
"Udah Sayang, habisin makanannya," tutur Naufal.
"Udah kenyang Mas," jawabku sambil mengelap bibirku dengan tisu.
"Yeeee kamu makan dikit doang Sayang," kata Naufal.
"Udah kenyang aku, beneran," bantahku.
"Kemana lagi habis ini?" tanya Naufal.
"Pulang Mas," jawabku.
"Udah, gak pengen kemana-mana lagi," tanyanya lagi.
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Sayang aku pengen asinan yang kamu beli kemaren," ucap Naufal.
"Yakin kamu suka?" tanyaku.
"Ya nanti di coba aja Sayang, kemaren waktu video call sama kamu kayaknya enak," ucap Naufal.
"Emang enak asinannya, aku aja sampe habis 2 porsi," kataku.
"Udah?" tanyanya.
"He'em," jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Yuk pulang Sayang, udah malem, belum macetnya juga," kata Naufal sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Akhirnya setelah selesai candle light dinner selesai, kami memutuskan untuk pulang, tak lupa kami membeli asinan terlebih dahulu.
Mobil melaju menyusuri jalan puncak yang lumayan sepi karena waktu sudah larut malam.
Setengah perjalanan tepat di penjual kaki lima di tepian jalan.
"Mana Sayang?" tanya Naufal sambil menoleh-noleh untuk mencari penjual asinan.
"Lurus dikit lagi, nanti ada kok gerobaknya warna putih," ucapku.
Mobil Naufal melaju sangat pelan.
"Itu Mas, stop stop," kataku.
Mobil Naufal berhenti di depan penjual asinan.
"Kamu disini aja Mas, biar aku yang turun," tuturku.
"Nggak nggak, aku nggak mau," ucap Naufal.
"Loh kok gitu, terus maunya gimana?? Kamu yang turun," tanyaku.
"Berdua lah Sayang, aku turun kamu ya turun, kamu turun aku ya turun, hehehe," ucap Naufal yang jiwa kebucinannya mulai meronta-ronta.
"Aaarggghh," ucapku.
Akhirnya kami turun berdua.
Kami membeli 10 porsi asinan karena sekalian untuk orang Rumah.
Setelah kami membeli asinan dan kembali ke dalam mobil.
"Udah mau apa lagi?" tanyanya.
"Iiih ini tadi kan kamu yang pengen, kok aku," kataku.
"Tapi aku pengen coffe latte Mas," rengekku.
"Udah itu aja?? Sekalian aja Sayang, kamu pengen apa," kata Naufal.
"Udah itu aja, nanti kalo di jalan ada yang memikat hati ya beli," ucapku.
"Ha?? Maksud kamu?? Memikat hati?? Kalo ada cowok yang memikat hati juga kamu ini," kata Naufal.
"Ngaco ya kamu, ya nggak lah," kataku sambil mencubit pinggangnya.
"Hehhee, cuman aku doang kali yang bisa memikat hati kamu," ucap Naufal.
"Nggak juga," bantahku ingin membuat dia kesal.
"Ada lagi??" tanyanya singkat.
"Kepo banget, udah ayo jalan mobilnya Mas," kataku.
Naufal kembali melajukan mobilnya.
"Tumben diem?" tanyaku yang sebenarnya tau dia sedang kesal padaku.
"Mas, aku kan becanda, jelas-jelas gak ada lah selain kamu," kataku sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
"Eh eh, aku nyetir loh," kaya Naufal singkat.
"Kamu jangan diem aja," rengekku yang terus menggoyang lengannya.
"Huuu gak asik kamu, males," kataku sambil membuang muka ke arah jendela.
"Tuh kan, yang buat aku diem kamu, tapi yang ngambek kamu," kata Naufal.
Aku hanya diam dan tidak menoleh padanya.
"Padahal yang kamu buat kesel aku loh Sayang, tapi kamu malah yang ngambek," ucap Naufal.
"Sekarang ganti kamu yang diem, ya udah diem-diem an aja, gak masalah," kata Naufal.
Deggg....
"Naufal beneran marah, cuman gara-gara tadi aku bilang kayak gitu," gumamku dalam hati.
"Langsung pulang aja kita, udah malem Sayang, nggak usah beli coffe latte," tuturnya dengan pelan.
Aku tidak menjawabnya sama sekali.
Aku tidak menyangka bahwa Naufal seperti ini untuk yang pertama kalinya, aku takut dengan sikap Naufal yang ini.
Naufal menyetir sambil sibuk memainkan ponselnya.
***(di Rumah)
Tak lama kemudian kami sampai di Rumah, ternyata Naufal benar-benar tidak mengajakku membeli coffe latte.
Mobil langsung melaju ke garasi.
Saat mobil berhenti, tanpa mengatakan apapun, aku langsung melepas seatbelt dan langsung turun dari mobil untuk masuk ke rumah.
Aku semakin marah padanya.
Mataku sudah berkaca-kaca, apakah memang ini sifat sebenarnya Naufal, yang hanya manis di mood baiknya saja.
Aku berlari ke kamar, mataku sudah tak dapat ku bendung lagi.
***(di Kamar)
Ku lepas heels dan kerudungku.
Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Aku menangis kala itu.
__ADS_1
Naufal tak kunjung menyusulku ke kamar, tidak ada tanda-tanda seseorang masuk ke kamar.
Setelah aku puas menangis, dan cuci muka, aku keluar dari kamar mandi.
"Sayang," panggil Naufal yang berjalan menghampiri.
Aku langsung memalingkan mata sembabku.
"Kamu nangis?" tanyanya.
"Enggak," bantahku sambil pura-pura menyibukkan diri dengan berjalan kesana kemarid di dalam kamar.
Naufal terus mengikutiku.
"Sayang, Sayang, kamu beneran nangis?" tanyanya lagi.
"Enggak, siapa juga yang nangis," jawabku singkat sambil air mataku menetes di pipi.
Saat aku ingin berjalan ke ruang ganti baju, Naufal langsung menghadangku.
"Minggir," tepisku.
"Ya Allah Sayang kamu beneran marah sama aku," kata Naufal.
"Enggak, apaan sih," bantahku terus menerus.
Naufal menutup pintu menuju ruang ganti baju dengan memasang badannya.
Naufal mengangkat daguku.
"Tuh kan mata kamu sembab, nangis kamu, hahahah," ucap Naufal sambil sedikit menertawakanku.
"Hey hey, kenapa sih Sayang kenapa?? Aku ngapain tadi kok bisa buat nangis kamu gini," tanya Naufal sambil sedikit menekuk lutunya karena tinggi badannya.
"Kamu tadi marahin aku, sampe-sampe kamu nggak mau beli coffee latte, terus kamu diemin aku di mobil, terus kamu juga sibuk mainin handphone kamu," rengekku sambil terisak-isak.
"Hahahaha, ya ampun Sayang, padahal kamu yang mulai, tapi kamu yang nangis," kata Naufal terus menertawakanku.
"Hahahah Sayang Sayang," ucapnya sambil menarik tubuhku untuk dipeluknya.
"Aku tadi nggak marah, aku tadi cuman ngerjain kamu aja Sayang, cuman iseng aja beneran, hahaha, gak mungkin mau lah aku kayak gitu ke kamu, aku tadi sibuk mainin handphone aku, soalnya aku pesen ini Sayang," ucapnya sambil melepas pelukannya dan mengangkat satu kantung berisi coffe latte.
"Ini kan yang kamu mau," ucapnya.
"Kamu kan tadi ngambek tuh, sekalian aja aku kerjain, udah Sayang nggak usah beli coffe latte, padahal aku udah pesen gofood tadi, hahahaha, gak mungkin aku setega itu sama kamu," ucap Naufal.
Aku menepuk tubuhnya.
"Aaaaaaaa kamu jahat Mas, dasar," kataku sambil terus mencubit pinggagnya.
"Hahahhaa, aww, kamu juga gitu Sayang, pake ngerjain aku kayak gitu, ya gantian dong," ejeknya.
"Tapi aku gak mau kamu kayak gitu lagi," kataku sambil menghapus sisa air mataku.
"Hehehe, iya iya Sayang, kamu kan yang mulai, eh malah kamu yang nangis, aduh Sayang Sayang," ucap Naufal sambil menyentil hidungku.
"Udah jangan nangis lagi, maaf ya Sayang, tapi kamu lucu kalo ngambek, makanya aku makin gemes," ucapnya.
"Udah sana wudhu, habis itu kita sholat terus makan ini berdua," tuturnya.
"Gak mau, aku maunya makan sendiri aja, weekkk," ejekku sambil berlari ke kamar mandi dan mengambil air wudhu.
"Oooh gitu, nakal lagi, awas ya kamu nanti, lihat aja Sayang pembalasanku," teriak Naufal yang sedikit terdengar di telingaku.
Aku tersenyum-senyum dalam kamar mandi, karena puas telah membalasnya.
.
.
.
Kami duduk di berdua di balkon, sambil menikmati bintang-bintang.
"Lainnya udah kamu kasih?" tanyaku sambil mengambil segelas coffe latte dari kantungnya.
"Udah kok Sayang udah," jawabnya.
"Ini nya juga, minumnya maksud aku," ucapku.
"Udah juga Sayang," kata Naufal.
"Ini Mas," kataku sambil menyodorkan satu porsi asinan pada Naufal.
"Nggak mau, aku maunya di suapin kamu," rengeknya.
"Huuummm, dasar kamu," kataku.
Kami menikmati asinan berdua, aku terus menyuapinya.
Sesekali aku mengerjainya.
Saat sendok ku terbangkan untuk Naufal, tapi malah aku memakannya.
"Awas kamu Sayang," kata Naufal seperti orang mengintimidasi.
"Hehehe, nggak nggak," kataku.
Dua porsi asinan akhirnya berhasil kami habiskan.
"Udah kenyang Sayang," ucapnya.
"Ya udah kamu cuci muka dulu sana, bersih-bersih ke kamar mandi, biar aku yang beresin ini," tuturku.
Naufal beranjak dari kursi dan berjalan masuk menuju kamar mandi.
Aku membereskan cup dan asinan yang masih tersisa untuk ku bawa ke dapur.
.
.
.
Setelah aku membereskan semuanya, dan kembali ke kamar.
Langsung ku rebahkan tubuhku di atas kasur.
Naufal keluar dari kamar mandi, dan mematikan lampu lalu menyusulku merebahkan tubuhnya di sampingku.
Naufal menarikku lalu mencium keningku lama, sepertinya dia akan mengambil haknya kembali malam ini.
Naufal memberikan kembali malam manisnya padaku.
.
.
.
.
.
.
Alarm dari ponselku berdering.
__ADS_1
Telingaku sangat terganggu dengan dering itu.
Ku raih ponselku dan ku matikan alarm yang terus berbunyi.
Aku turun pelan-pelan dari ranjang. Lalu bergegas untuk mandi.
Setelah mandi, aku turun ke bawah.
***(di Dapur)
Aku melihat Bi Sarah yang mendahuluiku memasak.
Segera aku menyusulnya untuk memasak.
"Mbak Gia tadi malam marahan ya sama Mas Naufal?" tanya Bi Sarah.
"Hehehe itu Mas Naufal ngerjain Gia Bi, Bibi kok tau," kataku.
"Tau Mbak, waktu Mas Naufal bertemu Bapak Gofood di depan, sedangkan Mbak Gia sudah ke atas duluan, biasanya kan berdua terus Mbak," ejek Bi Sarah sambil menggoreng sambal yang membuatku bersin-bersin.
Hacchiimmm.......
"Hehhee, Bibi tau aja," kataku.
"Tapi udah baikan kok Bi, soalnya Mas Naufal udah ngaku," kataku.
"Lucu ya Mbak kalo rumah tangga masih belum lama, romantis terus, tapi kalo udah seusia Bibi, huuum mana ada Mbak, tapi kelihatannya Mas Naufal orangnya romantis ya Mbak," tebak Bi Sarah.
"Ya gitu Bi," ucapku sambil malu-malu.
"Kelihatannya Mas Naufal sangat Sayanggggg banget sama Mbak Gia," kata Bi Sarah.
"Ah masak Bi??? Bibi tau dari mana?" tanyaku.
"Waktu ulang tahun Mbak Gia, semua yang ngatur Mas Naufal Mbak, dari gazebo sampai hiasannya," kata Bi Sarah.
"Makanya Bi, wanita-wanita yang di Rumah Sakit kadang lihatin dia, bahkan anak kecil aja seusia Noni itu juga bengong Bi kalo lihat Mas Naufal, apalah daya Gia Bi, hehehe," candaku.
"Hanya istri shalihah perhiasan dunia," Bi Sarah tiba-tiba menyanyi lagu dari Raja Dangdut.
"Tapi bagaimanapun juga, sekarang ataupun nanti, Mas Naufal akan tetap setia dengan Mbak Gia," ucap Bi Sarah yang sepertinya sangat mendukung Naufal.
"Bibi bisa aja nyanyi-nyanyi kayak gitu, hehehe, udah Bi masak," kataku sambil kedua pipiku memerah.
"Hehehe, benar kan Mbak??" ucapnya sambil mengangkat kedua alisnya.
Aku hanya tersenyum padanya.
"Bi, nanti sore ada tamu, Gia minta tolong ya masakin buat makan mereka, soalnya Gia pulang agak siang menjelang sore," kataku sambil mengaduk kuah sayur sup.
"Baik Mbak, siap, memangnya tamu nya siapa Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Yang mau kerja disini Bi, buat satpam di gerbang belakang Rumah, katanya Mas Naufal sih," jawabku.
"Oh, memangnya dari dulu gerbang belakang tidak ada satpamnya ya Mbak?" tanyanya lagi.
"Nggak ada Bi, kemaren kan waktu Mas Naufal pulang dari luar negeri, Gia lupa ketiduran terus nggak dikunci pintu kamarnya, eh Mas Naufal langsung cari orang Bi," kataku.
"Bibi bilang apa Mbak, betul kan Mbak, kalo Mas Naufal sangat sangat sayang sama Mbak Gia, bahkan dari hal ini saja Mas Naufal sangat peduli Mbak," tutur Bi Sarah.
"Hehehe, iya mungkin Bi," kataku.
"Bukan mungkin lagi Mbak, ini sudah fakta, nyata kalo kata di TV TV mbak, hehehe," canda Bi Sarah.
Masak kali ini sangat menyenangkan, karena Bi Sarah yang terus menghiburku.
Setelah selesai memasak, adzan shubuh berkumandang, aku segera membangunkan Naufal.
***(di Kamar)
"Mas, bangun," kataku sambil mengelus keningnya meskipun sebenarnya aku sedikit agak malu.
Naufal membuka kedua matanya perlahan.
"Eeehhhhmmmm, habis masak ya," tebak Naufal sambil mengelap keringat di keningku.
Deg....deg.....deg
Jantungku berdebar-debar, bibirku gemetar.
"Iii.....iiya Mas," kataku.
Aku segera beranjak dari kasur karena nafasku sudah merasa sangat sesak ada di dekat Naufal.
"Kamu cepetan mandi Mas, nanti gantian aku," tuturku.
Naufal tak menggubris, malah memberikan senyumnya padaku.
"Adduhhhh apa-apaan sih Naufal, di suruh mandi malah kayak gitu, huuuffttt, jadi makin sesak aja," gumamku dalam hati.
"Ya udah kalo kamu nggak mau mandi, aku yang mandi duluan," kataku sambil langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Saat aku sudah aman berada di dalam kamar mandi.
Naufal tak henti-hentinya menahan tawanya karena salah tingkahku tadi.
"Aku sangat gemas Gi jika melihatmu seperti itu, jadi jangan salahkan aku, hahaha," ucap dalam hati Naufal.
Beberapa menit kemudian, selesai aku mandi.
Naufal hilang dari ranjang.
"Mas, mandi gih," tuturku.
Tidak ada jawaban dari Naufal.
Tiba-tiba dia berjalan masuk ke kamar.
"Habis dari mana kamu?" tanyaku yang tidak melihatnya sama sekali karena malu.
"Ke bawah Sayang, haus pengen minum air es," jawab Naufal.
"Ini masih shubuh Mas, kok kamu minum es, aahhh kamu, gak jaga kesehatan banget," kataku.
"Sumpah aku haus banget Sayang, beneran, kan baru sekali," ucapnya.
"Baru sekali?? Astagfirullah Mas Mas, mandi gih," tuturku.
Naufal berjalan menuju kamar mandi, aku menyiapkan sajadah dan sarung miliknya.
Beberapa menit Naufal selesai mandi, dan langsung melaksanakan sholat shubuh berdua.
.
.
.
Setelah selesai sholat, aku segera membereskan sajadahnya kembali, dan menyiapkan kemeja untuk Naufal, kemudian segera bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Bersambung......
Hay kakak semuanya.
Jangan lupa baca Novel aku yang satunya ya, dijamin novelnya pasti berbeda dengan lainnya, judulnya "Bianglala"
Mampir ya kak terima kasih😁
__ADS_1