
"Ck... wanita yang malang",ujar Diana tersenyum tipis.
"Kalen... lepaskan aku",ujar Tiara.
"Tak semudah itu setelah kau membuat memar pipi istriku",jawab Kalen datar lalu duduk disebuah kursi lalu menyilangkan kedua kakinya.
"Kalen...dia yang lebih dulu mengataiku",jawab Tiara.
"Apa yang dikatakan istriku benar,wanita terhormat tidak akan merebut suami orang lain",ujar Kalen.
"Kalen aku--
"Kau merasa lebih pantas menjadi istri dari sepupuku,begitu?",tanya Diana dengan wajah bengisnya.
"Kau--
"Bahkan seujung kuku pun kau tak ada pantasnya untuk seorang Kalendra", sambung Diana menatap tajam Tiara yang tampak mulai ketakutan.
Kalen terkekeh mendengar ucapan dari sepupunya itu.Ya...jika dibandingkan dengan Dea,Tiara tak ada apa apanya bagi Kalen.
"Kamu benar...aku dan anak ingusan itu tak sebanding.Aku wanita terhormat dan memiliki--
"Berhenti mengoceh dengan mengatakan istriku anak ingusan Tiara...", teriak Kalen dengan rahang yang mengetat menahan amarahnya.
Tiara terpaku saat melihat sisi lain dari seorang Kalen.Wanita itu tampak kesusahan menelan salivanya.Baru kali ia ia melihat sesuatu yang berbeda dari diri Kalen.Tatapan yang begitu tajam dan bengis dan aura yang menakutkan.
Diana terkekeh melihat keterkejutan dari wajah Tiara.Wanita tomboi itu tak terkejut sama sekali dengan perubahan sifat Kalen.Hanya dia yang tau bagaimana sisi gelap seorang Kalen jika orang yang dicintainya disakiti oleh orang lain.
"Kau...akan membayar apa yang kau lakukan pada istriku.Tangan ini bukan yang menampar pipi mulus istriku hingga meninggalkan jejak memar",ujar Kalen tersenyum smirk menunju tangan kiri Tiara.
"Ka-kalen..a-aku--
"Diana... lakukan sekarang juga!", teriak Kalen yang telah diselimuti oleh amarah.
"Bolehkah aku melepaskan ikatan talinya?",tanya Diana tersenyum tak kalah bengisnya.
"Terserah padamu...aku mau kau lakukan dengan perlahan agar dia merasakan sakitnya",jawab Kalen kembali duduk dikursinya.
"Ka-kalen aku mohon maafkan aku.Aku menyesal",mohon Tiara dengan wajah yang mengiba.
Diana tersenyum miring membuka ikatan tangan kiri Tiara dengan cukup kasar.
"Sakit...", pekik Tiara.
__ADS_1
"Makanya sebelum berbuat itu berpikirlah",ujar Diana mengamit rahang Tiara dengan jemarinya.
"Aku tak memiliki urusan denganmu",ujar Tiara menutupi ketakutannya.
"Urusan Kalen menjadi urusanku jika musuhnya seorang wanita",jawab Diana mencengkeram dagu Tiara dengan kasar.
"Lakukan cepat Diana!",ujar Kalen dengan tatapan dingin.
"Sabar Kalen...aku ingin sendikit bermain main dengannya",jawab Diana.
"Sekarang kau tau bukan.Kalen akan menjadi seorang monster yang menakutkan jika orang yang dicintainya disakiti",ujar Diana menghempaskan cengkraman dengan kasar.
"Kau--
"Masih berani kau rupanya", sambung Diana menahan tangan kiri Tiara yang akan menamparnya.
Krek
"Sakit...",teriak Tiara keras.
Plak plak plak
"Itu balasan yang setimpal untukmu",ujar Diana saat melihat darah keluar dari sudut bibir Tiara.
Tiara menahan rasa sakit dipergelangan tangannya yang mungkin retak atau patah akibat ulah Diana.
"Pengawal...",teriak Kalen.
"Ya Bos...",jawab dua orang pria berbadan besar yang entah dari mana datangnya.
"Urus dia...!jangan meninggalkan jejak.Buat seolah olah karena kecelakaan",ujar Kalen diangguki pria berbadan besar itu dengan patuh.
Kalen meninggalkan ruangan itu dikuti oleh Diana dari belakang.Dengan sekejap pria itu mengubah raut wajahnya kembali seperti biasa seolah tak terjadi apa apa.
"Terimakasih atas kerjasamanya",ujar Kalen saat sampai di mobil pada Diana.
"Ini semua demi Dea...",jawab Diana.
"Aku akan menstranfer uang sakumu",ujar Kalen saat akan memasuki mobilnya.
"Aku tunggu...besok aku akan memulai kuliahku di kampus tempatmu mengajar",jawab Diana.
"Dunia kedokteran tak cocok untuk yang kejam",kekeh Kalen.
__ADS_1
"Hehehe... itu sisi lain dari diriku sama akan halnya dirimu sepupuku",jawab Diana tertawa kecil.
"Baiklah...aku pulang dulu",ujar Kalen.
"Ya.. silahkan...",jawab Diana tersenyum tipis.
Kalen melajukan mobilnya menuju kediaman orangtuanya.Ia begitu sangat merindukan istri kecilnya.
Sesampainya di rumah kedua orangtuanya Kalen langsung memasuki hunian mewah itu dengan langkah tegap dan tenang seolah tak terjadi apa apa sebelumnya.
"Kalen dari mana saja kamu?",tanya Marisa saat melihat putranya itu akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ada urusan pekerjaan diluar Ma,Oh ya Dea mana Ma?",tanya Kalen.
"Dikamar... sepertinya tidur tadi mengeluh pusing lagi",jawab Marisa.
"Aku temui Dea dulu Ma",ujar Kalen.
"Ya..."
Kalen melangkah menuju kamarnya untuk menemui sang istri.
Ceklek
Kalen tersenyum melihat sang istri yang tertidur pulas.Pria itu menghampiri ranjang mereka.
"I love you sayang", bisik Kalen lalu mengecup pucuk kepala sang istri.
Dea membuka kedua matanya saat merasa tidurnya terganggu.
"Kak..."
"Masih pusing?",tanya Kalen mengusap rambut Dea dengan penuh kasih sayang.
"Sedikit Kak.Kakak baru pulang?",tanya Dea tersenyum tipis.
"Ya...maaf meninggalkanmu cukup lama", jawab Kalen.
"Gak apa apa Kak,Kakak kan kerja",ujar Dea.
"Ya..."
...****************...
__ADS_1