
"Ha?"
"Maaf jika pertanyaanku membuatmu tak nyaman", ujar Kaisan.
"Tak apa, aku belum ada kepikiran kesana.Lagian siapa yang mau melamar gadis sepertiku",jawab Mika.
"Jika ada yang melamarmu,apakah kamu mau?", tanya Kaisan.
"Siapa?", tanya Mika tersenyum lebar.
"Jawab saja, mau atau tidak?", tanya Kaisan.
"Tergantung orangnya.Apakah masuk dalam kriteriaku atau tidak",jawab Mika..
Kaisan tersenyum tipis karena untuk kriteria umur ia sudah kalah dari Faris yang notabenenya sudah matang dari segi usia.
"Bagaimana kriteriamu", tanya Kaisan.
Mika tersenyum tipis."Yang penting itu baik agamanya,mapan dan bisa menerima aku apa adanya",jawab Mika.
"Bagaimana dengan usia?", tanya Kaisan.
Mika menggantung jawabannya saat makanan mereka disajikan.
"Usia bukanlah patokan kedewasaan seseorang Kai,jadi aku tak muluk muluk soal usia",jawab Mika.
"Jika lebih muda dari kamu?", hanya Kaisan.
"Maksudnya?", tanya Mika.
"Ya...jika itu--
"Jika terpaut jauh dibawah aku jelas aku gak mau Kai.Tapi jika setahun dua tahun masih bisa dipertimbangkan",jawab Mika.
"Oh..."
__ADS_1
"Yuk makan!, keburu dingin gak enak loh",ujar Mika mulai menyuap makanannya.
Kaisan mengulum senyumanya lalu menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.Pria itu akan meminta pada sang Mama untuk melamar Mika.Karena ia yakin Mika pasti menerimanya.
Tring
Faris is calling...
"*Ya Ris...ada apa?"
"Lagi dimana Mik?", tanya Faris.
"Lagi diluar nih,ada apa?", tanya Mika.
"Aku hanya mau nanya bagaimana dengan jawaban kamu",jawab Faris*.
Mika melirik sekilas pada Kaisan yang tampak membuang muka.
"*Nanti aku telfon lagi ya Ris,gak enak ngomongnya.Aku lagi makan bareng Kaisan nih",ujar Mika merasa gak enak dengan Kaisan.
"Ya...aku tunggu",jawab Faris.
klik*
Mika menyimpan kembali ponselnya lalu kembali melanjutkan makannya.
"Kamu udah selesai Kai?", tanya Mika saat melihat sendok dipiring Kaisan sudah disilangkan.
"Hmmmm...",jawab Kaisan berdehem pelan.
Mika menyudahi makannya dan beranjak dari duduknya karena Kaisan sudah lebih dahulu membayar makanan mereka.
"Ayo pulang!",ujar Kaisan kembali masuk kedalam mobilnya.
"Ya...",jawab Mika.
__ADS_1
Keduanya melanjutkan perjalanan pulang dalam keheningan.Kaisan tampak fokus dengan stir mobilnya.Sedangkan Mika sibuk dengan pikirannya untuk menjawab perasaan Faris untuknya.
Sesampainya dirumah Kaisan langsung masuk kedalam kamarnya sedangkan Mika menatap nanar pintu kamar Kaisan yang tertutup rapat.
Gadis itu masuk kedalam kamarnya,lalu meraih ponselnya untuk menelfon Faris.
"*Ya Mik..."
"Faris... aku--
"Apa Mik?"
"Faris...aku minta maaf sebelumnya,tapi aku gak bisa membalas perasaan kamu.Aku terlanjur menganggap kamu hanya sebatas sahabat",jawab Mika.
"Mik...aku hargai keputusan kamu, semoga kamu menemukan pria yang lebih baik dari aku",ujar Faris.
"Aku belum memikirkan ke arah sana Ris.Aku masih ingin membahagiakan ibuku",jawab Mika.
"Tapi ibu kamu sudah setuju dengan--
"Gak seharusnya kamu melangkah sejauh itu Ris.Kamu seolah olah memanfaatkan kelemahan aku yaitu ibuku untuk menerimanya kamu Ris", ujar Mika.
"Gak Mik,aku pikir kamu akan menerima aku jadi--
"Aku kecewa sama kamu Ris..."
Klik*
Mika melempar asal ponselnya ke tempat tidur.Ucapan Kaisan tadi bagaikan pecahan parzel di benaknya.Memang tak ada murni yang namanya sahabat antara pria dan wanita.
"Huffhhh...maafkan aku Faris,aku tak bisa membalas perasaan kamu", gumam Mika merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Sementara di kamarnya Kaisan mengepalkan kedua tangannya.Pria itu sangat kesal pada dirinya sendiri yang tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Mika.
"Bodoh...",umpat Kaisan pada diri sendiri.
__ADS_1
...****************...
Maaf pendek ya...