
Kami masuk ke dalam mobil, lalu Naufal melajukan mobilnya
keluar dari parkiran.
“Mas, tadi Si Suster seneng banget loh bisa makan sama
kamu,” kataku.
“Oh ya?? Bilang gimana dia Sayang?” tanya Naufal.
“Ya pokoknya seneng banget Mas, sama bilang gini ya ampun
bisa lihat bulu lentik Dokter Naufal sedekat ini, gitu, sampe ucapin makasih ke aku berkali-kali Mas, sampe dalam hati aku ketawa ketiwi sumpah,” jawabku.
“Hahahah, ternyata kamu juga bisa bilang ketawa ketiwi,”
ucapnya.
“Katanya kamu beda banget Mas, ramah, katanya gitu,” kataku.
“Beda banget gimana, sama aja lah Sayang, cuman kan kalo
waktu nya kerja pasti aku serius seribu kali lipat dari biasanya, jadi mungkin bagi mereka aku garang, padahal
kalo lagi jam istirahat aku jadi Naufal yang asli,” ujar Naufal.
“Oooo kalo lagi kerja berarti bukan Naufal yang asli Mas??”
tanyaku sambil menggeser tubuhku agak mepet dengan pintu mobil.
“Maksudnya kan sikapnya aja lebih tegas lagi harus lebih
garang lagi Sayang demi profesi demi kerjaan, kalo nggak lagi kerja ya biasa aja, terus ngapain kamu geser-geser gitu? Memangnya aku ini menyeramkan?" tanya Naufal sambil mengernyitkan alisnya.
“Hehehe, takut aku kalo bukan kamu yang asli kalo pas lagi
kerja, jadi aku agak jauh-jauh ni,” candaku.
“Kamu pikir aku siluman atau hantu bisa berubah-ubah semau
aku,” tepis Naufal.
“Ya kali aja, kan kamu casper katanya,” ejekku.
Naufal langsung mencubit pipiku sambil fokus menyetir.
"Eemmm itu akibatnya kamu ngomel terus Sayang," kata Naufal.
“Massss…..kebiasaan deh kamu,” kataku.
“Lagian kamu sih, mau kamu aku jadi hantu?? Yang menghantui kamu tiap malem, berarti yang meluk kamu tiap mau tidur itu hantu dong, iiiihhh serem,” kata Naufal.
“Ngomong aja sana sendiri, suka banget buat istrinya ngambek,” keluhku.
“Hehehehe gitu doang ngambek,” ucap Naufal.
Beberapa menit kemudian, sampailah kami di depan sekolah
Abay.
Seperti biasa Abay sudah menunggu kami disana, Abay langsung masuk ke dalam mobil. Dan mobil kembali melaju untuk pulang.
“Abay, satu hari lagi kamu tidur sama Eyang ya, jangan
lupa,” kata Naufal.
“Iya Pa, nanti Abay di antar Pak Joko kan Pa,” tanya Abay.
“Iya Sayang tapi pulangnya kamu di antar sama sopir nya
Eyang, nggak papa kan?” tanya Naufal.
“Abay malu Pa, Abay mau sama Pak Joko aja, Abay kan nggak kenal sama sopirnya Eyang,” jawabnya.
“Ya udah nanti Papa bilang sama Eyang sama Pak Joko juga,”
kata Naufal.
“Nanti kalo main kemana-mana bilang sama Bibi, biar Bibi
yang antarin kamu,” tutur Naufal.
“Iya Pa,” jawab Abay.
.
.
.
.
Sesampainya di rumah.
***(Di Rumah)
“Assalamu’alaikum Bi,” salam kami.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah yang sedang mengelap meja ruang tamu.
Kami langsung berjalan menapaki anak tangga menuju kamar
masing-masing.
***(Di Kamar)
“Sayang, habis ini aku keluar ya,” ucap Naufal.
“Keluar kemana?” tanyaku sambil melepas peniti yang mengikat
kerudungku.
“Ketemu sama temen,” jawabnya.
“Jangan pulang malem-malem ya,” ucapku.
“Enggak kok, paling juga jam 8 ana aku udah pulang,” jawabnya.
“Sama siapa kamu?’ tanyaku.
“Sendiri Sayang,” jawabnya sambil berdiri di depan kaca nya
yang besar.
“Tumben nggak sama Pak Bastian,” kataku.
“Eeemmm……enggak Sayang,” jawabnya.
“Ooo ya udah nanti aku juga mau keluar bentar,” kataku.
“Hayo kemana kamu?" tanya Naufal.
“Eeeeemmmmm aku mau ketemu temenku juga,” kataku.
“Temen kamu?? Siapa?” Tanyanya.
“Kamu nggak kenal sama orangnya Mas,” jawabku.
“Sendiri?" tanyanya lagi.
“Enggak, sama Susi kok,”jawabku.
“Ya udah jangan pulang malem-malem,” kata Naufal.
“Iya iya Mas, gak bakalan lama kok,” ucapku.
Aku segera bergegas mandi, dan Naufal sedang turun ke bawah.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah kami sholat magrib, aku berpamitan pada Abay untuk
__ADS_1
pergi sebentar, begitu juga dengan Naufal.
“Abay, Mama mau keluar sebentar ya sama Tante Susi,”
pamitku.
“Kemana Ma?” tanyamnya.
“Eeemmm, Mama ada urusan bentar sama Tante Susi, bentar
doang kok, nanti Mama langsung pulang,” kataku.
“Iya Ma, tadi Papa juga pamitan sama Abay buat keluar, kirain tadi Mama keluarnya sama Papa,” ujar Abay.
"Enggak Nak, beda tujuan Mama sama Papa," kataku.
“Kamu nggak papa Nak ditinggalin Mama sama Papa, kalo nggak boleh, Mama nggak jadi pergi nggak papa kok,” sambungku.
“Enggak Ma, nggak papa, lagian kan Abay juga les Ma,
hehehm,” tepisnya.
“Beneran nggak papa?" tanyaku lagi.
“Iya Ma, beneran,” jawabnya.
“Ya udah nanti kalo butuh apa-apa bilang sama Bibi ya, mau
dibeliin Mama apa?’ tanyaku.
“Abay pengen beef steak Ma yang di depan Mall yang biasa kita kesana Ma,” jawabnya.
“Ya udah nanti Mama beliin, seporsi aja??” tanyaku.
"Iya Ma, dua porsi juga nggak papa nanti sama Mama, hehe," jawab Abay.
“Hehehe, Mama berangkat dulu ya,” pamitku sambil mengelus kepala Abay.
Naufal sudah berangkat terlebih dahulu setelah sholat magrib tadi.
“Bi, Gia titip Abay bentar ya, Gia mau keluar dulu sama Susi,”
kataku.
“Iya Mbak, monggo monggo,” ucap Bi Sarah.
“Bibi mau di beliin apa?? Asinan mau?" tanyaku.
“Nggak usah Mbak, makan malam nya masih ada,” tepis Bi
Sarah.
“Udah nggak papa Bi, ini cemilan kok,” paksaku.
“Hehehem, ndak usah Mbak ndak papa,” tolak Bi Satah.
“Ya udah Bi, Gia berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum,”
ucapku.
“Iya Mbak, Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah.
Aku berjalan menuju garasi mobil dan langsung masuk ke dalam
mobil ku yang lama tak terpakai ini, yang setiap pagi hanya di panasi saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah)
Mobil melaju langsung masuk ke dalam garasi, aku melihat
Guru les Abay, Bi Sarah, dan Abay yang berbincang-bincang di depan Rumah.
Aku menghampiri mereka.
“Ini Bu ada cemilan tadi kebetulan saya beli, heheh,” kataku
pada Guru les Abay.
“Waduh, Buk makasih loh, kalo disini selalu ada aja,” ucap
Guru les Abay.
“Hehehem, kebetulan Bu Guru pulang, untung saja belum pulang tadi,” kataku.
“Hehehe, makasih loh Buk,” ucap Guru Les.
“Iya Bu sama-sama,” jawabku.
“Ini loh Buk, saya mau bilang, besok saya nggak bisa ngajar
les dulu, karena besok habis magrib saya takziah ke luar kota Buk,” ucap Guru Les.
“Innalillahi, siapa yang meninggal Bu?" tanyaku.
“Saudara saya Bu, adiknya Ibu saya,” jawabnya.
“Jadi untuk besok saya nggak bisa ngajar, tadinya mau saya
ganti sore aja Buk, tapi kan Abay ada ngaji ya kalo sore,” sambungnya.
“Iya Bu, kalo sore Abay ngaji, nggak papa Buk, biar besok
saya yang ajarin ganti, hehehe,” ujarku.
“Hehehe, iya Buk, maaf ya,” kata Guru les.
“Nggak papa Bu,” jawabku.
Guru les Abay akhirnya pulang sambil membawa motornya.
“Ma, mana pesenan Abay?" tanya Abay.
“Ini buat Abay, Mama pasti nggak lupa dong, terus ini tadi
ada desert dari Tante Susi, Tante Susi buat sendiri,” kataku.
“Wiiiihhh asiiikkkk nih Ma,” ucap Abay sambil membuka kantung
kresek yang kuberikan pdanya.
“Dan ini buat Bibi, ada desertnya juga Bi dari Susi, hehehe,
Bibi mah nggak ketinggalan,” kataku.
“Ya ampun, makasih Mbak, makasih buat Mbak Susi juga Mbak,” kata Bi Sarah.
“Iya Bi, sama-sama, nanti saya sampaikan ke Susi,” kataku.
“Udah ayo masuk, dingin banget di luar,” keluhnya.
“Bentar lagi hujan ini Mbak kayaknya,” ujar Bi Sarah.
“Iya Bi, nggak ada bintang sama sekali dari tadi,” sanggahku.
Kami bertiga msuk ke rumah, dan Bi Sarah menutup pintunya.
“Segera di makan loh Bi,” tuturku.
“Iya Mbak, sekali lagi makasih Mbak,” ucap Bi Sarah yang
melangkah menuju dapur.
“Ya Bi,” jawabku yang berjalan menapaki anak tangga bersama Abay.
__ADS_1
“Ma, Abay ke kamar Mama ya,” ucapnya.
“Kenapa pake bilang sih Nak, hihihihi,” kataku.
***(Di Kamar)
Aku duduk berdua di atas ayunan dengan Abay sambil menikmati beef steak dan desert buatan Susi.
“Eeeemmmm enak banget ya Ma,” ucap Abay saat memasukkan satu sendok desert ke dalam mulutnya.
“Mama mau dong,” kataku.
Abay langsung memberi satu suapan padaku.
“Abay, Abay pasti sedih ya sering di tinggal sama Mama sama
Papa,” tanyaku.
“Enggak Ma,” jawabnya.
“Masak Abay nggak sedih sama sekali? Memangnya Abay nggak pengen selalu ditemenin Mama nya tiap minggu,” kataku.
“Sebenarnya Abay pengen sih Ma, tapi kan percuma Ma, hari
minggu kadang Abay juga les renang, terus pulang sekolahnya Abay juga sore kan Ma,” ucapnya.
Hatiku sedih saat mendengar jawaban Abay yang sama sekali
tidak mengeluh dengan keadaan Mama dan Papanya yang sibuk bekerja.
Aku mengelus-elus kepala Abay.
“Abay, nanti Papa rencana mau sekolahin kamu ke luar negeri, kamu mau?” tanyaku.
“Ha?? Keluar negeri Ma??” tanya nya balik.
“Iya, kamu nggak mau ya,” tebakku.
“Waaah Abay malah mau banget Ma, kapan Abay sekolah ke luar negeri Ma, nanti waktu kuliah ya Ma,” tebak Abay.
“Enggak dong, waktu Abay SMP, Papa sekolahin Abay disana,” jawabku.
“Beneran Ma, Papa bilang gitu sama Mama?" tanya Abay.
“Iya beneran, padahal Mama kira Abay sedih loh karena jauh
dari Mama, tapi Abay malah seneng, tapi kalo seandainya Abay nggak nyaman atau nggak pengen, nggak papa Abay bilang aja, Papa sama Mama nggak maksa Abay,” tuturku.
Aku berbicara banyak dengan Abay, sampai tak terasa hari
sudah larut malam, sampai-sampaikami belum melaksanakan sholat isya’ karena menunggu Naufal.
“Gerimis Nak, ayo masuk,” ajakku.
Aku dan Abay duduk di sofa kamarku, setelah ku tutup pintu
kaca dan gorden kamarku, aku khawatir, sudah jam 8 lebih Naufal belum pulang.
“Ma, Papa kok belum pulang ya,” ucap Abay.
“Iya Nak, bentar Mama coba telfon Papakamu,” kataku.
Ku ambil ponselku yang tergeletak di atas buffet.
Tut…….tut………tut…….
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif,”
“Nggak aktif ini Bay Papa kamu,” kataku.
“Coba di telfon lagi aja Ma sampe bisa,” ucap Abay.
Aku terus berusaha menghubungi Naufal. Hingga akhirnya
ponselnya aktif dan meneleponku balik.
“Assalamu’alaikum Sayang,” ucapnya.
“Wa’alaikumsalam, Mas kamu kok belum pulang, katanya jam 8 pulang, ini uah hampir mau jam 9 loh,” tanyaku.
“Iya Sayang, maaf banget ya, nanti aku jelasin aja di rumah,
sekarang aku ada di jalan menuju pulang,” jawabnya.
“Mas ada apa?” tanyaku.
“Nggak ada apa-apa Sayang, nanti aku cerita in ke kamu kalo
udah sampe rumah,” jawabya.
“Nggak mau, kamu tuh ceroboh Mas, kamu harus cerita sama aku sekarang juga,” paksaku.
“Ini tadi aku kan ketemuan sama temenku sekalian ketemu sama client Papa di luar, sama Papa juga,” jawabnya.
“Kamu kebiasaan deh nggak WA aku, jadi kepikiran kan aku,
apalagi hujan gini, suka banget buat aku khawatir, dasar, ya udah cepetan pulang, hati-hati,” omelanku sedikit kesal padanya.
Untung saja jarakku dengan Abay agak menjauh, sehingga Abay tidak mendengar ku.
“Ya ampun Sayang, iya iya aku salah, maaf ya,” rayunya.
“Ya udah, Assalamu’alaikum,” ucapku dan langsung mematikan
telepon dari Naufal.
Tiba-tiba, semua gelap, dan lampu padam.
Aku sangat takut, karena sangat gelap gulita, aku berada di
ruang ganti baju sendirian, sedangkan Abay berada di kamar.
“Abay…….Nak….” panggilku pada Abay.
“Abayyyyyy……” panggilku lagi, aku benar-benar takut,
keringatku mengucur di keningku.
Aku berjalan pelan-pelan dengan bantuan lampu senter dari
ponselku.
“Abay kemana ini, kok nggak ada suaranya,” gerutuku.
Aku terus berjalan menuju kamar ku yang lumayan luas itu,
aku benar-benar takut, jantungku berdegup begitu kencang, karena memang aku sangat takut, dengan hujan lebat malam dan lampu padam, sebenarnya ini hal yang paling membuatku tidak nyaman.
“Abay……..” panggilku sambil sedikit mewek.
Saat aku sudah mendekatpada sofa yang tadinya di duduki oleh Abay, tidak ada Abay disana, hanya ada sisa desert dan beef steaknya saja.
Deg-deg……deg-deg…..
Nyali ku tiba-tiba menciut setelah mengetahui bahwa aku
tengah berada di kamar sendiri.
“Abay……” panggilku terus menerus.
Air mata sudah memenuhi pelupuk mata.
Tiba-tiba bunyi kilat terdengar sangat keras dan lantang di
telingaku.
“Duuuuuaaaaaaaarrrrrrr,”
Aku langsung berteriak dan jatuh di pinggiran sofa, bunyi
kilatnya benar-benar sangat keras, baru pertama kali ini aku mendengar suara kilat yang sepertinya ada di samping telingaku.
Aku sangat takut dan aku pun menangis, aku hanya bisa duduk
diam di pinggiran sofa sambil menyembunyikan wajahku.
Aku ingin menelepon Abay ataupun Bi sarah, namun suara petir terus saja bersahut-sahutan.
Nafasku berhembus tak karuan.
Aku sudah menangis dalam pangkuan dan dalam kesendirianku, aku tidak peduli jika siapapun tengah melihatku menangis karena menangisi hal yang bagi mereka adalah hal sepele, karena memang aku sangat takut, ditambah lagi rumah besar ini.
Tak lama kemudian, ada yang mengagetkanku dari arah depan.
__ADS_1
“Hah!!!!!,” teriakku.
Bersambung..........