Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 182 (Ke kota)


__ADS_3

Aku berdiri dan menoleh padanya, ternyata dia Alvi.


Dia juga tidak tau kalo itu aku. Alvi berjalan menghampiri


kami.


Dia membawa sebuah cup es krim.


“Nih buat kamu, hehehm,” ucap Alvi sambil memberikan cup es


krim itu pada Nara dan mengelus rambutnya.


“Nara jangan makan coklat ya, nanti mata Nara merah lagi,”


tutur Naufal.


Ku kantongi kembali 3 coklat ku.


Nara melangkah meninggalkan kami untuk bermain dengan


teman-temannya.


Aku berdiri bengong di depan Alvi.


“Dia punya riwayat alergi, nanti dia bisa batuk sama matanya


memerah,” ucap Alvi dan langsung melangkah meninggalkanku.


“Oh….ma….maaf, aku nggak tau,” ucapku di belakangnya dan


juga langsung meninggalkan Alvi.


“Tumben jutek banget,” gumamku dalam hati.


Aku kembali mengecek kondisi satu per satu pasien disana, dengan ditemani Si Suster.


Ada pasien yang sedang kejang disana, aku langsung tanggap


dan cepat menolongnya.


Setelahnya aku merawat pasien itu, aku duduk di


tengah-tengah Ibu-Ibu yang menjadi korban disana.


“Ibu, kenapa nggak mau ngungsi aja ke bawah??” tanyaku.


“Hehehem, nggak Dok, enak disini,” jawab mereka.


“Tapi kan bahaya Buk, kalo misal ada gempa susulan gimana,”


ucapku.


“Insya’Allah tidak Dok,” ucapnya.


Memang sih, warga disini sangat dangkal kata Pak RT, padahal sudah berkalo-kali diberi pengarahan agar berpindah agak ke bawah, namun mereka semua tetap disini.


.


..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hingga sore harinya, kami beristirahat sebentar di sana.


Aku duduk dengan Suster sambil sedikit bercerita-cerita,


Naufal pun datang menemui ku.


“Gi,” pangilnya dari belakang.


Naufal ikut duduk sila sepertiku dan Suster.


“Mas Naufal,” ucapku.


Si Suter merasa sungkan sepertinya dan dia berpamitan pada


kami.


“Dok, saya kesana dulu ya,” pamit Suster.


“Mau kemana Sus??” tanyaku.


“Kesana bentar Dok,” jawabnya sambil memberi kode kedipan


mata padaku.


“Nggak papa Sus disini aja, ngobrol bertiga,” sahut Naufal.


“Hehehem, iya Dok makasih, tapi saya sudah ada janji,” kata


Suster.


“Permisi ya Dok,” kata Suster dan berdiri melangkah


meninggalkan kami.


“Ada apa Mas?” tanyaku.


“Enggak, aku mau tanya kamu aja,” jawab Naufal.


“Soal apa??" tanyaku balik.


“Si Alvi Sayang, tunangannya mau ulang tahun, dia bingung


mau kasih surprise gimana sama kado apa,” jawab Naufal.


“Alvi, huuufft,” kataku dalam hati.


“Aku mau tanya kamu, enaknya gimana kasih apa??” tanya


Naufal.


“Aaghhemm….yaa….yaaaa kamu kasih ide kayak biasanya kamu kasih surprise sama hadiah buat aku aja Mas,” jawabku.


“Ya barangkali kamu punya rekomendasi gitu Sayang,” ujar


Naufal.


“Eemmm….untuk saat ini, nggak ada deh kayaknya Mas, aku


belum bisa bayangin dan mikirin, lagi buntu, belum dapat referensi hehehm,” alasanku.


“Ayolah Sayang kamu kan cewek, jadi kamu tau minta nya


gimana,” ucap Naufal.


“Kenapa harus tanya ke aku sih Mas, kan kamu juga tau mau


nya aku kayak gimana,” tepisku.


“Ya iya Sayang, tapi kan barangkali nih kamu punya imajinasi


lain, pliiiss buat nolongin temen aku loh Sayang, dia minta saran sama aku yang udah berkeluarga,” rayu Naufal.


“Mas….kamu kan juga tau tanpa tanya ke aku, atau tanya ke


Pak Bastian, pasti tuh langsung tau,” kataku.


Alvi melintas di belakang kami.


“Nah itu Alvi,” kata Naufal yang melihat Avi.


“Dokter Alvi,” teriak Naufal memanggil teman barunya itu.


“Sini,” ucap Naufal sambil memanggil Alvi dengan gerakan


tangannya.


“Mas Naufal ngapain manggil Alvi sih, kenapa nggak cukup kita


berdua aja,” gumamku dalam hati.


“Semoga aja Alvi nggak mau,” ucapku dalam hati.


Alvi sepertinya tau jika yang di sebelah Naufal adalah aku.


“Oh maaf Dok, saya nggak bisa, ada ini apa, panggilan lagi,


hehe,” tolaknya.


“Nggak papa kesini bentar, katanya mau tanya mau kasih kado apa, ini langsung ngomong sama Gia aja,” ucap Naufal.


“Tapi saya buru-buru Dok, maaf ya,” kata Alvi.


“Ya udah iya deh,” jawab Naufal.


“Alhamdulillah, untung saja Alvi nggak mau,” kataku dalam


hati.


“Malu kayaknya dia Sayang, hehem,” ucap Naufal.


“Lagian kamu sih, enak juga berdua ada aja,” tepisku.


“Kan biar enak Sayang, dia langsung nanya nya,” ujar Naufal.


“Massss…..kan aku udah bilang sama kamu, kalo dia mau tanya


ke aku, harus ada perantaranya, yaitu kamu, nggak bisa langsung ke akunya,” kataku.


“Enak enak berdua, eeh malah nambah nambah lagi,” gerutuku.


“Hehehe, iya iya Sayang, nanti malam kan kita berdua, puasin


tuh,” ucap Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


Adzan magrib berkumandang, kami mengantri mengambil air


wudhu lalu sholat berjama’ah bersama-sama.

__ADS_1


Setelah sholat, Naufal langung mengajakku ke kota.


“Sayang, Bastian ikut gimana??” tanya Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


Pak Bastian tersenyum menyeringai di samping Naufal.


“Dia tuh Sayang, ngikut aja, gangguin kita, kan kita mau


quality time berdua,” ucap Naufal.


“Pliiiss lah Fal, Gue kan nggak bisa jauh dari Lo,” goda Pak


Bastian.


“Iiighhhh geli Gue Bas,” kata Naufal.


“Nggak papa kok Mas, Pak Bastian ikut aja, kan Pak Bastian


juga mau telfon Susi sama anaknya di rumah,” kataku.


“Hehehe, aduuuh Gia, baik banget, beda tuh sama suami kamu yang jutek ini,” puji Pak Bastian.


“Tuh kan Fal, apa kata istri Lo, kalo sama Gia mah boleh-boleh aja, huh dasar Lo Fal, pelit banget kasih tumpangan,” kata Pak Bastian.


Naufal kesal padanya, hehehe.


“Udah jangan banyak omong Lo Bas,” ucap Naufal kesal namun malah di tertawakan oleh Pak Bastian.


“Awas Lo ya kalo di sana gangguin Gue sama Gia, Gue jitak


Lo,” ancam Naufal.


“Hahahaha, Insya’Allah enggak sih, hihihi,” goda Pak


Bastian.


“Tuh kan Sayang, Bastian tuh ngeselin, mending nggak usah di


ajak,” rengek Naufal.


“Udah Mas, nggak papa, Pak Bastian gak bakal gangguin kok,”


tuturku.


“Al, Alvi,” panggil Naufal yang melihat Alvi berjalan ke


Tenda laki-laki dan masih memakai kopyah dan sarung.


Naufal menggeret Alvi.


“Al, ikut kita ya,” ajak Naufal.


Deeggg….


“Ha?? Mas Naufal ngajak Alvi,” gerutuku dalam hati.


“Ngapain harus Alvi sih, yang lain kan bisa,” gumamku kesal


dalam hati.


“Kemana Dok??” tanya Alvi gugup.


“Ke kota Al, kamu kan tiap malam ke kota kan, nah sekarang


kamu gabung barengan sama kita aja, biar nih Dokter Bastian biar ada temennya,” ucap Naufal.


“Adduuhh….semoga aja dia nggak mau,” kataku dalam hati.


“Tap…….tapi saya nggak bisa Dok,” tolak Alvi lagi-lagi,


mungkin karena dai sudah berjanji padaku agar tidak menggangguku lagi, maka nya dia terus menolak ajakan Naufal agar tidak terlibat denganku lagi.


“Huuufftt syukurlah dia nggak mau,” ucapku dalam hati.


“Nggak bisanya kenapa sih Al?? Kan kamu biasanya juga


motoran kesana,” ucap Naufal.


“Tap..” kata Alvi langsung dipotong oleh Naufal.


“Udah ikut kita aja nggak papa Al, dari pada pake motor


sendirian loh, udah sana ganti baju, kita tungguin disini,” paksa Naufal.


Akhirnya Alvi pun ikut dengan kami.


Di perjalanan kamu semobil berempat, aku duduk di depan


dengan Naufal, Pak Bastian dan Alvi di belakang.


Rasanya suasanya tak enak dan membuat canggung, jadi


suasananya sepi, tidak seperti biasanya.


Aku diam melihat jendela luar mobil, begitu juga Alvi,


Naufal fokus menyetir, dan Pak Bastian sibuk memperhatikan jalan ke depan.


“Gila ya, beneran gelap banget loh jalanan nya,” kata Pak


Bastian yang selalu membuka obrolan.


“Namanya juga hutan Bas,” ucap Naufal.


“Sayang kenapa diam aja,” kata Naufal.


“Eemmm….Oooo…..nggak papa kok Mas,” kataku.


“Kamu kenapa?? Nggak enak badan??” tanya Naufal sambil


tangannya menempel pada keningku.


“Masss….enggak, aku nggak papa, biasanya kan aku juga diem,” tepisku.


“Eeehhmmm, gitu Lo Fal, mentang-mentang ada istri,” sahut


Pak Bastian.


Aku menggenggam tangan Naufal, agar terlihat romantis.


Naufal tersenyum melihatku, Alvi seekali melihat kami yang


ada di depannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sepanjang jalan, Alvi tidak berbicara sama sekali.


***(Di Kota)


Naufal mengajak kami berhenti di sebuah Resto.


“Kamu kok tau Resto ini Mas??” tanyaku.


“Aku tanya ke Pak RT,” jawab Naufal.


Naufal memarkirkan mobilnya dan kami berempat pun turun.


Saat kami berjalan, Naufal terus memegang tanganku,


seolah-olah hanya dia yang punya aku.


Pak Bastian dan Alvi berjalan di belakang kami.


Saat kami masuk ke dalam Resto itu, memang tempatnya sangat mewah dan pastinya beraura romantis-romantis gimana gitu.


Pak Bastian langsung menganga saat melihat isi di dalam


Resto itu.


“Fal….Fal, tau gini, Gue ajak istri Gue,” sahut Pak Bastian.


“Kan emang Gue mau nyenengin Gia, Lo sih ikut,” kata Naufal.


Aku mengetahui lirikan mata Alvi yang melihat genggaman


tanganku dan Naufal.


Disana Naufal mempersilahkanku untuk duduk.


Mbak-Mbak pelayan menghampiri meja kami.


“Kamu apa Sayang??” tanya Naufal.


“Aku samaan aja sama kamu Mas,” jawabku.


Kami memilih-milih makanan disana.


Tak lupa Naufal langsung menelepon Abay.


“Assalamu’alaikum Abay,” ucap Naufal.


“Wa’alaikumsalam Pa,” jawab Abay.


Mata Alvi melotot melihat ponsel Naufal saat dia mendengar


sebutan Papa, pasti dia tau bahwa yang sedang video call dengan Naufal adalah anak kami.


“Nih, Papa lagi sama Mama kamu,” kata Naufal sambil


mengarahkan kamera ponselnya padaku.


“Abay, gimana tadi ngajinya??” tanyaku.


“Lancar Ma, hehehe,” jawab Abay.


“Papa berdua aja sama Mama?’ tanya Abay.


“Enggak, ada Om Bastian sama Om Alvi, tuh kenalan sama Om


Alvi,” kata Naufal mengarahkan kameranya pada Alvi.


“Nih Al, anak aku,” kata Naufal.


“Oh, Hay, Ab….Abay,” kata Alvi takut salah sebut nama Abay.


“Iya Om,” jawab Abay.


“Mana Bibi Nak?” tanyaku.


“Bibi di bawah Ma, mau ngomong sama Bibi?” tanya Abay.


“Iya, Mama juga kangen sama Bibi,” jawabku.


Alvi berpura-pura memainkan ponselnya terus menerus, sampai pesanan kami pun datang.


Naufal menutup terlebih dahulu teleponnya, karena Abay memang harus les jika setelah magrib.


“Gue ke toilet bentar Fal,” kata Pak Bastian.

__ADS_1


Sekarang tinggal kita bertiga.


“Al, tanya tuh ke Gia, enaknya mau kasih kado apa sama kasih


surprise yang gimana, yak an Sayang,” ucap Naufal.


“Hem, oh…ya,” jawabku singkat tanpa menoleh pada Alvi.


“Eeeee….” Alvi hanya AAa Eee Aaa Eee saja.


“Udah nggak papa, nggak usah sungkan-sungkan sama saya, kan kalo ngobrol nya langsung jadi lebih enak,” kata Naufal.


“Ehehehe,” Alvi hanya tersenyum grogi di depanku.


“Ya kasih surprise seperti yang kamu kasih ke aku aja Mas,”


sahutku sambil memotong daging steak.


“Iya Dok, Dokter Gia bener, mending saran Dokter yang


kemaren aja nggak papa, pasti dia seneng banget, yang disaranin Dokter kan udah wah banget,” ucap Alvi canggung.


“Beneran?? Nggak mau ubah konsep lagi???” tanya Naufal.


“Udah itu aja ngak papa Dok, hehem,” jawab Alvi.


“Mas Naufal apa-apaan sih, pake suruh nanya ke aku


dulu,”gumamku dalam hati dengan kesal.


“Kalo kamu sekota sama aku gitu enak Al, bisa nanti pesen accessories ke temen aku,” ucap Naufal.


“Nggak papa, nanti di kirim ke luar kota pasti bisa kan Dok?” tanya Naufal.


“Bisa kok, bisa nanti aku bilangin sama dia, jadi disana kamu tinggal masang aja,” jawab Naufal.


“Ngomong-ngomong, Alvi tinggal dimana ya sekarang???”


tanyaku dalam hati.


“Aaaeaegghhh udah lah,” gerutuku dalam hati.


“Masih lama kan acaranya??” tanya Naufal terus menerus.


“Satu bulanan lagi,” jawab Alvi.


“Oooww, masih bisa lah, nanti gampang, secepatnya aku suruh


kirim ke kamu,” kata Naufal.


Aku sama sekali tidak menatap Alvi, begitu juga dengan Alvi


yang menjaga pandangannya agar tidak melihatku, karena dia sangat menghargai Naufal sebagai suamiku.


“Jangan lupa undang-undang Al, hehe,” canda Naufal.


“Hehehem, pasti Dok, pasti nanti saya undang, Dokter Bastian juga,” ucap Alvi.


Uhuukkk…uhuukkk


Aku langsung tersedak saat mendengar kata itu, karena Alvi


mana tau kalo suami Susi adalah Pak Bastian, kan kita dulu temenan.


Alvi dan Naufal langsung melihatku.


“Sayang……hati-hati kalo minum,” tutur Naufal smabil


mengelusku.


“Uuhukk…iya Mas,” jawabku.


“Apa Alvi udah tau ya kalo Pak Bastian adalah suami Susi???


Tapi pasti belum tau, adduuuh jadi pengen ngobrol sama Susi secara langsung deh,” gumamku dalam hati.


Rak lama kemudian, Pak Bastian datang menemui kami kembali


dan duduk.


“Lama banget sih Bas,” kata Naufal.


“Yaaaa namanya juga….” ucap Pak Bastian langsung dipotong


oleh Naufal.


“Udah nggak usah di omongin, entar Gia nggak jadi makan


lagi,” kata Naufal.


“Hehehe, udah sana video call istri Lo,” perintah Naufal.


“Udah tadi di dalem bentar,” jawab Pak Bastian.


“Ha??? Dalam toilet Bas??” tanya Naufal kaget.


“Ya nggak lah Fal, ya di depan kaca-kaca tadi, maka nya Gue


lama,” jawab Pak Bastian.


“Makan dulu, ntar telfon lagi,” tutur Naufal.


“Siap Bos, hehehe,” jawab Pak Bastian.


“Sayang, cobain punya kamu,” ucap Naufal.


Dengan sigap aku langsung memberi satu suapan untuknya tanpa Naufal yang menyuruhku.


“Uuuuumm, punya kamu pedes?” taya Naufal.


“Kan punya aku sama kayak punya kamu, nggak mungkin punya


aku lebih pedes lah Mas,” jawabku.


“Beneran punya kamu lebih pedes loh, cobain punya aku,” ucap


Naufal sambil menyuapi ku.


“Eehhmm iya Mas, masih pedesan punya aku,” kataku.


“Ketuker sama punya Alvi kali, kan tadi Alvi juga pesen sama


kayak kalian,” sahut Pak Bastian sambil melahap makanan pesananya.


“Ha??” ucapku panik sambil membulatkan mataku.


“Ya kali ketuker sama punya Alvi, Mbak nya tadi gimana coba


ngasihnya,” gerutuku dalam hati.


“Ehehem, nggak papa Dok,” kata Alvi yang tersenyum ke Pak


Bastian.


“Ketuker sama kamu Al?? Punya kamu manis??” tanya Naufal.


“Heheh, iya Dok,” jawab Alvi.


“Wah, bener ketuker Sayang,” kata Naufal.


“Aduh, Ma…..maaf ya Al,” kataku untuk pertama kalinya bilang


padanya di depan Naufal.


“Iya Gi, eh Dok maksud saya, nggak papa kok, sama aja, saya


juga suka,” jawab Alvi.


“Tapi kan kamu nggak begitu suka manis Al,” ceplosku yang


spontan.


Alvi langsung melotot padaku, Naufal dan Pak Bastian langsung melihatku.


“Eeehhmm maksud aku, gini, memangnya Dokter Alvi suka manis?? Kan itu rasanya manis banget Mas,” ucapku.


“Iya Al, maaf ya, istriku juga nggak tau,” sahut Naufal.


“Suka kok Saya Dok, nggak papa, ini juga enak, nggak begitu


manis,” ucap Alvi.


Aku tau Alvi tidak suka manis.


“Aduuuh Gia, mulut kamu…..” tegurku dalam hati menegur


diriku sendiri.


Ku geser kursiku agar lebih dekat dengan Naufal dan manja


dengan Naufal.


.


.


.


.


Lama kami berada disana, aku hanya diam mendengarkan mereka bertiga ngobrol.


Dan benar dugaanku, Alvi tiak menghabiskan spaghetti itu.


“Al, nggak dihabisin? Kenyang ya?” tanya Naufal.


“Hehehem, iya Dok,” jawab Alvi.


“Udah semua, udah pada ngabarin yang di rumah, Bas udah??”


tanya Naufal.


“Udah,” jawab Pak Bastian.


“Alvi, kamu udah kasih kabar Mama sama Papa kamu kan??


Tunangan kamu juga,” tanya Naufal.


“Eemmm…..udah, Papa sama Tunangan saya,” jawab Alvi.


Sepertinya Naufal tidak tau, bahwa Mama Alvi tidak lagi


bersamanya.


“Pulang ini??” tanya Naufal pada semuanya.


“Iya Fal, udah malem juga,” kata Pak Bastian sambil melihat


jam di ponselnya.


“Jam berapa sih??” tanya Naufal.


“Mau jam setengah 9 nih, untung udah sholat,” jawab Pak Bastian.


“Aelah Bas, Lo aja gimana kalo disana, pulang Lo pagi-apgi


kali,” canda Naufal.


“Yak an ini beda Fal, lewat hutan loh,” ucap Pak Bastian.


Akhirnya kami pun kembali ke puncak.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2