
Deg deg……deg deg…..
Dia juga menatapku bingung.
“Ini temanku Sayang, Dokter Alvi Bernardus Clement, bisa di panggil Dokter ABC, hehehm,” kata Naufal.
“Kenapa dia lagi sih,” gerutuku dalam hati.
“Aghhemm, saya Gia, istri Dokter Naufal,” kataku.
“Alvi,” ucapnya singkat.
“Dia teman baru aku beberapa bulan ini Sayang, saat aku
ngurusin masalah relawan ini, aku berunding sama Alvi lewat chat, dia seusia kamu loh,” kata Naufal.
“Hehehem,” aku hanya memberikan senyumku pada Naufal.
“Dan yang lebih menariknya lagi........dia mualaf,” kata Naufal.
Deggggggg……..
“Dia mualaf,” kataku dalam hati.
“Dia sering nanyain tentang islam ke aku Gi,” ucap Naufal.
Dan tiba-tiba ponsel Naufal berdering.
“Bentar Sayang, aku angkat telfon dulu,” ujar Naufal lalu
melangkah agak menjauh dari kita.
“Vi, aku tinggal dulu ya,” ucap Naufal.
“Kamu bisa juga tanya-tanya tentang islam ke Gia,” kata
Naufal.
Naufal meninggalkan kami, mood ku hancur seketika berdiri di
hadapan pria menyebalkan ini.
Kami saling diam, dan saling menundukkan pandangan kami.
Hingga Naufal kembali menemui kami.
“Tadi sampe mana kita??” tanya Naufal sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.
“O h ya, Vi, kamu juga bisa nanya-nanya ke Gia tentang
islam, Insya’Allah dia bisa jawab, ya kam Sayang??” tanya Naufal.
“Nggak, aku nggak bisa,” jawabku dengan tegas menolak
mentah-mentah.
“Sa…Sayang, ken….” ucapan Naufal terpaksa ku potong, karena aku sudah tidak betah berada di dekat pria itu.
“Maaf Mas, aku masih ada banyak pasien, aku tinggal dulu ya,
lain kali kita bisa bicarain soal ini,” cetusku dan langsung melangkah meninggalkan mereka.
“Tapi Gi…..Gia…” panggil Naufal yang sengaja tak
kudengarkan.
Aku berjalan sebal, beruntung aku bisa menjauh darinya lagi.
“Kenapa harus ketemu dia lagi sih,” gumamku berjalan
nyelonong sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang harinya, saat kami akan melaksanakan sholat dhuhur dan mengantri untuk mengambil air wudhu, aku melirik Naufal yang sedang dengan pria itu lagi.
“Dokter Gia, kenapa ditekuk gitu sih??” tanya Si Suster yang
selalu bersamaku.
“Ehehem, nggak papa Sus,” jawabku.
“Kenapa?? Marahan sama Dokter Naufal ya Dok, kok dari tadi lihatin Dokter Naufal terus,” tebak Suster.
“Engg…..enggak Sus, beneran enggak kok, cuman mood nya lagi nggak baik aja kali ya,” alasanku.
“Udah Sus jangan dibahas, hehehe,” tepisku.
.
.
.
.
Setelah kami semua menjalankan sholat dhuhur, Naufal
mengajakku untuk makan siang.
“Sayang, makan siang yuk,” ajaknya.
“Berdua??” tanyaku spontan.
“Iya dong berdua,” jawabnya.
Aku duduk berbujur di sebelah Naufal dan menikmati nasi
kotak yang di fasilitasi untuk semua relawan disini, hehehehe.
“Kamu kenapa jutek banget sih tadi sama Alvi??” tanya
Naufal.
“Mas, kalo makan nggak boleh sambil ngomong,” tuturku.
“Huumm, kamu alasan aja Sayang,” kata Naufal.
“Nggak biasanya loh kamu jutek, judes gitu ke orang,” ujar
Naufal.
“Mas Naufal, makan duluuu,” rengekku.
“Ya kan aku cuman pengen tau alasan nya aja,” kata Naufal.
“Ya udah tapi setelah selesai makan, kamu harus jawab ya,”
rayu Naufal.
“Iya deh iya, yang penting kamu habisin dulu makannya,”
jawabku.
Selesai makan, Naufal menagih apa yang sudah ku janjikan.
“Sekarang, kamu harus kasih alasan ke aku,” ucapnya.
“Hummm, apa sih Mas, alasan kenapa tadi aku jutek aku
judes?” tanyaku.
“Ya iya Sayang, hayo kenapa?” tanya Naufal balik.
“Ya nggak tau spontan aja, mungkin mood ku jelek kali,”
jawabku.
“Nggak mungkin, soalnya kamu nggak mungkin kek gitu ke orang Sayang, sebadmood badmood nya kamu, pasti masih bisa kamu tahan, kamu sembunyiin dari orang di sekitar kamu, kecuali orang di dekat kamu, katanya kamu nggak mau nyakitin orang,” kata Naufal.
“Kan mood orang bisa berubah-ubah Mas, udah ah ayo berdiri,
jam makan siang udah abis Mas,”ucapku sambil beranjak berdiri dan menarik tangan Naufal.
“Iya iya Sayang, nih berdiri,” jawab Naufal yang menyusulku
__ADS_1
berdiri.
Kami melanjutkan pekerjaan kami disini hingga sore hari.
.
.
.
.
Sore harinya, seperti biasa kami turun bersama dari puncak.
Lelah, letih, keringat, selalu menghantui kami setiap
sorenya, namun rasa itu terbayarkan oleh pemandangan sunset yang sudah 2 kali ini menyambut kami hangat disini.
Sambil berjalan sambil menikmati sunset.
“Mas, ke kota yuk nanti malam, aku kangen sama Abay,” kataku pada Naufal.
“Habis magrib??” tanya Naufal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja pada Naufal.
“Waduh nggak bisa Sayang, aku udah ada janji sama
temen-temen mau lanjutin bahas yang kemaren lagi,” jawab Naufal.
“Ya udah habis isya’ deh,” rayuku lagi.
“Nggak bisa Sayang, besok aja ya, maafin aku, soalnya itu
selesainya pasti lama banget, apalagi banyak yang berbeda pendapat,” kata Naufal.
“Huumm, ya udah aku ngajak Suster kesana aja ya nanti,” ucapku.
“Tapi kamu hati-hati loh, ke kota itu jauh jalannya gelap,”
tutur Naufal.
“Iya-iya Mas, aku bakalan hati-hati kok,” kataku.
“Pake mobilnya siapa?” tanya Naufal.
“Mobil dari anak PMI,” tebak Naufal.
“Iya Mas, mau pake yang mana lagi,” ucapku.
“Ya udah, kamu hati-hati pokoknya, sebenarnya aku agak nggak ngijinin kamu sih, tapi kasihan kamu, udah rindu Abay ya,” ucap Naufal.
“Iya Mas, rindu banget,” rengekku.
Kami berpisah karena menuju ke tenda yang berbeda.
***(Tenda Perempuan)
“Sus, nanti ikut saya yak e kota,” ajakku.
“Ke kota?? Ngapain Dok??” tanya nya.
“Mau VC anak saya Sus,”jawabku.
“Eemmmm, kebetulan banget Dok, saya juga mau cari signal
yang oke, buat video call pacar saya,” ucap Si Suster.
“Ya udah mandi dulu sus, gerah banget, udah gatel-gatel
semua,” keluhku.
Lagi-lagi aku harus mengantri demi bisa mandi disini.
.
.
.
.
.
.
.
Kebetulan aku sudah meminta ijin untuk pergi ke kota bersama
Suster dengan meminjam mobil anak PMI.
“Mas, aku ke kota ya,” kataku.
“Iya, jangan lupa hati-hati, pelan-pelan aja jalannya kecil,” tutur Naufal.
“Iya iya Mas,” jawabku.
“Kamu yang nyetirin??” tanya Naufal.
“Iya lah Mas,” jawabku.
“Susternya nggak bisa?” tanya Naufal.
“Pastinya bisa Mas, tapi aku nggak enak, kan yang ngajakin
aku bukan dia,” uajraku.
“Huumm, kamu harus beneran hati-hati loh Gi, awas kamu sampe kenapa-napa,” ancam Naufal sambil mencubit ujung hidungku.
“Iya iya, uuh Mas Naufal,” rengekku.
“Ya udah berangkat sana gih, aku mau kumpul nih,” ucap
Naufal.
Aku mengendarai mobil ini dengan Suster, melewati jalan kecil
dengan penerang lampu yang tidak seterang di jalan kota.
Hanya mobil kami yang melintas disana menyusuri hutan
gersang.
Laju mobilku begitu pelan, karena kau harus terus
mengingat-ingat pesan suamiku.
“Dokter berani ya lewat jalan ginian, hihihi,” ucap Sutster.
“Sebenarnya kalo sendiri sih nggak berani Sus, kan ini ditemani sama Suster, jadi saya berani,” kataku.
“Tumben tadi di ijinin sama Dokter Naufal Dok??” tanyanya.
“Ini demi anak Sus, hehehe, tadi saya ajakin Mas Naufal,
tapi Mas Naufal nggak bisa karena harus lanjut bahas obrolan kemaren sama temennya katanya,” jawabku.
“Hehehem, gitu ya Dok kalo orang penting, sibuk banget,” ujar
Si Suster.
.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Kota)
Mobil kami singgah di sebuah café disana.
“Udah, disini puas-puasin Sus, bebas bisa pake wifi, pake
paket data, vc siapapun bisa, hehe,” kataku sambil melepas seat belt mobil.
“Hehehe, huumm setelah kekurung 2 hari Dok, akhirnyaaa bisa ketemu suasana kota lagi,” kata Si Suster dengan senang.
Kami pun turun berdua, masuk ke dalam cafe itu.
__ADS_1
Kami duduk berdua di meja mini bundar di dekat dinding kaca
disana.
Tanpa berfikir panjang, paket data langsung ku nyalakan dan
langsungmenghubungi Abay.
“Dok, pesan apa??” tanya Suster.
“Emm…saya seadanya aja nggak papa Sus,” jawabku.
“Seadanya gimana maksudnya Dok?? Sama kayak saya??” tanya Suster lagi.
“Iya deh Sus, nggak papa,” jawabku yang trerus memandang
layar ponselku.
Tak lama kemudian, Abay langsung mengangkat panggilan video dariku.
“Asalamu’alaikum Abayyyy,” kataku.
“Wa’alaikumsalam Ma,” jawab Abay dengan girang namun masih memakai kopyah di kepalanya.
“Abay habis sholat??” tanyaku.
“Iya Ma, baru aja selesai, Mama dimana ini?? Kok bisa video
call Abay??” tanyanya.
“Ini Mama ke café Nak, biar bisa video call sama Abay,
hehehem,” jawabku.
“Abay kangen banget sama Mama sama Papa,” ujar Abay.
“Mama juga Nak,” balasku.
“Papa dimana Ma??” tanyanya lagi.
“Papa kamu nggak ikut Nak, ini Mama sama Tante temen Mama,” jawabku sambil mengarahkan kamera ke wajah Suster.
“Hayy Abay,”sapa Si Suster.
Hanya sebentar aku video call dengan Abay, karena dia harus
harus segera les.
Mumpung lagi di kota, aku memanfaatkan waktu sebaik mungkin, video call Mama yang lagi di rumah sakit nemenin Papa, Video call Susi karibku, dan Mama mertua yang selalu mengerti dengan menantunya.
.
.
.
.
Cukup lama kami di café itu, akhirnya kami memutuskan untuk
kembali ke puncak.
Kali ini Suster yang menjadi sopirnya. Mobil kami melaju
terlebih dahulu ke POM untuk mengisi penuh bensin dalam tangka mobil ini.
.
.
.
.
Setelahnya mobil mengantri di POM dan tangki sudah terisi
penuh dengan bensin, mobil melaju keluar dari kawasan POM.
Saat itu, aku melihat pria yang tak waras itu lagi yang sedang memperbaiki motor di pinggir jalanan POM.
“Itu kan dia,” kataku dalam hati.
“Lagi ngapain dia??” gerutuku dalam hati sambil melihatnya.
“Ah aku pura-pura nggak tau aja lah,” gumamku dalam hati
sambil melihatnya dari dalam mobil.
Tiba-tiba, Suster mendapat callingan dari temannya.
“Dok, maaf ya, saya mau ketemuan sama teman saya,” ucapnya.
“Ha?? Sekarang Sus??” tanyaku.
“Iya Dok, maaf banget Dok, saya nggak enak sama Dokter
karena harus balik sendirian,” ucapnya.
“Eeee……eemmm.., teman nya Suster dimana??” tanyaku.
“Ini saya dikasih share lokasinya dia Dok, ini teman lama saya
Dok,” ujar Suster yang sepertinya sangat senang.
“Emm……gimana ya……ya udah nggak papa saya balik sendirian,
sekarang saya antar kamu dulu ketemu sama teman kamu,” tuturku.
“Beneran nggak papa Dok?? Saya nggak enak banget sama Dokter, apalagi ngebiarin Dokter balik sendirian, pasti saya nggak sopan ya, maaf ya Dok,” ucap Si Suster.
“Nggak nggak, nggak papa Sus,” ucapku.
Akhirnya mobil pun melaju menuju tempat teman Suster.
.
.
.
.
.
Sampainya di sebuah rumah besar, mobil kami berhenti di
depannya, dan Suster pun turun.
“Sus, nanti baliknya gimana?” tanyaku dalam mobil.
“Di antar sama teman saya Dok,” jawabnya.
“Oooww gitu, ya udah saya balik dulu ya,” pamitku.
“Iya Dok,” jawabnya.
Akhirnya mobil ku lajukan kembali menuju puncak dengan
kecepatan tinggi, karena aku mengendarai mobil ini sendirian, meskipun aku sempat menelepon Naufal agar menyusulku, namun aku lupa, bahwa disana susah sekali untuk mendapatkan signal.
“Aduh aku lupa lagi, disana kan nggak ada signal,” kataku.
Ku beranikan diri untuk masuk menyusuri jalanan hutan
sendirian, pandangan ku hanya lurus ke depan, karena lampu mobil yang menyorot terang jalanan sepi yang ada di depan.
Saat baru saja aku memasuki hutan, aku melihat dari kejauhan seseorang yang sedang duduk jongkok memperbaiki mesin motornya lagi.
“Ha?? Siapa tuh beraninya sendirian disini,” gumamku smabil
memelankan laju mobilku.
“Apa jangan-jangan hantu ya,” kataku sambil mengusap
tengkukku.
“Iiihh srem,” kataku lagi.
Ku perjelas pandanganku lagi, ku ucek-ucek kedua mataku.
“Itu orang???” tanyaku sendirian.
“Kok kayak dia sih,” ucapku dalam hati.
“Nggak nggak, nggak mungkin pasti ini hantu,” ucapku.
Mobilku semakin mendekat padanya dan semakin jelas bahwa itu benar-benar orang yang sedang berdiri melambaikan tangannya di tengah jalan seperti orang sedang meminta tolong.
Bersambung............
__ADS_1