kelapa muda.
"Papa......udah ke tebak, pasti ini kan yang di kangenin di kampung Bibi," ucapku.
"Loh, ya iya dong Gi, seger kalo langsung dari pohon nya, dari pada di kasih es," ucap Papaku.
"Abay mana Gi??" tanya Papaku.
"Di depan sama Papa nya Pa," jawabku.
"Mau minta mandi di sungai," sambungku.
"Hehehehe, jelas dia pengen main sungai, kan dia tau nya di TV nggak pernah coba langsung," ujar Papaku sambil mengerok isi dari kelapa muda yang di sedoti nya sedari tadi.
"Mbak Gia mau??" tanya Mbak Sari.
"Hehehm, pasti mau Mbak kalo buah ini," jawabku.
Dengan cepat, Mbak Sari langsung membelah bagian atas buah kelapa muda itu.
"Ya ampun, Mbak Sari bisa??" tanyaku.
"Bisa Mbak cuman gini an," jawab Mbak Sari dengan enteng.
"Waduuuh, tenaga laki Mbak Sari ini," puji Mamaku.
"Orang desa mah gini an bisa Mbak," ucap Mbak Sari padaku.
"Hehehm, tiap hari begini jadi bisa," sambungnya lagi.
"Hehehem, hebat Mbak Sari," pujiku lalu duduk dan meneguk air segar yang ada di dalam buah kelapa muda.
Naufal dan Abay menyusulku ke belakang.
Abay berlari padaku.
"Ini Fal, mau?" tawaran Papaku.
Tanpa menjawabnya, Mbak Sari langsung membelah kelapa muda untuk Naufal.
"Monggo Mas, di unjuk (Silahkan Mas, di minum)" ucap Mbak Sari.
"Makasih Mbak," ucap Naufal.
"Nggeh, sami-sami (Ya, sama-sama)" jawab Mbak Sari.
Siang-siang begini, memang enak meminum es kelapa muda di bawah pohon kelapa bak suasana di Hawai.
"Apa??" tanyaku.
"Pantai nya," jawab Naufal.
"Huuum, dasar kamu, adaaaa aja," ucapku sambil menyenggol lengannya.
Mama dan Papa sibuk video call dengan Johan.
Aku dan Naufal berjalan-jalan menyusuri pekarangan Bi Sarah.
"Kami bisa pake sandal itu??" tanya Naufal.
"Bisa dong, cuman gini doang," jawabku sok-sok an.
"Eehmmm, gaya nya kamu Sayang," ejek Naufal.
"Nyata nya bisa jalan kan Mas," ucapku.
"Ya ya ya," jawab Naufal sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
"Ngapain kamu kayak gitu Mas??" tanyaku.
"Bentar bentar, kayak ada aura-aura gimana gitu Sayang," jawab Naufal yang sedang memejamkan kedua matanya.
"Aura apa sih, mana ada setan siang bolong gini, nggak usah nakut-nakutin Mas, aku nggak takut kalo siang gini," ucapku.
"Kamu diem Sayang, ada aura ini, beneran," ucapnya.
"Apa sih kamu Mas, aura apa sih??" tanyaku.
"Huuusst," ucap Naufal sambil membungkam mulutnya sendiri.
Dia mendekatkan mulutnya di telingaku dan berbisik.
"Ada aura kasih, hahahahaha," ucap Naufal.
Aku kesal dengan Naufal yang selalu suka mengerjaiku.
"Iiiiihhh Mas Naufal, tau ah," kataku lalu pergi meninggalkan nya.
"Eh eh," ucapku yang hampur terjatuh karena alas kaki ku yang menginjak batu kerikil.
Untung saja, Naufal dengan sigap menangkapku.
"Tuh kan Sayang, di bilangin ngeyel, kamu nggak begitu ahli pake sandal ini," ejek Naufal.
"Kamu sih nakut-nakutin aku," rengekku.
"Nakut-nakutin apa sih, kan aku bilangnya Aura Kasih, bukan hantu Sayang, iiiiihhh kamu, sakit nggak kaki nya??" tanya Naufal yang begitu peduli terhadap ku.
"Enggak," jawabku singkat.
"Hehehem, nggak usah ngambek gitu," ucap Naufal.
"Lagian kamu, suka banget ngerjain aku," ujarku.
"Mau nya di romantisin terus???" tanya Naufal.
"Ya.....ya nggak gitu Mas," jawabku.
"Hahahha, udah bilang aja," kata Naufal.
Naufal mulai meraba tanganku.
"Romantis tapi nggak gini juga Mas, udah ah balik ke Rumah Bibi, udah mau dhuhur," ucapku.
Aku dan Naufal kembali masuk ke Rumah Bi Sarah.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, adzan dhuhur berkumandang disana.
"Allahuakbar..... Allahuakbar...."
"Mas Naufal mboten ten Masjid (Mas Naufal nggak ke Masjid) ??" tanya Pak Tomen suami dari Mbak Sari.
Naufal menggaruk tengkuknya karena tidak begitu mengerti apa yang di katakan Pak Tomen.
"Ehehem, maksudnya Mas Naufal nggak ikut ke Masjid," ucap Mbak Sari.
"Oh iya iya saya ikut," jawab Naufal.
"Monggo (Silahkan), saya tunggu di depan Mas," ucap Pak Tomen.
Naufal bergegas mengambil air wudhu.
Para laki-laki pergi ke masjid, dan yang perempuan sholat di Rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam 3 sore tepat, Abays sudah menagih janji nya yang di buat dengan Pak Rusdi.
"Pak Rusdi, katanya Bapak mau ngajak Abay mandi di sungai," ajak Abay malu-malu.
"Mau mandi di sungai cucu Kakek, emang nya mau??" tanya Papaku mengerjai Abay.
Abay hanya menganggukkan kepalanya saja karena dia tidak begitu dekat dengan Papaku dan selalu kaku dengan Papaku.
"Ayo Pak," ajak Abay menarik tangan Pak Rusdi.
"Abay main sungai nya nggak boleh lama-lama loh ya, air disini lebih dingin, nanti kamu masuk angin," tutur Naufal pada anaknya.
"Iya Pa," jawab Abay.
Akhirnya Pak Rusdi mengajak Abay pergi ke sungai dan melihat banyak anak kecil yang mengembala kambing serta bermain layangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, Adzan magrib berkumandang.
Kami semua seisi rumah pergi ke mushola di dekat rumah Bi Sarah.
Orang sana sangatlah kompak, banyak sekali yang berdatangan ke Mushola.
Mereka juga sangat ramah, terbukti saat kami berangkat ke Mushola bersama-sama, mereka menyapaku dan tersenyum padaku.
Padahal aku tidak mengenalnya, begitu juga mereka.
"Bi, orang sini tetep ramah-tamah ya Bi," kataku.
"Hehehem, iya Mbak, ya begini Mbak orangd desa," kata Bi Sarah.
Mamaku sepertinya juga sangat nyaman berada disini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pulang sholat magrib.
Kami semua duduk-duduk di depan rumah Bi Sarah tepatnya di bawah pohon mangga yangs sangat besar, Mbak Menik menepati janjinya untuk datang ke Rumah Bi Sarah.
Bersambung......
__ADS_1