
"Aku kelas dulu ya Kak...",ujar Dea.
"Iya...mau aku antar?",tanya Kalen.
"Gak usah Kak,katanya ada meeting kan?",jawab Dea.
"Baiklah aku pamit dulu, hubungi aku nanti jika sudah dijemput Kaira",ujar Kalen mengecup kening Dea dengan lembut.
"Iya Kak...Kakak hati hati ya",jawab Dea mencium punggung tangan Kalen dengan takzim.
"Ya sayang...sana masuk kelas!",ujar Kalen.
"Ya Kak...", jawab Dea.
Dea melangkah menuju kelasnya mengabaikan mahasiswi yang menatapnya sinis.Ia tak peduli karena toh Kalen suaminya sekarang.
"Dea..."
"Hei... Ajeng, gimana keadaan ayah kamu?",ujar Dea karena beberapa hari terakhir Ajeng tak masuk kuliah karena Ayahnya masuk rumah sakit.Dari cerita Ajeng itu juga alasan gadis itu kuliah kedokteran agar bisa mengobati Ayahnya yang mengidap sakit kanker paru paru.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik Dea",jawab Ajeng.
"Maaf ya belum bisa menjenguk.Insyaallah rencananya besok aku cek kandungan sekalian aku jenguk ayah kamu ya",ujar Dea.
"Kamu hamil?", selamat ya Dea",jawab Ajeng tersenyum sumringah.
"Alhamdulillah Jeng",balas Dea.
"Berapa bulan Dea?",tanya Ajeng.
"Masuk 7 Minggu Jeng",jawab Dea.
"Masih rentan Dea,kenapa gak ambil cuti dulu untuk dua bulan ini atau daring.Lagian yang punya kampus juga mertua kamu juga dosennya juga suami kamu",ujar Ajeng.
"Aku jalani dulu aja Jeng.Jika nanti terjadi sesuatu mungkin aku daring",jawab Dea.
"Ayo masuk...",ajak Ajeng.
"Dea..."
"Kak Diana...",ujar Dea.
"Mau masuk ya",tanya Diana.
"Hummm...ada apa Kak?",tanya Dea.
"Gak...Kalen bilang kamu nanti mau pergi sama Kaira?",tanya Diana karena kemarin Kalen menghubunginya untuk menemani Dea pergi bersama Kaira.
"Iya Kak...",jawab Dea.
__ADS_1
"Ya sudah nanti aku tunggu di depan kelas kamu ya.Aku mau masuk kelas dulu",ujar Diana karena ia dan Dea berbeda angkatan.
"Ya Kak...",jawab Dea.
***
"Baiklah sesuai hasil rembukan bersama Dokter Fika resmi menjadi wakil dari Dokter Kalen",ujar Tuan Wiliam.
Dokter Fika tersenyum tipis karena rencananya berhasil."Selangkah lagi kamu akan menjadi milikku Kalen",batin Dokter Fika tersenyum jahat.
Sedangkan Kalen langsung beranjak pergi meninggalkan ruang rapat.Ia kesal entah kenapa Kakeknya kukuh menjadikan Dokter Fika sebagai wakilnya.Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu mengambil sesuatu yang ia siapkan saat sesampai di ruangannya tadi.Lalu kembali memasuki ruang rapat dan meletakan sebuah map di depan Kakeknya.
"Ada apa ini Kalen?",tanya Tuan Wiliam.
"Kakek baca sendiri!", jawab Kalen.
Tuan Wiliam menghembuskan nafas panjang."Kalen semuanya butuh proses jika kamu mau mengundurkan diri sebagai CEO.
Kamu tidak bisa seenaknya--
"Kakek juga tak bisa seenaknya menjadikan wanita yang akan menjadi duri dalam pernikahanku nantinya menjadi wakilku.Aku lebih memilih mengantisipasi agar rumah tanggaku baik baik saja Kek.Apalagi istiriku hamil muda dan aku tak ingin dengan Fika menjadi wakilku disini yang notabenenya pernah menyukaiku membuat beban pikiran Dea dan berpengaruh terhadap perkembangan janinnya",jawab Kalen.
Dokter Fika mengumpat pelan karena ini diluar dugaannya."Dokter Kalen... kita adalah masa lalu jadi jangan masalah pribadi kita dicampur adukkan dengan pekerjaan",ujar Dokter Fika mencoba meyakinkan Kalen.
"Aku tau siapa kamu Fika.Jadi aku mengundurkan diri",jawab Kalen.
"Kalen jika mau mengundurkan diri menjadi CEO berarti kamu juga mengundurkan diri sebagai dokter disini",ujar Tuan Wiliam.
"Juga dosen di fakultas kedokteran",ujar Tuan Wiliam.
"Baiklah Kek... terimakasih untuk semuanya selama ini.Dan aku dan Dea hari ini juga akan angkat kaki dari rumah",jawab Kalen dengan tatapan penuh kekecewaan pada Kakeknya.
Dia tak menyesali sedikitpun keputusannya ini.Ia diam diam telah membeli sebuah rumah.Dan perusahaan yang diam diam ia dirikan juga berkembang cukup pesat.Jadi ia tak perlu takut jika tak lagi bekerja di perusahaan AMJ Group.
"Kalen--
"Terimakasih... sampai disini aku tau siapa Kakek sebenarnya.Dan terimakasih juga telah menjaga Dea ku selama ini",ujar Kalen membuka almamaternya lalu meletakkannya dihadapan sang Kakek.
Kalen melangkah meninggalkan ruang meeting.
"Tunggu Pak Kalen...",ujar salah satu pemegang saham membuat Kalen menghentikan langkahnya.
"Maaf Tuan Wiliam kami sepakat untuk menarik saham kamu dari rumah sakit ini jika Dokter Kalen mengundurkan diri dari rumah sakit ini",ucap salah satu pemilik saham.
Gluk
Dokter Fika menelan salivanya.Semua rencana yang ia dan Papanya susun gagal total.Percuma ia menghasut Tuan Wiliam untuk mau mendukungnya menjadi wakil Kalen.
Tuan Wiliam menghembuskan nafas berat dan memijit pangkal hidungnya."Kalen--
__ADS_1
"Aku tak akan menjilat ludahku sendiri Kek,meski rumah sakit ini kehilangan investor.Bukankah Kakek memiliki kekayaan yang tak terhingga.Kakek bisa mendanai sendiri rumah sakit ini",ujar Kalen melangkah keluar dari ruangan meeting dan hilang dibalik pintu.
Kalen memasuki ruangannya lalu mengemasi semua barang barangnya.Ia akan angkat kaki hari ini juga dari rumah sakit milik Kakeknya ini.
Kalen menatap sejenak ruangannya lalu melangkah keluar menenteng barang barang miliknya.
"Kak... ada apa ini?", tanya Kaisan saat melihat Kakaknya menenteng kardus berisi barang barangnya.
"Lanjutkan Kai...rumah sakit serta semuanya jadi milikmu mulai saat ini",ujar Kalen.
"Kak...aku gak ngerti.Ini ada apa?",tanya Kaisan.
"Tanya pria tua itu",jawab Kalen saat Tuan Wiliam menghampiri mereka lalu melangkah pergi.
***
"Kalen ini ada apa?,kenapa kami membawa semua barang barang kamu nak?.Mama gak larang kamu pindah tapi gak harus membawa semuanya",ujar Marisa saat melihat Kalen memasukan barang barang miliknya dan Dea kedalam mobil miliknya.
Kalen tak menjawab apapun, pria itu selesai memasukkan barang barangnya.Tinggal ia menunggu kepulangan Dea dari menemani sang adik.
"Kalen ada apa ini?", tanya Rendra yang baru saja pulang dari kantor.
"Pa...Kalen membawa semua barang-barangnya",adu Marisa.
"Benar begitu Kalen?",tanya Rendra.
"Kak...",ujar Kaisan yang baru saja turun dari mobil langsung menghampiri sang Kakak.
Kalen manatap datar sang adik lalu menelfon sang istri agar segera pulang.
"Kai Kakak kamu--
"Ini semua ulah Kakek,Ma",jawab Kaisan.
"Kakek?. Kenapa dengan Kakek kamu nak?", tanya Marisa lirih.
Kaisan menceritakan semuanya pada Mamanya tanpa ada yang tertinggal atau dilebihkan.
"Papa...",geram Rendra mengusap wajahnya kasar.
"Maaf Ma...Kalen dan Dea harus pergi, kemungkinan juga Dea akan pindah kuliah",ujar Kalen setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Dea.
"Kalen ini semua bisa dibicarakan, Kakek kamu--
"Dia sudah memecat Kalen dari rumah sakit dan--kampus",jawab Kalen.
"Tapi--
"Kalen harus pergi Ma,Pa.Dan kamu Kai...jaga Papa,Mama dan Kaira baik baik",ujar Kalen menepuk pelan pundaknya.
__ADS_1
...****************...