
Pagi ini tiba saatnya aku akan pergi.
Mama Feni sudah menungguku di Ruang Makan Tamu bersama Mas Naufal.
Aku turun sambil membawa koperku dibantu dengan Bi Sarah. Ketika aku menuruni anak tangga, terlihat jelas wajah Mas Naufal yang sama sekali tidak ikhlas atas kepergianku.
Tapi di sisi lain, dia juga merasa bersalah padaku.
Ingin sekali dia mencegahku pergi. Lagi-lagi dia tidak boleh egois atas keputusanku.
***(Di Ruang Tamu)
"Sudah Nak?" tanya Mama Feni.
"Iya Ma," jawabku.
Ada dua ruang hati disini, satu ruang ingin membawaku pergi dari Mas Naufal, tapi satu ruang lagi menginginkan aku menetap disini bersamanya.
Aku berusaha untuk kuat, tegar, dan terlihat tidak menyesal. Karena memang ini yang aku mau.
"Yakin kamu mau ninggalin Mas?" tanya Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Fal, sudah, biarkan Gia menyembuhkan luka yang kamu buat dulu," sahut Mama Feni.
"Kamu pasti kembali kan Gi?" tanya Mas Naufal yang agak kesal sepertinya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil mengalihkan pandanganku darinya. Aku berusaha untuk tidak menangis disini.
"Sudah yakin? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Mama Feni lagi.
"Sudah Ma," jawabku.
Akhirnya kami berempat pergi ke depan halaman Rumah. Disana sudah terparkir mobil Mama Feni berserta sopirnya yang akan mengantarkanku ke Bandara.
Saat Pak Rusdi memasukkan koperku di bagasi, aku menengok ke belakang. Kembali melihat-lihat rumah ini, yang tentunya akan ku tinggal lama sekali.
Huuuuummm, pasti rindu kalo pagi-pagi lagi masak sama Bibi, pagi-pagi lihat wajahnya Mas Naufal, berdiri di balkon saat hujan, dan coklat panas khas rumah ini. Hehehem.
Dan semuanya, akan jadi cerita saat aku berada di Swiss nanti. Yaaah aku memutuskan untuk pergi ke Swiss tepat di Grindelw........ Desa kecil yang sangat amat tenang dengan salju nya dan lampu-lampu di malam hari.
Aku akan menghabiskan musim salju disana sendirian. Yah sendirian tanpa siapapun, atau bahkan tanpa orang yang aku kenal. Disana aku tidak liburan, melainkan menenangkan.
Swiss, negara impian yang selalu aku dambakan sejak dulu, apalagi dengan hamparan salju dan ladang hijaunya.
Dulu aku sempat ingin pergi bersama orang-orang tercintaku, seperti Papa, Mama, Susi, dan juga keluarga kecilku pastinya. Tapi sekarang aku malah pergi sendirian tanpa mereka.
Aku pikir, dengan aku berada disana. Aku akan lebih tenang dan bisa menerima semuanya. Mas Naufal tidak tahu akan hal ini. Mas Naufal hanya tahu aku pergi ke luar negeri.
Mama Feni menyuruhku agar tidak memberitahukan pada Mas Naufal, karena nanti pasti Mas Naufal akan menyusulku kesana. Dan luka dihatiku tak kunjung akan hilang.
"Gi, ayo masuk," tutur Mamaku.
"Iya Ma,"
"Mas, aku pergi ya," pamitku sambil menyalami tangannya.
Lalu aku masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu. Di perjalanan, sempat aku meneteskan air mata. Banyak sudah kenangan yang terukir di kota ini yakni di Rumah Mas Naufal.
"Kamu nggak papa Nak?" tanya Mama Feni.
"Im oke Ma," jawabku.
Mama Feni mengelus tanganku agar sedikit membuatku tenang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya, mobil sampai di Bandara.
***(Di Bandara)
Ini awal kepergianku, aku harus kuat.
Lepas semuanya dengan ikhlas, meskipun saat kamu kembali ke Indonesia nanti keadaan sudah tidak sama lagi, kamu juga harus menerima semua itu.
Ingat, kamu tidak boleh egois.
Mementingkan perasaanmu sendiri.
__ADS_1
"Huuufftt, sampai ketemu lagi Indonesia," ucap dalam hatiku.
Baru saja ku menginjakkan kaki ku di Bandara.
Mama Feni mendapat kabar, Bahwa saat Mas Naufal berangkat kerja. Mas Naufal mengalami kecelakaan parah.
"Apa??!!! Ya Allah Anakku," ucap Mama Feni sambil mengenggam ponselnya.
"Ma, Mama!! Mas Naufal kenapa Ma??!!" tanyaku.
"Suami kamu, huhuhuhu, suami kamu kecelakaan Nak," jawab Mama Feni.
"Astagfirullah, Ya Allah Mas Naufal,"
"Pak, kita balik aja ya!!" Perintahku.
Aku membawa Mama Feni masuk ke dalam mobil. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rencanaku yang akan pergi ke Swiss.
Yang aku khawatirkan sekarang adalah kondisi Mas Naufal.
Mobil melaju sangat cepat menuju tempat dimana Mas Naufal dibawa ke Rumah Sakit.
"Pak, ayo Pak yang cepet," kataku.
"Maaf Buk, tapi ini share lokasinya kok balik lagi ke rumahnya Mas Naufal ya?" ucap Pak Sopir itu.
"Udah Pak, ikuti saja, saya ingin segera bertemu dengan anak saya," sahut Mama Feni.
"Baik Buk," jawab Pak Sopir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya benar kata Pak Sopir, mobil kembali melaju ke rumah Mas Naufal.
"Loh, kok ini ke Rumah lagi Pak?" tanyaku.
"Iya Mbak, ini saya ada WA katanya Mas Naufal di bawah ke rumah Mbak, ini dari temannya Pak Bastian yang menghubungi saya Mbak," jawab Pak Sopir.
Akhirnya disana sudah ada mobil Pak Bastian.
"Pasti Mas Naufal luka parah ini, sampai Pak Bastian ikut kesini juga, tapi kok kenapa di bawah ke Rumah?" gumamku dalam hati.
Aku dan Mama Feni langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke Rumah.
***(Di Ruang Tamu)
Disana sudah ada Susi, Bi Sarah dan juga Pak Rusdi.
"Susi," ucapku menghampiri Susi.
"Suami kamu ada di kamar Gi," jawab Susi.
"Kenapa di bawa ke Rumah? Kenapa nggak ke Rumah Sakit aja?"
"Terus, gimana keadaan Mas Naufal?? Parah nggak Si? Aku khawatir," tanyaku bertubi-tubi sambil menangis.
"Ya begitulah Gi, tadi suami mu ngotot di bawah ke Rumah aja, di rawat di rumah aja," jawab Susi.
"Ya udah aku ke atas ya," kataku.
Aku dan Mama Feni menapaki anak tangga menuju kamar.
***(Di Kamar)
Mas Naufal terbaring disana.
"Ya Allah Masss," teriakku.
Aku langsung terjatuh di samping Mas Naufal dan memeluknya, aku menangis di dada Mas Naufal.
"Mas, bangun, huhuhu," kataku.
"Bangun Mas, Mas harus bangun," gertakku lagi.
Anehnya tangan Mas Naufal sama sekali tidak terpasang jarum infus. Tapi aku tidak memperdulikan itu, yang aku tau kepala Mas Naufal sudah di lilit oleh kain perban dan siku tangan kanannya juga.
"Pak, kenapa Mas Naufal nggak mau dibawa ke Rumah Sakit? Ini kan parah Pak??" tanyaku pada Pak Bastian.
__ADS_1
"Naufal sendiri yang minta Gi, agar Dokternya saja yang merawatnya kemari, dia nggak mau ninggalin rumahnya," jawab Pak Bastian.
"Mas Naufal, huhuhuhu bangun Mas, aku disini huhuhuhu," ucapku.
Mama Feni juga turut ikut menangis dan tidak tega melihat anaknya yang terbaring lemas di atas ranjang.
"Gi, aku pamit pulang ya," kata Pak Bastian.
"Iya Pak, terima kasih sudah nolongin suami saya, Dokternya bakalan kesini tiap hari kan Pak?" tanyaku.
"Oh iya Gi, itu sudah pasti, karena memang Dokternya ini Dokter keluarganya Naufal," jawab Pak Bastian lagi.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya Pak," ucapku lagi.
"Iya Gi," jawab Pak Bastian lalu meninggalkan aku berdua dengan Mas Naufal.
"Ya Allah Mas, kenapa bisa terjadi ini sama Mas? Huhuhuhu Mas harus bangunnnn, ada aku disini Mas," ucapku.
"Naufal, bangun Nak, huhuhu Mama disini," ucap Mama Feni.
"Mas Naufal bangun yaaa, aku disini Mas,"
Ku genggam tangan Mas Naufal, aku menangis sejadi-jadinya. Meskipun aku sedang marah padanya, tapi jika seperti ini jadinya, istri mana yang tega meninggalkan suaminya.
Mama Feni semakin tak tega melihat anaknya, akhirnya Mama Feni memutuskan untuk turun saja ke bawah.
"Mas, banguunnnnnn huhuhu,"
"Aku janji sama Mas, huhuhuhu kalo Mas bangun aku nggak akan marah lagi sama Mas, tapi Mas bangun yaaaa huhuhuhu, aku nggak mau kehilangan Mas, Mas harus bangun, huhuhu,"
"Huhuhuhu, Mana janji Mas yang bakalan nemenin aku?? Huhuhu Mas harus bangun, Mas jahat kalo Mas nggak bangun,"
"Aku janji, setelah Mas bangun, aku nggak akan marah lagi sama Mas, aku nggak cuek sama Mas, huhuhuhu, ayo Mas banguuunnn, aku cinta sama Mas, berapa kali aku bilang seperti ini sama Mas, huhuhuhu, berkali-kali Mas nyakitin aku, berkali-kali juga aku akan tetap bertahan Mas, ayo bangunnnn!!!" kataku yang menangis di dada Mas Naufal.
Tiba-tiba tangan Mas Naufal mengelus kerudungku.
"Mas Naufal," panggilku lalu bangun dari dadanya.
"Hehehem, janji ya sama Mas?" tanya Mas Naufal sambil tersenyum padaku.
"Kok Mas......kok Mas senyum-senyum?" tanyaku.
"Terus ini kan, tangannya Mas sakit kenapa bisa elus-elus rambut aku?? Jangan-jangan Mas ngejebak aku ya," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Hehehehehem, enggak Sayang," jawab Mas Naufal dengan halus.
"Iya, pasti ini jebakan kan?? Mas pasti sekongkol sama mereka semua kan?" tebakku.
"Enggak Sayang, Mas bener-bener abis jatuh, kaki Mas aja pake perban tuh," kata Mas Naufal sambil membuka selimut tebal hitamnya itu.
Mas Naufal malah seenaknya menertawakanku.
"Nggak lucu tau Mas!" ucapku yang semakin marah dan berdiri melangkah meninggalkan Mas Naufal.
Mas Naufal langsung bangun dan menarik tanganku.
"Maaf, Mas salah,"
"Mas nggak mau kamu pergi kemana-mana,"
"Jangan pergi," ucap Mas Naufal.
Aku melepaskan tangan Mas Naufal.
"Lepasin Mas," ucapku.
Dengan cekatan Mas Naufal berdiri dan memelukku dari belakang.
"Mau apa lagi Mas?" tanyaku.
"Jangan terus-terusan seperti ini sama Mas,"
"Mas nggak bisa Sayang, maafin Mas, maaf," ucap Mas Naufal.
"Mas bingung mau pakai cara apa lagi agar kamu tetap disini, cuman ini satu-satunya cara,"
"Mas sayangggg Gi sama kamu, sayangggg bangettt, apapun akan Mas lakuin asal terus berada di samping kamu,"
"Mas nggak peduli kamu marah sama Mas, setahun, dua tahun, bahkan tiga tahun, asalkan Mas sama kamu, Mas nggak mau kamu jauh-jauh," ucap Mas Naufal di pundakku yang membuatku terharu dan meneteskan air mataku lagi.
"Kalo kamu masih saja tetep nggak percaya sama Mas, Mas mohon untuk sekali ini kamu percaya sama Mas, dan jika nanti Mas terbukti bohong sama kamu,"
"Silahkan, kamu berhak ninggalin Mas," ujar Mas Naufal.
"Ya Allah, huhuhuhu sebenarnya ini apa?? Rasanya aku sangat menginginkan pelukan Mas Naufal ini, aku sangat nyaman berada disini, mungkin memang sudah seperti jalan untuk kita. Jujur, aku juga tidak bisa jauh dari Mas Naufal," gumamku dalam hati.
"Mas mohon, untuk kali ini aja, sama Mas disini ya, nggak usah kemana-mana," kata Mas Naufal.
"Mas sayang sama Gia, sayang sama Gia," sambung Mas Naufal lagi.
Langsung ku balikkan tubuhku dan memeluk Mas Naufal. Aku menangis di pundak Mas Naufal.
"Huhuhuhuhuhu,"
"Sayanggggg," rengekku di pundak Mas Naufal dengan tangisan.
Mas Naufal seperti senang mendengar panggilan Sayang dariku, dia pun memelukku begitu erat dan tak akan dia lepaskan.
__ADS_1
Bersambung............