
Saat aku tengah memasak bersama Mama Feni dan Bi Sarah, Bi Sarah terus melihat mataku yang sembab ini.
Tapi Bi Sarah hanya diam, memperhatikan setiap gerakku, ingin bertanya, tapi ada Mama Feni.
"Bi, hari ini Gia akan ke rumah Mama,"
"Daann.....besok, Gia.....Gia mau pamit," sambungku yang ada di sampingnya.
"Pamit?? Pamit kemana Mbak??" tanya Bi Sarah.
Aku bingung memberikan jawaban apa pada Bi Sarah, tidak mungkin aku jujur padanya.
"Ini Bi, Gia bakalan ada bisnis juga disana," sahut Mama Feni.
"Memangnya Mbak Gia mau pergi kemana?" tanya Bi Sarah.
"Mau ke.....ke luar negeri Bi," jawabku.
"Berapa lama Mbak Gia bisnisnya disana??" tanya Bi Sarah lagi.
Bi Sarah selalu begitu, atas kepeduliaannya padaku. Aku sangat berterima kasih karena sudah dipedulikan seperti ini.
Berat juga rasanya meninggalkan Bi Sarah, biarkan Bi Sarah disini menemani Mas Naufal. Nanti siapa yang akan membuatkan sarapan dan lainnya.
"Eemmm.....entah Bi, Gia belum tau," jawabku.
"Pasti ini ada apa-apa, nggak mungkin nggak ada apa-apa, apalagi kemaren denger suara Mama nya Mas Naufal marah-marah, kasihan Mbak Gia sama Mas Naufal," gumam dalam hati Bi Sarah.
***(Di Ruang Makan)
Selesai memasak, berhubung aku sudah mandi, jadi aku menunggu semuanya di ruang makan bersama Mama Feni dan Bi Sarah.
Satu per satu member pejuang sarapan pagi pun datang, mulai dari Pak Joko hingga dua satpam Mas Naufal.
"Ayo ayo makan loh," ucap Mama Feni yang sangat ramah disini.
Mas Naufal baru saja turun dari atas lalu duduk di sampingku seperti biasanya. Kami semua memulai menyantap sarapan pagi ini.
Aku, aku masih menjalankan kewajibanku sebagai istri. Mengambilkan nasi untuk Mas Naufal.
"Udah, jangan banyak-banyak Sayang, Mas kenyang," kata Mas Naufal sambil tersenyum padaku.
Aku tidak sedikitpun menoleh padanya.
Beberapa menit kemudian, acara sarapan pagi telah usai. Semua kembali menjalankan pekerjaannya masing-masing.
Mas Naufal berpamitan padaku dan juga Mama Feni.
"Ma, Naufal berangkat kerja ya," ucap Mas Naufal.
"Iya," jawab Mama Feni dengan singkat.
"Sayang, Mas kerja dulu," ucapnya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja sebagai jawaban iya.
Mas Naufal pun pergi bekerja.
Dalam hatinya, berkeluk rasa bersalahnya padaku.
Dia gelisah, karena takut jika aku pergi jauh dan tidak main-main atas apa yang sudah ku bicarakan padanya.
"Giaaa.....Giaaa....Mas harus gimana lagi sih Sayang??"
"Mas memang salah, tapi kamu jangan seperti ini,"
"Mas mencintai kamu, nggak ada selain kamu," gumam Mas Naufal sambil menyetir.
"Ya Allah.....harus bagaimana aku ini??? Aku tidak menceritakan ke Gia karena memang itu sama sekali tidak penting, bukan niat aku menutup-nutupinya,"
"Terlalu buang-buang waktu jika aku membicarakan masalah tidak penting tentang Vela pada istriku," gumamnya lagi.
"Yaaaa aku tau Sayang, memori masa lalu pasti masih ada di Mas,"
"Huuuuffftt, Mas bingung Sayang," kata Mas Naufal yang berbicara sendirian di dalam mobil.
Tak lama kemudian, Mas Naufal sampai di Rumah Sakit dengan raut wajah yang tidak seriang biasanya.
Saat turun dari mobil, Pak Bastian langsung menepuk pundak Mas Naufal dari belakang.
"Hooooyy," ucapnya.
"Kenapa Lo Fal??" tanya Pak Bastian.
"Banyak kerjaan," jawab Mas Naufal sambil memijat alisnya dan menyenderkan tubuhnya di bagian depan mobilnya.
"Hahaha, dasar Pak Direktur, eh Gue mau nanya, istri Lo gimana yang ketahuan brownies Clava tuh??" tanya Pak Bastian.
"Everything is fine," jawab Mas Naufal lagi.
"Yakin Gia nggak kenapa-napa? Lo sih nggak cerita sama dia, tapi buat apa juga Lo cerita tentang Clava ke Gia, nggak berbobot banget, hahaha," ceplos Pak Bastian.
__ADS_1
"Udah lah Bas, nggak usah bahas itu," kata Mas Naufal.
Mas Naufal langsung berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh Pak Bastian di belakangnya.
"Lo cerita sama Gue?? Baru lihat Gue Lo stres kayak gini,"
"Nanti malah pekerjaan Lo nggak selesai," ucap Pak Bastian.
"Masalahnya, udah nggak bisa di ceritain Bas, udah rumit, Gia udah terlanjur nggak percaya sama Gue," tepis Mas Naufal.
"Lo kok nyerah gini sih Fal, come on dong,"
"Bukan Lo banget kalo gampang nyerah, Lo kan orangnya nggak gini Fal, Lo tuh orangnya pantang nyerah, apalagi soal ginian,"
"Lo bukan Gue Fal, parah Lo, Gue nggak suka Lo yang kayak gini," sambung Pak Bastian.
"Bas, Gia itu udah..."
"Udah....aaammmm........udah lah,"
"Kerja......kerja," kata Mas Naufal memotong pembicaraannya dengan Pak Bastian.
Mas Naufal hampir keceplosan bilang pada Pak Bastian jika aku selalu menghindari Mas Naufal bahkan saat disentuh olehnya.
Sedang aku di Rumah siap-siap untuk pergi ke rumah Mamaku bersama Sang Mertua.
Aku dan Mama Feni sudah masuk ke dalam mobil dan siap menancap gas mobilku untuk pergi ke Rumah Mama.
"Bi berangkat ya, byeee," ucap Mama Feni.
"Iya Buk, hati-hati," jawab Bi Sarah yang sedang menyirami tanaman di halam depan rumah.
Mobil melaju menuju gerbang depan.
"Pak, Saya mau ke Mama dulu ya, luar kota," pamitku.
"Siap Buk," jawab Pak Joko yang langsung membukakan gerbang untuk mobilku.
Mobil pun melaju cepat menuju jalan tol.
Beberapa jam kemudian, saat akan sampai di Rumah Mamaku. Mama Feni merasa deg-degan.
"Mama kenapa?? Kayaknya gelisah banget??" tanyaku.
"Mama takut Nak, Mama merasa tidak bisa jagain kamu, sampai kamu harus pergi," jawab Mama Feni.
"Ma, udah nggak papa, mungkin memang takdirnya sudah begini, dan dengan proses ini juga," ucapku.
"Mama nggak enak sama Almarhum Papa kamu Gi, dulu waktu perjodohan, Mama dan Papa Diki meyakinkan Papa kamu agar mau menjodohkan kamu dengan anak Mama dengan segala cara, dan seakan-akan kami semua akan bisa membuatmu bahagia jika menjadi menantu kami," kata Mama Feni sambil meneteskan air matanya.
"Maaaa.....sudah nggak papa, sudah banyak kebahagiaan yang dihadirkan oleh keluarga Papa Diki, Mama jangan merasa bersalah, bahagia itu Gia sendiri yang harus ciptain, bukan orang lain," ucapku.
"Nggak ada yang menginginkan hal ini terjadi Ma, baik aku dan juga Mas Naufal, tapi jika jalannya seperti, kita sebagai hamba bisa apa Ma," sambungku lagi.
"Masya'Allah Giaaa, betapa tegarnya hatimu Nak, Mama semakin merasa malu pada keluargamu, huhuhuhu," gerutu dalam hati Mama Feni.
"Apa?" tanya Mamaku langsung menoleh padaku.
"Eeeemmm....Gia mau ke luar negeri Ma," jawabku.
Mamaku semakin kaget saat mendengar aku akan pergi jauh darinya juga.
"Kesana? Jemput Abay?" tanya Mamaku.
"Enggak, Gia disana......ada...."
"Maaf Ma, Gia harus berbohong sama Mama, maafin Gia Ma," gumamku dalam hati.
"Gia ada bisnis Ma disana," jawabku.
"Dan mungkin disana Gia akan lama Ma,"
"Tapi Mama tenang aja, Gia akan selalu kabarin Mama tiap hari," sambungku.
"Gia, kesana? Sama suami?" tanya Mamaku.
"Enggak Ma, Mas Naufal nggak bisa ikut, karena kan ada pekerjaannya disini Ma, terus juga Mas Naufal sibuk banget," jawabku.
"Kalo gitu, Mama yang ikut Gia aja ya, ya," rayu Mamaku dengan senang.
"Adduuuhhh, Ya Allah, gimana cara nolak Mama, aku nggak tega jika harus bilang tidak sama Mama," gumamku dalam hati.
"Mbak, Gia kan disana bisnis, jadi nanti takutnya disana malah Mbak sering ditinggal-tinggal Gia, malah kesepian disana," sahut Mama Feni.
Untung saja Mama Feni bisa menjawabnya.
"Iya Ma, apalagi kan Mama nggak kenal sama orang sana,"
"Jadi Gia kesini mau pamit sama Mama, karena besok Gia harus pergi kesana Ma,"
"Nggak papa kan Ma?? Mama ijinin Gia kan??" tanyaku sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
Mama agak berfikir lama saat ku beri pertanyaan ini.
Dan Alhamdulillah, Mama mengijinkanku pergi besok.
"Ya sudah, Gia mau ke Dapur dulu ya Ma, disini dulu sama Mama Feni," kataku.
Aku berjalan ke Dapur untuk membuat sesuatu yang biasa ku buat di Rumah.
***(Di Dapur)
Disana masih ada Budhe yang sedang sibuk membuatkan makanan untuk Mama.
Ku buka almari es yang ekstra besar disana, ku cari sachet coklat yang biasanya selalu ada disini.
"Kok nggak ada?? Kan Mama nggak mungkin nggak punya minuman ini," gerutuku bicara sendiri.
"Nyari apa Gi??" sahut Budhe yang sedang mengaduk susu.
Aku membuka seluruh almari di Dapur, tapi tak kunjung ku temukan minuman coklat.
"Ini Budhe, Mama kan selalu nyiapin sachet an minuman coklat, biasanya kalo ada tamu disini, pasti dibuatin coklat panas, tapi kok ini nggak ada sama sekali ya," jawabku.
Budhe mendekatiku dan berkata lirih padaku.
"Mama kamu yang minta Budhe, agar tidak menyimpan semua tentang coklat disini, karena kan Papa kamu alergi coklat,"
"Jadi kata Mama kamu, kalo Mama kamu tau tentang coklat, hatinya malah sakit keingat Papa kamu," ucap Budhe.
"Oouw, ya udah nggak papa Budhe," kataku.
"Ya ampun, segitunya Mama cinta sama Papa," gumamku dalam hati.
"Gia mau apa?? Biar nanti di buatin sama Bibinya," kata Budhe.
"Strawberry ada nggak Budhe??" tanyaku.
"Hehehm, ada dong, kalo strawberry disini pasti ada, dari kecil kamu nggak berubah, sukaaaaa banget sama strawberry," ucap Budhe.
"Hehehem, ya udah, Gia ke Mama ya Budhe," kataku.
"Iya Sayang," jawab Budhe.
Panggilan Sayang, sudah lama tak ku dengar di rumah ini. Jika ada panggilan Sayang, jadi keinget Papa sama Mas Naufal.
"Sayang, hehehm," ucapku lalu pergi kembali menemui Mamaku.
Disana Mamaku kembali sendirian.
"Mama Feni kemana?" tanyaku dalam hati.
"Mama gimana?? Bosan nggak di rumah??" tanyaku.
Mama hanya menggelengkan kepalanya saja sambil memakan cupcake di meja.
"Gia,"
"Gia kenapa?" tanya Mamaku tanpa ekspresi.
"Hem?? Kenapa Ma? Gia nggak kenapa-napa, memangnya ada apa Ma??" tanyaku yang tidak paham dengan pertanyaan Mama.
"Gia sedih," ucap Mamaku.
Deeegggggg.
"Kok Mama tau aku lagi sedih?? Apa Mama Feni nyeritain ke Mama ya?"
"Tapi nggak mungkin, mana tega Mama Feni cerita ke Mama, tapi kok Mama tau??"
"Apa Mama ngerasain juga ya apa yang aku rasaian tanpa aku cerita ke Mama, yaaah namanya seorang Ibu," kataku dalam hati.
"Eehhmm, Gia nggak sedih, ngapain Gia sedih Ma?? Enggak lah," jawabku dengan riang padahal air mata sudah memenuhi pelupuk mataku.
"Naufal nggak nyakitin Gia kan??" tanya Mamaku.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Mama, padahal Mama jarang sekali mau berbicara dan di rumah hanya melamun saja.
Tapi ini, kok Mama nanyain Mas Naufal juga.
"Enggaaakkk......Mas Naufal yaaa......nggak pernah nyakitin Gia Ma, Mas Naufal itu laki-laki baik seperti Papa, Papa kan nggak mungkin salah jodohin Gia Ma,"
"Mas Naufal itu laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan sangat mencintai Gia, dan Mas Naufal itu paling nggak bisa nyakitin Gia, apalagi buat Gia sedih,"
"Mas Naufal itu........ laki-laki yang sangat luar biasa setelah Papa Ma," kataku memuji-muji Mas Naufal.
Semakin aku memuji Mas Naufal, semakin air mataku deras mengalir di pipiku. Aku memeluk Mama, agar Mama tidak tahu jika aku sedang menangis.
Tak sadar, ternyata sedari tadi Mama Feni menguping pembicaraanku dengan Mama. Dan Mama Feni pasti mendengar semuanya.
"Giaaaaa, Ya Allah Nakkkk......"
"Huhuhuhuhu, betapa baiknya kamu, tidak mau sedikitpun aib suamimu diketahui oleh Mama kamu sendiri, huhhhuhu, Naufal sangat rugi telah membuatmu sedih dan kecewa seperti ini,"
__ADS_1
"Tidak akan dia temukan, sosok kamu di wanita lain Nak, huhuhuhu, Mama yang akan menjadi beteng pertama jika Naufal terus saja menyakitimu," gumam dalam hati Mama Feni.
Bersambung...........