
"Kalen... akhirnya kita bertemu lagi.Terjadi sesuatu hingga kamu memintaku datang ke sini?",tanya Diana bersidekap di dada.
"Ya...aku ada tugas untukmu",jawab Kalen tersenyum smirk.
"Sepertinya menarik,aku akan dengan senang hati membantumu saudara sepupu",ujar Diana tersenyum tipis.
"Mari ikut aku!",jawab Kalen melangkah menuju sebuah ruangan.
"Kalen siapa wanita ini?.Apakah dia salah satu pengagummu?",ejek Diana.
"Hmmmm"
"Sepertinya dia mengalami luka tembak,apa yang terjadi terjadi?.Kamu menembaknya?,sejak kapan kamu menyakiti wanita secara fisik?",ujar Diana saat melihat perban yang membalut lengan kanan Fika.
"Bukan aku,tapi seseorang",jawab Kalen menatap tajam Fika.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?", tanya Diana tersenyum miring menatap Fika yang tampak setengah sadar terikat tali.
"Dia menyakiti Deaku,Dea mengalami luka memar di area wajah dan juga luka mental akibat perlakuan wanita ini",jawab Kalen.
"Menarik...balasan setimpal atau kematian",ujar Diana membuat Fika mengggeleng lemah dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Kematian terlalu mudah untuknya,siksa dia lebihnya terserah padamu",jawab Kalen datar menatap tajam Fika yang menatapnya penuh permohonan.
"Baiklah...tunggu dia pulih,aku tak bisa menyiksa seseorang dalam keadaan lemah seperti ini",ujar Diana.
"Hmmmm...dua jam lagi dia akan pulih dari obat bius bekas operasinya.Kamu bisa melakukannya",ujar Kalen dengan aura dinginnya.
"Ya..."
"Ka-kalen aku mohon lepaskan aku,aku--
"Hanya dalam mimpimu",jawab Kalen.
"Aku tau aku salah,aku melakukan ini karena aku mencintaimu",ujar Fika meringis menahan rasa sakit yang mulai terasa di lengan kanannya akibat pergerakannya berusaha melepaskan ikatan tali yang melilit tubuhnya.
"Wanita bodoh...kau tau Kalen memiliki seorang istri yang begitu ia cintai.Dan dia tak akan tinggal diam jika wanitanya disakiti sedikit saja.Kau malah membuat masalah dengan menculik dan menyakiti istrinya",ujar Diana tersenyum remeh.
"Ya aku memang bodoh mencintai Kalen,tapi cintaku tulus dan harusnya kamu tau itu Kalen",jawab Fika.
"Kau pikir aku tidak tau jika kau dan ayahmu itu hanya mengincar hartaku saja", tutur Kalen.
"Kalen cintaku tak memiliki kaitannya dengan rencana Papaku", teriak Fika yang tak terima cintanya dihina oleh Kalen.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah pulih nona manis",kekeh Diana bersidekap di dada.
"Siksa dia...!",ujar Kalen tersenyum smirk.
"Dengan senang hati sepupuku",jawab Diana mengambil sebuah pelecut.
"Ka-kalen jangan",pekik Fika histeris.
"Kamu lanjutkan...",ujar Kalen melangkah meninggalkan ruangan penyiksaan itu.
"Harusnya kamu melihatnya Kalen,atau kamu tak kuasa melihat wanita itu disiksa",ejek Diana.
Kalen menghentikan langkahnya."Aku akan menemui istiriku",jawab Kalen.
"Setidaknya lihat wanita ini di siksa sebentar saja agar kamu puas telah membalaskan rasa sakit yang dialami istri kamu",ujar Diana.
"Hufffhh...baiklah",jawab Kalen.
Kalen duduk disebuah kursi menghadap Fika yang terikat tali.
"Sakit...",pekik Fika saat cambuk melukai tubuhnya.
"Sakit,hum?.Harusnya jari ini yang aku potong karena sudah dengan beraninya menyakiti istri dari sepupuku",berang Diana menarik kasar rambut Fika ke belakang.
"Ide yang bagus Diana.Disana ada sebuah pisau berkarat",tunjuk Kalen pada sebuah meja.
Diana mengambil pisau itu dan menunjukkannya pada Fika yang sudah ketakutan.
"Aku mohon jangan lakukan itu.Aku janji akan melakukan apapun asalkan kalian melepaskan ku",tawar Fika.
"Jangan bermimpi nona manis",sinis Diana.
"Jangan...",pekik Fika saat Diana menempelkan pisau itu dijari mulus Fika.
"Hahahaha...kenapa kau takut, hum?.Dimana keberanianmu tadi menculik manantu kesayangan keluarga Atmaja.Dan jemarimu ini yang menamparnya",ujar Diana.
"Ampuni aku...",mohon Fika.
"Cih...lakukan sekarang Diana!", teriak Kalen yang mulai geram dengan rengekan Fika.
"Argh...sa-kkiit...", pekik Fika menggema di ruangan itu.Bau amis darah langsung menusuk hidung.
"Huh...bari satu Nona,tinggal 4 jari lagi",ujar Diana tersenyum iblis.
__ADS_1
"Tidak... jangan.Aku mohon jangan",jawab Fika menahan rasa sakitnya.
Kalen tersenyum puas melihat wajah ketakutan Fika.Ia akan membalas dengan kejam siapa saja yang berani mengusik dan menyakiti wanitanya.
"Arghhh...saaakkkiitt...", pekik Fika.
"Hah...ini sangat menyenangkan Kalen",ujar Diana.
"Dasar psikopat...",jawab Kalen tersenyum tipis.
"Cukup...dia bisa mati kehabisan darah.Aku tak mau dia mati secepat itu",ujar Kalen.
"Baiklah...mungkin lusa aku akan menyelesaikan tiga buah jarinya lagi", jawab Diana.
"Pengawal...bawa dia ke ruang perawatan.Panggil Dokter Bayu untuk mengobati lukanya",ujar Kalen.
"Baik Tuan muda",jawab pengawal itu membawa tubuh lemas Fika.
"Kau cukup kejam Kalen",ujar Diana.
"Hehehehe...kau itu psikopat terkejam yang aku miliki",jawab Kalen.
"Ya..."
***
"Kaira...kamu disini?", tanya Dea yang cukup terkejut dengan kehadiran adik iparnya itu saat ia keluar kamar.
"Kak Dea...aku kangen",jawab Kaira berhamburan memeluk Dea.
"Kakak juga Ra,kamu sudah lama?.Kak Kalen mana?", tanya Dea.
"Sudah dari satu jam yang lalu Kak.Kak Kalen lagi keluar Kak ada urusan kayaknya.Dan dia minta aku nemani Kakak disini",jawab Dea mengurai pelukannya.
"Oh...kamu lapar gak?,masak yuk",ujar Dea.
"Gak usah Kak,aku udah pesanin makanan untuk kita,jadi gak usah masak Kak",jawab Kaira.
"Baiklah...",balas Dea.
Sementara disebuah ruangan Bayu tampak menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya."Lo benar benar kejam Kalen",ujar Bayu.
"Itulah aku jika berani menyakiti istriku",jawab Kalen dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Gluk
...****************...