
Dea membatu mendengar ucapan sang adik ipar lalu menoleh pada sang suami yang tampak diam saja.
Kalen segera menutup leher Dea dengan rambut gadis itu hingga jejak itu tak lagi terlihat.
"Ehemm... sudah sudah.Kaira gak usah kepo",ujar Marisa menyelamatkan menantunya dari rasa malu.
Semua orang mengulum senyumanya agar Dea tak tersinggung.Sedangkan Dea tampak tertunduk malu karena ia tau itu ulah dari suaminya tadi malam.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan jadi Kakek buyut",ujar Tuan William nyengir saat semua orang menatapnya tajam
"Papa... sudah!",geram Marisa pada Papa mertuanya itu.
Seketika muka Dea merah padam karena malu digoda habis habisan oleh keluarga mertuanya.
"Kek...hari ini kita kembali ke apartemen",ujar Kalen.
"Tidak Kalen.Kamu akan tinggal di rumah yang telah Kakek siapkan untuk kalian",ujar Tuan Wiliam.
"Kek..."
"Kakek tau kamu bisa membeli rumah tapi anggap ini kado pernikahan kalian dari Kakek",ujar Tuan Wiliam.
"Untuk saat ini kami tinggal di apartemen dulu Kek, selain dekat dengan tempat kuliah Dea tapi juga aman jika Dea kau tinggal saat dinas malam di rumah sakit",jawab Kalen melirik sekilas sang istri.
"Hufff...ya sudah terserah kamu saja Kalen.Tapi Kakek berharap secepatnya kamu pindah kerumah itu", lirih Tuan William sembari menghela nafas panjang.
Setelah selesai sarapan Dea dan Kalen tengah bersiap untuk berangkat ke kampus dan langsung pulang nantinya ke apartemen.
"Pakai ini Dera untuk menutupi bekas merah dileher kamu",ujar Kalen memberikan foundotion pada Dea.
Dea menerima foundotion itu dan mengoleskannya pada bekas kissmark yang di buat oleh suaminya.
"Maaf tadi membuatmu malu",ujar Kalen menatap sang istri yang sedang mengolesi foundotion pada lehernya.
Dea hanya tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Ayo kita berangkat...",ujar Kalen yang melihat sang istri sedang mengikat rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjangnya serta bekas kissmark juga disana.
"Digerai saja Dera...jauh lebih cantik",ujar Kalen yang sebenarnya tak rela jika leher jenjang sang istri menjadi tontonan orang banyak nanti di kampus.
"Tapi Kak aku suka gerah jika gak diikat", jawab Dea.
"Silahkan...tapi kita batal ke kampus dan--
Kalen mengecup leher jenjang Dea dan menyesapnya pelan hingga meninggalkan jejak kepemilikannya disana.
"Kak..."
"Hmmm...ini bukan yang kamu mau menggodaku dengan leher jenjangmu",bisik Kalen kembali mengecup leher Dea.
Dea memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Kalen di lehernya yang memberikan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kak... hentikan...kita bi-bisa telat",lirih Dea dengan nafas memburu.
Kalen mengehentikan aksinya dan menatap Dea dari pantulan cermin meja rias dan membuka ikatan rambut Dea hingga rambut hitam itu tergerai indah.
"Hanya aku yang boleh melihat leher jenjang ini",ujar Kalen mencium pucuk kepala Dea.
Dea tersenyum tipis lalu merapikan kembali rambutnya dengan memberikan sebuah jepitan kecil di bagian poni.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat",ujar Kalen menarik pergelangan tangan sang istri.
"Kita berangkat bareng?",tanya Dea.
"Iya...pihak kampus sudah tau jika kamu dan aku suami istri,lalu apa salahnya?",tanya Kalen.
"Gak sih Kak.Hanya saja aku takut penggemar kamu di kampus mengamuk jika tau aku satu mobil sama kamu ke kampus",ujar Dea.
"Berani mereka menyakiti kamu akan aku pastikan mereka akan merasakan hal yang sama", jawab Kalen.
Akhirnya mereka berangkat ke kampus setelah berpamitan dengan penghuni rumah.
Dea tampak duduk sembari menatap kearah jendela menatap pemandangan kota yang sembraut oleh kemacetan.
"Dera..."
"Ya Kak..."
"Pulang dari kampus nanti susul ke rumah sakit ya",ujar Kalen.
"Ngapain Kak?",tanya Dea.
"Nanti kamu juga tau,Aku akan minta Pak Abdul buat jemput kamu karena hari ini aku cuma ada satu kelas saja jadi gak bisa nunggu kamu ",ujar Kalen.
"Ya Kak...",jawab Dea.
Tak lama mobil mereka memasuki pelataran parkiran fakultas kedokteran.Dea segera turun dari mobil namun di tahan oleh Kalen.
"Ada apa Kak?", tanya Dea.
Kalen menarik tengkuk sang istri lalu m****** bibir sang istri dengan lembut.
"Kak..aku--
"Belajar yang rajin,ingat jaga jarak dengan Devano maupun laki laki lainnya",ujar Kalen.
"Iya Kak...",jawab Dea yang kemudian turun lebih dahulu.
Dea melangkah menuju kelasnya dengan hati yang berbunga.Ia menghentikan langkahnya saat nama sang suami disebut oleh sekelompok mahasiswi.Samar samar Dea mendengar jika sang dosen idola mereka itu telah menikah.
Dea mengulum senyumnya dan masuk ke dalam kelasnya.
"Kamu Dea kan?", seseorang menghampiri Dea memberikan sebuket bunga pada Dea.
"Ini dari siap--
"Pak Devano", bisik orang itu laku berlalu pergi.
"Dea..."
"Ah ya Ajeng...",jawab Dea.
"Bunga dari siapa?. Jangan jangan kamu sudah ada penggemar ya",goda Ajeng.
"Buat kamu aja",ujar Dea memberikan buket bunga itu pada Ajeng bersamaan seorang pria yang tak lain adalah dosen mereka memasuki kelas.
Dea kaget siapa yang berdiri didepan kelas menatapnya tajam.Dea langsung duduk di bangkunya mengabaikan tatapan pria itu.
"Boleh duduk disini?", seorang mahasiswa mengahampiri meja Dea.
__ADS_1
"Tapi...
"Semua meja penuh",ujar mahasiswa itu.
"Si-silahkan", cicit Dea melirik dosennya yang menatap tajam dirinya.
Dea tak mempedulikan dosennya yang tak lain adalah suaminya menatap tajam dirinya.Bukan keinginannya juga untuk berdekatan dengan pria lain.
Setelah dua jam mengikuti mata kuliah Dea mengehela nafas lega karena bisa istirahat sejenak menunggu mata kuliah selanjutnya.
"Dea kamu dimintai Pak Kalen ke ruangannya",ujar salah satu mahasiswi yang menghampiri Dea.
"Ah ya terimakasih ya",jawab Dea menahan debaran di dadanya karena ia tau Kalen pasti akan memarahinya karena sudah berdekatan dengan pria lain.
Dea berjalan menuju ruang Kalen dengan jantung yang berdegup kencang.
Tok tok tok
Tak jawaban dari dalam membuat Dea semakin takut jika suaminya itu benar-benar marah padanya.
Dea menekan handel pintu yang ternyata tak terkunci lalu membukanya secara perlahan.Seketika ada yang menarik tangannya hingga ia masuk kedalam ruangan itu dan seseorang mendorong tubuhnya ke dinding ruangan.Orang itu langsung mencium bibirnya hingga ia terkejut dan memberontak.
"Itu hukuman karena kamu berani menerima bunga pemberian dari pria lain dan berdekatan dengan pria lain",ujar orang itu yang tak lain adalah Kalen.
"Kak..."
"Sudah aku katakan jangan berdekatan dengan pria lain Dera.Apakah aku harus melakukannya sekarang dan membuatmu hamil hingga tak ada lagi pria yang mendekatimu",ujar Kalen mengusap bibir ranum Dea dengan ibu jarinya.
"Kak... sungguh itu bukan kemauanku",ujar Dea.
"Apakah kamu masih takut?",ujar Kalen.
"Enggak Kak...", lirih Dea.
"Sebelum kamu menjadi milikku seutuhnya aku tak akan tenang jika ada pria lain mendekati gadis kecilku ini",ujar Kalen kembali m****** bibir Dea.
"Kak..."
"Hmmm"
"Setelah semuanya aku serahkan berjanjilah untuk tidak meninggalkanku",ujar Dea menantapkan hati.
"Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan kamu Dera",ujar Kalen menatap dalam sang istri.
"Jadi?"
"A-aku siap malam ini Kak",jawab Dea.
"Bagaimana jika sekarang saja di ruangan ini ada kamar",ujar Kalen.
"Ini kampus Kak,aku gak mau",jawab Dea.
"Hahaha...baiklah.Bersiaplah untuk nanti malam", bisik Kalen lalu mengecup pipi Dea.
Gluk
...****************...
Hai hai... dukungannya dong reader.
__ADS_1