Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 172 (Jerit Malam 2)


__ADS_3

“Hahhh” jeritku.


Ternyata Abay dan Bi Sarah yang menemuiku.


Aku melihat Abay dan Bi Sarah yang duduk di depanku sambil membawa dua batang lilin.


“Abay….” Kataku yang langsung memeluk Abay.


“Mama, tadi Abay turun ke bawah manggil Bibi sama nyalain


lilin, jadi Abay tinggalin Mama disini,” ucapnya.


“Saya dari tadi juga manggil-manggil Mbak Gia karena saya


tau Mbak Gia takut gelap apalagi di tengah hujan lebat campur petir seperti ini,” sahut Bi Sarah.


Aku tak mampu mengatakan apapun, aku hanya mendengarkan mereka.


“Mama tidur di kamar Abay aja ya,” kataku sambil bibirku gemetar.


“Iya Ma, kita sholat dulu ya Ma, dari pada nunggu Papa nanti


kita kemaleman,” saran Abay.


“Iya Nak,” jawabku.


“Mas NAufal dimana memangnya Mbak?" tanya Bi Sarah.


“Lagi perjalanan pulang Bi,” jawabku.


Bi Sarah sholat bersama kami di atas di kamar Abay.


Setelah sholat  selesai, Bi Sarah pamit untuk kembali ke kamarnya.


***(Di Kamar Abay)


“Mbak, Bibi ke bawah ya, nggak papa kan,” ucap Bi Sarah.


“Nggak papa Bi,” kataku.


“Nanti kalo ada apa-apa telfon aja Bibi ya Mbak,” tutur BI


Sarah.


“Iya Bi,” jawabku dengan muka datar.


Bi Sarah pun meningagalkanku bersama Abay berdua di kamar


Abay.


Ku rebahkan tubuhku di samping Abay sambil memeluk erat-erat tubuh Abay. Suara petir dan hujan lebat masih menghantui malam kami.


Aku berusaha agar terlihat tidak terlalu penakut di dekat


Abay.


Aku ingin segera tidur agar tidak mendengar petir seram ini.


“Mama takut ya?" tanya Abay.


Aku hanya tersenyum padanya dan mengusap keningnya.


“Abay tidur ya,” bujukku.


Aku dan Abay segera tidur dan melewati malam sera mini


berdua.


Beberapa menit kemudian, Naufal sampai di rumah, dia


khawatir padaku, karena dia tau aku sangat takut jika hujan lebat campur petir dan disertai lampu padam seperti ini, Naufal langsung berlari menuju kamar dan membuka pintu kamar.


“Gi…..” panggilnya dengan kemeja nya setengah basah.


Dia melihat ranjang yang tampak kosong dan tidak ada aku disana.


“Ya ampun Gia…….kamu dimana?” tanya Naufal dalam hatinya.


Dia mencari ke kamar mandi dan ruang ganti baju, mau tanya


Bi Sarah namun ini sudah malam, jelas sekali Bi Sarah sudah tidur.


Naufal berniat ke kamar Abay, di buka nya pintu kamar Abay.


Gleeeekkk…..


Naufal berjalan pelan dan mengendap-endap.


Dia melihatku tidur pulas dengan Abay.


“Giaaa….” Ucapnya.


Naufal langsung menarik pundakku dan di peluknya dalam


dadanya yang basah.


AKu merasakan dingin di kulitku.


Ku buka kedua mataku, disana tergambar wajah Naufal yang


samar-samar sambil membelai pipiku, hingga kulit wajahku kedinginan karena sentuhannya.


“Pasti ini mimpi,” kataku dalam hati.


Aku kembali menutup kedua mataku dan kembali melanjutkan


tidurku.


“Maafin aku Sayang,” ucap Naufal.


Adzan shubuh berkumandang……


“Allahuakbar…Allahuakbar….”


Ku buka pelan-pelan kedua mataku,.


“Uugghhhhh, iissshhh dingin banget,” keluhku sambil membuka


selimut dengan pelan.


Ku lihat Abay yang berada di sampingku dan segera ku matikan


AC yang ternyata menyala setengah malam.


Saat aku turun dan berdiri dari ranjang, ku lihat Naufal


yang tidur pulas di atas sofa.


“Mas Naufal??” kataku dalam hati.


“Hoooaaam,” aku berjalan mendekatinya sambil mengikat


rambutku.


“Apa jangan-jangan semalam itu bukan mimpi ya, dan beneran


Mas Naufal,” gumamku dalam hati.


“Hhmm, sebenarnya aku sangat kesal sama dia karena pulang


terlambat,” kataku dalam hati.


Ku bangunkan Naufal dari tidurnya.


“Mas …….bangun Mas, sholat,” kataku.


“Uuughhh,” Naufal malah bergerak membelakangiku.


“Mas Naufal….udah shubuh bangun,” paksaku sambil


menggoyang-goyangkan badannya.


Naufal tetap saja tidak bergerak, aku semakin kesal padanya.


Ku intip wajah Naufal yang berusaha dia sembunyikan dariku.


Mungkin hembusan nafasku mengenai pipinya, sehingga dia


langsung membuka kedua matanya, dan berhasil memelukku sampai aku jatuh tersungkur di atasnya.


Buukkk…


“Mas….apa-apaan sih, lepasin nggak,” kataku.


“Sayang, mafin aku ya, tadi malem pasti kamu ketakutan ya di


kamar sendirian nggak ada aku, maaf kalo aku pulang telat, sebenarnya aku nggak berniat pulang telat Gi, maaf ya, aku tau pasti semalam kamu nangis kan,” ucapnya sambil memelukku sangat erat.


“Lepasin aku!!!” paksaku sambil sedikit menjauhkan tubuhku


darinya.


“Maafin aku dulu,” ucap Naufal.


“Kamu marah ya?’ tanya Naufal.


Ku pasang raut wajah yang marah besar dengannya.


“Mas, lepasin aku, aku bilang apa sama kamu, lepasin aku

__ADS_1


kan,” ujarku.


“Aku bakalan lepasin kamu, kalo kamu maafin aku,” ancam


Naufal.


“Mas, malu tau kalo di lihatin Abay,” ucapku dengan lirih.


“Biarin, maafin aku dulu Sayang,” rayunya.


“Aku teriakin Abay nih kalo kamu nggak lepasin aku,” ancamku


ganti.


“Coba aja, silahkan,” kata Naufal.


“Ab…..” teriakku yang langsung di bungkan oleh tangan


Naufal.


“Iya iya kau lepasin,” ucap Naufal yang akhirnya menyerah


dariku.


Naufal melepaskan pelukannya dan aku segera berdiri di


sampingnya.


“Kalo mau berantem jangan disini, ada Abay,” ucapku dan


langsung melangkah meninggalkannya.


“Diiiiih, marah beneran ternyata dia,” kata Naufal yang


berjalan mengikutiku dari belakang.


***(Di Kamar)


Aku langsung melangkah masuk ke kamar mandi tanpa berkata


apapun pada Naufal.


“Katanya kamu mau berantem?” tanya Naufal.


Aku tidak menjawabnya bahkan aku tidak menoleh padanya.


“Oooo berantemnya di kamar mandi,” goda Naufal yang terus


mengikuti berjalan masuk ke kamar mandi.


“Mas Naufal…….nggak lucu tau nggak,” kataku.


“Katanya mau berantem, ayo,” kata Naufal.


“Siapa yang bilang?’ tanyaku balik.


“Tadi waktu di kamar Abay,” jawabnya sambil menaikkan satu


alisnya.


“Aku kan bilang, nggak ngajak, kalo mau berantem, berantem


sendiri sana,” kataku yang langsung menutup pintu kamar mandi seolah-olah tak peduli padanya, padahal aku hanya bercanda.


“Dasar Gia, awas nanti kamu Gi,” gerutu Naufal lalu memilih


mandi di kamar Abay.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi, Mas


Naufal terlihat kesakitan di bagian perutnya.


“Aaawwww, Sayang sakit banget,” keluhnya.


Aku panik melihatnya, sehingga aku langsung duduk bersimpuh


dan di depannya.


“Mas, kenapa Mas?? Mana yang sakit?” tanyaku.


“Ini Gi, sakit banget dari tadi,” ucapnya.


“Tadi malem kamu kehujanan?” tanyaku.


“Iya tapi dikit kok,” jawabnya.


“Pantesan ini kamu basah,” ucapku sambil membuka kasa yang


menempel pada perut Naufal.


“Mana?? Nggak ada yang ke buka kok jahitannya,” ucapku.


“Bukan disitu yang sakit Gi,” kata Naufal.


“Terus yang mana?” tanyaku sambil melihat terus luka jahitan


Naufal.


ANufal meraih tangan kananku dan ditempekannya di dadanya.


“Ini aku yang sakit, hati aku yang sakit, kalo kamu marah sama aku,” ucap Naufal.


Aku diam menatapnya dengan mata yang sendu.


“Maafin aku,” ucapnya.


Naufal meraih daguku, hingga hidung mancungnya menempel pada pipiku dan dia mendaratkan ciumannya padaku.


“Aku nggak marah kok sama kamu,” ucapku.


“Nah terus tadi, ngapain kamu jutek-jutek gitu sama aku?”


tanyanya.


“Ya aku cuman bercanda, aku nggak beneran Mas,” jawabku.


“Kamu beneran nggak marah sama aku?” tanya nya lagi.


“Enggak Mas, nagapain aku marah sih, kan kamu udah bilang


sama aku kalo nemuin client Papa,” kataku.


“Terus kalo aku marah, alasannya apa?” sambungku.


“Ya……mungkin karena aku pulang telat, apalagi semalem hujan deres banget ditambah lagi lampu nya mati, ya kan,” jawab Naufal.


“Aku sempat kesal sih sama kamu, aku takut tau, sendirian di


kamar pas lampu mati setelah telfonan sama kamu,” adu ku.


“Kamu nangis kan, yak an,” tebak Naufal sambil menyentil


ujung hidungku.


“Ya jelas lah aku nangis, aku di kamar sendirian, nyari-nyari Abay, eh ternyat Abay turun, siapa yang nggak deg-deg an,” kataku.


“Hahahaha, syukurlah kalo kamu nggak marah sama aku,” kata Naufal smabil memelukku.


“Wudhu ku jadi batal kan Mas,” gerutuku di pundaknya.


“Sama aku juga, kan bisa wudhu lagi Sayang,” kata Naufal.


“Bisa aja kalo bohong,” ejekku.


“Ha?? Aku bohong apaan?” tanya Naufal dan langsung


melepaskan pelukannya.


“Tadi, katanya perut kamu sakit sakit, huh padahal enggak,”


kataku.


“Hahahaha, ya maaf Sayang, mau gimana lagi, itu jurus


jitunya,” ucap Naufal.


“Huh dasar kamu Mas, harusnya tadi aku cuekin,” kataku.


“Ya jangan gitu dong Sayang,” rayu nya.


***(Di Dapur)


Aku memasak di dapur berdua dengan Bi Sarah.


“Eemmmm…..tadi malam Mas Naufal pulang jam berapa Mbak?” tanyaku.


“Nggak tau Bi, soalnya semalam setelah Bibi turun ke bawah


Gia sama Abay langsung tidur, jadi nggak tau Mas Naufal pulang jam berapa,” jawabku.


“Soalnya tadi malem Bibi juga nggak bisa tidur Mbak, tapi


nggak kedengaran sama sekali Mas Naufal pulang,” ucap Bi Sarah.


“Gia juga nggak sempet nanya Bi, abis Gia agak kesel Bi, Mas


Naufal nggak bilang-bilang kalo mau ketemu sama client Papa,” kataku.


“Udah Mbak Gia jangan kesal-kesal, Bibi mau buatin pudding kesukaan Mbak Gia, nanti bisa buat bekal Mbak Gia kerja,” ucapnya.

__ADS_1


“Puding apa Bi?” tanyaku.


“Puding strawberry Mbak, sama Bibi kasih irisan buahnya,”


jawabnya.


“Waaaah pasti enak tuh Bi,” sahut Naufal yang ternyata ada


di belakangku.


“Yeee ini buat aku,” kataku.


“Aku juga boleh kali Sayang,” tepis Naufal.


“Nggak mau, ini buat aku,” ucapku.


“Dia masih marah Bi sama saya, hehehem,” jata Naufal.


“Iiiih siapa yang marah, biasa aja aku,” kataku.


“Ini urusan cewek di dapur,” kataku.


“Tuh kan Bi, serem amat, hiiiih aku takut,” kata Naufal


sambil melangkah meninggalkan kami.


Aku tertawa dengan Bi Sarah.


Di perjalanan menuju Rumah Sakit, entah kenapa moodku


berubah menjadi tidak enak, dan tidak ingin berbicara.


“Gi…” panggil Naufal.


“Hm?" jawabku namun pandanganku ke arah luar jendela mobil.


“Kamu masih bete sama aku, tadi kan kita udah baikan, aku


juga udah minta maaf sama kamu, belum cukup?” tanya Naufal.


“Aku nggak mempermasalahin itu kok,” kataku.


“Nah terus kenapa dari tadi diem mulu, lihatin luar terus,”


ucap Naufal.


“Badmood aja,” jawabku singkat.


“Badmood kenapa?? Ada yang salah?? Atau aku buat kesalahan??”tanya Naufal.


“Nggak semua Mas,” jawabku.


“Aku badmood aja tanpa alasan, kayak biasanya aku juga gini,


nggak udah parno deh,” kataku agak sedikit jutek padanya.


“Huuuuftttt,” Naufal menghembuskan nafasnya dengan berat


sambil perlahan meraih tanganku.


“Jangan bedmood gitu, ada suami kamu loh, masak kamu diemin, lagi mikirin apa?’ tanya Naufal sambil menggenggam erat tanganku dan di taruhnya di atas pahanya.


“Nggak ada mikir apa-apa Mas,” ucapnya yang akhirnya menoleh padanya.


Naufal mengecup tanganku.


“Barangkali ini bisa bauat moodboster kamu,” ucap Naufal


sambil tersenyum padaku.


Aku pun membalasnya dengan senyumanku meskipun terpaksa.


Sampailah kami di Rumah Sakit, mobil melaju menuju parkiran,


ku Tarik tanganku dari genggaman Naufal, namun dia memegangnya erat.


“Udah gini aja dulu, nggak ada yang lihat, kan di dalam


mobil,” tutur Naufal.


Aku membiarkan tanganku tetap di genggam oleh Naufal sampai mobil berhenti dan kami turun dari mobil.


“Udah balik lagi moodnya?” tanya Naufal.


Ku gelengkan kepalaku padanya.


“Lihat aja nanti pasti balik kok mood nya, udah semangat


kerja,” tuturnya.


Aku berjalan beriringan dengannya menyusuri koridor rumah


sakit.


Dan kami berpisah karena harus ke ruangan masing-masing.


Di dalam ruanganku aku mencoba untuk mengembalikkan mood


baikku yang rusak entah karena apa aku saja juga tidak tahu.


“Huuuh ayolah Gi,” kataku sambil mondar mandir di samping


meja.


“Bismillah,” ucapku sambil langsung menarik jas dokterku dan


pergi memeriksa pasienku.


Aku berjalan menuju lift. Teng tong…..


Pintu lift terbuka, dengan wajah sedikit menunduk dan


pandangan kosong aku berjalan masuk ke ruang beberapa ruangan.


“Pagiiiii,” sapaku smabil tersenyum pada mereka.


“Pagi Nenek,” sambungku.


“Pagi Dokter,” hawab mereka.


“Baru bangun semua ya,” tebakku.


“Hehehe, saya sudah dari shubuh Dok,” sahut Si Nenek.


“Oh Nenek sudah dari tadi, nungguin siapa Nek??” candaku.


“Nungguin Dokter,” jawabnya.


“Dok saya pengen segera pulang,” kata Si Nenek yang ompong


itu.


Aku duduk di sampingnya.


“Kalo Nenek pengen cepet pulang, Nenek harus nurut apa pun


kata Dokter, ya, Nenek nggak boleh marah-marah sama anaknya seperti kemaren, kasihan loh Nek anaknya sudah menjaga Nenek disini,” tuturku.


Nenek yang sudah tua dan keriput kulitnya itu pun menangis.


“Ini Mbak, tadi nggak mau di sisir rambutnya,” ucap Si Anak


dari Nenek tua ini.


“Nek, disisir dulu ya rambutnya, biar rapi,” kataku.


“ Rambut sudah putih nggak perlu disisir lagi,” kata Si


Nenek.


“Nenek nggak boleh gitu, katanya Nenek pengen kelihatan cantik terus, Nenek harus sisiran ya,” rayuku.


“Nurut sama anaknya juga Nek, biar Nenek cepet pulang,


kasihan yang di rumah doa in Nenek biar cepat sembuh,” kataku.


“Iya Dok,” jawabnya dengan logat ompongnya.


Aku beralih ke pasien yang lain setelah memeriksa Nenek yang


sedikit dangkal ini.


Beberapa jam kemudian, setelah aku menyelesaikan separuh


pekerjaanku yang setiap harinya harus berinteraksi dengan pasien, moodku tetap saja berantakan, walaupun aku terus tersenyum saat bertemu dengan mereka, karena aku harus memberikan energy baik untuk mereka.


Aku duduk di kursi putarku dan menyangga kepalaku dengan


kedua tanganku di atas meja sambil sedikit memberi trearment di pelipisku.


Tok……tok….tok…..


“Siapa ini??” gerutuku.


“Masuk,” ucapku.


Gleeekkkk…..


Seorag pria berbadan lumayan kekar dan tinggi berkulit sawo

__ADS_1


matang datang dengan membawa bouqet bunga mawar putih dan berjalan mendekatiku.


Bersambung.......


__ADS_2