Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 40 (Hujan Malam)


__ADS_3

Gia sudah terlanjur menutup pintu kamar mandi.


Naufal melihat pesan di layar ponselnya.


Ternyata pesan dari Vela yang membuat Gia ngambek padanya.


Gia langsung memblokir akun Vela.


Naufal menunggu di depan pintu kamar mandi menunggu Gia cuci muka.


Setelah beberapa menit selesai, Naufal menghadang Gia yang ingin mengacuhkannya.


Gia menundukkan kepalanya di depan Naufal, Naufal mengangkat dagu Gia.


"Gia, kamu cemburu?" tanya Naufal.


"Pasti aku cemburu Mas, ini momment kita loh masak iya masih ada aja yang ganggu," keluh Gia.


"Sumpah, aku nggak tau dia dapat nomor aku dari mana, aku aja nggak ngasih Gi, kan kamu tau sendiri aku nggak mau berhubungan lagi sama wanita itu," ucapan penjelasan Naufal.


"Huffttt," Gia melepas napas panjangnya.


"Aku ngerti Gi, ini bukan salahku ataupun dia kan, apapun yang terjadi saat ini itu memang takdir, dia menghubungiku, itu sudah takdir, kamu sendiri kan yang pernah bilang sama aku kayak gini," ujar Naufal.


Hati Gia agak luluh mendengar penjelasan Naufal.


"Hmm iya sih kamu benar, seharusnya kita gini terus Mas, jadi gak akan ada pertengkaran ataupun salah paham di antara kita," ucap Gia.


"Kamu sih keburu ngambek," kata Naufal sambil menyentil hidung Gia.


"Kok aku? Aku tadi emang beneran kedinginan, kamu aja yang gak peka istrinya kedinginan," bantah Gia berbohong.


"Iiiih mulai deh ngeles kamu, orang hawanya nggak dingin-dingin banget kok," ejek Naufal.


"Kamu tuh cemburu sebenarnya tapi nggak mau ngaku," ejek Naufal lagi.


"Wajar dong aku cemburu sama kamu, tapi kan aku nggak berlarut-larut dalam ke ngambekan yang hakiki Mas," kata Gia.


"Eh eh eh, kamu kok jadi lebay gini sih," goda Naufal.


"Udah sana cuci muka ah, aku mau tidur," perintah Gia sambil menepis lengan Naufal.


"Kalo nyuruh yang baik dong," keluh Naufal.


"Mas Naufalnya Gia, cepetan cuci muka ya, lalu segera tidur, puas anda?" kata Gia dengan manja.


"Hehehe, kamu lucu banget sih, selalu bisa buat aku gini," kata Naufal sambil tersenyum pada Gia.


Gia mengganti baju tidurnya sedangkan cuci muka di kamar mandi.


Setelah beberapa menit, Naufal keluar dari kamar mandi.


Naufal melihat Gia yang sepertinya sudah tertidur pulas.


Tiba-tiba hujan sangat deras di luar.


Naufal menutup semua pintu kaca kamar. Karena semakin malam hawanya semakin dingin.


Naufal mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan lampu tidur di kedua kanan kiri ranjangnya.


Naufal merebahkan tubuhnya pelan di samping Gia.


Naufal mendekatkan wajahnya pada Gia, sekarang wajah Naufal tepat di depan Gia yang sedang tidur pulas.

__ADS_1


Naufal menatap lama wajah Gia, hatinya kembali berdebar.


Deg....deg...deg.


Naufal membiarkan degup jantungnya berdetak kencang tanpa beralih dari wajah Gia.


Gia yang tertidur merasakan hembusan nafas Naufal di keningnya. Akhirnya Gia pelan-pelan membuka mata.


Gia kaget melihat wajah Naufal yang tepat di depannya.


Gia menjorok badan Naufal karena kaget.


"Aawww," ucap Naufal karena kepalanya sedikit terbentur dinding.


"Iihh Mas Naufal, takut tau, kirain siapa udah cahaya cuman dua ini aja," kata Gia yang nafasnya ngos-ngosan.


"Aduh Gia, kamu kuat banget sih jorokin aku," keluh Naufal berpura-pura.


"Maaf ya maaf, sakit ya?" tanya Gia sambil meraih kepala Naufal dan melihat area kepalanya yang terbentur dinding akibat ulahnya.


"Sakit tau Gi," keluh Naufal lagi.


Gia mengelus-elus kepala Naufal yang sakit.


"Lagian kamu ngapain natap-natap muka aku?" tanya Gia.


"Ya....ya aku pengen lihatin muka kamu aja, kenapa? Gak boleh?" tanya Naufal balik.


"Tapi nggak gitu juga Mas, gini kan akibatnya," tutur Gia yang masih mengelus-elus Gia.


"Maaf ya, Ya ampun kamu ini ah bikin khawatir aja," ujar Gia.


Beberapa menit Gia mengelus-elus kepala Naufal.


Naufal hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan memejamkan matanya.


"Keenakan kan kamu?" tanya Gia.


"Abis nyaman banget," rayu Naufal.


Gia langsung menggeser kepala Naufal ke bantalnya sendiri.


"Kok udah?" tanya Naufal karena Gia yang berhenti mengelus-elus kepalanya dan memindahkan kepalanya di bantalnya sendiri.


"Udah malem, tidur ya," perintah Gia dengan halus.


Gia tidur membelakangi Naufal, Naufal menarik tubuh Gia agar menghadapnya.


"Gia hadap sini dong," perintah Naufal


Gia membalikkan badannya.


"Apa sih, bentar lagi ya masih pegel hadap sana," ucap Gia kembali membelakangi Naufal.


Duaaaaarrrrr.......... suara petir yang sangat keras.


Gia kaget dan Gia sangat takut mendengar suara petir.


Gia langsung menggeser tubuhnya di dada bidang Naufal, Naufal langsung mendekap tubuh Gia.


"Tuh kan udah dibilangin suaminya padahal tadi," tutur Naufal.


"Aku takut," keluh Gia.

__ADS_1


"Iya Sayang iya, aku ngerti, kamu nggak usah takut, ada aku disini," tutur Naufal lagi.


Degup jantung Naufal semakin kencang dan kencang sampai-sampai Gia mendengarnya.


"Ini beneran suara degup jantung Naufal?" gumam Gia dalam hati.


Gia tidak menyangka sekencang itu jantung Naufal berdegup sampai terdengar olehnya.


"Kamu matiin AC nya dingin banget," keluh Gia.


Naufal langsung mematikan ACnya dan menutup tubuh Gia dengan selimut tebalnya.


Gia masih mendengar degup jantung Naufal sampai-sampai Gia tidak bisa tidur karena telinganya tepat di dada Naufal.


"Mas?" panggil Gia.


"Hm?" jawab Naufal.


"Separah ini ya?" tanya Gia malu-malu di dekapan Naufal.


"Separah ini? Maksudnya?" tanya Naufal sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.


"Jantung kamu," jawab Gia lirih.


Naufal agak grogi mendengar jawaban Gia.


"Ini tandanya aku semakin jatuh cinta sama kamu Gi," kata Naufal tersipu malu.


"Tapi...," ucapan Gia terpotong karena terbungkam oleh jari telunjuk Naufal.


"Hussssttt," kata Naufal.


Lagi-lagi Naufal menatap wajah Gia kembali, Gia hanya bisa menelan saliva nya karena harus di pandang tajam wajah Naufal.


Naufal mencium kening Gia, Gia memejamkan matanya.


"Ini malam kita," bisik Naufal di telinga Gia.


Gia yang mendengar ini bingung mau melakukan apa, karena Gia sudah tidak bisa berlari ataupun bergerak kemana-mana.


"Apakah benar memang ini saatnya?" gumam Gia dalam hatinya.


Gia bingung dan takut. Gia hanya bisa pasrah.


Gia ingat dengan nasehat yang diberikan Mama dan Papanya


bahwa ketika akad terucap maka kamu akan seutuhnya menjadi miliknya dan harus melayani lahir dan batin atas apa yang diminta suamimu, Gia nggak boleh ngebantah.


Itu yang saat ini terngiang-ngiang di pikiran Gia.


Malam ini malam termanis untuk mereka.


Gia tidak bisa menolak dengan kondisi saat ini karena memang sudah kewajiban Gia.


Bersambung........


Untuk memenuhi permintaan readers yang setia menemani Author🖤😁


Jangan lupa like, comment dan vote yaa


See you next episode🙏😊


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2