
Kalen membawa Dea menuju kantin rumah sakit untuk makan siang bersama.Semua orang menatap keduanya dengan tatapan berbeda.Banyak Dokter wanita yang merasa iri dengan Dea yang bisa menjadi wanita dari CEO mereka.
Sesampainya di kantin Kalen mengajak Dea untuk duduk disalah satu meja kosong.Namun tatapan Dea tertuju pada seorang wanita paruh baya yang duduk sendiri dengan wajah yang terlihat kusut.
"Ada apa sayang?", bisik Kalen mengikuti tatapan sang istri.
"Ah tidak apa Kak,udah pesan?",tanya Dea dengan senyuman yang dipaksakan.
Kalen menyadari jika istrinya tidak baik baik saja.Apalagi wanita paruh baya tadi yang dilihat Dea yang membuat mood istrinya itu turun.
"Mau pindah tempat?",tanya Kalen.
"Gak usah Kak...",jawab Dea yang masih sesekali melirik wanita paruh baya itu.
"Baiklah...",balas Kalen.
Wanita paruh baya yang menyadari bila diperhatikan menoleh kearah Kalen dan Dea.Wanita itu tersenyum tipis padat mereka lalu beranjak dari duduknya menghampiri Dea dan Kalen.
"Dokter muda Kalen...",sapa wanita paruh baya itu.
"Ya Nyonya Sandra...",jawab Kalen tersenyum tipis.
"Ini istrinya?",tanya wanita itu tersenyum kaku saat menatap Dea.
"Iya Nyonya... Siapa yang sakit?",tanya Kalen.
"Suami saya... kehilangan banyak darah akibat kecelakaan tunggal.Dan bank darah tak memiliki darah AB resus negatif.Darah itu sangat langka dan hanya keluarga kandung yang bisa memeberikan",jawab wanita paruh baya itu.
"Bukankah anda memiliki dua orang anak", pancing Kalen tersenyum tipis.
Deg
"Saya hanya memiliki satu orang putra Dokter Kalen tapi tak bisa memberikan darahnya karena juga tak bisa memberikan darahnya karena satu penyakit",jawab wanita paruh baya itu berusaha tenang apalagi saat ia melihat Dea seakan melihat mendiang ibunya bahkan sedikit memiliki kemiripan dengannya.
"Oh... sayang sekali.Tapi saya akan meminta pihak ruang sakit untuk secepatnya mencarikan golongan darah yang sama",jawab Kalen.
"Terimakasih Dokter...saya tinggal dulu",ujar wanita paruh baya itu tersenyum tipis pada Dea.
Wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan Kalen dan Dea.Ia segera meraih ponselnya menelfon seseorang untuk memastikan kecurigaannya.
__ADS_1
"Ayo angkat Anas...",gumam wanita paruh baya itu karena panggilan teleponnya tak kunjung tersambung.
"Ck...Dia begitu mirip dengan mendiang Mama",gumam wanita paruh baya itu.
"Sandra bagaimana?,apakah kamu sudah mendapatkan pendonornya?",tanya seseorang menghampiri wanita paruh baya itu.
"Belum Pa...pihak rumah sakit juga lagu mengusahakan",jawab wanita bernama Sandra itu.
"Andai anak pertama kalian masih hidup,dia pasti bisa menolong",tutur orang itu dengan wajah sendu.
"Pa...kita harus bagaimana ini?.Kita tak memiliki banyak waktu.Mas Dion harus dioperasi secepatnya",lirih Sandra dengan mata berkaca-kaca.
"Papa juga tidak tau Sandra...", jawab orang itu.
Ponsel Sandra berdering manandakan satu panggilan dari orang yang tadi ia hubungi.
"Aku angkat telfon sebentar Pa",ujar Sandra.
"Ya silahkan...", jawab orang itu menatap punggung Sandra berjalan menjauhinya.
"*Hallo Anas...kamu dimana?",tanya Sandra seraya berbisik.
"Aku lagi diluar.Ada apa kamu menghubungiku?", jawab Anas.
"Tidak...dia sudah menikah",jawab Anas.
"Apa?", pekik Sandra.
"Aku tak bisa lagi menampungnya lebih lama.Aku menikahkannya dengan keluarga yang aku yakin bisa melindunginya Sandra.Kaluarga suamimu...aku takut dia mencelakainya karena aku tak memiliki apa apa lagi sekarang untuk menjamin keamanannya",ujar Anas.
"Dengan keluarga mana kamu menikahkannya Anas.Aku membutuhkannya saat ini karena Mas Dion kritis dan membutuhkan darah darinya",jawab Sandra.
"Hahaha... setelah kamu meninggalkannya Sandra",gelak Anas.
"Kamu tau sendiri aku punya alasan untuk meninggalkannya",ujar Sandra.
"Dan kamu yakin putrimu itu percaya?,Apalagi sekarang keluarga suaminya bisa memberikan semuanya padanya",ujar Anas.
"Katakan Anas!,dimana putriku",desis Sandra.
__ADS_1
"Maaf Sandra aku gak mau membahayakan nyawa putriku", jawab Anas.
Klik*
"Anas brengsek...", desis Sandra Dewi wajah menahan amarahnya.
"Aku yakin jika istri dari dokter Kalen adalah Diandra, putriku", gumam Sandra.
***
"Dea...aku antar kamu kerumah Mama dulu ya,aku ada meeting diluar dan agak sedikit lama",ujar Kalen saat mereka sudah selesai makan siang.
"Ya Kak...",jawab Dea.
"Ayo...kita pulang sekarang!",ujar Kalen.
"Ayo Kak...",jawab Dea mengikuti langkah sang suami.
Kalen mengantar Dea ke rumah kedua orangtuanya karena ia akan memberi pelajaran pada Tiara yang ia sekap hampir dua hari.
Pria itu telah membuat janji dengan saudara sepupunya untuk membalaskan perbuatan wanita yang sudah dengan lancang membuat sang istri mengalami memar.
"Ck...lama",ujar seseorang saat Kalen turun dari mobilnya di depan sebuah bangunan usang.
"Hmmm... sudah siap?",tanya Kalen menatap wanita tomboi yang memiliki beberapa tato di tubuhnya.
"Ya...", jawabnya cuek.
"Ayo ikut!",ujar Kalen berjalan lebih dahulu.
Kalen memasuki bangunan yang sudah lama tak tempati dengan langkah tegapnya.Dari luar bangunan itu seperti tak terurus tapi saat memasuki ruangannya sungguh diluar dugaan.Ruangan itu begitu indah dan mewah layaknya sebuah mansion.
Diana sepupu Kalen itu berdecak kagum dengan design interiornya.
Kalen membawa Diana menuju sebuah ruangan dimana seorang wanita dengan pakaian seksi terikat tali.
"Kalen...",gumam wanita itu tersenyum samar.
"Jadi ini wanita yang kamu maksud,Kalen?",tanya Diana menatap Tiara yang terikat tali dengan senyuman sinis.
__ADS_1
"Hmmmm..."
...****************...