Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 202 (Untuk Papa)


__ADS_3

***(Di Rumah)


Tepat setelah magrib aku sampai di Rumah.


Setelah nya aku turun dari mobil dan emminta bantuan pada


Pak Rusdi untuk menurunkan semua barang belanjaanku.


Abay langsung berlari menyambutku.


“Yeeey, Mama……mana Papa??” tanya Abay.


“Papa pulang telat Nak, habis ini pasti Papa pulang kok,


tadi Papa kamu udah bilang sama Mama,” jawabku sambil tersenyum padanya.


“Pak, langsung di bawa ke Dapur aja ya,” ucapku.


“Iya Mbak,” jawab Pak Rusdi.


Aku berjalan berdua dengan Abay sambil merangkul pundak nya.


“Nggak papa, kana da Mama disini, udah Abay nggak usah sedih gini,” ucapku.


“Hehehem, iya Ma,” jawab Abay.


“Mama tadi beliin es krim buat kamu,” kataku.


“Kamu udah sholat??” tanyaku pada Abay.


“Udah Ma,” jawab Abay.


“KAmu ambil es krim nya di Dapur, Mama mau sholat dulu sama


mandi,” ujarku.


“Iya Ma,” jawab Abay.


Aku berjalan menaiki anak tangga, sedangkan Abay berjalan ke Dapur.


Tiba-tiba ponselku berdering, dan ternyata telepon dari


Mamaku.


“Giaa, Assalamu’alaikum,” ucap Mamaku.


“Wa’alaikumsalam Ma, gimana Ma?? Papa udah bangun??’


tanyaku.


“Sudah, kamu mau ngomong sama Papa??" tanya Mamaku.


“Eemm….tapi bentar ya Ma, Gia mau mandi, terus sholat,


soalnya Gia baru pulang,” jawabku.


“Tumben kamu baru pulang Nak??” tanya Mamaku.


“Iya Ma, tadi sekalian Gia belanja, jadi pulang malem,”


jawabku.


“Tapi Gia mandi bentaran doang kok Ma, terus sholat, bentar


aja ya Ma,” sambungku.


“Iya Nak, nanti Mama telfon lagi ya, sekarang kamu mandi


dulu aja,” ujar Mamaku.


“Iya Ma, Daaaaa Mama,” ucapku.


“Daaa,” jawab MAmaku lalu mematikan teleponnya.


Dengan sangat gembira aku masuk ke dalam kamar.


***(Di Kamar)


Aku langsung bereggas mandi lalu sholat dan mengaji.


.


.


.


.


.


Setelah rutinitas sudah ku lakukan, aku mencari tempat


ternyaman untuk ngobrol dengan Papaku malam ini. Dan aku memilih duduk di balkon.


Kali ini aku yang terlebih dahulu menelepon Mamaku.


Tut…..tut….tut…….


Mamaku langsung mengangkat telepon dariku, dan langsung ku


alihkan ke video call saja, karena aku ingin emlihat keadaan Papaku yang terbaring kembali di bed pasien.


“Assalamu’alaikum Papa,” ucap salamku.


“Wa’alaikumsalam Nak,” jawab Papaku dengan senyumnya.


Dalam hati aku menangis, melihat Papaku yang sudah lemas dan tak lagi bisa menggendongku seperti sedia kala.


“Papa……..” ucapku dalam hati.


“Papa gimana?? Apa yang dirasain??” tanyaku.


“Biasa aja Nak, Papa cuman ini sih pegel-pegel aja,”


jawabnya.


“Hayooo, Papa nggak boleh bohong sama Dokter, kan anak Papa juga Dokter, Papa nggak bisa bohong loh sama Dokter, heheheh,” candaku untuk menghibur Papaku.


“Hehehehe, nggak Dok, saya cuman pegel-pegel aja yang saya rasain,” jawab Papaku yang kembali menghiburku.


Aku tersenyum padanya, namun aku tidak bisa menyembunyikan dan membendung kesedihan serta air mataku lagi.


“Gia kenapa nangis??? Hehehem, nggak usah nangis ah Nak,


Papa nggak kenapa-napa kok, mungkin besok atau nggak lusa Papa pulang,” ujar Papaku.


“Enggak Pa, Gia nggak sedih, Gia seneng bisa lihat Papa,”


jawabku sambil mengusap air mataku yang mengucur derasdi kedua pipiku.


“Kata Dokter gimana Pa diagnosa nya??” tanyaku.


“Tadi gimana Ma?? Papa lupa Nak, tapi beneran kok Papa ini


cuman kecapek an aja, ya kamu tau lah Nak, Papa udah nggak mudah lagi, udah sepuh, udah punya cucu, hehehehe, jadi ya gini, kecapek an dikit pasti sakit,” ujar Papaku.


“Tapi Papa beneran kan nggak bohong sama Gia??” tanyaku


lagi.


Karena aku tau Papaku nggak mungkin bisa bohong sama aku.


“Enggak, beneran kok Nak,” jawab Papaku.


“Eh suami kamu dimana?? Kok nggak kelihatan Nak??” tanya


Papaku.


“Mas Naufal belum pulang Pa, Mas Naufal lagi sibuk,”


jawabku.


“Abay kemana??” tanya Papaku lagi.


“Abay di kamarnya Pa,” jawabku.


Papa melihatku dengan padangan yang berbeda dan tak biasa.


“Nak, besok kamu bisa nggak kesini??” tanya Papaku yang


membuatku langsung melotot mendengarnya.


“Bisa kok Pa, bisa banget,” jawabku dengan semangat.


“Tapi kalo kamu nggak bisa kesini, jangan maksain bisa loh,”


ucap Papaku.


“Enggak Pa, Gia bisa kok, bisa bisa,” jawabku.


“Papa minta kamu besok kesini ya, sebentar aa,” ujar Papaku.


“Papa mau ngomong apa ya sama aku??? Kok Papa beda banget??” gumamku dalam hati.


“Atau Papa??.......jangan….nggak……nggak mungkin,” gerutuku dalam hati.


“Eeemmm, iya Pa, besok Gia kesana serelah pulang kerja,”


kataku.


“Jangan lupa ajak suami kamu, tapi kalo suami kamu nggak


bisa, ijin dulu,” tutur Papaku.


“Iya Pa, pasti Gia ijin ke Mas Naufal kok,” kataku.


Hanya sebentar aku bisa bercakap-cakap dan bergurau dengan Papaku. Karena Papa harus segera beristirahat.


“Nak, udah dulu ya, Papa kamu nggak boleh lama-lama, harus


istirahat,” ucap Mamaku.


“Hehem, ya udah deh Ma, iya,” jawabku.


“Assalamu’alaikum,” salam Mamaku.


“Wa’alaikumsalam Ma,” ajwabku.


“Huuummm, nggak mungkin Papa cuman kecapek an aja, sampe video call bentaran aja nggak boleh dan harus segera isturahat, aku tau Papa sedang tidak baik-baik saja,” gumamku dalam hati sambil meneteskan air mataku.


Jeglekkkk……..


“Sayangggg………I’m home,” ucap Naufal.


Dengan cepat langsung ku hapus bersih air mataku di pipi.


Naufal langsung menghampiriku dan memeluk di atas pundakku.


“Kamu ngapain sendirian disini??” tanya Naufal.


“Kalo nggak sendiri mau sama siapa lagi Mas, hehehem, kamu


ada-ada aja deh,” kataku sambil mengelus-elus lengannya.


Naufal langsung mencium pelipis ku.


“Uuuuummm, aku rindu banget sama istriku,” ucap Naufal.


“Bohong banget sih kamu, hehehm,” candaku.


“Bohong dari mana nya sih Sayang, emang beneran kok,” kata


Naufal.


“Hehehe, iya iya Mas, udah sana kamu mandi,” ucapku.


“Mau air hangat kan??” tebakku.


“Hehehe, iiihh tau banget istriku,” kata Naufal sambil


menyentil hidungku.


“Ya udah aku siapin dulu,” kataku.


Aku beranak berdiri dan segera menyiapkan air hangat untuk


Naufal.


“Mas…..udah,” ucapku di dalam kamar mandi yang menggema.

__ADS_1


NAufal langsung masuk ke kamar mandi dan dengan sengaja


menutup pintu nya.


“Mas Naufallll……apa apaan sih kamu,” rengekku sambil membuka pintu kamar mandi.


“Heheheh, lagian kamu sih Sayang, nggak keluar-keluar, udah


aku tungguin di luar juga dari tadi,” ucap Naufal.


“Husssttt, udah diem, mandi sana gih,” tuturku.


.


.


.


.


.


.


.


Aku menunggu Mas Naufal hingga selesai sholat dengan


membaca-baca majalah di balkon sendirian.


Setelahnya Mas Naufal sholat, dia menghampiriku dan duduk di


sebelahku.


“Sayang,” ucapnya sambil merangkul pundakku.


“Mas, aku mau ngomong sama kamu,” ucapku.


“Mau ngomongin apa?? Soal apa??” tanya Naufal.


“Soal Papa,” jawabku.


“Papa?? Oh iya gimana kondisi Papa Sayang??" tanya Naufal.


“Maka nya itu Mas, besok aku di suruh Papa kesana, kamu bisa nggak Mas??” tanyaku pada Naufal.


“Eeemmm, besok ya, pulang kerja??” tanya Naufal balik.


“Iya Mas, pasti kamu nggak bisa ya,” tebakku sambil


mengernyitkan keningku.


“Bisa kok Sayang bisa aku,” jawab Mas Naufal.


“Yakin kamu bisa?? Nanti tiba-tiba nggak bisa Mas,” ujarku.


“Kalo itu sih aku nggak tau Sayang, tapi Insya’Allah aku


bisa kok,” awab Naufal mencoba meyakinkanku.


“Kalo seandainya kamu nggak bisa, aku kesana sendiri, nggak


papa kan Mas,” kataku.


“Nggak papa, tapi harus ada yang nganter kamu, kamu nggak


boleh nyetir sendiri,” ucap Naufal.


“Di antar sama Pak Joko??? Atau aku naik travel??” tanyaku.


“Sama Pak Joko aja,” jawab Naufal.


“Tapi besok aku usahain bisa kok Sayang, aku juga pengen


ketemu Papa, mau lihat kondisi nya juga,” sambung Naufal.


“Tapi kamu juga jangan maksain Mas, kalo kamu nggak bisa ya


nggak papa, nanti malah keteteran lagi kamu,” tuturku.


“Iya iya Sayang,” jawab Naufal.


“Tumben Papa nyuruh kamu kesana??’ tanya Naufal.


“Aku juga nggak tau Mas, tadi pas waktu video call sama


Papa, Papa bilang minta aku kesana,” jawabku.


“Pasti ada yang mau Papa bicarain tuh Sayang sama kamu,”


ucap Naufal.


“Tapia pa Mas??” tanyaku.


“Nggak tau,” jawab Naufal sambil mengangkat kedua pundaknya.


“Iiih kamu buat aku penasaran deh Mas,” kataku.


“Ya siapa tau kan Sayang,” kata Naufal.


Aku dan Naufal duduk berdua menikmati angina malam, dan Abay


pun masuk ke kamar kami.


“Mamaa….” Panggilnya.


“Mama disini Nak,” jawabku.


Abay langsung menghampiri kami dan duduk di tengah-tengah


kami.


“Abay habis ngapain?? Kok keringetan gini,” kataku.


“Tadi Abay habis ke rumah Niko Ma, Mama nggak tau kan, tadi


Abay keburu mau kesana soalnya Ma, tapi Abay tadi bilang sama Pak Joko kok,” jawab Abay.


“Ngapain ke Rumah Niko??” tanya Naufal pada anaknya.


“Main ikan ****** itu loh Pa, tadi Niko ngajakin Abay,”


jawab Abay.


nggak??” tanyaku.


“Eyang Feni Ma??” tanya Abay.


“Bukan, Mama nya Mama,” jawabku.


“Mama kenapa kesana??” tanya Abay.


“Kan Kakek sakit Nak, jadi Mama besok kesana, di suruh


Kakek, nah kamu ikut nggak??” tanyaku.


“Eeemmm……ada Om Johan kan Ma pastinya,” ucap Abay sambil


tersenyum menyeringai padaku.


“Pastinya ada, kalo malem kan Om Johan udah pulang kerja,”


jawabku.


“Abay ikut deh kalo gitu,” jawab Abay.


“Tapi kita sama siapa Ma kesananya??” tanya Abay padaku.


“Ya sama Papa Nak,” jawabku.


“Kalo Papa nggak bisa, gimana Ma?? Kan Papa sibuk banget Ma,” jawab Abay yang sedikit menyindir hati Naufal.


“Papa usahain besok Papa bisa kok Nak,” sahut Naufal.


Abay tersenyum sedikit tak enak pada Naufal.


“Eeemmm, oh iya tadi Abay udah makan es krim nya??” tanyaku.


“Udah Ma, tapi kok Mama beli banyak banget tadi desertnya??" tanya Abay.


“Iya, itu nanti buat Papa juga, buat semuanya yang ada di


rumah ini,” jawabku.


“Mas, kamu mau??’ tanyaku.


“Apa?? Desert??” tanya Naufal.


“Iya, aku juga beli asinan kok, kalo mau aku ambilin,”


kataku.


“Boleh Sayang,” jawab Naufal.


“Ya udah aku ambili bentar ya,” kataku lalu beranjak berdiri


dari kursi.


Abay mengikutiku dari belakang sampai menuruni anak tangga.


“Ma, Abay ke rumah Niko lagi ya,” ucap Abay.


“Iya, tapi jangan malem-malem ya pulangnya Nak,” tuturku.


“Heheh, iya Ma, Abay nggak pulang malem-malem kok,”


jawabnya.


Dia langsung berlari membawa ikan ****** yang ada di dalam


toples miliknya dengan sangat girang.


“Jalan aja Nak, nanti jatuh loh,” teriakku.


Abay sudah terlanjur berlari keluar dari Rumah.


.


.


.


.


.


***(Di Dapur)


Disana ada Bi Sarah yang selalu berteman dengan Dapur setiap harinya.


“Ngapain Bi?” tanyaku.


“Buat Mie Mbak,” jawabnya.


“Lauk nya apa habis Bi??” tanyaku sambil membuka lemari es.


“Masih Mbak, nggak tau kenapa hari ini Bibi pengen banget


makan mie instant Mbak,” jawabnya.


“Bibi nyidam yaaaa, heheheh,” candaku.


“Aduuuh Mbak, jangan, Bibi udah tua banget begini, hehehe,”


jawab Bi Sarah.


“Bi, kalo mau desert, ambil aja nggak papa, tadi Gia beli


banyak kok, siapa-siapa suruh ngambil Bi nggak papa,” ujarku.


“Oooh enggeh Mbak, nanti kalo Bibi pengen pasti ngambil,”


jawabnya.


“Gia tinggal ke atas ya Bi,” ucapku.


“Monggo monggo Mbak (Silahkan silahkan Mbak)” jawab Bi


Sarah.

__ADS_1


Aku kembali menemui Naufal yang menunggu desert di balkon


kamar.


***(Di Balkon)


“Nihhh, desert kesukaan kamu,” ucapku.


“Suapin ya Sayang,” jawab Naufal yang sedang fokus


memperhatikan laptopnya.


“Iiishhh kamu nyicil ini??” tanyaku.


“Iya Sayang, kan tadi malem nggak jadi, aku nyicilnya


sekarang, biar nanti selesai nya nggak terlalu malem,” jawab Naufal.


“Kasihan kamu juga nanti nemenin aku,” sambungnya.


Ku buka kotak desert dank u berikan satu suapan pertama


untuk Naufal.


“Uuuummm, baik nya istriku,” puji Naufal.


“Berasa kayak anak ABG ya kita Sayang, hehehem,” canda


Naufal.


“Hehehem, yaelah udah tua juga Mas,” ejekku.


“Hehehe, Abay kemana tadi??” tanya Naufal.


“Ke rumah nya Niko, mau main ikan ****** lagi,” jawabku.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kami menikmati keromantisan berdua hingga larut malam.


“Mas, masuk yuk, makin dingin disini,” kataku.


“Hoooaamm, iya Sayang, kena angina nya mata jadi sepet,”


jawab Naufal.


“Hayo belum sholat loh Mas, jangan merem dulu,” ujarku.


Aku dan Naufal masuk ke kamar, dan ku tutup pintu kacaku dan gorden yang mengelili kamarku.


Naufal menyimpan laptop nya dalam laci, sedangkan aku


langsung bergegas mengambil air wudhu.


.


.


.


.


.


Setelah aku dan Naufal melaksanakan sholat isya’ berdua,


kami pun langsung memutuskan untuk tidur.


Namun, Naufal tak kunjung tertidur.


“Sayanggg….” Ucap Naufal lirih sambil membangunkanku.


“Hm??” jawabku dengan kedua mataku yang masih terpejam.


“Aku nggak bisa tidur,” jawab Naufal.


“Mas, ayolah, udah malam, kamu kan seharian ini sibuk, jadi


kamu harus istirahat,” gerutuku.


“Dari tadi udah aku paksa tidur tapi nggak bisa Gi,” keluh


Naufal.


Aku juga merasakan sedari tadi Naufal gelisah dan


menggerakkan badan nya terus-menerus.


“Sini sini,” kataku menarik tubuhnya.


Naufal pun mendekat padaku.


Ku tangkap kepala NAufal dan ku elus-elus seperti bayi. Tangan Naufal melingkar pada pinggangku.


“Udah tidur, besok kamu kerja Mas,” tuturku.


“Pasti kalo aku giniin kamu bakalan tertidur kok,”


sambungku.


Aku terus mengelus-elus kepala Naufal dan mengeluarkan


mantra-mantra agar Naufal cepat tertidur, hehehehe, alias deguran nafas hangatku pada keningnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah Sakit)


Besoknya, saat hari sudah menjelang sore, dan waktuku untuk pulang ke Rumah.


Aku menghampiri Naufal di ruangannya.


Gleeekkkkk


“Mas, jadi ikut aku pulang??” tanya ku pada Naufal.


Aku melihat Naufal yang fokus menatap layar laptop yang ada


di depannya.


“Pasti kalo udah gini kamu gak bisa ikut ke Papa ya,”


tebakku.


“Sayanggggg, maafin aku lagi ya, aku nggak bisa ikut kamu


kali ini ke Papa, tapi aku nanti bakalan nyusul kok kalo ini udah selesai, aku janji,” jawab Naufal.


“Huffttt, nggak papa kok Mas, aku bisa di antar sama Pak


Joko, lagian kan aku langsung pulang, nggak nginap disana,” ujarku.


“Loh, aku kira kamu nginap disana Sayang?? Kenapa kamu nggak nginap aja,” tanya Naufal.


“Disini aku juga punya keluarga Mas, aku ada kamu sama Abay, dan kemaren aku juga udah ambil cuti, jadi nggak enak kalo misal aku ambil cuti lagi,” jawabku.


“Kalo kamu nggak bisa ikut nggak papa kok, nanti aku


bilangin ke Papa, pasti Papa juga ngerti sibuknya kamu,” sambungku.


“Sayanggg…..Sayangggg….bukan begitu maksud aku,” kata Naufal sambil beranjak berdiri dan menghampiriku yang berdiri di depan meja nya.


“Aku pengen banget tau kondisi Papa, aku pengen banget ikut


kamu kesana, tapi gimana lagi Sayang??? Ini juga nggak bisa di tinggalin, aku tau akhir-akhir ini aku sibuknya minta ampun banget, maaf…..aku akan ganti kok nanti nya, tapi untuk saat ini aku memang benar-benar nggak bisa Sayang, maaf ya,” kata Naufal.


“Hehehem, iya Mas, nggak papa, aku ngerti, kamu lakuin semua ini kan juga untuk keluarga kamu,” jawabku dengan berat hati.


“Aku harap kamu ngerti Sayang, sebenarnya aku juga nggak


pengen kayak gini, mau gimana lagi?? Ini udah tugas ku udah tanggungan aku,” ucap Naufal.


“Ya udah gampang Mas, nanti aku juga bisa bilang ke Abay


kok, Pak Joko udah kamu kasih tau kan???” tanyaku.


“Udah kok Sayang, malah orang nya udah otw ke sini sama


Abay, kamu nanti bisa langsung berangkat,” jawab Naufal.


“Oooh gitu,” jawabku sambil ku anggukkan kepalaku.


“Sayang, nanti sampe in maaf aku ke Papa sama Mama ya


soalnya nggak bisa ikut kesana,” ujar Naufal.


“Iya aku bakalan bilang kok nanti,” jawabku.


“Kamu nungguin Pak Joko disini aja, nanti kalo Pak Joko udah


di depan, aku antar kamu ke depan,” tuturnya.


Aku menuruti semua perintah yang keluar dari mulut Naufal.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, Pak Joko menelepon NAufal dan


bilang bahwa beliau sudah ada di depan.


“Sayang, Pak Joko udah di depan, ayo aku antar ke depan,”


ucap Naufal.

__ADS_1


Aku langsung berdiri tanpa menjawab kata –kata dari Naufal.


Bersambung.........


__ADS_2