Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 119 (Teka Tekimu)


__ADS_3

"Tapi ini ada nama kamu loh Nak," ucap Mamaku.


Aku menerima kotak putih yang diberikan Mama padaku.


"Bentar-bentar, Mama ingat Gi kayaknya, iya bener, dulu banget waktu hari ulang tahun kamu, sebelum kamu nikah, ada kurir yang kirim kesini, terus waktu itu kamu nggak di Rumah, kan kamu koas waktu itu, eh Mama lupa bilang sama kamu, terus ke ikut di bersihin Bi Reni ke gudang," ucap Mamaku.


Aku melongo mendengar penjelasan Mamaku.


"Dari siapa ya Ma? Gia juga gak pernah beli-beli online," Tepisku.


"Coba kamu buka aja Nak, Mama mau ke kamar Johan dulu ya," ucapnya.


"Iya Ma," jawabku sambil menganggukkan kepalaku.


Mamaku menaiki anak tangga, sedangkan aku berjalan dan duduk di sofa Ruang Tamu.


***(Di Ruang Tamu)


Ku bersihkan sedikit debu yang sudah menempel di permukaan box putih itu.


"Uhuk uhuk," mungkin memang box putih ini sudah sangat usang.


Aku semakin penasaran dengan isi yang ada di dalamnya.


"Dari siapa ya?" gumamku dalam hati.


Saat ku buka pelan-pelan, terdapat snowglobe 🔮, papan akrilik kecil yang bertuliskan "Happy Birthday" dan terdapat kabel di salah satu sisinya, kemudian ada boneka penguin kecil disana, satu lagi yang membuatku tercengang melihanya, yaitu buku diary ku yang lama sudah kulupakan karena hilang, dalam buku diaryku terdaapt banyak ulasan kata yang ku buat dalam bait puisi, sekaligus buku itu juga berisi seribu mimpiku yang perlahan satu persatu ku wujudkan sampai sekarang ini.


"Haaaa!!!"


"Dari siapa ya ini?" tanyaku dalam hati.


Ku ambil buku diary ku , lalu ku buka dan ku baca kembali apa yang pernah ku tuliskan disana sejak aku SMA.


Sambil tersenyum-senyum sendiri karena mengingat keluh kesahku yang terdahulu, aku jadi teringat semuanya.


Saat aku membalikkan kertas di bagian paling belakang sendiri, ada sebuah coretan baru dan aku yakin itu bukan tulisanku. Karena goresan tulisannya sangat indah dan penuh makna



Aku menangis membaca tulisan itu.


"KV?? Jangan-jangan ini dari Pak Kevin??!! Iya pasti ini dari Pak Kevin," tebakku dalam hati.


"Lantas dari mana beliau mendapatkan semua diaryku," ucapku dalam hati.


Aku mencoba mengingat-ingat kejadian di masa lalu, tapi aku sama sekali tidak mengingatnya sedikitpun.


Aku memang ingat jika buku diary ku menghilang, tapi aku tidak menyangka jika buku ini sampai ke tangan Pak Kevin, ya meskipun tidak ada curhatan tentang kisah cinta di dalamnya, tapi bagiku buku itu sangat rahasia, bahkan Papa dan Mamaku saja tidak tau.


Aku terus mencari arti setiap kata yang di tulis Pak Kevin di dalam buku diaryku.


Apalagi susunan kata pada bari terakhir, serasa aku di tusuk oleh beberapa anak panah.


Jeeeepp.


"Aaaggh," keluhku yang tiba-tiba jantungku terasa sakit.


"Jika kamu pergi, kamu tidak akan pernah tau," kata itu yang terus menghantui pikiranku.


Memang Pak Kevin bisa di bilang seorang pengarang yang sangat indah dalam membuat sebuah karangan kata, tapi untuk kalimat terakhir yang dituliskan beliau padaku, itu membuatku semakin terus memikirkan arti kata itu.


"Maksudnya apa ya???" tanyaku dalam hati.


Aku terus mengingat-ingat dna mencari arti satu baris kalimat itu.


.


.


.


Dan akhirnya aku menemukan jawabannya.


"Apa jangan-jangan ini semua tentang diagnosa Pak Kevin ya yang selama ini disembunyikan dariku," gumamku dalam hati.


Aku kembali melihat isi box putih itu, sampai-sampai air mataku menetes membasahi boneka penguin itu.


Entah aku menangis karena apa?? Aku pun juga bingung.


Apa karena cinta??? Tapi aku tidak pernah sedikitpun mencintainya.


Apa aku kasihan?? Tapi jika kasihan, kenapa aku sesedih ini.


Apa aku peduli ?? Tapi untuk apa??


Aku membawa box itu ke kamarku untuk memberitahukan pada Naufal, aku ingin menceritakan semuanya padanya.


Aku berjalan perlahan menaiki anak tangga.


***(Di Kamar)


"Mas," panggilku.


Dan ternyata aku melihat Naufal yang tengah tertidur di atas ranjang.


Aku tak tega jika aku membangunkannya.


Ku hampiri dia, lalu ku mengelus keningnya.


"Pasti kamu capek ya gara-gara seharian ngurusin aku," gerutuku dalam hati.


Aku memutuskan untuk menyimpannya box putih itu di dalam laci mejaku.


"Nanti aja aku kasih tau Naufal kalo dia udah bangun," ucapku dalam hati.


.


.


.


.


.


Adzan magrib pun berkumandang, Naufal terbangun karena mendengar suara adzan.


"Uuughhhhmmm,"


"Bangun Mas?" tanyaku yang duduk di sampingnya sambil membolak-balikkan buku majalah.


"Hehehm, aku ketiduran Sayang," ucapnya.


"Kamu kecapek an tuh, ya kan," kataku.


"Enggak, cuman tadi nggak tau tiba-tiba aku ketiduran, padahal aku nggak ngrencanain buat tidur loh," candanya.


"Mas....Mas, mana ada ketiduran di rencanain," ucapku.


Dia langsung menarik tangannku dan menciuminya berkali-kali.


Lalu Naufal bangun dan segera mengambil air wudhu begitu juga dengan aku.


Setelah wudhu, kami melaksanakan sholat magrib berdua, dan setelah sholat, kami menyempatkan untuk mengaji.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, kami selesai mengaji.


"Mas, ak....," kataku terhenti karena sepertinya dia terburu-buru masuk ke kamar mandi.


"Bentar ya Sayang," ucapnya langsung berlari ke dalam kamar mandi.


"Hehehem, dasar Naufal," ucapnu sendirian.


Aku membereskan sajadah dan sarung yang habis di pakai Naufal.


Belum sempat aku melepaskan mukenahku. Aku penasaran dengan plakat akrilik yang terdapat kabel tadi.


Ku ambil box putih dari dalam laci.


Ku keluarkan semua isinya lalu ku letakkan di meja.


Segera ku tancapkan kabel papan akrilik yang bertuliskan "Happy Birthday" tadi ke sambungan listrik.


Dan papan akrilik itu menyala kelap kelip berwarna putih.


"Waaaawwh,"


Lalu ku kocok snowglobe itu, dan ku letakkan di pinggiran meja, dalam snowglobe terdapat satu rumah kecil dan manusia salju, saat aku mengocoknya, salju turun menutupi separuh rumah itu.


"Waaaah,"


Tiba-tiba Naufal membuka pintu kamar mandi, dan aku langsung terkejut berdiri sehingga menyenggol snowglobe itu.


Pyaaarrrrrrrr.


"Haaaah!!!" kataku karena melihat snowglobe yang kusenggol itu hancur.


Naufal berjalan mendekatiku.


"Gi, apa ini??" tanyanya.


"Eemmmmm ini.....ini," jawabku terbata-bata.


"Udah udah kamu diam dulu, biar aku beresin ini," tuturnya.


Aku terjatuh duduk di ranjang.

__ADS_1


Aku menatap Naufal yang tengah membereskan serpihan kaca dan salju buatan yang telah hancur itu, lalu dia segera menyapu dan membuangnya.


"Tadi itu apa sih Gi?" tanyanya lagi di sampingku.


Air mataku menetes dan meraih kedua pipinya.


"Terus itu apa lampu-lampu, sejak kapan kamu punya kayak gitu," ucapnya.


"Eemmmm ini......ini dari Pak Kevin," ucapku.


Deegggg......


Naufal langsung balik menatapku.


"Apa Gi?? Dari Kevin??" ucapnya.


"Iii....iya, tapi ini nggak seperti apa yang kamu lihat, tadi aku mau cerita ke kamu, tapi kamu tidur, terus aku coba cerita ke kamu lagi, kamu ke kamar mandi tadi," penjelasanku dengan nada gugup karena takut Naufal marah.


"Hey hey Sayangggg.... Jelasin sama aku pelan-pelan, jangan nangis gini, kamu jangan takut sama aku," tuturnya sambil mengusap air mataku yang mengalir deras di kedua pipiku.


"Aku nggak tau Mas, tadi Mama manggil aku ke bawah, terus Mama bawa box ini, kata Mama ini kiriman dari kurir, Mama lupa nggak ngasih tau aku dari dulu waktu aku masih koas, dan saat aku buka, isinya ini semua, dan semua ini dari Pak Kevin Mas," ucapku sambil menyerahkan box itu pada Naufal.


"Kamu lihat semua kalo kamu nggak percaya, semuanya kamu lihat Mas, dan ini buku diary aku, dan ini," ucapku terhenti dan Naufal langsung memelukku.


Aku menangis meraung-raung di pundaknya.


"Uuusshh ussshh," Naufal mencoba menenangkan ku.


"Aku takut, aku takut kamu marah sama aku huhuhuhu," ucapku sambil menangis.


"Kamu kenapa mesti harus takut Sayang?? Aku gak akan marah setelah aku tauc cerita dari awalnya, dan aku juga tau kamu bakalan jelasin ke aku, kenapa aku harus marah?" ucapnya.


"Ini kan memang barang-barang dari Kevin, kamu kan nggak minta sama dia, dia yang ngasih ke kamu, kenapa aku marah??? Enggak lah, udah cup cup cup kamu jangan nangis," tuturnya sambil mengelus kepalaku yang masih tertutupi dengan mukenah.


Kamu beneran nggak marah sama aku?" tanyaku sambil merengek-rengek padanya.


"Enggak Sayang, enggak," jawabnya.


"Mana coba aku lihat isinya ya," ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Naufal melihat satu per satu isi box itu, dia mengambil diary ku.


"Ini diary kamu?" tanyanya.


"Iya Mas," jawabku.


"Ini juga dari Kevin?" tanyanya lagi.


"Iya Mas," jawabku.


"Semuanya dari Kevin?" tanyanya lagi.


"Huhuhuhuuhu," aku menangis kembali dengan sikap cuek Naufal.


"Loh loh loh, kok kamu malah nangis lagi?" tanyanya.


"Kamu bilangnya cuek gitu sama aku, huhuhuhu, kamu marah kan, tapi kamu nggak bilang sama aku, ya kan, huhuhuhu," kataku.


"Loh loh loh, cuek gimana aku?" tanyanya lagi.


"Kamu, nggak manggil-manggil aku Sayang lagi, huhuhuhu," jawabku.


"Hahahaha, ya ampun Sayanggggggg," kata Naufal kembali memelukku lagi.


"Iiiiih aku jadi gemes sama kamu," kata Naufal.


"Kamu gitu, kalo aku lagi nangis, kamu ngetawain aku huhuhuhu," rengekku.


"Yah kamu lucu, iya iya aku panggil kamu Sayang teruussss," ucapnya.


"Ini aku boleh baca diary kamu?" tanyanya padaku.


"Boleh lah, kenapa pake nanya gitu kamu," jawabku sambil mengusap air mataku.


"Hehehe, bentar ya aku baca ya," kata Naufal.


Naufal naik ke ranjang dan menyenderkan kepalanya di ranjang, sedangkan aku, ku senderkan kepalaku di lengan Naufal.


Naufal membaca halaman demi halaman buku diaryku, dan dia sempat menertawakan ku.


Saat dia membaca Planning Goals dalam diaryku, dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Ooww jadi Swiss, eemmm kalo postingan IG ku sih aku tau semua lokasinya kamu pake Swiss semua, tapi aku juga sempet jadi stalker nya Si Kevin, kayaknya ada deh Sayang salah satu foto yang di post dia, dan dia juga pake lokasi di Swiss kayak kamu, eeeemm jadi ini," kata Naufal.


"Ini apa??" tanyaku sambil menengadahkan wajahku untuk menatapnya.


"Ya jadi ini planning goals kamu Sayang, sampe-sampe ke bawa di IG nya, hehehem," ejek Naufal.


"Jangan gitu dong Mas, siapa tau memang beliau juga kebetulan suka Swiss," ucapku.


"Hehehehem, iya iya," ucapnya.


Sampai pada akhirnya tepat di halaman belakang sendiri yangt terdapat goresan tulisan Pak Kevin.


Dia membacanya dengan seksama.


"Ini tulisan Kevin Sayang?" tanya Naufal.


"Iya Mas," jawabku.


"Ooowwhh," ucap Naufal sambil mengangguk-angguk kepalanya.


"Habis ini aku buang semua kok Mas," kataku.


"Kenapa di buang? Jangan lah Sayang," tuturnya.


"Kok jangan?? Dari pada nanti jadi masalah di antara kita Mas," tepisku.


"Huummm, nggak usah di buang Sayang, di simpen aja disini, tapi jangan di bawa ke Rumah kita, meskipun ini masa lalu, tapi kita juga harus mneghargai, ini juga beli loh Sayang," tuturnya yang sangat berfikir dewasa.


"Dan gak bakalan jadi masalah Sayang kan kamu udah cerita ke aku, udah ngasih tau semua ke aku, jadi di simpan aja," ucapnya.


Mama mengetuk pintu kamarku.


Tok....tok....tok.


Aku segera turun dari ranjang dan membuka nya.


Gleeekkk.


"Mama," kataku.


"Nak, ke bawah makan dulu ya, Mama tungguin," ucap Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


Mamaku langsung berjalan meninggalkan kamarku.


Aku segera mengajak Naufal untuk turun.


"Mas diajak Mama makan di bawah," kataku.


"Sekarang?" tanyanya.


"Iya," jawabku.


Aku dan Naufal segera turun ke bawah.


***(Di Ruang Makan)


Mereka sudah menunggu kami disana.


"Kak duduk sini Kak," kata Johan sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya.


Aku tersenyum lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Ayo makan," ucap Mamaku.


Segera kami menyantap makan malam bersama.


"Kak, besok lusa pulang ya?" tanya Johan.


"Iya lah," jawabku.


"Yaah bentaran banget disini," keluh Johan.


"Mas Naufal harus kerja Dek," kataku.


"Oh iya Johan lupa, padahal Johan masih pengen Kakak disini," ucapnya lagi yang memang sangat lama tidak bertemu denganku.


"Ya kamu kalo libur kuliah ke rumah Kakak aja, nginep disana, liburan disana," tuturku.


"Bentar lagi kakak kamu kan lahiran Jo, jadi disini lama," sahut Mamaku.


"Oh iya ya Ma, hehhee," kata Johan sambil tersenyum dengan sedikit malu-malu.


Setelah selesai Makan malam, kami berbincang-bincang sebentar disana.


Lalu adzan isya' berkumandang, kami segera masuk ke kamar kami masing-masing.


***(Di Kamar)


Aku dan Naufal bergegas mengambila air wudhu, dan melaksanakan sholat isya'.


Setelah selesai sholat isya', aku membereskan papan akrilik dan semua isi box tadi untuk ku simpan dan tidak akan ku buka kembali.


Aku dan Naufal duduk-duduk sejenak di Balkon.


Dan Johan mengetuk pintuku.


Tok....tok.....tok.


Naufal segera membuka kan pintunya, Johan masuk ke kamar dan menemuiku di Balkon.

__ADS_1


"Ada apa Dek?" tanyaku.


"Enggak, lagi pengen sama Kakak aja," jawabnya.


"Kenapa? Lagi banyak pikiran?? Atau kamu lagi mikirin apa? Tugas kamu?" tanyaku.


"Heeemmm Johan mau curhat sama Kakak," ucapnya.


"Curhat apa?" tanyaku.


"Johan cuman mau tanya, beri satu alasan sama Johan, kenapa Kakak dari dulu selalu bisa nurutin apa kata Papa, harus ini lah harus itu lah, kenapa Kak?" tanyanya.


"Kenapa kamu nanya gitu? Kamu nggak nyaman sama kuliah kamu?" tanyaku.


"Bukan gitu Kak, cuman aku ngerasa aku gak bisa ngecewain Papa," jawabnya.


"Apa memang gini ya Kak rasanya? Sedikut saja kita menginjak kerikil saat itu juga kita merasa melakukan sebuah kesalahan," ucapnya.


"Kamu cinta kan sama Mama sama Papa?" tanyaku.


"Banget Kak," jawabnya.


"Ya memang benar apa yang kamu rasakan, Kakak juga merasakan itu dulu, tapiiiiii dengan kita menuruti semua keinginan orang tua kita, dan itu yang terbaik untuk kita, buahnya pasti bakalan kamu nikmati juga," tuturku.


"Gak ada ceritanya nurut orang tua, terus kita malah sengsara, nggak ada Dek, sedalam-dalamnya kita terjatuh, pasti Allah nolong kita, percaya itu, karena kita berbakti sama mereka," tuturku.


Johan mencurahkan semua isi hatinya padaku, sampai-sampai dia menangis, dia begitu mencintai Mama dan Papa.


Aku saja sampai heran, padahal dia seorang laki-laki, tapi kekeluargaan sangat di pegang erat dengannya, memang sejak kecil keluargakus selalu menanamkan hal kecil dalam keakraban antar saudara kandung ataupun orang tua. Jadi pantas jika anak-anaknya seperti aku dan Johan ini.


"Ya udah Kak, kalo gitu Johan balik ke kamar ya," pamitnya.


"Iya, langsung tidur, jangan begadang," tuturku.


Johan berjalan keluar dari kamarku.


Naufal mengajakku untuk segera tidur. Dia mematikan lampu di dalam kamar.


Lalu aku cerita pada Naufal.


"Mas," ucapku.


"Hm?" jawabnya.


"Mama nangis cerita aku," ucapku.


"Nangis?? Mama nangis kenapa Sayang?" tanyanya.


"Mama tadi cerita sama aku, Mama ke kamar waktu kamu main PS sama Johan," kataku.


"Mama nanya sama aku, Mama pengen aku cerita tentang kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami kala itu Mas," ucapku.


"Tapi aku tidak menceritakannya Mas, karena memang aku bahagia terus sama kamu," kataku.


"Kata Mama gini Mas, kan Mama dulu juga dijodohin kayak kita, jadi Mama tau persis perasaan saat hari pertama sebuah rumah tangga dimulai," ucapku.


"Kamu kenapa nggak pernah cerita Sayang itu Mama kamu sendiri loh," kata Naufal.


"Bukan nya aku nggak mau Mas, aku gak pengen aja cerita keluhku, sedihku, kekhawatiran ku sama Mama dan Papa, karena yang aku tau, aku hanya ingin melihat kebahagiaan mereka saja, bukan kesedihan mereka, jika mereka bersedih, maka aku yang paling tersakiti saat itu Mas," ucapku.


Naufal menatapku, lalu mencium keningku.


"Aku salut sama kamu Sayang," ucapnya.


"Memang kamu cengeng, tapi sebenarnya kamu kuat di depan Mama dan Papa, tapi jika bersamaku, kamu nggak perlu nutup-nutupin dari aku, kamu harus cerita semuanya, dari sedih, bahagia, lara, senang, kecewa, cemas, semuanya Sayang," tuturnya.


Aku melingkarkan tanganku di pingganya. Dan aku tersenyum padanya.


"Insya'Allah," kataku.


"Nggak, nggak boleh Insya'Allah, harus iya," paksa Naufal.


"Kok maksa gitu?" ucapku sambil menaikkan kedua alisku.


"Ya harus Sayang pokoknya, kamu jangan aneh-aneh loh," kata Naufal.


"Hehehe, iya iya Mas," jawabku yang membuatnya merasa lega.


Tiba-tiba Naufal mengelus perutku sambil bersenandung sholawat nabi untuk bayiku.


Sampai-sampai kami pun tertidur.


.


.


.


.


.


.


Adzan shubuh berkumandang.


Naufal membangunkanku dari tidur.


"Sayanggggg......Sayang," ucap Naufal.


Mendengar suara suamiku, aku segera bangun.


"Uugghhmmm,"


"Udah shubuh ya Mas?" tanyaku.


"Iya Sayang, aku wudhu dulu ya," ucapnya lalu turun dari ranjang.


Setelah Naufal keluar dari kamar mandi, segera aku bergegas mengambil air wudhu, lalu kami melaksanakan sholat shubuh berdua.


.


.


.


Setelah sholat, kami tidak kembali tidur, Naufal mengajakku jalan-jalan menyusuri kompleks ini.


"Sayang kita jalan-jalan ya, lemasin kaki, biar kaki kamu juga nggak kaku lagi," tutur Naufal.


Aku menuruti semua kemauannya.


Dan akhirnya kami pun berjalan keluar dari halaman Rumah.


"Huuuummmm, seger banget Sayang udaranya disini," ucapnya.


"Iya lah, kompleks ini bersih Mas banyak pohon-pohon nya juga," kataku.


Tidak hanya kami yang sedang jalan-jalan disana.


Ada para tetangga yang sedang jogging disana, apalagi wanita yang sumuranku tetapi sepertinya masih belum menikah, terus melirik pada Naufal.


Tetapi juga ada banyak tetangga Mama yang menyapaku dan menanyakan kehamilanku.


"Gia ya ini?" tebak segerombol wanita yang seumurand dengan Mamaku.


"Iya Tante," jawabku.


"Masya'Allah, sudah berapa bulan ini, lama nggak ketemu kamu Gi, aduuuh," ucap wanita itu.


"Jalan 8 bulan Tante," jawabku.


"Ini suaminya ya?" tebaknya lagi.


"Iya Tante," jawabku sambil tersenyum pada mereka.


Naufal hanya memberikan senyumnya saja pada mereka.


"Ooowwwhh, jadi tinggal di rumah suami disana?" tanyanya.


"Iya Tante," jawabku.


Aku hanya menjawab iya-iya saja, karena aku snagat jarang bercengkrama dengan mereka, tapi mereka mengenalku, tau namaku, sedangkan aku tidak tau nama-nama mereka.


Akhirnya segerombolan ibu-ibu itu meninggalkanku.


Dan kami melanjutkan menyusuri jalan kompleks itu.


"Sayang, kamu ditanyai ibu-ibu tadi kok iya iya aja, kaku banget loh," ucap Naufal.


"Ya aku nggak pernah ngomong sama ibu-ibu tadi Mas, aku aja nggak tau namanya," kataku.


"Ha?? Serius kamu Sayang??" tanya Naufal yang kaget.


"Iya Mas," jawabku singkat.


"Terus kamu di rumah ngapain aja Sayang dulu?" tanyanya.


"Ya di dalem Rumah Mas, diem nggak kemana-mana," jawabku.


"Aaassshhh betah kamu?" tanyanya.


"Kenapa nggak betah, betah lah Mas," kataku.


"Pantesan kamu tadi kaku banget, unsos kamu mah," ejek Naufal.


"Bukan unsos Mas, emang beda aja sifat aku sama kamu," kataku.


"Hehehe iya iya Ibu Gia, maaf maaf," canda Naufal.


Berambung......


Nantikan kisah bahagia Naufal dan Gia ya


hehehe jangan lupa like, komen, dan vote nya🙏😁

__ADS_1


__ADS_2