
"A-ayah...aku rindu",ujar Dea lirih.
"Ayah juga Nak.Maafkan sikap ayah yang tak bisa melindungi kamu saat kita masih tinggal bersama",jawab Anas.
"Gak ayah...ayah bagi Dea ayah yang baik",ujar Dea duduk dihadapan Anas.
"Kamu gendutan sekarang,hum?",jawab Anas menangkup pipi Dea dengan kedua tangannya.
"Ya...karena sebentar lagi Ayah akan punya cucu",ujar Dea.
"Benarkah... Alhamdulillah.Dijaga baik baik ya Nak", jawab Anas.
"Ya Ayah... Jadi Ayah tinggal disini sekarang?,ibuk mana?",tanya Dea.
"Ayah sudah menceraikan Ibukmu karena Ayah tak sanggup lagi dengan gaya hedonisnya itu",jawab Anas.
Kalen tersenyum bersidekap di dada melihat sang istri selama ini ia tau memendam rindu pada ayahnya itu tampak bahagia.Ia membiarkan keduanya saling melepas rindu.
"Kak... kenapa ayah tinggal jauh dari kita",tanya Dea.
"Oh itu...
"Permintaan Ayah sendiri Nak",sela Anas.
"Kenapa Yah?", tanya Dea.
Anas menatap Kalen yang menggeleng samar seolah memintanya tak mengatakan apapun.Ia memang sudah meminta Anas untuk merahasiakan semuanya.
"Bukan apa apa Nak,Ayah hanya ingin ketenangan",kilah Anas.
"Oh..."
***
Dea menatap lurus hamparan persawahan yang terletak di teras belakang rumah yang ditempati Anas.Ia begitu rindu dengan masa kecilnya dulu sebelum kedatangan ibu tirinya.Anas begitu memanjakannya dan menyanyanginya.Itulah sebabnya Dea awalnya tak percaya kalau Anas bukanlah ayah kandungnya.
"Lagi apa,hum?",ujar Kalen tiba tiba datang memeluknya dari belakang.
"Gak ada Kak...,Kakak udah selesai ngomong sama Ayah?",tanya Dea.
"Hmmmm...ayo kita pulang!",jawab Kalen.
"Kita gak nginap disini Kak?", tanya Dea membalikan badannya menatap sang suami penuh harap.
__ADS_1
"Lain kali ya...besok kamu kuliah dan aku juga ada meeting",jawab Kalen memberikan pengertian pada sang istri karena ia tau mood wanita hamil naik turun.
Dea tersenyum tipis lalu mengangguk pelan."Ya Kak...",jawab Dea.
"Ayo kita izin dulu sama ayah kamu",ujar Kalen menarik pergelangan tangan sang istri dengan lembut.
"Ya...",jawab Dea mengikuti langkah sang suami.
"Ayah...Dea harus pulang dulu,maaf gak bisa nginap disini",ujar Dea saat menghampiri sang ayah di teras depan.
Anas menyunggingkan senyumannya lalu mengangguk perlahan."Tak apa apa Nak.Sekarang rumahmu adalah rumah suamimu,Ayah hanya berpesan jadilah istri yang baik dan taatilah suamimu selagi dijalan yang diridhoi Allah",ujar Anas mengusap pucuk kepala sang putri.
"Ya Ayah...",jawab Dea dengan mantab berkaca-kaca.
"Tuan muda Kalen saya titipkan putri saya ini dan tolong jaga dia baik baik",ujar Anas pada Kalen yang masih mengenggam erat tangan Dea.
"Ya...Om",jawab Kalen canggung dengan panggilannya pada Anas.
Anas terkekeh begitu juga dengan Dea mendengar panggilan Kalen padanya."Ya... pulanglah sebelum hari gelap,karena tak baik wanita hamil masih diluar sebelum magrib",ujar Anas.
"Ya Yah...kami pulang dulu",ujar Dea melepaskan genggaman tangannya lalu menyalami tangan sang ayah.
"Hati hati...",jawab Anas.
"Di depan ada beberapa orang yang satu tugaskan untuk menjaga anda untuk jaga jaga jika ada musuh datang",ujar Kelen menepuk pelan pundak Anas.
"Terimakasih banyak Tuan muda untuk semuanya.Melindungi saya dan mencintai putri saya dengan begitu besarnya", jawab Anas.
"Sudah seharusnya begitu,kan?", tanya Kalen.
"Ya..."
Kalen melangkah menuju mobilnya di mana sang istri telah menunggunya.Pria itu membukakan pintu mobil untuk Dea dan mempersilahkan sang istri masuk.
Setelah memasuki mobil pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran halaman rumah yang ditempati Anas.
Dan saat sesampainya dirumah Kalen membawa sang istri masuk dengan tangan saling bergandengan.Ia begitu sangat dan sangat mencintai sang istri sehingga prioritasnya saat ini adalah kebahagiaan sang istri.
Kalen mengehentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya."Ya Kek...",ujar Kaken menatap pria tua yang begitu ia hormati itu.
"Kemarilah...!",ujar Tuan Wiliam yang duduk diatas sofa ruang keluarga.
Kalen membawa sang istri menemui sang Kakek."Ada apa Kek?",tanya Kalen lalu duduk dihadapan sang Kakek.
__ADS_1
"Ini ambillah...!",ujar Tuan Wiliam memberikan sebuah amplop.
"Apa ini Kek?", tanya Kalen.
"Bukalah...",jawab Tuan Wiliam.
Kalen membuka amplop itu dan tersenyum geli."Jadi--
"Pergilah... awalnya Kakek akan memberikannya saat bulan madu kalian dulu tapi kamu sendiri yang menentukan tempat bulan madu kalian.Jadi untuk kali ini jangan menolak.Cucu menantu Kakek juga butuh refreshing",ujar Tuan Wiliam menatap Dea.
"Bagiamana sayang...?",tanya Kalen memperlihatkan tiket hannymoon pada Dea.
"Nanti saja Kak jika kandungan aku udah agak kuat sekalian babymoon",jawab Dea.
"Maaf Kek...kita tak bisa berangkat dalam waktu dekat karena kehamilan Dea yang masih rentan untuk perjalanan jauh",ujar Kalen.
"Tak apa, kehamilan Dea sat ini paling penting",jawab Tuan Wiliam.
"Kak Dea..."
"Jangan berteriak Kaira,kamu itu seorang gadis terhormat jadi bertingkah anggunlah.Jangan urakan seperti ini",ujar Kalen..
"Hehehe maaf Kak",jawab Dea tersenyum tipis.
"Hmmmm..."
"Kak... temani aku besok cari buku ya",ujar Kaira.
"Apakah kamu tak memiliki teman, sehingga kamu harus meminta istri Kakak untuk menemani kamu", ketus Kalen.
"Malas Kak...mereka semua hanya memanfaatkan aku",keluh Kaira.
"Boleh ya Kak aku temani Kaira",ujar Dea.
"Boleh tapi harus bersama Diana juga",jawab Kalen.
"Ya Kak...",balas Dea.
"Terimakasih Kak...",ujar Kaira tersenyum lebar.
"Iya..."
...****************...
__ADS_1