
"Mama tidak apa apa kan?",tanya Faris yang tampak kuawatir.
"Mama tak apa apa sayang,hanya sedikit shock saja",jawab Arita tersenyum tipis.
"Yakin?",tanya Faris.
"Iya...",jawab Arita.
"Syukurlah.Dia tidak nyakitin Mama kan?",tanya Faris.
"Tidak...",jawab Arita.
"Kaira..."
Faris menoleh pada sang kekasih yang terlihat diam saja."Sayang maafkan aku,tak seharusnya tadi kamu melihat kejadian yang tidak mengenakan",ujar Faris merasa sungkan pada Kaira.
"Tidak apa apa Mas", jawab Kaira tersenyum tipis.
"Mama baik baik saja kan?",tanya Kaira menghampiri menyalami punggung tangan Arita.
"Mama baik baik saja, kamu tidak usah kuawatir.Hal tadi belum apa apa ketimbang dulu",jawab Arita mengusap bahu calon menantunya itu pelan.
"Ya...",jawab Kaira yang tidak ingin tau siapa dua orang tadi yang datang mengganggu Mama dari kekasihnya itu.Dia hanya menduga-duga saja jika wanita tadi adalah wanita pengganggu dalam rumah tangga kedua orangtua Faris.Semoga saja dugaannya tidak benar.
"Ayo duduk sayang",ujar Arita mempersilahkan Kaira duduk.
"Iya...Ma.Oh ya ini tadi aku beli kue kesukaan Mama",jawab Kaira memberikan kantong plastik berisi bingkisan kue.
"Wah...jadi merepotkan kamu sayang",seru Arita tersenyum lebar menerima bingkisan kue itu.
Faris tersenyum melihat kedekatan antara sang kekasih dan Mamanya.Terlihat ada raut kebahagiaan yang terpancar dari mata sang Mama saat berbicara dengan Kaira.
Pria itu mengulum senyumannya duduk dihadapan keduanya yang tampak begitu akrab.Tatapan Faris tak lepas dari Kaira yang tertawa disela pembicaraan keduanya.Ia tidak lagi menyimak akan pembicaraan antara Kaira dan sang Mama karena ia sibuk memperhatikan Kaira.
Ia tak menyangka bisa move on secepat ini pada gadis yang dulu ia anggap layaknya adiknya sendiri.Tapi gadis itu kini mampu memporak-porandakan hatinya.
__ADS_1
"Faris..minta Bibik untuk menyalin kuenya",ujar Arita membuat pria itu tersentak kaget.
"Iya Ma...",jawab Faris bangkit dari duduknya membawa bingkisan kue itu kebelakang.
Arita menggeleng pelan melihat kelakuan sang anak.Ia tau jika sedari tadi anaknya itu sibuk menatap Kaira.
"Lihatlah anak Mama sepertinya sangat mencintaimu",ujar Arita pada Kaira yang tersenyum malu-malu.
Kaira hanya menjawab dengan anggukan,ia tak tau harus menjawab apa karena lidahnya terasa begitu kelu.
Tak lama Bibik datang membawa kue yang tadi dibeli Kaira dan juga dia gelas jus jeruk.
"Faris mana Bik?",tanya Arita.
"Den Faris tadi ke kamarnya Nyonya",jawab pelayan itu sopan.
"Oh ya sudah, terimakasih ya Bik",ujar Arita.
"Iya Nyonya...",jawab pelayan itu lalu beranjak pergi kembali kebelakang.
"Jadi dia anak dari pemilik kampus dan juga adik dari pemilik rumah sakit tempat Pak Kalen bekerja", gumam Faris membaca email yang baru saja masuk dari orang kepercayaannya.
"Jika dibandingkan dia aku memang tidak ada apa apanya tapi aku akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku",tekad Faris karena kali ini ia akan mempertahankan Kaira agar tetap di sisinya.
Dan di rumah sakit, Dokter Hadi duduk dihadapan Kalen.Ia masih penasaran dengan adik Dokter itu.
"Dokter Kalen...boleh saat bertanya tentang Kaira?",ujar Hadi.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika adikku sudah memiliki calon suami",jawab Kalen datar tetap fokus pada laporannya.Meski Jadi adalah adik dari temannya pemilik rumah sakit ini tapi ia tidak akan pernah ramah kecuali pada pasiennya.
"Tapi bukankah akan ada kesempatan sebelum janur kuning melengkung?.Aku akan tetap--
"Aku peringatkan padamu,jangan mengusik adikku atau kau akan menyesal.Dia bukan gadis kebanyakan yang senang di gandrungi banyak pria",ujar Kalen berusaha untuk tetap tenang dan berbicara bukan lagi sesama Dokter
"Itu yang membuatku tertarik",jawab Hadi.
__ADS_1
"Adikku tidak berkeinginan memiliki pasangan dari profesi Dokter asal kau tau.Jadi percuma kau mendekatinya",ujar Kalen dengan sorot mata tajam.
"Dan satu lagi,calon suami adikku bukan sembarangan orang.Jadi berhenti mengusik adikku atau kau akan lupa bagaimana bernafas dengan baik",jawab Kalen memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang tersenyum iblis.
Gluk
Hadi meneguk kasar salivanya, tubuhnya membeku melihat sisi lain dari Dokter Kalen yang selama ini terkenal dengan sikap dingin dan datarnya.
Hadi berusaha untuk tetap tenang."Anda lupa jika anda bekerja di rumah sakit milik keluargaku Dokter Kalen.Jadi jangan berani mengancamku jika tidak ingin karirmu hancur",ujar Hadi tersenyum miring.Ia yakin bisa membuat Kalen bungkam.
"Kau tidak tau siapa aku Hadi,aku bisa dalam sekejap mata membuat rumah sakit ini rata dengan tanah jika aku mau.Mungkin dengan menghentikan kerja sama rumah sakit ini dengan AMJ Hospital sebagai peringatannya jika kau terus mengusik kenyamanan adikku",jawab Kalen dengan tatapan tajam.
Hadi menegang,AMJ Hospital adalah salah satu rumah sakit terbesar dan juga merupakan suplayer untuk rumah sakit milik Kakaknya ini.Bisa di bunuh dirinya oleh Martin, Kakaknya jika tau apa yang ia lakukan ini.
"Keluarlah!",ujar Kalen datar namun penuh penegasan.
Hadi bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Kalen dengan perasaan campur aduk.Ia tak tau siapa Kalen,tapi ini ia tau siapa pria yang tadi ia ancam.
***
"Martin boleh kita bicara sebentar",ujar Kalen memasuki ruangan CEO rumah sakit itu.
"Silahkan Kalen,ada apa?. Kelihatannya penting?",tanya Martin menatap sahabatnya itu.
"Peringatkan adikmu untuk tidak lagi menganggu adikku.Kaira sudah bertunangan dan adikmu tetap mengganggunya.Aku bisa saja memberi sedikit pelajaran untuk adikmu.Tapi aku masih menghormatimu sebagai seorang sahabat",jawab Kalen the point.
"Akan aku ingatkan,kamu tenang saja",balas Martin.
"Aku tidak main-main Martin",ujar Kalen.
"Iya...aku tau",jawab Martin.
"Baiklah aku permisi dulu,untuk kontrak kerjaku.Aku berencana untuk tidak menyambungnya karena aku akan fokus pada perusahaanku",ujar Kalen.
"Baiklah...",jawab Martin menghormati keputusan sahabatnya itu.
__ADS_1
...****************...